<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047</id><updated>2012-02-16T01:33:17.242-08:00</updated><category term='sertifikasi guru'/><title type='text'>AdR ::  SEHAT</title><subtitle type='html'>Catatan tentang kesehatan keluarga.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4272669553624272460</id><published>2010-05-27T05:59:00.001-07:00</published><updated>2010-05-27T05:59:45.447-07:00</updated><title type='text'>Makanan untuk orang berkolesterol</title><content type='html'>Tingginya kadar kolesterol sangat berbahaya untuk kesehatan. Berbagai  cara dilakukan dari cara tradisional sampai memakai obat-obat kimia  ditempuh untuk menekan dan menurunkan kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah  makanan yang bisa menurunkan kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) atau  kolesterol jahat yang menyebabkan plak di dalam pembuluh darah, dan  meningkatkan High-Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  mengurangi kadar LDL, Anda harus mengurangi asupan makanan yang banyak  mengandung lemak jenuh yang diantaranya terdapat pada produk hewani,  seperti susu, daging, mentega, dan keju; dan juga lemak jenuh yang  berasal dari nabati seperti santan dan minyak kelapa. Tinggi rendahnya  kolesterol dalam darah tidak tergantung pada usia. Dan dianjurkan kadar  kolesterol pada makanan sehari-hari tidak melebihi 250 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  bawah ini terdapat beberapa makanan yang mengandung lemak tidak jenuh  sehingga sangat efektif menurunkan kadar kolesterol, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ikan  terutama ikan laut kaya akan asam lemak tak jenuh (omega 3) yang beguna  menurunkan kadar dalam darah dan juga mencegah terjadnya penumpukkan  keping - keping darah yang jika terjadi maka menyebabkan adanya  penyumbatan pada pembuluh darah. Sumber makanan yang kaya omega-3  terdapat pada makarel, tuna albacore, sarden dan salmon. Dan sebaiknya  jika ingin makan, ikan dipanggang atau dibakar dalam oven. The American  Heart Association merekomendasi paling tidak dua porsi per minggu untuk  mendapatkan manfaat maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bubur gandum/oatmeal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oatmeal  mengandung serat larut (soluble fiber) yang dapat menurunkan kolesterol  buruk yaitu LDL (low-density lipoprotein). Serat yang larut dipecaya  bisa menurunkan penyerapan kolesterol dalam pencernaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Walnut,  almonds, dan kacang-kacangan lainnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbagai studi  menunjukkan, walnut secara signifikan menurunkan kolesterol dalam darah  karena mengandung banyak asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated  fatty acids) yang dapat membuat pembuluh darah tetap sehat dan elastis.  Sedang almond juga berguna sebagai penurunan kolesterol yang bisa  dirasakan sekitar 4 minggu setelah mengkonsumsinya. Lemak tak jenuh  tunggal, di dalam kacang mede, almon, dan kenari adalah bahan makanan  rendah lemak yang baik untuk kesehatan jantung. Kacang adalah sumber  serat larut yang sangat tinggi. Mengonsumsi serat larut bisa mengurangi  kolesterol. Mengonsumsi kacang seperti buncis, kacang merah, kacang  panjang secara teratur selama enam minggu bisa mengurangi kadar  kolesterol sebanyak 10%.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Minyak Zaitun dan Canola&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Minyak  Zaitun mengandung campuran antioksidan potensial yang dapat menekan  kolesterol tanpa mengganggu kadar kolesterol baik (HDL). Jika ingin  mendapatkan efek yang lebih baik, sebaiknya gunakan minyak zaitun ekstra  murni yang dipercaya mengandung lebih banyak antioksidan menyehatkan  dan tidak melewati proses pengolahan dan penambahan zat kimia. Sebaiknya  mengkonsumsi minyak zaitun sekitar 2 sendok makan (23 gram) setiap hari  untuk menjaga jantung tetap sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bawang Putih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bumbu  dapur ini mengandung zat ajoene dimana senyawa ini bisa menurunkan  kolesterol. Sejak ribuan tahun lalu, bawang putih sudah dipercaya  mengandung banyak zat yang baik untuk kesehatan manusia. Bangsa Mesir  Kuno memakai bawang putih untuk meningkatkan stamina. Meski dimasak  kandungan senyawa ini tidak rusak. Namun jangan sembarangan mengkonsumsi  bawah putih sebagai penurun kolesterol, sebab jika terlalu over  bukannya menurunkan kolesterol tapi malah badan jadi tidak sehat,  seperti terkena diare, demam, dan bahkan pendarahan lambung. Jadi  sebaiknya jika ingin mengkonsumsi bawang putih cukup setengah sampai  satu siung sehari secara terus menerus selama satu bulan karena  dipercaya mampu menurunkan kolesterol sebanyak 9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu kandungan yang terdapat pada teh, yaitu epigallocatechin gallate  yang merupakan komponen bioaktif paling dominan dalam teh terbukti mampu  mencegah percepatan oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat). Teh,  mau diminum dingin atau panas, sama saja manfaatnya. Teh mengandung  antioksidan yang bisa membuat pembuluh darah rileks sehingga terhindar  dari pembekuan darah. Antioksidan di dalam teh, yaitu flavonoid bisa  mencegah oksidasi yang menyebabkan LDL menumpuk di pembuluh darah.  Menikmati segelas teh setiap hari bisa memenuhi kebutuhan antioksidan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Alpukat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena  buah ini kaya akan lemak, maka orang apalagi yang punya kolesterol  tinggi, cenderung untuk tidak memakannya. Namun jangan salah. Ternyata  buah alpukat baik untuk menurunkan kolesterol jahat karena buah ini  tenyata mengandung asam lemak tak jenuh.&amp;nbsp; Alpukat adalah sumber lemak  tidak jenuh yang bisa meningkatkan level HDL. Konsumsilah alpukat tanpa  tambahan susu, gula, dan bahan-bahan makanan lainnya yang mengandung  kalori tinggi. Satu buah alpukat berukuran sedang mengandung 300 kalori  dan 30 gram lemak tidak jenuh sedangkan kebutuhan tubuh manusia normal  adalah 1.800 kalori dan 30 gram lemak tidak jenuh per harinya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Anggur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anggur  mengandung serat dan juga zat catechin yang baik untuk menurunkan  kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apel&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buah apel kaya serat, zat  antioksidan dan vitamin C dimana semuanya itu bisa membantu menurunkan  kadar kolesterol. Jika ingin mengkonsumsi apel sebaiknya makan dengan  kulitnya karena di kulit inilah terdapat kandungan pektin yaitu serat  larut yang ampuh sekali dalam menurunkan kadar kolesterol dan juga  mengandung antioksidan paling banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Blueberry&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pterostilbene  yang terdapat pada buah ini kemungkinan juga bisa menurunkan kolesterol  dan lemak lainnya yang bekerja pada reseptor sel hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bayam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bayam  mengandung banyak lutein. Lutein adalah zat penting yang bisa menjaga  kesehatan dan ketajaman fungsi mata. Lutein juga ternyata bisa menjaga  kesehatan jantung karena bisa mencegah lemak menempel di pembuluh darah.  Dianjurkan, memakan bayam setiap hari sekitar setengah mangkuk untuk  hasil maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cokelat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cokelat ternyata  sehat. Tentu saja, cokelat yang dicampur terlalu banyak susu mengandung  terlalu banyak lemak. Jadi, pilihlah cokelat hitam atau pahit. Cokelat  sehat karena mengandung banyak antioksidan dan flavanoid. Cokelat putih,  tidak mengandung zat itu sehingga kurang sehat dikonsumsi. Kandungan  flavanoid cokelat bervariasi tergantung di mana cokelat itu tumbuh dan  proses pengolahannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4272669553624272460?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4272669553624272460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4272669553624272460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4272669553624272460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4272669553624272460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/05/makanan-untuk-orang-berkolesterol.html' title='Makanan untuk orang berkolesterol'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4038589012715908179</id><published>2010-05-27T05:36:00.000-07:00</published><updated>2010-05-27T05:36:05.251-07:00</updated><title type='text'>obat kolesterol</title><content type='html'>Kolesterol tinggi adalah salah satu penyakit yg banyak ditakuti, dan  banyak diderita oleh masyarakat. Untuk mengobati penyakit tersebut  dengan obat modern saat ini terdapat kendala tingginya obat, karena  menggunakan bahan baku impor, apalagi ditambah adanya krisi yg  berkepanjangan ini. Untuk itu tulisan ini mencoba memberikan alternatif  pengobatan dari tanaman asli Indonesia. Berikut ini beberapa tanaman  obat yg bisa membantu menurunkan kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jati Belanda&lt;/strong&gt; (Guazuma ulmifolia Lamk)&lt;br /&gt;Nama daerah untuk jenis adalah di Sumatra disebut sebagai jati belanda  (melayu); di jawa disebut sebagai jati londo (jawa tengah). Tumbuhan ini  berhabitus pohon, tinggi bisa mencapai 20 m, ditanam sebagai pohon  peneduh, tanaman pekarangan atau tumbuhan liar. Tumbuh pada daerah  dataran rendah sampai ketinggian 800 mdpl.&lt;br /&gt;Daun tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat penurun kadar  kolesterol dengan kandungan kimia alkaloid, flavonoid, saponin, tanin,  lendiri dan damar.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; cara meramu: &lt;/strong&gt;20 gram daun dan 1 gelas air, dimasak.  lalu setelah dingin, disaring. Hasil saringan diminum 2 kali sehari,  pagi dan sore.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asem Jawa&lt;/strong&gt; (&lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;Tamarindus&lt;/span&gt;  indica L)&lt;br /&gt;Nama lain untuk tumbuhan ini adalah di Sumatra: bak me (aceh), acamlagi  (gayo), asam jawa, kayu asam, cumalagi (minangkabau); di jawa disebut  sebagai tangakal asem (sunda), acem (madura); di kalimantan disebut  sebagai asam jawa; disulawesi disebut dengan asang jawi (gorontalo),  camba (makasar), cempa (bugis).&lt;br /&gt;Daun tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat penurun kadar  kolesterol tinggi dengan kandungan kimia saponin, flavonoid dan tanin.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; cara meramu: &lt;/strong&gt;tumbuk 150-200 daun asam jawa, lalu  campur dengan 1 gelas air matang panas (200 ml), kemudian diperas,  disaring dan diminum untuk satu kali minum. dianjurkan untuk membuatnya 3  kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tempuyung&lt;/strong&gt; (Sonchus arvensis L)&lt;br /&gt;Nama lain untuk tumbuhan ini, di Jawa disebut dengan ga-ling, jombang,  jombang lalakina, lempung, lampenas, rayana (sunda), tempuyung (jawa  tengah).&lt;br /&gt;Tumbuhan ini berhabitus hebra semusim dengan tinggi bisa mencapai 2  m, tumbuh liar ditempat terbuka yg terkena sinar matahari atau sedikit  terlindung, seperti ditebing, tepi saluran air, batu, tumbuh pada daerah  dengan ketinggian 50-1650 mdpl.&lt;br /&gt;Daun Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat penurun kadar  kolesterol tinggi dengan kandungan kimia saponin, flavonoida, politenol,  alfa-lactucerol, beta-lactucerol, manitol, &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;inositol&lt;/span&gt;, kalium, silika, taraksasterol.&lt;br /&gt;cara meramu: 3 lembar daun tempuyung dilayukan dan dimakan sebagai sayur  atau lalap, dianjurkan untuk 3 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belimbing manis&lt;/strong&gt; (averhoa carambola L)&lt;br /&gt;nama lain tumbuhan ini disumatra adala asom jorbing (batak), balimbing  manih (minangkabau); dijawa disebut dengan balimbing amis (sunda),  blimbing legi (jawa tengah); disulawesi disebut sebagai lembetua  (gorontalo), lombituka gula (buol), bainang sulapa (makasar), balireng  (bugis).&lt;br /&gt;Daun dan batang dari tanaman ini mengandung asam oksalat sehingga  rasanya asam dan air perasannya dapat digunakan sebagai penghilang  karatan pada logam.&lt;br /&gt;Buah tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat penurun kadar  kolesterol tinggi dengan kandungan kimia lemak, glukosa, protein, besi,  kalsium, phospor, vitamin A, B, C.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; cara meramu:&lt;/strong&gt; 2 buah belimbing manis diperas, lalu  air perasannya diminum. dua perasan utnk satu kali minum, sehari minum 3  kali.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemuning&lt;/strong&gt; (Murraya paniculata (L) Jack)&lt;br /&gt;nama lain untuk tumbuhan ini di sumatra adalah kemuning (melayu),  kemunieng (minangkabau); dijawa dikenal sebagai kamuning; di Bali  disebut kemuning; di NTB dikenal sebagai kemuni; disulawesi disebut  dengan kamuning (manado), kamoni (bare) kamuning (makasar), palopo  (bugis).&lt;br /&gt;Tumbuhan ini berhabitus pohon kecil (perdu), mempunyai variasi  morfologis besar sekali, tinggi pohon bisa mencapai 8 m. Jenis ini  tumbuh liar disemak belukar, tepi hutan atau ditanam orang sebagai  tanaman hias, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 mdpl.&lt;br /&gt;Daun tumbuhahn ini dapat digunakan sebagai obat penurun kadar  kolesterol dalam darah dengan kandungan kimia, tanin, flavonoid, steroid  dan alkaloid.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; cara meramu: &lt;/strong&gt;20 gram daun kemunig direbus dengan 3  gelas air hingga tinggal tersisa 1 gelas air, lalu tambahkan 1 sendok  makan madu. Minum 3 kali sehari.&lt;br /&gt;Tumbuhan2 ini memang tidak menjamin seorang penderita untuk sembuh  dalam waktu yg cepat, tapi paling tidak ramuan ini bisa menurunkan kadar  kolesterol dalam darah penderita, dan yg pasti belum ditemukan efek  samping dari ramuan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4038589012715908179?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4038589012715908179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4038589012715908179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4038589012715908179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4038589012715908179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/05/obat-kolesterol.html' title='obat kolesterol'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4329408461560967288</id><published>2010-05-27T05:12:00.001-07:00</published><updated>2010-05-27T05:12:49.932-07:00</updated><title type='text'>Kolesterol</title><content type='html'>Berikut ini adakah beberapa &lt;a href="http://terbaru2010.com/" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;pengertain kolesterol&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;, bahaya, asal, obat,  dan makanan yang baik dikonsumsi bagi penderita kolesterol. Kita mulai  dari pengertian dan seluk beluk tentang &lt;a href="http://terbaru2010.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;kolesterol&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kolesterol itu ialah :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;o Suatu zat lemak yang beredar di dalam darah, diproduksi oleh hati&lt;br /&gt;dan sangat diperlukan oleh tubuh.&lt;br /&gt;o Tetapi kolesterol berlebih akan menimbulkan masalah, terutama pada&lt;br /&gt;pembuluh darah jantung dan otak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari manakah KOLESTEROL berasal ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;o Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 80%&lt;br /&gt;diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan.&lt;br /&gt;Kolesterol yang diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu kolesterol&lt;br /&gt;HDL dan kolesterol LDL.&lt;br /&gt;o Kolesterol LDL, adalah kolesterol jahat, yang bila jumlahnya&lt;br /&gt;berlebih di dalam darah akan diendapkan pada dinding pembuluh darah&lt;br /&gt;membentuk bekuan yang dapat menyumbat pembulun darah.&lt;br /&gt;o Kolesterol HDL, adalah kolesterol baik, yang mempunyai fungsi&lt;br /&gt;membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan.&lt;br /&gt;Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan suatu tanda yang baik&lt;br /&gt;sepanjang kolesterol LDL kurang dari 150 mg/dl.&lt;br /&gt;o Selain itu ada juga Trigliserida. Lemak ini terbentuk sebagai hasil&lt;br /&gt;dari metabolisme makanan, bukan saja yang berbentuk lemak tetapi&lt;br /&gt;juga makanan yang berbentuk karbohidrat dan &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;protein&lt;/span&gt; yang&lt;br /&gt;berlebihan, yang tidak seluruhnya dibutuhkan sebagai sumber energi.&lt;br /&gt;Kadar trigliserida ini akan meningkat bila kita mengkonsumsi kalori&lt;br /&gt;berlebihan, lebih besar daripada kebutuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-408"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa kolesterol darah yang tinggi merupakan masalah ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;o Karena kolesterol darah yang tinggi merupakan salah satu faktor&lt;br /&gt;risiko yang dapat menyebabkan :&lt;br /&gt;1. Penyumbatan pada pembuluh darah jantung yang dapat menimbulkan&lt;br /&gt;serangan jantung.&lt;br /&gt;2. Penyumbatan pada pembuluh darah otak yang dapat menimbulkan&lt;br /&gt;serangan stroke.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah trigliserida yang tinggi merupakan masalah ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;o Kadar trigliserida yang tinggi akan memperburuk risiko terjadinya&lt;br /&gt;penyumbatan pada pembuluh darah jantung dan otak, jika bersamaan&lt;br /&gt;dengan didapatkan kadar kolesterol LDL yang tinggi dan kadar&lt;br /&gt;kolesterol HDL yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana agar kita dapat memantau kadar kolesterol ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;o Satu-satunya &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;cara&lt;/span&gt; memantau  kadar kolesterol dan lemak darah adalah&lt;br /&gt;dengan melakukan pemeriksaan contoh darah yang diambil setelah anda&lt;br /&gt;melakukan puasa selama satu malam atau 10-12 jam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berapakah kadar kolesterol darah yang normal ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;o Kolesterol total &amp;lt; 200 mg/dl&lt;br /&gt;o Kolesterol HDL 35 – 65 mg/dl&lt;br /&gt;o Kolesterol LDL &amp;lt; 150 mg/dl&lt;br /&gt;o Trigliserida &amp;lt; 200 mg/dl&lt;br /&gt;o Ratio kolesterol total : kolesterol HDL &amp;lt; 5&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang menyebabkan meningkatkan KOLESTEROL di dalam darah ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor genetik&lt;br /&gt;Tubuh terlalu banyak memproduksi kolesterol. Seperti kita ketahui&lt;br /&gt;80 % dari kolesterol di dalam darah diproduksi oleh tubuh sendiri.&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang memproduksi kolesterol lebih banyak&lt;br /&gt;dibandingkan yang lain. Ini disebabkan karena faktor keturunan.&lt;br /&gt;Pada orang ini meskipun hanya sedikit saja mengkonsumsi makanan&lt;br /&gt;yang mengandung kolesterol atau lemak jenuh, tetapi tubuh tetap&lt;br /&gt;saja memproduksi kolesterol lebih banyak.&lt;br /&gt;2. Faktor makanan&lt;br /&gt;Dari beberapa faktor makanan, asupan lemak merupakan hal yang&lt;br /&gt;sangat penting untuk diperhatikan. Lemak merupakan bahan makanan&lt;br /&gt;yang sangat penting, bila kita tidak makan lemak yang cukup maka&lt;br /&gt;tenaga kita akan berkurang, tetapi bila kita makan lemak yang&lt;br /&gt;berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pembuluh darah. Seperti&lt;br /&gt;diketahui lemak dalam makanan dapat berasal dari daging-dagingan,&lt;br /&gt;tetapi di Indonesia sumber asupan jenis lemak dapat dibedakan&lt;br /&gt;menjadi 2 yaitu :&lt;br /&gt;o Lemak jenuh berasal dari daging, minyak kelapa.&lt;br /&gt;o Lemak tidak jenuh terdiri dari : asam lemak &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;omega 3&lt;/span&gt;, asam lemak&lt;br /&gt;omega 6 dan asam lemak omega 9.&lt;br /&gt;Penelitian terakhir menunjukkan bahwa :&lt;br /&gt;o Lemak yang berasal dari ikan disebut omega 3 dapat mencegah&lt;br /&gt;terjadinya kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit jantung&lt;br /&gt;koroner.&lt;br /&gt;o Asam lemak omega 3 dapat menurunkan kadar LDL kolesterol dan&lt;br /&gt;meningkatkan kadar HDL kolesterol &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;serta&lt;/span&gt;  menurunkan risiko&lt;br /&gt;terjadinya bekuan dalam pembuluh darah.&lt;br /&gt;o Asam lemak omega 6 yang berasal dari sayuran diduga juga dapat&lt;br /&gt;mencegah penyakit jantung koroner.&lt;br /&gt;o Asam lemak omega 9 dikenal sebagai minyak zaitun, juga ditemukan&lt;br /&gt;dalam minyak goreng kelapa sawit yang telah mengalami proses&lt;br /&gt;khusus. Asam lemak omega 9 ini dapat menyebabkan peningkatan kadar&lt;br /&gt;HDL kolesterol.&lt;br /&gt;o Pada sebagian besar kasus, kolesterol berasal dari makanan yang&lt;br /&gt;dimakan yaitu makanan yang mengandung lemak jenuh seperti daging&lt;br /&gt;hewan dan minyak kelapa.&lt;br /&gt;o Lemak tidak jenuh yang terdapat pada minyak goreng apabila&lt;br /&gt;digunakan untuk menggoreng dengan pemanasan yang tinggi akan dapat&lt;br /&gt;merubah &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;struktur&lt;/span&gt; kimianya  sehingga dapat berakibat negatif.&lt;br /&gt;Bagaimana m&lt;br /&gt;enjaga agar kadar kolesterol darah tetap normal ?&lt;br /&gt;1.Mengkonsumsi makanan seimbang sesuai dengan kebutuhan :&lt;br /&gt;o Makanan seimbang adalah makanan yang terdiri dari :&lt;br /&gt;- 60 % kalori berasal dari karbohidrat&lt;br /&gt;- 15 % kalori berasal dari protein&lt;br /&gt;- 25 % kalori berasal dari lemak&lt;br /&gt;- kalori dari lemak jenuh tidak boleh lebih dari 10 %&lt;br /&gt;o Kelebihan kalori dapat diakibatkan dari asupan yang berlebih&lt;br /&gt;(makan banyak) atau penggunaan energi yang sedikit (kurang&lt;br /&gt;aktivitas).&lt;br /&gt;o Kelebihan kalori terutama yang berasal dari karbohidrat dapat&lt;br /&gt;menyebabkan peningkatan kadar trigliserida.&lt;br /&gt;- Contoh makanan yang mengandung karbohidrat tinggi yaitu nasi,&lt;br /&gt;kue, snack, mie, roti dsb.&lt;br /&gt;- Contoh makanan yang mengandung protein hewani tinggi yaitu&lt;br /&gt;daging, ikan, udang, putih telur.&lt;br /&gt;- Contoh makanan yang mengandung protein nabati tinggi yaitu&lt;br /&gt;tahu, &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;tempe&lt;/span&gt;, kacang-kacangan.&lt;br /&gt;2. Menurunkan asupan lemak jenuh.&lt;br /&gt;- Lemak jenuh terutama berasal dari minyak kelapa, santan dan&lt;br /&gt;semua minyak lain seperti minyak jagung, minyak kedele dll yang&lt;br /&gt;mendapat pemanasan tinggi atau dipanaskan berulang-ulang.&lt;br /&gt;- Kelebihan lemak jenuh akan menyebabkan peningkatan kadar LDL&lt;br /&gt;kolesterol.&lt;br /&gt;3. Menjaga agar asupan lemak jenuh tetap baik secara kuantitas maupun&lt;br /&gt;kualitas.&lt;br /&gt;- Minyak tidak jenuh terutama didapatkan pada ikan laut serta&lt;br /&gt;minyak sayur dan minyak zaitun yang tidak dipanaskan dengan&lt;br /&gt;pemanasan tinggi atau tidak dipanaskan secara berulang-ulang.&lt;br /&gt;- Asupan lemak tidak jenuh ini akan dapat meningkatkan kadar&lt;br /&gt;kolesterol HDL, dan mencegah terbentuknya endapan pada pembuluh&lt;br /&gt;darah.&lt;br /&gt;4. Menurunkan asupan kolesterol&lt;br /&gt;- Kolesterol terutama banyak ditemukan pada lemak dari hewan,&lt;br /&gt;jeroan, kuning telur, serta “seafood” (kecuali ikan).&lt;br /&gt;5. Mengkonsumsi lebih banyak serat dalam menu makanan sehari-hari.&lt;br /&gt;- Serat banyak ditemukan pada buah- buahan (misalnya apel, pir&lt;br /&gt;yang dimakan dengan kulitnya) dan sayur-sayuran.&lt;br /&gt;- Serat yang dianjurkan adalah sebesar 25 – 40 gr/hari, setara&lt;br /&gt;dengan 6 buah apel merah dengan kulit atau 6 mangkuk sayuran.&lt;br /&gt;- Serat berfungsi untuk mengikat lemak yang berasal dari makanan&lt;br /&gt;dalam proses pencernaan, sehingga mencegah peningkatan kadar LDL&lt;br /&gt;kolesterol.&lt;br /&gt;6. Merubah cara memasak&lt;br /&gt;- Sebaiknya memasak makanan bukan dengan menggoreng tetapi dengan&lt;br /&gt;merebus, mengukus atau membakar tanpa minyak atau mentega.&lt;br /&gt;- Minyak goreng dari asam lemak tidak jenuh sebaiknya bukan&lt;br /&gt;digunakan untuk menggoreng tetapi digunakan untuk minyak salad,&lt;br /&gt;sehingga mempunyai efek positif terhadap peningkatan kadar HDL&lt;br /&gt;kolesterol maupun pencegahan terjadinya endapan pada pembuluh&lt;br /&gt;darah.&lt;br /&gt;7. Melakukan aktifitas fisik dengan teratur.&lt;br /&gt;- Dianjurkan untuk melakukan olah raga yang bersifat aerobik&lt;br /&gt;(&lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;jalan&lt;/span&gt; cepat, lari-lari kecil,  sepeda, renang dll.) secara&lt;br /&gt;teratur 3 – 5 kali setiap minggu, selama 30 – 60 menit/hari,&lt;br /&gt;dengan nadi selama melakukan olah raga sebesar 70 – 80 % (220 –&lt;br /&gt;umur).&lt;br /&gt;- Olah raga yang teratur akan membantu meningkatkan kadar&lt;br /&gt;kolesterol HDL.&lt;br /&gt;- Bila melakukan olah raga jalan, lari-lari kecil sebaiknya&lt;br /&gt;menggunakan sepatu olah raga yang sesuai untuk mencegah cedera&lt;br /&gt;sendi.&lt;br /&gt;Bagi Anda yang ingin terhindar dari masalah kolesterol ada baiknya  mulai mempertimbangkan makanan sehat antikolesterol. Berikut adalah lima  makanan terbaik menurut &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;Mayo Clinic&lt;/span&gt;  yang membantu menurunkan kolesterol dan melindungi jantung serta  pembuluh darah Anda.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;1. Bubur gandum/&lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;oatmeal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oatmeal mengandung serat  larut (soluble fiber) yang dapat menurunkan  kolesterol buruk (low-density lipoprotein /LDL) Anda. Soluble fiber juga  ditemukan pada jenis makanan lain seperti kacang ginjal (kidney beans),  apel, buah pir, barley, dan buah prune. Serat yang larut diyakini mampu  menurunkan penyerapan kolesterol dalam pencernaan Anda. Mengonsumsi 10  gram lebih serat larut setiap hari dapat menurunkan kadar  total LDL.   Setiap 1 1/2 cangkir oatmeal matang yang Anda makan mengandung 6 gram  serat.  Jika Anda tambahkan  buah seperti  pisang, Anda menambah 4  gram  lebih  serat .&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;2. Kacang walnuts, almonds dan  jenis lainnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbagai studi menunjukkan, walnut secara signifikan menurunkan  kolesterol dalam darah.  Kacang ini mengandung banyak asam lemak tak  jenuh ganda (polyunsaturated fatty acids) yang dapat membuat pembuluh  darah tetap sehat dan elastis.  Kacang Almond juga memiliki faedah yang  tidak terlalu beda, di mana penurunan kolesterol dapat Anda rasakan  setelah sekitar empat minggu.&lt;br /&gt;Diet untuk menurunkan kolesterol dengan 20 persen sumber kalori  berasal dari walnut  diklaim dapat  menurunkan kadar kolesterol LDL  hingga 12 persen.  Kacang-kacangan umumnya berkalori tinggi sehingga  dengan hanya sekitar segenggam (tidak lebih dari 2 ons atau 57 gram)  akan memberi faedah.&lt;br /&gt;Namun perlu diingat, ketika Anda mengonsumsinya dengan makanan lain  jangan berlebihan.  Makan berlebih  justru membuat Anda  kegemukan dan  memicu risiko jantung.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;3. Ikan dan asam lemak omega-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak riset yang mendukung manfaat mengonsumsi ikan dalam menurunkan  kolesterol karena ikan kaya kandungan asam lemak omega-3.  Asam lemak  Omega-3 juga  membantu jantung dengan beragam cara seperti menurunkan  tekanan darah  dan menekan risiko pembekuan darah.  Pada pasien yang  sudah mengalami serangan jantung, minyak ikan atau asam lemak omega-3   secara signifikan menurunkan risiko kematian mendadak .&lt;br /&gt;Para dokter biasanya merekomendasikan untuk memakan ikan minimal dua  kali dalam semingguu. Sumber makanan yang kaya  omega-3 terdapat pada   makarel, ikan herring, sarden, tuna albacore dan salmon.&lt;br /&gt;Perlu diingat, untuk mempertahankan faedah ikan bagi kesehatan,  sebaiknya ikan dipanggang atau dibakar dalam oven.  Jika tidak suka  ikan,  Anda juga bisa mempeoleh omega-3 dari makanan lain seperti   ground flaxseed atau canola oil.&lt;br /&gt;Anda juga dapat memperoleh  omega-3 atau minyak ikan dari suplemen,  tetapi tentu tidak akan mendapatkn semua nutrien penting dalam ikan  seperti selenium. Bila Anda memutuskan memakan suplemen, ingatlah untuk  tetap memperhatikan pola makan Anda dan  makanlah daging yang rendah  lemak atau sayuran untuk menggantikan ikan.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;4. Minyak Zaitun/Olive Oil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minyak Zaitun atau olive oil mengandung  campuran antioksidan potensial  yang dapat menekan kolesterol tanpa mengganggu kadar kolesterol  baik  (HDL) Anda .&lt;br /&gt;Badan Pengawas Makanan AS (FDA) merekomendasikan untuk mengonsumi  sekitar  2 sendok makan (23 gram) olive oil setiap hari untuk menjaga  jantung tetap sehat. Untuk menambah olive oil dalam daftar menu, Anda  bisa mencampunya dengan sayuran, bumbu cair, atau mencampurnya dengan  cuka sebagai pelengkap salad. Anda juga dapat menggunakan olive oil as  sebagai pengganti mentega ketika memoles daging.&lt;br /&gt;Beberapa riset menyarankan bahwa  efek olive oil dalam menurunkan  kolesterol akan lebih besar jika Anda memilih extra-virgin olive oil  atau minyak zaitun ekstra murni. Minyak jenis ini tidak melewati proses  pengolahan dan penambahan zat kimia yang diyakini mengandung lebih  banyak antioksidan menyehatkan. Sebaiknya hindari “light” olive oil  karena  biasanya jenis  ini sudah melewati beragam proses pengolahan  sehingga faedahnya tidak akan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;5. Makanan yang difortifikasi  atau diperkaya sterol dan stanol tumbuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak makanan yang kini telah difortifikasi dengan sterol atau stanol —  zat dalam tumbuhan yang membantu menahan penyerapan kolesterol.&lt;br /&gt;Margarin, jus jeruk, atau yogurt ada yang sudah difortifikasi dengan  sterol yang bisa menurunkan  LDL kolesterol hingga 10 persen. Jumlah  sterol tumbuhan yang dibutuhkan untuk mencapai target itu sedikitnya 2  gram yang setara dengan dua porsi (237 mililter) jus jeruk dengan  fortifikasi sterol dalam sehari.&lt;br /&gt;Sterol atau stanol tumbuhan yang ditambahkan dalam makanan  tidak  akan memengaruhi kadar trigliserida atau pun HDL. Sterol atau stanol  juga tidak akan mengganggu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak  seperti A, D, E and K&lt;br /&gt;link:&lt;em&gt;kompas.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4329408461560967288?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4329408461560967288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4329408461560967288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4329408461560967288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4329408461560967288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/05/kolesterol.html' title='Kolesterol'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-7601994495527902055</id><published>2010-05-27T05:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-27T05:06:51.946-07:00</updated><title type='text'>Waktu Terbaik Untuk Makan Obat Kolesterol</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istri saya sakit tapi gak jelas penyakitnya. Setetah melalui beberapa tes ternyata inti permasalahannya adalah kolesterol sangat tinggi yaitu 260. Saya ikut juga di ngetes ternyata sangat mengejutkan yaitu 380. Padahal saya sehat sehat saja. mungkin dari makan ya. salah satunya dari waktu makan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, ngomongin soal kolesterol lagi nih &lt;img alt=":D" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" /&gt;  Dalam 1 bulan belakangan ini saya  mengalami hal yang tidak mengenakkan, tapi memberi hikmah. Sudah lebih  dari 10 tahun saya tahu bahwa saya mempunyai kadar kolesterol dalam  darah yang tinggi, tapi saya tidak ada keluhan apa pun sama sekali. Saya  sempat makan berbagai macam obat, dan setelah kolesterol turun makan &lt;a href="http://www.jimmysun.net/personal/vytorin-obat-bagus-untuk-kolesterol"&gt;Vytorin&lt;/a&gt;,  sudah lebih dari 1 tahun ini saya tidak makan obat lagi. Kenapa? Malas &lt;img alt=":blush:" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/blush.gif" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kurang lebih satu setengah bulan yang lalu ketika sedang bekerja,  tiba-tiba ada yang aneh dengan mata saya. Agak sedikit berkunang-kunang,  dan jadi sulit membaca. Ya, saya mengalami gangguan penglihatan! Tapi  sama sekali tidak gelap, juga bukan berbayang, hanya apa yang saya  lihat, terutama tulisan perlu waktu cukup lama untuk membacanya. Ah,  sulit dijelaskan dengan kata-kata! Hal ini berlangsung sekitar setengah  jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya lalu ke dokter spesialis mata, dokter Lakshmi. Dokter bilang  saya terserang penyempitan pembuluh darah sementara. &lt;i&gt;Nothing to worry  about.&lt;/i&gt; Dia beri saya obat, saya pun santai. Dan saya pun sudah lupa  akan kejadian yang mengejutkan itu. Dua minggu lalu, hal yang sama  terjadi lagi. Kali ini kejadiannya lebih singkat. Saya ke dokter lagi,  dan dokter bilang bahwa ini harus ditangani serius, karena kejadiannya  berulang dalam waktu singkat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokter menyuruh saya tes laboratorium, tes darah dan kolesterol.  Begitu dia menyebutkan kolesterol, saya langsung curiga bahwa ini dia  penyebabnya. Setelah tes darah, ternyata hasilnya membuat Dokter Lakshmi  yakin bahwa penyebab apa yang saya alami adalah kolesterol saya ini.  Kolesterol total saya 374 dari normal 200. Kolesterol baik (HDL) jauh di  bawah normal, 24 dari seharusnya minimal 40. Dan kolesterol jahat (LDL)  jauh sekali di atas normal, 298 dari seharusnya paling tinggi 129. &lt;img alt=":nono1:" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/nono1.gif" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokter bilang saya mengalami &lt;strong&gt;transient ischemic&lt;/strong&gt;.  Saya &lt;i&gt;googling&lt;/i&gt; di internet, ternyata yang namanya transient  ischemic itu sama dengan mini stroke! Ini merupakan pertanda akan stroke  yang sesungguhnya. Aduh!! Saya beresiko sekali kena stroke! &lt;img alt=":cry:" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/yahoo_cry.gif" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokter Lakshmi merujuk saya untuk ke dokter Pintoko, seorang dokter  ahli jantung terkenal di Bandung. Beliau mengatakan bahwa kolesterol  saya ini &lt;b&gt;mau tidak mau harus diturunkan sekarang juga!&lt;/b&gt; Besoknya  saya ke dokter Pintoko, dan setelah diperiksa beliau mengatakan bahwa  jantung saya masih bagus &lt;img alt=":thumbup:" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/msn_thumbup.png" /&gt;  cuma memang kolesterol harus  diturunkan, karena pembuluh darah mata sangat kecil sekali, dan  kemungkinan besar sudah kolesterol saya sudah menumpuk di sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So, selama tiga bulan ini setiap hari saya makan obat, dan harus jadi  &lt;i&gt;full vegetarian&lt;/i&gt;. Jaga makan. Tidak boleh makan daging sama  sekali. Tidak boleh makan makanan yang berlemak, kacang-kacangan. Juga  tidak boleh terlalu banyak makan yang mengandung karbohidrat seperti  nasi putih, kentang, dan roti biasa. Kalau mau makan roti dan nasi,  harus makan roti gandum dan nasi merah. Juga tidak boleh terlalu banyak  makan yang manis-manis. Ah.. sengsara juga lho.. teman-teman di kantor  kemarin makan donat, saya cuma bisa melihat penuh harap. Kalau ada acara  atau ada yang mau traktir makan, paling saya bisa makan salad dan buah  saja &lt;img alt=":cry:" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/yahoo_cry.gif" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan yang tambah menyedihkan, obat-obatannya harganya mahal! Lalu  makanan-makanan yang rendah lemak yang boleh saya makan juga harganya  lebih mahal daripada makanan-makanan biasa. Minyak jagung lebih mahal  dari minyak biasa. Beras merah lebih mahal dari beras putih. Roti gandum  pun lebih mahal dari roti biasa. Hiks…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tapi gapapa lah, yang penting sehat dan terhidar dari stroke yang  mengerikan itu. Oh ya, dari tadi postingan ini belum berhubungan sama  judulnya ya &lt;img alt=":grin3:" class="wp-smiley" src="http://www.jimmysun.net/wp-includes/images/smilies/grin3.gif" /&gt;  Dokter Pintoko mengatakan bahwa supaya  obat terserap tubuh dengan lebih baik, obat kolesterol sebaiknya  dimakan tepat sebelum tidur di malam hari. Hmm.. kalau obat lain selain  obat kolesterol sama juga gak ya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-7601994495527902055?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/7601994495527902055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=7601994495527902055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7601994495527902055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7601994495527902055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/05/waktu-terbaik-untuk-makan-obat.html' title='Waktu Terbaik Untuk Makan Obat Kolesterol'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-1267197376834769965</id><published>2010-02-26T18:18:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.454-08:00</updated><title type='text'>Manajemen konflik</title><content type='html'>Penyebab Konflik&lt;br /&gt;Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:&lt;br /&gt;A. Faktor Manusia&lt;br /&gt;1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.&lt;br /&gt;2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.&lt;br /&gt;3. Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.&lt;br /&gt;B. Faktor Organisasi&lt;br /&gt;1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya.&lt;br /&gt;Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.&lt;br /&gt;2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi.&lt;br /&gt;Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.&lt;br /&gt;3. Interdependensi tugas.&lt;br /&gt;Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.&lt;br /&gt;4. Perbedaan nilai dan persepsi.&lt;br /&gt;Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior men¬dapat tugas yang ringan dan sederhana.&lt;br /&gt;5. Kekaburan yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.&lt;br /&gt;6. Masalah “status”. Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.&lt;br /&gt;7. Hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen. Akibat-akibat Konflik&lt;br /&gt;Konflik dapat berakibat negatif maupun positif tergantung pada cara mengelola konflik tersebut.&lt;br /&gt;Akibat negatif&lt;br /&gt;• Menghambat komunikasi.&lt;br /&gt;• Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).&lt;br /&gt;• Mengganggu kerjasama atau “team work”.&lt;br /&gt;• Mengganggu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi.&lt;br /&gt;• Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.&lt;br /&gt;• Individu atau personil menga-lami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.&lt;br /&gt;Akibat Positif dari konflik:&lt;br /&gt;• Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.&lt;br /&gt;• Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.&lt;br /&gt;• Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.&lt;br /&gt;• Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.&lt;br /&gt;• Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.&lt;br /&gt;Cara atau Taktik Mengatasi Konflik&lt;br /&gt;Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.&lt;br /&gt;Diatasi oleh pihak-pihak yang bersengketa:&lt;br /&gt;Rujuk: Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.&lt;br /&gt;Persuasi: Usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.&lt;br /&gt;Tawar-menawar: Suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit.&lt;br /&gt;Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.&lt;br /&gt;Penarikan diri: Suatu penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;Pemaksaan dan penekanan: Cara ini memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara terpaksa.&lt;br /&gt;Intervensi (campur tangan) pihak ketiga:&lt;br /&gt;Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.&lt;br /&gt;Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.&lt;br /&gt;Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.&lt;br /&gt;Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.&lt;br /&gt;Hal-hal yang Perlu Diperhati-kan Dalam Mengatasi Konflik:&lt;br /&gt;1. Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.&lt;br /&gt;2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.&lt;br /&gt;3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.&lt;br /&gt;4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.&lt;br /&gt;5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.&lt;br /&gt;6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.&lt;br /&gt;7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.&lt;br /&gt;8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon. &lt;br /&gt;http://id.shvoong.com/social-sciences/1961325-manajemen-konflik/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-1267197376834769965?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/1267197376834769965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=1267197376834769965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1267197376834769965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1267197376834769965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/manajemen-konflik.html' title='Manajemen konflik'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-3416410446774911434</id><published>2010-02-26T18:15:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.590-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana cara menemukan dan memanfaatkan potensi dalam diri kita</title><content type='html'>Sudah mengetahui bakat yang dimiliki? Mulailah Anda mengembangkannya. Namun jika&lt;br /&gt;belum tahu apa bakat yang dimiliki, belum terlambat untuk mengetahuinya. Anda hanya&lt;br /&gt;butuh empat kunci berikut untuk mengeluarkan potensi Anda yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;1. KEAHLIAN&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mempelajari sesuatu yang benar-benar baru dan ternyata Anda dapat&lt;br /&gt;menguasainya dengan mudah? Atau mengerjakan sesuatu lebih cepat dari rekan lain?&lt;br /&gt;Bisa jadi, itulah bakat yang sedang memanggil, menunggu Anda meraihnya dan&lt;br /&gt;mengembangkannya.&lt;br /&gt;Jika Anda dengan mudah bisa menyelesaikan sebuah perhitungan saat orang lain&lt;br /&gt;menyumpahi kalkulator. Berarti disitulah bakat Anda. Nah, pikirkanlah hal-hal yang&lt;br /&gt;begitu mudah bagi Anda tetapi tidak bagi teman-teman. Kemudian, perhatikan bakat apa&lt;br /&gt;yang tengah bekerja pada diri Anda.&lt;br /&gt;2. KETERTARIKAN&lt;br /&gt;Cara lain menemukan bakat adalah dengan memikirkan hal-hal yang begitu Anda&lt;br /&gt;inginkan. Seringkali hal-hal yang menarik perhatian selalu berkaitan dengan&lt;br /&gt;kemampuan alami atau bakat. lni merupakan suatu pola konsisten dalam hidup dan bukan&lt;br /&gt;sekadar cara menghabiskan waktu alias hobi semata.&lt;br /&gt;Nah, coba pikirkan apa yang paling Anda ingin lakukan seharian? Menonton film?&lt;br /&gt;Melatih hewan? Menata barang? Memainkan alat musik? Atau membaca buku? Sesuatu itu&lt;br /&gt;tidak harus yang menjadi ambisi Anda, meski ambisi merupakan petunjuk kuat adanya&lt;br /&gt;bakat yang tengah bekerja.&lt;br /&gt;3. KEPUASAN&lt;br /&gt;Apa yang membuat Anda merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam bekerja? Pekerjaan&lt;br /&gt;apa yang membuat Anda begitu hanyut dan merasa tak ingin berhenti saat&lt;br /&gt;mengerjakannya? Bagi para atlet, perasaan hanyut sering terjadi ketika mereka&lt;br /&gt;berolahraga. Sementara bagi para ahli komputer, perasaan hanyut terjadi ketika&lt;br /&gt;mereka menghadapi piranti lunak.&lt;br /&gt;Dalam keadaan hanyut, kita memang menjadi sangat terfokus pada kesempatan untuk&lt;br /&gt;menggunakan bakat. Alhasil, pola gelombang otak kita saat itu begitu mirip dengan&lt;br /&gt;pola gelombang otak ketika kita tertidur lelap. Nah, sekarang apa yang membuat Anda&lt;br /&gt;terhanyut? Jika Anda belum juga menemukan, pikirkan suatu kegiatan yang membuat Anda&lt;br /&gt;terlibat sepenuhnya. Mungkin bakat Anda ada di sana.&lt;br /&gt;4. KEBIASAAN&lt;br /&gt;Pernahkah Anda dipuji karena kemampuan atau sikap Anda? Misalnya, orang menilai Anda&lt;br /&gt;sebagai karyawan yang sangat teratur atau ide pemasaran Anda hebat, atau Anda&lt;br /&gt;pendengar yang baik, dan lain sebagainya. Lewat komentar orang-orang di sekitar,&lt;br /&gt;Anda juga bisa mengetahui kemampuan alami Anda.&lt;br /&gt;Ketrampilan alami memang bisa muncul dalam berbagai cara. Namun, kadang kita&lt;br /&gt;menganggapnya biasa saja karena ketrampilan itu sudah sangat melekat sehingga hampir&lt;br /&gt;tak disadari kehadirannya.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana mengenali bakat itu? Coba cermati apa yang membuat orang tertarik&lt;br /&gt;pada Anda, mengenali Anda atau terfokus pada Anda? Apakah Anda menjadi tempat&lt;br /&gt;curahan hati teman-teman? Atau mereka selalu meminta pendapat Anda soal pakaian?&lt;br /&gt;Nah, di sanalah bakat Anda tersimpan. Anda hanya perlu mencari kesempatan untuk&lt;br /&gt;mengembangkannya.&lt;br /&gt;Namun yang juga perlu diingat, bahwa belum tentu bakat yang sudah Anda pastikan&lt;br /&gt;tersebut membawa keberhasilan. Karena keberhasilan sesungguhnya tetap mengacu kepada&lt;br /&gt;kemauan untuk berusaha sekeras mungkin. Dengan kata lain, bahwa apapun bakat Anda,&lt;br /&gt;tetap pelajari dan tekuni hal2 lainnya yang bisa menunjang dan meningkatkan&lt;br /&gt;kemampuan Anda.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;Bakat/Potensi apakah yang sebenarnya Anda miliki?&lt;br /&gt;http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1954774-bagaimana-cara-menemukan-dan-memanfaatkan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-3416410446774911434?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/3416410446774911434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=3416410446774911434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3416410446774911434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3416410446774911434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/bagaimana-cara-menemukan-dan.html' title='Bagaimana cara menemukan dan memanfaatkan potensi dalam diri kita'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-2532744465299474635</id><published>2010-02-26T18:13:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.602-08:00</updated><title type='text'>Tips BAGAIMANA MENINGKATKAN HARGA DIRI ANAK.</title><content type='html'>Kepercayaan diri terkait dengan harga diri. Seorang anak yang memiliki harga diri yang tinggi akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi pula. Untuk itu, harga diri anak penting ditumbuhkan sejak dini agar kepercayaan dirinya juga tumbuh seiring dengan usianya menuju dewasa. Harga diri adalah 'rasa nilai diri' yang bersumber dari pikiran, perasaan, sensasi dan pengalaman hidup seseorang. Harga diri tumbuh dan berkembang mulai dari usia bayi hingga dewasa. Pada usia dua tahun, anak sudah memiliki rasa otonomi, kesadaran tentang dirinya sebagai orang berdiri sendiri. Dalam tahap awal ini pandangan pertama tentang dirinya terbentuk. Perkembangan selanjutnya banyak tergantung pada tahap awal tersebut.&lt;br /&gt;Masa remaja merupakan periode paling penting dalam pertumbuhan harga diri anak. Pada masa ini, tumbuh 'rasa jati diri' yang kuat. Anak berproses menjadi dewasa, dari ketergantungan menjadi kemandirian dan percaya diri. Pandangannya terhadap dirinya terkait dengan pikiran, perasaan dan tindakan yang bersumber dari dirinya sendiri. Jika ia memandang dirinya secara positif, maka ia memilki harga diri yang tinggi.&lt;br /&gt;Berikut Tips untuk Meningkatkan Harga Diri Anak.&lt;br /&gt;Usahakan anak mengalami perasaan positif dalam empat kondisi mental berikut: (1) Rasa Terikat; anak merasa adanya kepuasan bathin dalam hubungannya dengan orang tua dan keluarganya sehingga menimbulkan rasa keterikatan. (2) Rasa Unik; anak merasa dirinya spesial. ia menghargai sifat tertentu yang membuatnya istimewa ketika ia menerima penghargaan atau pengakuan dari oarang lain. (3) Rasa berkuasa; perasaan yang bersumber dari memiliki sumberdaya dan kemampuan untuk mempengaruhi lingkungannya. (4) Model; contoh perilaku individu, falsafah, dan tindakan yang menjadi model untuk mewujudkan nilai-nilai, cita-ita dn tolok ukur pribadi&lt;br /&gt;Untuk membuat harga diri tinggi, keempat kondisi tersebut harus hadir secara terus menerus. Jika salah satu kondisi itu tidak cukup tersedia, akan berakibat gangguan terhadap harga diri.&lt;br /&gt;1. Tips Meningkatkan Rasa Terikat: (a) berikan perhatian secara pribadi di saat anak membutuhkannya. (b)  tunjukkan kasih sayang kepada anak dalam semua ucapan dan tindakan. (c) berikan pujian secara spesifik dengan jujur. (d) berikan pujian ketika ia bekerjasama dengan baik dengan teman-temannya. (e) hormati hubungan anak dengan teman-temannya. Terimalah teman-temannya berkunjung ke rumah. (f) ceritakan perasaan Anda kepada anak. (g) berbagilah dengan anak tentang minat, hobi, dan perihal kehidupan. (h) luangkan waktu khusus untuk berduaan dengan anak.&lt;br /&gt;2. Tips Meningkatkan Rasa Unik: (a) perhatikan dan tegaskan bakat istimewa yang dimilikinya. (b) terima dan dorong anak mengungkapkan gagasannya. (c) beritahukan penerimaan Anda atas dirinya. (d) temukan segi positif dalam gagasannya dan berikan pujian. (e) terimalah percobaan anak dalam gagasan, pekerjaan atau falsafah. (f) hargai pandangan anak. (g) hormati privasi, kebebasan dan keunikan kamar pribadi anak. (h) biarkan anak memenuhi tugas dan tanggungjawabnya dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;3. Tips Meningkatkan Rasa Berkuasa: (a) dorong anak supaya memiliki tanggungjawab pribadi. Dukung keputusannya dan mantapkan hatinya pada keputusan itu. (b) tunjukkan penghargaan ketika anak menunjukkan tanggungjawab atas gagasan dan perilakunya. (c) bantu anak memahami proses pengambilan keputusan, mempertimbangkan berbagai alternatif dan konsekuensinya. (d) evaluasi proses pengambilan keputusan dan bimbing dalam langkah-langkah pemecahan masalah tetapi biarkan ia mengusulkan alternatif dan hasilnya. (e) beri penghargaan atas keberhasilan anak, sekecil apapun keberhasilannya. (f) hargai tingkat kemampuan yang dimiliki anak pada saat ini. (g) dorong anak menentukan tujuan pribadinya dalam jangka pendek dan jangka panjang.&lt;br /&gt;4. Tips Meningkatkan Model: (a) berikan contoh teladan perilaku yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Ingat, orang tua adalah 'model utama' bagi anak. (b) hubungkan anak dengan orang-orang berprestasi dengan kontak pribadi atau buku bacaan.(c) bantu anak memahami apa yang diyakininya. (d) bantu anak menetapkan tujuan yang realistis dalam hal perilaku dan pelajarannya. (e) hadapkan anak dengan konsekuensi perilakunya. (f) bantu memahami dengan jelas cara-cara mengerjakan tugasnya. (g) tonjolkan potensi yang dimilikiya ketimbang kekuarangannya. (h) berusahalah memahami kondisi khusus yang mempengaruhi anak, seperti kondisi lingkungan dan tekanan sosial&lt;br /&gt;(http://id.shvoong.com/books/self-improvement/1962352-bagaimana-meningkatkan-harga-diri-anak/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-2532744465299474635?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/2532744465299474635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=2532744465299474635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/2532744465299474635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/2532744465299474635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/tips-bagaimana-meningkatkan-harga-diri.html' title='Tips BAGAIMANA MENINGKATKAN HARGA DIRI ANAK.'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-8028598808913327659</id><published>2010-02-26T18:07:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.613-08:00</updated><title type='text'>Ajaibnya Otak Tengah</title><content type='html'>Akhir-akhir ini marak isu tentang pelatihan aktivasi otak tengah anak di Jakarta dan di beberapa kota besar di Indonesia. Anak-anak yang otak tengahnya telah diaktifkan dapat menggambar dengan mata tertutup, menebak kartu remi, membaca koran, dan bahkan naik sepeda dengan mata tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini fenomena luar biasa karena sebelumnya kita tahu bahwa hanya para ahli yang telah berlatih bertahun-tahun yang dapat melakukannya. Sementara anak-anak ini mampu demikian hanya dalam waktu dua hari saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan yang lalu, saya sendiri melihatnya di Kampus UI Depok (lokasi pelatihan GMC). Setelah dua hari pelatihan, anak-anak itu bisa berlari-lari di pinggir kolam renang di UI itu dengan mata ditutup. Waktu saya satanya, mereka bilang bahwa mereka tidak merasa gelap, melainkan terang saja dalam otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dapat dimengerti karena menurut ilmu pengetahuan memang manusia dapat melihat dengan otak, bukan dengan mata. Mata hanyalah jendela dari otak. Rupanya otak tengah itu berperan penting juga dalam hubungannya dengan indera manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pengaktifan otak tengah ini pertama kali dibawa ke Indonesia oleh Master Franchise Genius Mind Consultancy Indonesia, Doni Satya. Ia mengatakan bahwa otak tengah merupakan jembatan anatara otak kanan dan otak kiri. Jika otak tengah aktif, maka akan memaksimalkan fungsi kedua otak, baik kanan maupun kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia saat ini diketahui hanya dapat memaksimalkan fungsi otaknya 1-5 % saja. Bahkan Albert Eistein, ilmuwan yang jenius itu   kabarnya hanya menggunakan 10 % dari keseluruhan fungsi otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ada 90% lagi misteri fungsi otak yang akan menarik untukdieksplor lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saja jadi ingat suatu hari pernah menonton tayangan Oprah Winfrey Show. Saay itu dihadirkan seorang wanita separo baya yang dapat mengingat kejadian setiap hari dalam hidupnya sejak ia berumur 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketika ia ditanya, misalnya, apa yang kamu lakukan pada anggak 25 Novermber saat kamu berusia 8 tahun? Ia mengatakan, "Oh, saat itu paginya saya diajak berenang oleh ayah, lalu kami menghadiri acara ulang tahun temanku Catarina, lalu aku pulang dan terpeleset di tangga, lalu aku menangis... Bla bla bla."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa sekali bahwa perempuan ini betul-betul dapat mengingat semua urutan kejadian selama bertahun-tahun dalam otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya memang ada bagian dalam fungsi otak manusia memungkinkan hal tersebut, hanya saja bagi sebagian besar manusia, bagian tersebut tidak berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan potensi otak tengah? Konon ada banyak manfaatnya jika otak tengah diaktifkan. Misalnya bisa meningkatkan kemampuan memori, konsentrasi, kreativitas, menyeimbangkan hormon, menstabilkan emosi, dan membentuk karakter positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, metode dari GMC yang dilakukan selama dua hari ini hanya berlaku untuk anak usia 5-15 tahun. Buat yang sudah melewati umur ini sepertinya hanya dapat merelakan kemampuan ini untuk anak-anak generasi penerus, supaya mereka bisa lebih jenius dan memaksimalkan potensi mereka.(wikimu.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-8028598808913327659?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/8028598808913327659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=8028598808913327659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8028598808913327659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8028598808913327659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/ajaibnya-otak-tengah.html' title='Ajaibnya Otak Tengah'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-5293738085838003435</id><published>2010-02-26T18:06:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.624-08:00</updated><title type='text'>Makna Sholat Tahajud</title><content type='html'>Tahajud artinya 'bangun dari tidur di malam hari.' Maka sholat tahajud dikerjakan di malam hari setelah tidur terlebih dahulu , walaupun tidurnya sebentar. Mengapa harus tidur dulu? Karena bangun tidur pikiran kita menjadi lebih segar dan fresh. Dengan tidur berarti proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi. Mengapa pula tengah malam atau sepertiga malam? Karena pada malam hari suasana hening dan tenang menunjang konsentrasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sesungguhnya bangun tengah malam adalah lebih mengena dan bacaannya lebih berkesan. Pasa siang hari engkau mempunyai urusan panjang. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan.' (QS. al-Muzzamil:1-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut at_Tabari, bacaannya lebih berkesan, maksudnya bahwa sholat malam lebih membekas dihati kita. Ketika aktifitas kehidupan terhenti dan kebanyakan manusia tertidur lelap. Bangun tengah malam terhindarkan kita dari riya.' Sholat tahajud juga mengajarkan keikhlasan. Ia barometer bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sengaja bangun malam hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki keinginan niat kuat. Niat yang kuat didorong oleh motivasi yang kuat sehingga sholat tahajud akan dilaksanakan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-5293738085838003435?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/5293738085838003435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=5293738085838003435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/5293738085838003435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/5293738085838003435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/makna-sholat-tahajud.html' title='Makna Sholat Tahajud'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-6453322835234766710</id><published>2010-02-26T18:04:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.634-08:00</updated><title type='text'>Kenakalan Remaja</title><content type='html'>Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Dan saya pun pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika sebuah anak kelas satu SMA di kompelks saya, ditangkap/diciduk POLISI akibat menjadi seorang bandar gele, atau yang lebih kita kenal dengan ganja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini semua bisa terjadi karena adanya faktor-faktor kenakalan remaja berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kurangnya kasih sayang orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kurangnya pengawasan dari orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- dasar-dasar agama yang kurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kebasan yang berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- masalah yang dipendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya dapat memberikan beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga dapat berguna bagi anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-6453322835234766710?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/6453322835234766710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=6453322835234766710' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6453322835234766710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6453322835234766710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/kenakalan-remaja.html' title='Kenakalan Remaja'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-3531157313486733971</id><published>2010-02-26T17:38:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.644-08:00</updated><title type='text'>BAB VII LEMBAR KERJA DAN EVALUASI</title><content type='html'>A. Lembar Kerja&lt;br /&gt;1. Diskusikan dan rumuskan dalam kelompok kecil (5-10 orang) tentang latar belakang dan tujuan diterapkannya MPMBS secara umum yang memungkinkan dapat dilakukan di sekolah.. Latar belakang mencakup kondisi sekolah saat ini dan kondisi yang diharapkan. Masalah utama dan pemecahan masalah terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diskusikan pengisian lembar supervisi Tabel 2 &lt;br /&gt;    dengan asumsi kolom 5 ada masalahnya.&lt;br /&gt; 3.  Diskusikan pengisian Tabel 4 di atas dengan asumsi ketujuh aspek MPMBS di atas belum baik pelaksanaannya dan bermasalah. Lengkapilah isian tabel di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Evaluasi (pre-tes dan post tes)&lt;br /&gt;     1. Karakteristik MPMBS identik dengan karakteristik sekolah efektif. Jelaskan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif serta memiliki tingkat kepentingan erat dengan keterampilan manajerial sekolah dan MPMBS.&lt;br /&gt;      2.  Buatlah visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah!&lt;br /&gt; 3. Jelaskan analisis SWOT dalam meningkatkan MPMBS.&lt;br /&gt;       4. Mengapa ME perlu dilakukan?&lt;br /&gt;          5. Mengapa hasil ME jarang ditindaklanjuti?&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alberct. 1983. Pengembangan Organisasi. Bandung: Angkasa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Depdiknas. 2002, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BSNP. 2006. Naskah Akademik Standar Pengelolaan Pendidikan. Jakarta: BSNP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dornseif. 1996. School-Based Management. Alexandria: ASCD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Duhou, I.B. 2002. School-Based Management.(Diterjemahkan Aini, N &amp; Al-Jauhari, A). Jakarta: Logos  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Gutrie, J.W &amp;  Reed, R.J.1991. Educational Administration and Policy Effective Leadership for American Education. Boston: Allyn and Bacon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Jalal, F. &amp; Supriadi, D. 2001. (Editor). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Adicita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Koentjaraningrat. 1992. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manning, G., &amp; Curtis, K. 2003. The art of leadership. Boston: McGraw-Hill Irwin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;  Maslow, A. 1954. Motivation and Personality. New York: Addison-Wesley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odden, A. 1994. School-Based Management. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Pokja Diknas Jawa Barat. 2001. Pedoman Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di Jawa Barat. Bandung: Diknas Propinsi Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Bandung: Citra Umbara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Verma, V.K. (1996). The Human Aspects of Project Management &lt;br /&gt;             Human Resources Skills for the Project Manager. Upper Darby, &lt;br /&gt;              PA: Project Management Institue.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-3531157313486733971?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/3531157313486733971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=3531157313486733971' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3531157313486733971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3531157313486733971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/bab-vii-lembar-kerja-dan-evaluasi.html' title='BAB VII LEMBAR KERJA DAN EVALUASI'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-2728648237030957952</id><published>2010-02-26T17:37:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.656-08:00</updated><title type='text'>BAB VI MONITORING DAN EVALUASI</title><content type='html'>A. Rasional dan Tujuan&lt;br /&gt;                 ME merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan baik di tingkat mikro (sekolah), meso (kandep, kanwil), maupun makro (departemen). Hal ini didasari pemikiran bahwa ME dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan di sekolah. ME menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Karena itu, keberhasilan ME ditentukan oleh informasi yag cepat, tepat, dan cukup untuk pengambilan keputusan. Pelaksanaan MPMBS memerlukan ME yang intensif dan terus-menerus.&lt;br /&gt;                Monitoring adalah proses pemantauan untuk mendapatkan informasi pelaksanaan MPMBS. Jadi, fokus monitoring pada proses pelaksanaan MPMBS bukan pada hasilnya. Sedangkan evaluasi ialah proses mendapatkan informasi tentang hasil MPMBS. Informasi hasil ini dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. Bila sesuai berarti program MPMBS efektif.&lt;br /&gt;      ME  MPMBS bertujuan untuk:&lt;br /&gt; (1)  mendapatkan informasi sebagai masukan dalam pengambilan &lt;br /&gt;        keputusan.&lt;br /&gt; (2). Memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MPMBS &lt;br /&gt;         baik konteks, input, proses, output, maupun outcome &lt;br /&gt;         (Depdiknas,2002).      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Komponen-komponen MPMBS yang Di-ME&lt;br /&gt;1. Konteks adalah eksternal sekolah berupa tuntutan (demand) dan &lt;br /&gt;   dukungan (support) yang berpengaruh terhadap input sekolah.   &lt;br /&gt;    Evaluasi konteks adalah evaluasi  kebutuhan (needs assessment).&lt;br /&gt;2. Input &lt;br /&gt;3. Proses &lt;br /&gt;4. Output &lt;br /&gt;     5. Outcome ialah hasil MPMBS jangka panjang. Bedanya dengan output adalah output masih dampak pendidikan jangka pendek, sedangkan outcome merupakan dampak pendidikan jangka panjang baik terhadap siswa maupun sosial. Alat evaluasinya umumnya menggunakan analisis biaya dan manfaat (cost-benefit analysis)  (Depdiknas,2002)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;C.  Jenis ME&lt;br /&gt;               Ada dua jenis ME: internal dan eksternal. ME internal ialah ME yang dilakukan sekolah. Tujuannya utama ME internal adalah untuk mengetahui  tingkat kemajuan sekolah sehubungan dengan sasaran-sasaran sekolah. Pelaksana ME internal adalah warga sekolah. ME eksternal ialah ME yang dilakukan pihak luar sekolah seperti Dinas Pendidikan  Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, Direktorat SLTP, pengawas, BPG, PT, atau gabungan dari mereka. Hasil ME untuk: sistem hadiah bagi sekolah, meningkatkan iklim kompetensi antar sekolah, kepentingan akuntabilitas sekolah, memperbaiki sistem yang ada secara menyeluruh, dan membantu sekolah mengembangkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Rancangan/Disain ME&lt;br /&gt;         Rancangan ME meliputi:&lt;br /&gt;(1) penyusunan indikator (konteks, input, proses, output, dan outcome); &lt;br /&gt;(2) penyusunan instrumen berdasarkan indikator-indikator; &lt;br /&gt;(3) penyusunan petunjuk penilaian berupa cara pembobotan, skala penilaian, &lt;br /&gt;     perhitungan, dan langkah-langkah penilaian; &lt;br /&gt;(4) pemilihan sumber data berupa pihakterkait; &lt;br /&gt;(5) pemilihan metode pengumpulan data berupa dokumen, pengamatan, &lt;br /&gt;     angket, dan wawancara; &lt;br /&gt;(6) pemilihan metode analisis data; &lt;br /&gt;(7)penyusunan prosedur dan jadwal; &lt;br /&gt;(8) penentuan pelaksana ME misalnya ME untuk sekolah pelaksananya terdiri &lt;br /&gt;      dari pengawas, wakil dinas, wakil bidang, wakil BPG, dan kalangan &lt;br /&gt;      profesional (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;E. Pelaksanaan ME&lt;br /&gt;                Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ME adalah data yang akurat &lt;br /&gt;     dan terbaru dan dianalisis dengan metode analisis yang cocok (Depdiknas,2002)&lt;br /&gt;F. Penyusunan Laporan Hasil ME&lt;br /&gt;     Sampul&lt;br /&gt;     Halaman judul&lt;br /&gt;     Kata Pengantar&lt;br /&gt;     Daftar Isi&lt;br /&gt;     Ringkasan Eksekutif&lt;br /&gt;     Daftar Gambar&lt;br /&gt;     Daftar Tabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     BAB  I  PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;B. Tujuan&lt;br /&gt;C. Pelaksanaan (waktu, tempat, jadwal, petugas/evaluator)   &lt;br /&gt;D. Metodologi Evaluasi (metode pengumpulan data, sumber data, instrumen, metode analisis data, dan prosedur ME).&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     BAB  II HASIL EVALUASI&lt;br /&gt;A. Deskripsi Data&lt;br /&gt;B. Hasil Pengolahan Data&lt;br /&gt;1. Hasil Pengolahan Data Setiap Komponen&lt;br /&gt;2. Hasil Pengolahan Data Keseluruhan Komponen Sekolah (agregatif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;B. Saran dan Tindak Lanjut     &lt;br /&gt;    LAMPIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Contoh Instrumen ME untuk Pembinaan MPMBS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan kepala sekolah dilakukan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap pencapaian hasil MPMBS. Caranya dengan memonitor dan mengevaluasi  pelaksanaan MPMBS saat ini dan mengupayakan peningkatan skor yang telah dicapai sehingga mencapai skor yang maksimal (5). Data pelaksanaan peningkatan mutu di sekolah dikumpulkan oleh pengawas sekolah melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan  dokumentasi. Hasilnya disimpulkan dalam bentuk kriteria skor  sebagai berikut.&lt;br /&gt;0 = kondisi/proses dan hasil sama sekali belum &lt;br /&gt;      direncanakan/dilaksanakan/dicapai atau &lt;br /&gt;      tidak mendukung sama sekali. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1 = kondisi/perencanaan/pelaksanaan/hasil/peran/tanggung jawab belum &lt;br /&gt;      dilaksanakan/dicapai/ditunjuk/tidak mendukung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 = kondisi/perencanaan/pelaksanaan/hasil/peran/tanggung jawab sebagian &lt;br /&gt;      kecil  selesai/mendukung/berhasil memuaskan dengan sebagian besar &lt;br /&gt;      ditingkatkan dan mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 = kondisi/perencanaan/pelaksanaan/hasil/peran/tanggung jawab telah &lt;br /&gt;      selesai/mendukung/berhasil (memuaskan) dengan peningkatan &lt;br /&gt;      sebagian kecil dan mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 = kondisi/perencanaan/pelaksanaan/hasil/peran/tanggung jawab telah &lt;br /&gt;      selesai/mendukung/berhasil (memuaskan) dengan sebagian kecil masih &lt;br /&gt;      bisa ditingkatkan tapi tidak mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 = kondisi/perencanaan/pelaksanaan/hasil/peran/tanggung jawab telah selesai/mendukung/berhasil tanpa cacat (memuaskan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  12&lt;br /&gt;Lembar Observasi Pengelolaan dan Administrasi Sekolah Berbasis MPMBS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Kondisi 0 1 2 3 4 5&lt;br /&gt; KEADAAN GEOGRAFIS      &lt;br /&gt;1.  Kondisi dan kesesuaian  daerah sekitar ditinjau dari sosial budaya kehidupan masyarakat terhadap pelaksanaan program di sekolah seperti merasa ikut memiliki dan perhatian kepada kepala sekolah.      &lt;br /&gt;2. Kondisi dan dukungan iklim komunikasi dan pergaulan masyarakat terhadap lingkungan/masyarakat sekolah yang melaksanakan program di sekolah seperti sifat akomodatif dan peluang yang diberikan untuk pengembangan sekolah.      &lt;br /&gt;3. Dukungan alam sekitar terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah adalah memiliki potensi besar mendukung sukses dan berkembangnya program sekolah, gangguan bencana alam, dan tingkat keterjangkauan masyarakat menuju sekolah.      &lt;br /&gt;4. Kesesuaian adat istiadat, agama, dan keyakinan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah adalah kondusif dan memberikan kontribusi kepada sekolah, kerukunan antar agama dan etnis, serta sifat kegotongroyongan.      &lt;br /&gt;  PERMINTAAN MASYARAKAT AKAN PENDIDIKAN      &lt;br /&gt;1. Animo dan dorongan masyarakat dalam melanjutkan pendidikan/sekolah anaknya, dan kualitas calon siswa ditinjau dari nilai hasil ujian nasional.      &lt;br /&gt;2. Perkembangan jenis pendidikan di daerah, baik negeri maupun swasta, secara kuantitas dan kualitas serta jumlah lulusan sekolah dasar dari tahun ke tahun.      &lt;br /&gt;3. Permintaan masyarakat akan peningkatan mutu pendidikan di daerah, seperti pengayaan materi pelajaran, PBM di sekolah serta animo orang tua untuk memasukkan anaknya yang SLTP ke lembaga bimbingan belajar/tes.      &lt;br /&gt;4. Permintaan masyarakat akan relevansi pendidikan di daerah seperti disesuaikan dengan kemampuan ekonomi, kurikulum muatan lokal dan pertimbangannya dengan kemajuan IPTEK serta perkembangan otonomi daerah.      &lt;br /&gt; DUKUNGAN ATAU PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PENDIDIKAN/SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Dukungan/partisipasi dalam bentuk pemikiran seperti dalam bentuk usul, saran, kritik, baik melalui media masa, elektronik ataupun langsung kepada sekolah mengenai berbagai persoalan dan penyelenggaraan pendidikan.      &lt;br /&gt;2. Dukungan/partisipasi orang tua/masyarakat dalam bentuk fisik (material/barang) untuk pembangunan sarana dan fasilitas belajar mengajar di sekolah.      &lt;br /&gt;3. Dukungan/partisipasi masyarakat/orang tua siswa/BP3 dalam bentuk uang untuk pembangunan sarana dan fasilitas belajar mengajar di sekolah serta proses pembelajaran.      &lt;br /&gt;4. Dukungan/partisipasi dalam bentuk moral seperti pembinaan anak di keluarga tentang keagamaan, nilai dan etika, dan sosial kemasyarakatan.      &lt;br /&gt; KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH      &lt;br /&gt;1. Implementasi atau penerapan dan kebijakan pendidikan tingkat nasional oleh sekolah sesuai dengan tingkat kepentingan dan tuntutan daerah.      &lt;br /&gt;2. Keberadaan komite sekolah, keanggotaan sekolah di dewan sekolah tingkat kabupaten/kota, dan kerjasama sekolah dengan pemerintah setempat.      &lt;br /&gt;3. Implementasi kebijakan daerah dalam mewujudkan otonomi daerah sampai dengan otonomi sekolah melalui dukungan kepada sekolah dalam bentuk uang, material, atau lainnya.      &lt;br /&gt; ASPIRASI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN      &lt;br /&gt;1. Bentuk dan isi aspirasi masyarakat sekitar sekolah terhadap mutu pendidikan yang berbasis sekolah/masyarakat disampaikan melalui berbagai media, pertemuan, dialog, dan sebagainya.      &lt;br /&gt;2. Keberadaan wadah komunikasi di sekolah untuk menampung informasi dan aspirasi dari masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di daerahnya dan mensosialisasikan/mensinkronkan program sekolah dengan kemauan masyarakat.      &lt;br /&gt;3. Keberadaan jaringan informasi sekolah di samping untuk mengetahui perkembangan IPTEK dan masyarakat daerah, nasional dan internasional, juga meningkatkan wawasan, pengetahuan, kebijakan pemerintah dan lainnya.      &lt;br /&gt;4. Reaksi sekolah terhadap aspirasi dan informasi dari masyarakat diantaranya sekolah memiliki sikap keterbukaan, responsif, dan tindakan nyata dalam bentuk kebijakan untuk penyelenggaraan pendidikan.      &lt;br /&gt; STATUS SOSIAL EKONOMI (SSE) MASYARAKAT      &lt;br /&gt;1. Kondisi rata-rata status sosial masyarakat sekitar sekolah.      &lt;br /&gt;2. Kondisi rata-rata tingkat perekonomian warga sekitar sekolah.      &lt;br /&gt; VISI SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Tingkat pemahaman dan penghayatan visi sekolah oleh warga sekolah.      &lt;br /&gt;2. Keberadaan dan perumusan visi sekolah dikaitkan dengan keterlibatan warga sekolah.      &lt;br /&gt;3. Tingkat Sosialisasi visi sekolah kepada warga sekolah, masyarakat, BP3 dan lainnya.      &lt;br /&gt; MISI SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Perumusan, isi rumusan, dan keterlibatan warga sekolah dan BP3 dalam penyusunan misi sekolah sebagai penjabaran dari visi sekolah.      &lt;br /&gt;2. Tingkat sosialisasi dan pemahaman misi sekolah oleh warga sekolah dan masyarakat.      &lt;br /&gt; TUJUAN SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Tingkat perumusan Tujuan Sekolah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah yang terukur, cerminan dalam suatu sasaran serta tingkat kebersamaan penyusunan tujuan sekolah.      &lt;br /&gt;2. Tingkat sosialisasi dan pemahaman tujuan.      &lt;br /&gt;3. Variasi dan kuantitas tujuan sekolah.      &lt;br /&gt; SASARAN SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Keterlibatan warga sekolah dalam perumusan sasaran sekolah, juga perumusan sasaran sekolah berdasarkan pada visi, mis dan tujuan sekolah dengan memperhitungkan tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah dan telah menggambarkan secara kuantitas dan mutu yang akan dicapai.      &lt;br /&gt;2. Tingkat sosialaisasi dan pemahaman sasaran.      &lt;br /&gt;3. Variasi dan kuantitas sasaran sekolah yang akan dicapai oleh sekolah.      &lt;br /&gt; PROGRAM SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Perumusan program sekolah berdasarkan atas analisa fungsi-fungsi sumber daya dan atas dasar analisa SWOT serta langkah-langkah pemecahan persoalannya oleh warga sekolah dan masyarakat/BP3      &lt;br /&gt;2. Program sekolah mencerminkan dari sasaran yang telah dirumuskan atau ditetapkan sebelumnya dengan perencanaan-perencanaan konkret tentang aspek-aspek mutu yang akan dicapai, kegiatannya, yang melakukan, waktu, tempat, dan biaya yang diperlukan.      &lt;br /&gt;3. Program sekolah berisi tentang berbagai aspek yang semuanya untuk meningkatkan mutu sekolah, baik yang bersifat akademik maupun non akademik.      &lt;br /&gt;4. Sistematika program kerja sekolah dibuat atau dikelompokkan sesuai sasarannya dengan berbagai indikator seperti: nama program, sasaran, penanggung jawab, kekuatan pendukung, kelemahan/penghambat, strategi, dan perincian lengkap kegiatan.      &lt;br /&gt;5. Anggaran program kerja sekolah diformulkasikan dalam bentuk rupiah untuk jangka waktu tertentu(periode) serta alokasi sumber-sumber kepada setiap bagian dengan sumber-sumber dana dapat dialokasikan dari : Rutin, OPF, BP3, bantuan MPMBS, Kesiswaan, dan lainnya.      &lt;br /&gt;6. Khusus anggaran dari bantuan MPMBS sebagai pancingan pembiayaan untuk operasionalisasi kegiatan program sekolah bagi peningkatan mutu sekolah.      &lt;br /&gt;7. Bentuk atau format anggaran program kerja sekolah disusun terdiri : RAPBS, Anggaran Total, dan Anggaran Tiap Kegiatan.      &lt;br /&gt; SUMBER DAYA SEKOLAH      &lt;br /&gt;1. Potensi sumber daya sekolah(sarana, prasarana, fasilitas, alat, media, dll)      &lt;br /&gt;2. SDM sekolah (jumlah dan kualifikasinya)      &lt;br /&gt;3. Sarana dan prasarana (tanah dan gedung), baik luasan, jumlah dan kualifikasinya.      &lt;br /&gt;4. Fasilitas ruang, laboratorium, perpustakaan, UKS, BP, dll.      &lt;br /&gt;5. Fasilitas mebelair untuk siswa, guru, KS, TU, dll.      &lt;br /&gt;6. Sumber dana, jumlah dana, usaha-usaha untuk memperoleh tambahan dana, serta penggunaannya.      &lt;br /&gt;7. Optimasi penggunaan sumber daya sekolah.      &lt;br /&gt; SISWA/PESERTA DIDIK      &lt;br /&gt;1. Sistem rekruitmen, seperti kepanitiaan, persyaratan, dan kerjasama dengan stakeholders.      &lt;br /&gt;2. Karakteristik siswa tentang hasil belajarnya, SES, dan prestasi lain.      &lt;br /&gt;3. Aktivitas siswa baik yang bersifat akademik maupun non akademik.      &lt;br /&gt; KURIKULUM      &lt;br /&gt;1. Penerapan Kurikulum Nasional tentang jumlah, jenis, daya serap siswa, dan pengayaan program/materi.      &lt;br /&gt;2. Pengembangan dan penerapan kurikulum muatan lokal.      &lt;br /&gt;3. Pengembangan kurikulum dalam bentuk silabus, SAP, referensi, diktat, dll.      &lt;br /&gt; SIKAP KEMANDIRIAN      &lt;br /&gt;1. Pemahaman warga sekolah terhadap swadaya sekolah.      &lt;br /&gt;2. Optimasi potensi sekolah apapun jenisnya.      &lt;br /&gt; KEUANGAN      &lt;br /&gt;1. Penggalian sumber dana dimasyarakat,  sekolah dengan berbagai strategi.      &lt;br /&gt;2. Peran warga sekolah dalam meningkatkan income generating activity atau unit produksi.      &lt;br /&gt;3. Peruntukan biaya bagi setiap program yang menghasilkan tambahan dana bagi sekolah.      &lt;br /&gt;4. Donatur/sumber dana baik jumlah, kualifikasi maupun instansi/dunia usaha.      &lt;br /&gt; PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN      &lt;br /&gt;1. Aktivitas kegiatan pertemuan antara warga sekolah dengan masyarakat.      &lt;br /&gt;2. Peran warga sekolah dalam setiap mengadakan/ menyelenggarakan pertemuan/rapat baik berupa usul, kritik, pendapat, dll.      &lt;br /&gt;3. Peran masyarakat (BP3/Stakeholders/Komite Sekolah) dalam setiap melakukan pertemuan/rapat dengan sekolah.      &lt;br /&gt;4. Bentuk pengambilan keputusan yang didasarkan atas asas musyawarah, mufakat dan demokratis.      &lt;br /&gt; PROSES PENGELOLAAN KELEMBAGAAN      &lt;br /&gt;1. Dalam pengorganisasian, sekolah telah membuat struktur.      &lt;br /&gt;2. Terdapat tugas dan tanggung jawab (job discription) dalam menggerakkan roda organisasi sekolah, antara masing-masing fungsi/bagian dalam organisasi tersebut.      &lt;br /&gt;3. Terdapat jaminan hak-hak, kewajiban, penghargaan, dan sanksi bagi warga sekolah.      &lt;br /&gt;4. Kerjasama dengan pihak lain (stakeholders).      &lt;br /&gt;5. Pengembangan dan inovasi kelembagaan.      &lt;br /&gt;6. Peningkatan aturan main atau kebijakan sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.      &lt;br /&gt;7. Peningkatan kebiasaan baik dan inovatif di sekolah.      &lt;br /&gt;8. Peningkatan peran warga sekolah dalam melaksanakan konsep MPMBS.      &lt;br /&gt;9. Peningkatan pengelolaan hubungan kelembagaan baik intern sekolah maupun dengan ekstern sekolah (stakeholders).      &lt;br /&gt; PROSES PENGELOLAAN PROGRAM      &lt;br /&gt;1. Keberadaan program kerja sekolah yang jelas, terencana, kerjasama dengan pihak lain, dan terukur serta layak dilaksanakan.      &lt;br /&gt;2. Keterlibatan warga sekolah, masyarakat dalam pelaksanaan program kerja.      &lt;br /&gt;3. Kualitas dan Kuantitas Program Kerja.      &lt;br /&gt;4. Strategi Pelaksanan Program dan kesesuaiannya dengan sasaran.      &lt;br /&gt;5. Penggunaan analisa SWOT dalam pelaksanaan program kerja sekolah.      &lt;br /&gt; PROSES BELAJAR MENGAJAR      &lt;br /&gt;1. Inovasi, penggunaan media, evaluasi, dan sebagainya dalam kegiatan guru dalam mengajar.      &lt;br /&gt;2. Pengelolaan kelas dilakuakn dengan memperhatikan gender, perbedaan kemampuan siswa, dll.      &lt;br /&gt;3. Program pembimbingan siswa, pelaksanaan, dan keberlanjutannya, di samping memperhatikan jenis dan latar belakang siswa.      &lt;br /&gt;4. Pengayaan materi pengajaran yang dilakukan sekolah.      &lt;br /&gt;5. Referensi mendukung pelajaran.      &lt;br /&gt; PROSES EVALUASI      &lt;br /&gt;1. Pengembangan bentuk bentuk evaluasi yang dilakukan sekolah.      &lt;br /&gt;2. Pelaksanaan evaluasi di sekolah, baik ditinjau dari durasi waktu, model, maupun lainnya.      &lt;br /&gt; PROSES KERJASMA DAN PARTISIPASI      &lt;br /&gt;1. Keberadaan jaringan kerjasama dan partisipasi masyarakat yang ada di sekolah.      &lt;br /&gt;2. Pelaksanaan atau implementasi kerjasama atau partisipasi dari stakeholders.      &lt;br /&gt;3. Isi kerjasama dan partisipasi.      &lt;br /&gt; AKUNTABILITAS      &lt;br /&gt;1. Pertanggungjawaban program oleh sekolah kepada warga sekolah dan masyarakat.      &lt;br /&gt;2. Pertanggungjawaban keuangan sekolah kepada warga seklah dan masyarakat.      &lt;br /&gt;3. Mekanisme pertanggungjawaban program sekolah dan keuangan sekolah.      &lt;br /&gt;4. Kepuasan warga sekolah/masyarakat/BP3 terhadap pertanggungjawaban sekolah.      &lt;br /&gt; KEMANDIRIAN      &lt;br /&gt;1. Penggalian sumber-sumber dana dari dalam sekolah dan di luar sekolah.      &lt;br /&gt;2. Pemanfaatan sumber daya sekolah dalam upaya menambah pendapatan sekolah.      &lt;br /&gt;3. Pengadaan income generating unit-unit produksi dan sejenisnya.      &lt;br /&gt; PROSES KETERBUKAAN      &lt;br /&gt;1. Keberadaan dan operasionalisasi wadah informasi di sekolah.      &lt;br /&gt;2. Tingkat kepuasan warga sekolah dan masyarakat terhadap berbagai program dan pertanggungjawaban sekolah.      &lt;br /&gt; PROSES KEBERLANJUTAN (SUSTAINIBILITAS)      &lt;br /&gt;1. Perumusan sasaran lanjutan program dari sebelumnya oleh sekolah.      &lt;br /&gt;2. Perumusan program lanjutan dari sebelumnya oleh sekolah.      &lt;br /&gt;3. Strategi yang dipergunakan untuk merumuskan pelaksanaan program lanjutan.      &lt;br /&gt;4. Pentahapan pelaksanaan yang direncanakan.      &lt;br /&gt;5. Pengembangan dukungan pencapaian sasaran.      &lt;br /&gt; PENGELOLAAN KEUANGAN      &lt;br /&gt;1. Perincian penggunaan/pembiayaan untuk program sekolah.      &lt;br /&gt;2. Proporsi penggunaan biaya untuk program sekolah.      &lt;br /&gt;3. Dasar-dasar pembiayaan yang secara yuridis dipakai oleh sekolah.      &lt;br /&gt;4. Jenis sasaran yang dibiayai baik yang bersifat akademik maupun non akademik.      &lt;br /&gt;5. Ratio pemasukan dan pengeluaran dana.      &lt;br /&gt;6. Perangkat administrasi yang diperlukan.      &lt;br /&gt;7. Personil penanggung jawab terhadap penggunaan biaya/dana.      &lt;br /&gt; PRESTASI AKADEMIK      &lt;br /&gt;1. Hasil belajar nasional dan Nilai Rapor lulusan.      &lt;br /&gt;2. Hasil-hasli Karya Ilmiah Remaja para siswa.      &lt;br /&gt; PRESTASI NON AKADEMIK      &lt;br /&gt;1. Prestasi Olah Raga warga sekolah/sekolah.      &lt;br /&gt;2. Prestasi Kesenian warga sekolah/sekolah.      &lt;br /&gt;3. Prestasi Keterampilan warga sekolah/sekolah.      &lt;br /&gt;4. Kreativitas warga sekolah/sekolah.      &lt;br /&gt;5. Motivasi belajar siswa.      &lt;br /&gt;6. Gemar membaca para siswa.      &lt;br /&gt;7. Perkembangan Unit Kegiatan Siswa.      &lt;br /&gt;8. Kebersihan, Keindahan, dan Keamanan Sekolah.      &lt;br /&gt;9. Tatakrama sekolah oleh warga sekolah.      &lt;br /&gt;10 Kedisiplinan warga sekolah.      &lt;br /&gt; DAMPAK SECARA AKADEMIK      &lt;br /&gt;1. Melanjutkan pendidikan bagi lulusan.      &lt;br /&gt;2. Pengalaman dalam bidang keahlian alumni.      &lt;br /&gt; DAMPAK SECARA NON AKADEMIK      &lt;br /&gt;1. Memasuki dunia kerja bagi lulusan.      &lt;br /&gt;2. Imbalan/gaji yang diperoleh oleh lulusan di dunia kerja.      &lt;br /&gt;3. Karier yang diraih lulusan.      &lt;br /&gt;4. Status sosial dan ekonomi dalam masyarakat bagi lulusan.      &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya skor-skor yang masih rendah diidentifikasi bersama kepala sekolah dan pihak-pihak yang terkait apa penyebab-penyebabnya dan bagaimana upaya-upaya konkrit untuk memecahkan masalahnya dalam rangka meningkatkan mutu sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               H. Rangkuman&lt;br /&gt;                    1. ME merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan baik di tingkat &lt;br /&gt;                        mikro.&lt;br /&gt;           2. Komponen MPMBS yang di-ME adalah konteks, input, proses, output, dan outcome.&lt;br /&gt;3. Ada dua jenis ME: internal dan eksternal.&lt;br /&gt;4. Rancangan ME meliputi 8 hal.&lt;br /&gt;           5. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ME adalah data yang akurat &lt;br /&gt;               dan terbaru dan dianalisis dengan metode analisis yang cocok.&lt;br /&gt;      6. Penyusunan Laporan Hasil ME terdiri atas 3 bab yaitu pendahuluan, hasil &lt;br /&gt;               ME, kesimpulan dan saran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-2728648237030957952?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/2728648237030957952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=2728648237030957952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/2728648237030957952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/2728648237030957952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/bab-vi-monitoring-dan-evaluasi.html' title='BAB VI MONITORING DAN EVALUASI'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4230300318884210478</id><published>2010-02-26T17:36:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.671-08:00</updated><title type='text'>BAB IV PELAKSANAAN</title><content type='html'>A. Rasional dan Tujuan&lt;br /&gt;        Tidak ada satu pelaksanaan MPMBS yang seragam untuk semua sekolah. Pelaksanaan MPMBS bukanlah proses sekali jadi bagus hasilnya, tetapi merupakan proses yang berlangsung kontinyu dan melibatkan stakeholders secara aktif yang bertanggung jawab dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah. Proses menuju MPMBS memerlukan minimal perubahan empat hal pokok: &lt;br /&gt;(1) perubahan peraturan perundang-undangan pendidikan sekarang ini perlu disesuaikan dari menempatkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi dan marjinal menjadi sekolah yang otonom dan sebagai unit utama; &lt;br /&gt;(2)  perilaku unsur-unsur sekolah yang tergantung atasan, pasif, reaktif, parsial, individualitik, disintegratif, menyimpang, egoisme, kaku, dan amatiran menjadi perilaku yang mandiri, kreatif, proaktif, sinerjis, koordinatif, integratif, sinkronistis, kooperatif, luwes, dan profesional; &lt;br /&gt;(3) perubahan peran sekolah yang selama ini biasa diatur menjadi sekolah yang bermotivasi diri tinggi; dan &lt;br /&gt;(4) struktur organisasi pendidikan saat ini perlu ditata kembali dan dianalisis sifat hubungannya (komando, koordinatif, dan fasilitatif).&lt;br /&gt;         Tahapan pelaksanaan MPMBS berikut ini bersifat umum dan luwes. Tahapan MPMBS dibuat dengan tujuan untuk: &lt;br /&gt;(1) membantu sekolah agar MPMBS dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien; &lt;br /&gt;(2) membantu sekolah dalam menyusun rencana dan program-programnya untuk mendapatkan dukungan dana dari sponsor kompeten, dan &lt;br /&gt;(3) melakukan ujicoba pelaksanaan konsep MPMBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   B. Tahap-tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;1. Mensosialisasikan konsep MPMBS  &lt;br /&gt;            MenYosialisasikan konsep MPMBS ke seluruh stakeholder yang terkait  melalui pelatihan, workshop, semiloka, diskusi, forum ilmiah, dan media massa. Dalam sosialisasi tersebut, dijelaskan apa, mengapa, dan bagaimana konsep MPMBS diselenggarakan. Kepala sekolah membaca dan membentuk budaya MPMBS di sekolahnya masing-masing. Caranya sebagai berikut. (1) baca dan fahami sistem budaya, sumberdaya yang ada secara cermat dan  refleksikan kecocokannya dengan sistem, budaya baru yang dapat mendukung MPMBS; (2) identifikasi sistem, budaya, dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan diubah, kenalkan sistem, budaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MPMBS; (3) buatlah komitmen rinci yang diketahui semua unsur yang bertanggungjawab, jika terjadi perubahan sistem, budaya, dan sumberdaya cukup mendasar; (4) bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasi visi, misi, tujuan, sasaran, rencana, dan program-program MPMBS, (5) hadapilah status quo terhadap perubahan, jangan menghindar dan menarik diri serta jelaskan perlunya perubahan; (6) garisbawahi prioritas sistem, budaya, dan sumberdaya yang belum ada sekarang untuk mendukung visi, misi, tujuan, sasaran, rencana, dan program-program MPMBS; dan (7) pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan    visi, misi, tujuan, sasaran, rencana, dan program-program MPMBS (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Identifikasi Tantangan Nyata&lt;br /&gt;  Tantangan sekolah adalah selisih hasil sekolah dengan target sekolah. Contoh: siswa yang lulus UAN = 270. Target = 300. Tantangan sekolah = 30 siswa atau 10 persen. Cara untuk mengidentifikasi output yang diharapkan dengan cara prakiraan dengan asumsi-asumsinya untuk menemukan kecenderungan-kecenderungannya. Tantangan sekolah umumnya bersumber dari empat kategori yaitu: mutu, produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Produktivitas adalah perbandingan output dengan input. Efektivitas ialah tingkat pencapaian tujuan atau hasil nyata dibagi target. Efisiensi ialah proses penghematan. Efisiensi internal ialah hubungan output dengan sumberdaya yang digunakan. Efisiensi eksternal ialah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan setelah lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Merumuskan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Sekolah&lt;br /&gt;a. Visi&lt;br /&gt;              Visi ialah mimpi yang dapat diwujudkan. Visi adalah pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan dibawa. Gambaran harus didasarkan pada landasan yuridis khususnya tujuan pendidikan nasional sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.  &lt;br /&gt;           Contoh visi sekolah: Unggul dalam prestasi berdasarkan imtaq.&lt;br /&gt;      Indikator visi: &lt;br /&gt;         (1) unggul dalam NEM&lt;br /&gt;         (2) unggul dalam persaingan ke pendidikan di atasnya&lt;br /&gt;         (3) unggul dalam lomba karya ilmiah remaja&lt;br /&gt;         (4) unggul dalam lomba kreativitas&lt;br /&gt;         (5) unggul dalam lomba kesenian&lt;br /&gt;         (6) unggul dalam lomba olahraga&lt;br /&gt;         (7) unggul dalam disiplin&lt;br /&gt;         (8) unggul dalam aktivitas keagamaan, dan&lt;br /&gt;         (9) unggul dalam kepedulian sosial.&lt;br /&gt;              Untuk mengevaluasi kecukupan pengungkapan atas visi sekolah yang baik  dapat digunakan daftar simak sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tabel 5&lt;br /&gt;Evaluasi Visi Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Uraian Ya Tidak&lt;br /&gt;1. Apakah visi cukup jelas?  &lt;br /&gt;2. Apakah visi mudah dihafal?  &lt;br /&gt;3. Apakah visi  menarik?  &lt;br /&gt;4. Apakah visi menantang diwujudkan?  &lt;br /&gt;5. Apakah visi memberi ilham?  &lt;br /&gt;6. Apakah visi memberikan motivasi kepada stakeholder?   &lt;br /&gt;7. Apakah visi dilakukan secara partisipatif dengan stakeholder?  &lt;br /&gt;8. Apakah visi  mempertimbangkan stakeholder sekolah?  &lt;br /&gt;9. Apakah visi mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut sebagian besar warga sekolah?  &lt;br /&gt;10. Apakah visi terkait dengan visi Dinas Pendidikan setempat?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     b. Misi&lt;br /&gt;          Misi adalah tindakan mewujudkan visi. Dalam merumuskan miss, harus dipertimbangkan tugas pokok sekolah dan kepentingan stakeholders. Contoh misi:&lt;br /&gt;      (1) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif&lt;br /&gt;      (2) Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh &lt;br /&gt;            warga sekolah.&lt;br /&gt;      (3) Mendorong dan membantu siswa mengenali potensi dirinya.&lt;br /&gt;      (4) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan &lt;br /&gt;            juga budaya bangsa.&lt;br /&gt;      (5) Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh        &lt;br /&gt;            stakeholder.  &lt;br /&gt;Untuk mengecek kecukupan pengungkapan misi sekolah yang baik  dapat dapat digunakan daftar simak berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel 6&lt;br /&gt;Evaluasi Misi Sekolah&lt;br /&gt;No Uraian Ya Tidak&lt;br /&gt;1. Apakah misi sudah menggambarkan cara untuk mencapai visi ?  &lt;br /&gt;2. Apakah misi sesuai  tugas pokok dan fungsi sekolah?  &lt;br /&gt;3. Apakah  misi sesuai dengan visi sekolah?  &lt;br /&gt;4. Apakah  misi terkait dengan Dinas Pendidikan setempat?  &lt;br /&gt;5. Apakah misi terkait dengan Sisdiknas yang dijalankan sekolah?  &lt;br /&gt;6. Apakah misi sederhana?  &lt;br /&gt;7. Apakah misi  jelas?    &lt;br /&gt;8. Apakah misi tidak bermakna ganda ?  &lt;br /&gt;9. Apakah  misi mudah diingat oleh stakeholder?  &lt;br /&gt;10. Apakah  misi cukup dapat menjelaskan mengapa organisasi sekolah ini  ada?  &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      c. Tujuan&lt;br /&gt;           Tujuan ialah sesuatu yang akan dicapai/dihasilkan sekolah. Jika misi berjangka waktu lebih dari 5 tahun, maka tujuan berjangka waktu 3-5 tahun. Contoh, sebuah sekolah  telah  menetapkan  9  indikator  visi, tetapi  tujuannya  sampai 2005 baru mencakup 5 indikator visi sehingga tujuannya menjadi sebagai berikut.&lt;br /&gt;(1) Tahun 2008 nilai peningkatan prestasi meningkat 0,1&lt;br /&gt;(2) Tahun 2008 proporsi lulusan melanjutkan ke sekolah unggul minimal 30%&lt;br /&gt;(3) Tahun 2008 memiliki kelompok KIR dan mampu menjadi finalis LKIR &lt;br /&gt;       nasional&lt;br /&gt;(4) Tahun 2008 memiliki tim olah raga mampu menjadi finalis  tingkat &lt;br /&gt;       propinsi minimal 2 cabang olah raga.&lt;br /&gt;(5) Tahun 2008 memiliki tim kesenian yang mampu tampil di tingkat propinsi &lt;br /&gt;       minimal 5 kali tampil.&lt;br /&gt;         Untuk mengevaluasi kelengkapan pengungkapan atas tujuan   sekolah yang baik dapat digunakan daftar simak sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tabel 7&lt;br /&gt;Evaluasi Tujuan Sekolah&lt;br /&gt;No Uraian Ya Tidak&lt;br /&gt;1. Apakah tujuan merupakan penjabaran misi?  &lt;br /&gt;2. Apakah  tujuan  jelas?  &lt;br /&gt;3. Apakah tujuan mempertimbangkan faktor internal sekolah?  &lt;br /&gt;4. Apakah tujuan mempertimbangkan faktor eksternal sekolah?  &lt;br /&gt;5. Aoakah tujuan terkait dengan pelaksanan misi sekolah?  &lt;br /&gt;6. Apakah tujuan telah mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut sekolah?  &lt;br /&gt;7. Apakah tujuan telah mempertimbangkan faktor-faktor kritis yang mempengaruhi keberhasilan  sekolah?  &lt;br /&gt;8. Apakah tujuan sekolah tidak bertentangan dengan visi Dinas Pendidikan setempat?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       d. Sasaran (Tujuan Situasional)&lt;br /&gt;            Sasaran ialah penjabaran tujuan. Sasaran harus mengandung peningkatan baik mutu, produktivitas, efektivitas, maupun efisiensi. Sasaran berjangka waktu satu tahun. Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif, sasaran harus SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, and Time bounding). Walaupun sasaran merupakan penjabaran tujuan, namun dalam penentuan sasaran  yang mana dan berapa besarnya harus tetap memperhatikan tantangan nyata yang dihadapi sekolah.&lt;br /&gt;        Berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi sekolah, dirumuskanlah sasaran sekolah. Meskipun sasaran sekolah dirumuskan dari tantangan nyata sekolah, namun perumusan sasaran harus mengacu pada visi, misi, dan tujuan sekolah karena visi, misi, dan tujuan sekolah merupakan sumber pebngertian dalam merumuskan sasaran sekolah. Karena itu, sebelum merumuskan sasaran, harus lebih dahulu merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah.&lt;br /&gt;            Sasaran sebaiknya dibuat satu tahun ajaran. Dengan demikian, sasaran untuk satu tahun merupakan tahapan untuk mencapai tujuan jangka menengah misalnya 3 tahun. Saat menetapkan sasaran, prioritas harus dipertimbangkan sungguh-sungguh. Jika tujuan telah dicanangkan 5 aspek, apakah kelimanya digarap tahun pertama atau sebagian saja. Hal ini tregantung kondisi sekolah. Sebagai contoh, sebuah sekolah memutuskan ingin menggarap kelima aspek yang tercantum dalam tujuan, meski baru dalam tahap awal. Saaasaran sekolah untuk tahun ajaran 2005/2006 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1) Tercapainya perolehan nilai prestasi siswa meningkat 0,1&lt;br /&gt;(2) Terwujudnya lulusan yang melanjutkan ke sekolah unggul minimal 30%&lt;br /&gt;(3) Terwujudnya kelompok KIR yang menjadi finalis LKIR nasional&lt;br /&gt;   (4) Terwujudnya satu tim olah raga yang menjadi finalis tingkat &lt;br /&gt;         propinsi.&lt;br /&gt;(5) Terwujudnya tim kesenian yang mampu tampil di tingkat propinsi &lt;br /&gt;           minimal 2 kali tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Untuk mengevaluasi kelengkapan pengungkapan atas sasaran sekolah  &lt;br /&gt;  yang baik dapat digunakan daftar simak sebagai berikut:.&lt;br /&gt;Tabel 8&lt;br /&gt;Evaluasi Sasaran Sekolah&lt;br /&gt;No Uraian Ya Tidak&lt;br /&gt;1. Apakah sasaran sudah menjabarkan tujuan?  &lt;br /&gt;2. Apakah sasaran sudah spesifik (khusus)?  &lt;br /&gt;3. Apakah sasaran dapat diukur kuantitasnya?  &lt;br /&gt;4. Apakah sasaran bermanfaat bagi sekolah ?  &lt;br /&gt;5. Apakah sasaran dapat diwujudkan?  &lt;br /&gt;6. Apakah sasaran sudah jelas kapan dimuali dan kapan selesainya?   &lt;br /&gt;7. Apakah sasaran sekolah telah dapat dirumuskan secara jelas?  &lt;br /&gt;8. Apakah sasaran sekolah telah terstruktur dengan baik?  &lt;br /&gt;9. Apakah rumusan sasaran sekolah menggambarkan hasil?  &lt;br /&gt;10. Apakah sasaran sekolah yang ditetapkan merupakan penjabaran dari tujuan yang mempunyai kaitan yang erat dengan tujuan?  &lt;br /&gt;11. Apakah sasaran sekolah yang ditetapkan tidak mengandung tujuan antara?  &lt;br /&gt;12. Apakah sasaran sekolah  yang ditetapkan dapat dirinci pencapaiannya setiap tahun?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengidentifikasi Fungsi-fungsi yang Diperlukan untuk Mencapai Sasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sasaran ditetapkan maka langkah berikutnya adalah mengidentifikasi fungsi-fungsi yang digunakan untuk mencapai sasaran yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya antara lain fungsi manajemen seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Melakukan Analisis SWOT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Analisis SWOT dilakukan untuk mengenali tingkat kesiapan sekolah untuk mencapai sasaran sekolah. Kekuatan adalah faktor dari dalam sekolah yang mendorong pencapaian sasaran. Peluang  adalah faktor dari luar sekolah yang mendorong pencapaian sasaran. Kelemahan adalah faktor dari dalam sekolah yang menghambat  pencapaian sasaran. Ancaman adalah faktor dari luar sekolah yang menghambat  pencapaian sasaran. Analisis SWOT menggunakan tabel berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel 9&lt;br /&gt;Analisis SWOT/Tingkat Kesiapan Fungsi dan Faktor-Faktornya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor&lt;br /&gt;   Siap Tidak Siap&lt;br /&gt;A, Fungsi ……..&lt;br /&gt;1. Faktor Internal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor Eksternal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a….&lt;br /&gt;b….&lt;br /&gt;c….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. ……&lt;br /&gt;b. ……&lt;br /&gt;c. ……. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. ….&lt;br /&gt;b. ….&lt;br /&gt;c. ….&lt;br /&gt;d. &lt;br /&gt;a. &lt;br /&gt;b. …..&lt;br /&gt;c. …….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan&lt;br /&gt;(Strength)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang &lt;br /&gt;(Opportunity) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan&lt;br /&gt;(Weaknesses)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman&lt;br /&gt;(Threat)&lt;br /&gt;B, Fungsi ……..&lt;br /&gt;1. Faktor Internal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor Eksternal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a….&lt;br /&gt;b….&lt;br /&gt;c….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. ……&lt;br /&gt;b. ……&lt;br /&gt;c. ……. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. ….&lt;br /&gt;f. ….&lt;br /&gt;g. ….&lt;br /&gt;h. &lt;br /&gt;b. &lt;br /&gt;b. …..&lt;br /&gt;c. …….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan&lt;br /&gt;(Strength)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang &lt;br /&gt;(Opportun-ity) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan&lt;br /&gt;(Weaknesses)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman&lt;br /&gt;(Threat)&lt;br /&gt;Dan seterusnya    &lt;br /&gt;(Depdiknas,2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contoh Analisis SWOT:&lt;br /&gt;(1) Tantangan&lt;br /&gt;NEM rata-rata SMA 3 Kabupaten A tahun ini adalah 40, dan NEM rata-rata yang diharapkan tahun depan adalah 42. Jadi besarnya tantangan adalah 42 –  40 = 2.&lt;br /&gt;(2)  Sasaran&lt;br /&gt;“Meningkatkan NEM rata-rata dari 40 pada tahun ini menjadi 42 tahun depan.”&lt;br /&gt;(3)  Fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;              Adapun fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya adalah: fungsi proses belajar menagajar dan fungsi-fungsi pendukungnya, yaitu: fungsi ketenagaan, fungsi kurikulum, fungsi fasilitas, fungsi keuangan, dan fungsi kesiswaan.&lt;br /&gt;       Fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran yang telah diidentifikasikan pada butir (3) di atas, semuanya perlu diteliti, diketahui tingkat kesiapannya melalui analisis SWOT. Contoh berikutnya hanya mengambil dua fungsi saja yaitu fungsi proses belajar mengajar dan fungsi kurikulum.&lt;br /&gt;Tabel 10&lt;br /&gt;Cara Pengisian Tabel Analisis SWOT&lt;br /&gt;Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor&lt;br /&gt;   Siap Tidak Siap&lt;br /&gt;A. Fungsi Manajemen Sekolah&lt;br /&gt;1. Faktor Internal&lt;br /&gt;a. Perencanaan &lt;br /&gt;b. Pelaksanaan&lt;br /&gt;c.  Pengawasan&lt;br /&gt;2. Faktor Eksternal&lt;br /&gt;a. Lingkungan fisik&lt;br /&gt;b. Lingkungan sosial&lt;br /&gt;c. Dukungan orang tua&lt;br /&gt;d. Dukungan Pemerintah&lt;br /&gt;Dukungan pengusaha &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mantap&lt;br /&gt;Tepat&lt;br /&gt; Ketat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Pengisian sedapat mungkin kuantitatif (Depdiknas,2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis SWOT berguna untuk merevisi sasaran yang mungkin terlalu ambisius atau terlalu rendah agar menjadi sasaran yang wajar dan menantang untuk dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Alternatif Langkah Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;         Dari hasil analisis SWOT dapat dilakukan tindakan yang diperlukan untuk merubah fungsi yang tidak siap menjadi siap. Tindakan ini disebut langkah-langkah pemecahan persoalan, yang pada hakekatnya merupakan tindakan mengatasi kelemahan menjadi kekuatan, dan ancaman menjadi peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Menyusun Rencana dan Program Sekolah &lt;br /&gt;         Rencana peningkatan mutu meliputi jangka pendek, menengah, dan panjang serta program-program untuk merealisasikan rencana tersebut. Karena sekolah selalu terbatas sumberdayanya, maka perlu ditetapkan skala prioritas. Rencana harus menjelaskan secara detail dan lugas tentang: siapa yang melakukan, apa yang dilakukan, bilamana dilakukan, di mana dilakukan, bagaimana melakukan dan bagaimana biayanya. Hal ini untuk memudahkan pelaksanaan dan dukungan moral maupun finansial dari     &lt;br /&gt;       stakeholders. Hal pokok yang perlu diperhatikan oleh seklah dalam menyusun rencana adalah keterbukaan kepada stakeholders khususnya orang-tua/Dewan Sekolah. BP3 saat ini perlu dimekarkan menjadi Komite Sekolah yang terdiri atas: (1) orang-tua siswa, (2) wakil siswa, (3) wakil sekolah, (4) wakil organisasi profesi, (5) wakil pemerintah, (6) wakil publik, dan (7) wakil alumni. &lt;br /&gt;        Jika rencana merupakan deskripsi hasil yang diharapkan dan dapat digunakan untuk keperluan penyelenggaraan kegiatan sekolah, maka program adalah alokasi sumberdaya sekolah ke dalam kegiatan menurut jadwal waktu dan tatalaksana yang sinkron. Dengan kata lain, program adalah bentuk dokumen yang menggambarkan langkah mewujudkan sinkronisasi dalam ketatalaksanaan (Diknas,2002).&lt;br /&gt;         Alur berpikir pembuatan rencana dan program sekolah seperti Gambar 1..&lt;br /&gt;8.  Melaksanakan Rencana Peningkatan Mutu &lt;br /&gt;        Sekolah hendaknya: (1) proaktif melaksanakan rencana yang sudah disetujui stakeholders; (2) mendayagunakan sumberdaya pendidikan semaksimal mungkin, (3) menggunakan pengalaman-pengalaman yang efektif, teori-teori yang cocok untuk meningkatkan mutu; (4) bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program karena itu harus bebas dari keterikatan birokratis yang biasanya menghambat penyelenggaraan pendidikan; (5) menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning). Artinya siswa harus menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan pembelajaran ke topik-topik lain. Untuk menghindari berbagai penyimpangan  kepala sekolah harus melakukan supervisi dan monitoring kegiatan-kegiatan peningkatan mutu. Kepala sekolah sebagai manajer dan leader berhak mengarahkan, mendukung, dan menegur jika akan terjadi dan terjadi penyimpangan.  Tetapi, arahan, dukungan, dan teguran tersebut jangan sampai membuat warga sekolah menjadi amat terkekang sehingga sasaran tidak tercapai (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar . Alur Pikir Pembuatan Rencana dan Program Sekolah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan   &lt;br /&gt;                Evaluasi pelaksanaan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. Sekolah perlu melakukan evaluasi pelaksanaan program baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan. Jangka menengah setiap akhir tahun. Jangka panjang setiap akhir lima tahun. Dalam melakukan evaluasi kepala sekolah harus melibatkan stakeholders.  Sebelum melakukan evaluasi perlu disepakati sejak awal indikator-indikator keberhasilan setiap program. Hasil evaluasi perlu dibuat laporannya yang terdiri laporan teknis dan keuangan Jika sedkolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan, maka pendapatan tambahan itu harus dilaporkan sebagai bentuk pertangungjawaban (akuntabilitas) yang dikirimkan kepada atasan dan dewan sekolah. &lt;br /&gt;10. Sasaran Baru&lt;br /&gt;   Hasil evaluasi pelaksanaan dapat dipakai untuk alat perbaikan kinerja program yang akan datang. Hasil evaluasi merupakan umpan balik atau masukan bagi sekolah dan orang tua siswa untuk merumuskan sasaran program baru untuk tahun yang akan datang. Bila dianggap berhasil maka sasaran dapat ditingkatkan sesuai dengan kemampuan sumber daya yang tersedia. Jika gagal maka sasaran dapat saja tetap seperti sedia kala, namun dilakukan perbaikan strategi dan mekanisme pelaksanaan kegiatan. Setelah sasaran baru ditetapkan, selanjutnya dilaksanakan analisis SWOT untuk mengetahui tingkat kesiapan masing-masing fungsi manajemen dalam sekolah sehingga dapat diketahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam rangka penyusunan rencana dan program baru.&lt;br /&gt;C. Tugas dan Fungsi Sekolah &lt;br /&gt;     1) Menyusun rencana dan program pelaksanaan MPMBS dengan &lt;br /&gt;          melibatkan stakeholders.   &lt;br /&gt;     2) Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumberdaya di sekolah &lt;br /&gt;         dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MPMBS.&lt;br /&gt;     3) Melaksanakan program MPMBS secara efektif dan efisien dengan &lt;br /&gt;          menerapkan  prinsip  Total Quality Management (TQM) dan &lt;br /&gt;          pendekatan sistem.&lt;br /&gt;     4)  Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan pelaksanaan MPMBS &lt;br /&gt;          sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai &lt;br /&gt;          sasaran MPMBS..&lt;br /&gt;     5)  Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi pencapaian &lt;br /&gt;           sasaran MPMBS yang telah ditetapkan. Hasilnya untuk menentukan &lt;br /&gt;           sasaran baru MPMBS tahun berikutnya.&lt;br /&gt;     6)  Menyusun laporan pelaksanaan MPMBS beserta hasilnya secara lengkap &lt;br /&gt;          dan benar untuk  disampaikan kepada Dinas Pendidikan &lt;br /&gt;          kabupaten/kota, komite sekolah dan yayasan (bagi sekolah swasta.&lt;br /&gt;     7)  Mempertanggugjawabkan hasil pelaksanaan MPMBS kepada  stakeholder (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;D. Contoh Supervisi Pembinaan Pelaksanaan MPMBS&lt;br /&gt;  Contoh pembinaan pelaksanaan MPMBS dapat menggunakan tabel berikut &lt;br /&gt;Tabel 11&lt;br /&gt; Instrumen Observasi Pelaksanaan MPMBS&lt;br /&gt;                                                   Nama Pengawas : Sugiharto&lt;br /&gt;                                                   Nama Sekolah              :  .........           &lt;br /&gt;                                     &lt;br /&gt;No. Pelaksanaan MPMBS Pelaksanaan Masalah  &lt;br /&gt;Pemecahan &lt;br /&gt;  Baik Belum Baik  &lt;br /&gt;1 2 3 4 5 &lt;br /&gt;1. Sosialisasi    &lt;br /&gt;2. Identifikasi Tantangan Sekolah    &lt;br /&gt;3. a. Membuat visi    &lt;br /&gt; b. Membuat misi    &lt;br /&gt; c. Membuat tujuan    &lt;br /&gt; d. Membuat sasaran    &lt;br /&gt;4. Identifikasi Fungsi-fungsi yang Diperlukan    &lt;br /&gt;5. Analisis SWOT    &lt;br /&gt;6. Alternatif Pemecahan Masalah    &lt;br /&gt;7. Rencana dan Program Sekolah    &lt;br /&gt;8. Implementasi Rencana dan Program Seklah    &lt;br /&gt;9. Evaluasi Pelaksanaan    &lt;br /&gt;10. Sasaran baru    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Rangkuman&lt;br /&gt;     1. Proses menuju MPMBS memerlukan minimal perubahan 4 hal pokok.&lt;br /&gt;     2. Tahap-tahap pelaksanaan MPMBS ada 10.&lt;br /&gt;     3. Tugas dan fungsi sekolah dalam pelaksanaan MPMBS ada 7.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4230300318884210478?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4230300318884210478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4230300318884210478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4230300318884210478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4230300318884210478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/bab-iv-pelaksanaan.html' title='BAB IV PELAKSANAAN'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-6200796081820954298</id><published>2010-02-26T17:35:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.686-08:00</updated><title type='text'>BAB III KONSEPSI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</title><content type='html'>A. Paradigma Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa pola lama manajemen pendidikan yang sentralistik ternyata tidak berdaya meningkatkan mutu pendidikan .nasional. Sejalan dengan telah diberlakukan otonomi daerah sejak 1 Januari 2001 ini maka sekolah-sekolah melakukan penyesuaian diri dari pola lama manajemen  menuju pola baru manajemen bernuansa otonomi yang lebih demokratis. Perubahan dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan seperti tabel berikut ini. &lt;br /&gt;Tabel  2&lt;br /&gt;Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan&lt;br /&gt;Paradigma Lama Ke Paradigma  Baru&lt;br /&gt;Sistem pemerintahan sentralistik-birokratik &lt;br /&gt;Desentralistik dan otonomi daerah&lt;br /&gt;Pengambilan keputusan, kebijakan, perencanaan, program, kegiatan; terpusat  &lt;br /&gt;Pengambilan keputusan, kebijakan, perencanaan, program, kegiatan; partisipatif&lt;br /&gt;Penyusunan program kegiatan berdasarkan selera pejabat &lt;br /&gt;Berdasarkan prioritas kepentingan rakyat secara partisipatif &lt;br /&gt;Laporan keuangan berbasis mempertahankan kekuasaan &lt;br /&gt;Berbasis kinerja&lt;br /&gt;Tindakan kaku (otoriter) &lt;br /&gt;Luwes, demokratis&lt;br /&gt;Atasan) minta dilayani   &lt;br /&gt;Atasan melayani rakyat (bawahan)&lt;br /&gt;Banyak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) &lt;br /&gt;Bersih dari KKN&lt;br /&gt;Status qua (statis) &lt;br /&gt;Berubah menjadi lebih baik (dinamis)&lt;br /&gt;Menggunakan manajemen marah dan otoriter  Menggunakan manajemen ramah dan egaliter, demokratis&lt;br /&gt;Bawahan takut berpendapat, dan bertindak &lt;br /&gt;Bawahan berani berpendapat dan bertindak kadang-kadang kebablasan&lt;br /&gt;Atasan kebal saran , tersinggung &lt;br /&gt;Meminta saran dan berterima kasih&lt;br /&gt;Perbedaan pendapat dianggap menentang , musuh, harus sama.  &lt;br /&gt;Dianggap berkah dan diambil hikmahnya &lt;br /&gt;Overregulasi &lt;br /&gt;Deregulasi&lt;br /&gt;Pemerintah ikut melaksanakan &lt;br /&gt;Fasilitator dan regulator&lt;br /&gt;Program dan keuangan tertutup &lt;br /&gt;Terbuka&lt;br /&gt;Penempatan orang berdasarkan  kepangkatan (birokratik) &lt;br /&gt;Penempatan orang berdasarkan kompetensi (profesional)&lt;br /&gt;Mengontrol &lt;br /&gt;Mempengaruhi&lt;br /&gt;Mengarahkan &lt;br /&gt;Memfasilitasi&lt;br /&gt;Menghindari resiko &lt;br /&gt;Mengelola resiko&lt;br /&gt;Gunakan uang semuanya &lt;br /&gt;Gunakan uang seefisien mungkin&lt;br /&gt;Individual cerdas &lt;br /&gt;Teamwork cerdas&lt;br /&gt;Informasi terpribadi,dsimpan    &lt;br /&gt;Informasi terbagi, dijelaskan&lt;br /&gt;Pendelegasian &lt;br /&gt;Pemberdayaan&lt;br /&gt;Organisasi hirarkis&lt;br /&gt; Organisasi datar&lt;br /&gt;Pendidikan lingkungan kurang diperhatikan &lt;br /&gt;Pendidikan lingkungan diperhatikan dan masuk dalam UU Sisdiknas&lt;br /&gt;Memperdayakan perempuan&lt;br /&gt;(tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, jangan menjadi pemimpin atau pejabat) &lt;br /&gt;Memberdayakan perempuan&lt;br /&gt;(perlu sekolah setinggi-tingginya, boleh menjadi pemimpin atau  pejabat agar sederajat dengan pria)&lt;br /&gt;Anggaran pendidikan rata-rata di bawah 5% APBN dan APBD  Minimal 20% APBN, minimal 20% APBD mulai 2009 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Konsep Dasar MPMBS&lt;br /&gt;    Secara konseptual, MPMBS difahami sebagai salah satu alternatif pilihan formal untuk mengelola struktur penyelenggaraan pendidikan yang terdesentralisasi dengan menempatkan sekolah sebagai unit utama peningkatan. Konsep ini memberikan redistribusi kewenangan para pembuat  kebijakan  sebagai unsur paling mendasar untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan. Di pihak lain, MPMBS merupakan cara untuk meningkatkan motivasi kepala sekolah agar lebih bertanggung jawab terhadap mutu peserta didik. Untuk itu, sudah selayaknya  kepala sekolah mengembangkan program-program kependidikan secara menyeluruh  dalam melayani segala kebutuhan peserta didik di sekolah. Seluruh warga sekolah seyogyanya menyambut hal ini dengan merumuskan program sekolah yang lebih prioritas dan operasional sebab merekalah yang paling mengetahui akan kebutuhan peserta didiknya dan yang terbaik bagi peserta didiknya. Inilah filosofis MPMBS paling mendasar.&lt;br /&gt;        MPMBS dapat didefinisikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibelitas lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong sekolah untuk meningkatkan partisipasi stakeholder untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah dan untuk mencapai tujuan mutu sekolah dalam kerangka pendidikan nasional (Depdiknas, 2002). Oleh sebab itu, esensi MPMBS = otonomi sekolah + fleksibilitas + partisipasi untuk  mencapai sasaran mutu pendidikan (Depdiknas,2002).          . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    C. Karakteristik MPMBS&lt;br /&gt;       MPMBS memiliki karakteristik yang harus dipahami oleh sekolah yang menerapkan. Jika sekolah ingin sukses, maka sekolah harus memiliki karakteristik MPMBS yang diharapkan. Berbicara karakteristik MPMBS tidak terlepas dari karakteristik sekolah yang efektif. Jika MPMBS merupakan wadahnya, maka karakteristik MPMBS merupakan isinya. Dengan memandang karakteristik MPMBS sebagai sistem, uraian karakteristik MPMBS didasarkan atas input, proses, dan output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Output yang Diharapkan&lt;br /&gt;        Output  pendidikan adalah kinerja (prestasi) sekolah. Kinerja sekolah dihasilkan dari proses.pendidikan. Output pendidikan dinyatakan tinggi jika prestasi sekolah tinggi dalam hal: &lt;br /&gt;(1) prestasi akademik siswa berupa nilai ulangan umum, Nilai Ujian Akhir Nasional (NUAN), Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), lomba karya ilmiah remaja, lomba Bahasa Inggris, Lomba Fisika, Lomba Matematika;  &lt;br /&gt;(2) prestasi nonakademik siswa seperti imtaq, kejujuran, kerjasama, rasa kasih sayang, keingintahuan, solidaritas, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, kesopanan, olahraga, kesenian, kepramukaan, keterampilan, harga diri, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh tahapan kegiatan yang saling mempengaruhi (proses) yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan; dan  &lt;br /&gt;(3) prestasi lainnya seperti kinerja sekolah dan guru meningkat, kepuasan, kepemimpinan kepala sekolah handal, jumlah peserta didik yang berminat masuk ke sekolah meningkat, jumlah putus sekolah menurun, guru dan tenaga tata usaha yang pindah dan berhenti berkurang, peserta didik dan guru serta tenaga tata usaha yang tidak hadir berkurang, hubungan sekolah-masyarakat meningkat, dan kepuasan stakeholder meningkat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses Pendidikan&lt;br /&gt;         Proses ialah berubahnya sesuatu (input) menjadi sesuatu yang lain (output). Di tingkat sekolah, proses meliputi pelaksanaan administrasi dalam arti proses (fungsi) dan administrasi dalam arti sempit.&lt;br /&gt;             Sekolah yang efektif  memiliki:&lt;br /&gt;    a. PBM yang efektivitasnya tinggi; &lt;br /&gt;    b. kepemimpinan sekolah yang kuat; &lt;br /&gt;    c. lingkungan sekolah yang aman dan tertib; &lt;br /&gt;    d. penggelolaan tenaga pendidik dan kependidikan yang efektif; &lt;br /&gt;    e. memiliki budaya mutu; &lt;br /&gt;    f.  memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis;  &lt;br /&gt;    g. memiliki kewenangan (kemandirian); &lt;br /&gt;    h. partisipasi stakeholder tinggi; &lt;br /&gt;    i.  memiliki keterbukaan manajemen; &lt;br /&gt;    j. memiliki kemauan dan kemampuan untuk berubah (psikologis dan fisik); &lt;br /&gt;    k. melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan; &lt;br /&gt;    l.  responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan; &lt;br /&gt;    m. komunikasi yang baik; &lt;br /&gt;    n. memiliki akuntabilitas; dan &lt;br /&gt;    o.sekolah memiliki sustainabilitas (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;                           Uraiannya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. PBM yang Efektivitasnya Tinggi&lt;br /&gt;        PBM yang efektivitasnya tinggi antara lain ditunjukkan oleh suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan (pakem) dan bermakna bagi semua pihak baik peserta didik maupun pendidik dan tenaga kependidikan. Semua pihak merasa betah di sekolah karena pelajarannya menarik, lingkungan kelas nyaman dan aman, peserta didik aktif dan guru hanya sebagai fasilitator, pelajaran tidak mengutamakan hafalan tetapi menginspirasi peserta didik untuk berpikir kreatif-inovatif. Guru yang baik (good teacher) baru  mampu mendongeng, guru yang lebih baik  (better teacher) baru mampu menerangkan, guru terbaik (best teacher) baru mampu mendemonstrasikan, guru  termasyhur (excellent teacher) mengispirasikan peserta didiknya. Tujuan belajar mampu membuat peserta didik: belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk bertindak atau bekerja (learning to do), belajar untuk mampu hidup bersama secara tenteram dan damai (learnig to live together), dan belajar untuk menjadi diri sendiri (memiliki identitas diri dan mandiri) (learning to be). &lt;br /&gt;      PBM yang efektifnya tinggi  adalah PBM yang mampu menghasilkan lulusan atau droup-out yang dapat menciptakan lapangan kerja bukan mencari lapangan kerja sehingga lulusan terdidik  yang menjadi penganggur terdidik dapat dikurangi jika mungkin dicegah. Karena mereka memiliki kompetensi yang diharapkan dunia kerja. Untuk maksud itu, pelajaran yang diberikan hendaknya berbasis kompetensi dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK).  &lt;br /&gt;       PBM yang efektifnya tinggi  mampu menjadikan belajar sebagai ibadah baik dalam arti sebenarnya maupun arti singkatan. IBADAH singkatan dari mendapatkan Ilmu, Bais (memilah dan memilih yang bermanfaat dengan hati nurani), Amal (harus diterapkan), Diskusi (untuk mendapatkan masukan perbaikan), Aset (bekal atau modal hidup di dunia), dan Harapan (bahagia di dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;       PBM yang efektifnya tinggi juga tercermin dari perubahan perilaku peserta didik seperti tabel berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel  3&lt;br /&gt;Perubahan Perilaku Pesera Didik yang Diharapkan&lt;br /&gt;Dari bodoh menjadi pandai Berpikir cerdas Cipta Head&lt;br /&gt; Logos Ilmu Pengenalan Kognitf&lt;br /&gt;Dari nakal menjadi baik, dari malas menjadi rajin Bekerja dengan hati  ikhlas Rasa Heart Ethos Iman Penghayatan Afektif&lt;br /&gt;Dari tidak terampil menjadi terampil dalam bekerja Bekerja keras Karsa Hand Pathos Amal Pengamalan Psikomo-&lt;br /&gt;tor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kepemimpinan Sekolah yang Kuat&lt;br /&gt;         Kepemimpinan yang kuat dalam arti harfiah ialah kepemimpinan kepala sekolah yang tangguh. Sedangkan dalam arti singkatan KUAT yaitu  kepemimpinan yang Kridibel (dapat dipercaya karena kejujuran dan komitmennya terhadap diri sendiri dan lembaga sekolah), Usaha keras untuk mewujudkan visi dan misinya. Akseptabel dan akuntabel (diterima bawahannya dan dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinannya), Terampil secara konseptual (memiliki ipteks), sosial (mampu bergaul dan miliki jaringan kerja yang luas atau networking), dan teknikal (agar lebih berwibawa dan tidak mudah dikelabui bawahannya).   &lt;br /&gt;        Kepemimpinan yang kuat juga berarti kepemimpinan yang mampu menyejahterakan bukan menyengsarakan bawahannya, mampu memberdayakan bukan memperdayakan bawahannya, pandai merasakan bukan merasa pandai (selalu menggurui) bawahannya. Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang memiliki vision (visi) yang jelas baik dalam arti sebenarnya maupun dalam arti singkatan. VISION dalam arti singkatan adalah setiap pemimpin harus memiliki Vision (visi), Inspiration (memberi ilham), Strategy orientation (orientasi jangka panjang), Organizational sophisticated (memahami dan berorganisasi dengan canggih), dan Nurturing (memelihara keseimbangan, keharmonisan antara tujuan sekolah dengan tujuan individu warga sekolah atau peka terhadap tujuan individu bawahannya) (Gutrie &amp; Reed,1991).&lt;br /&gt;      Kepemimpinan yang kuat seperti yang diungkapkan di atas adalah kepemimpinan yang mampu memberdayakan stafnya. Baik dalam arti sesungguhnya maupun dalam arti singkatan. Kepemimpinan yang memiliki STAF adalah kepemimpinan yang Sidiq (jujur, dapat dipercaya). Tabliq (mengajak pada kebaikan menjauhi kejahatan. Amanah (titipan Allah dan harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat). Fathonah  (memiliki kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan spiritual).&lt;br /&gt;       Kepemimpinan yang kuat juga bermakna kepemimpinan yang menjadi bintang (star) di organisasinya baik dalam arti kiasan maupun singkatan. Menjadi bintang dalam arti kiasan ialah kepemimpinannya mampu mengarahkan bawahannya dengan jelas ke mana sekolah hendak dibawa atau dituju. STAR dalam arti singkatan adalah Share goal (tujuan bersama yang jelas dan ingin dicapai), Teamwok (tim kerja yang solid), Autonomy (otonomi berpikir dan otonomi dalam mengambil keputusan), Reward (memberi hadiah bagi yang berprestasi dan memberi sanksi bagi yang tidak berprestasi) (Alberct,1983).     &lt;br /&gt;       Kepemimpinan yang kuat juga berarti kepemimpinan yang mampu memimpin (lead) baik dalam arti sesbenarnya maupun dalam arti singkatan.&lt;br /&gt;LEAD dalam arti singkatan adalah Listen to your team and client (Jadilah pendengar yang baik bagi tim dan pelanggan), Encourage motivate (membangkitkan motivasi). Deliver (menyampaikan untuk berbuat yang terbaik) (Verma,1996). Membangkitkan motivate  baik dalam arti sesungguhnya maupun singkatan. MOTIVATE  adalah singkatan dari Manifest confidence when delegating (mengungkapkan kepercayaan ketika mendelegasikan wewenang), Open communication (komunikasi terbuka), Tolerance of failure (toleran terhadap kesalahan karena pengalaman adalah guru yang terbaik), Involve participate (terikat dalam keikutsertaan), Value what gets rewarded (mengetahui nilai ganjaran apa yang akan didapat), Align objective (tujuan yang akan dicapai jelas batasannya), Trust your team (kejujuran dalam tim), dan Empower (pemberdayaan sesuai dengan tugas pokok dan kewenangan masing-masing). (Verma,1996).&lt;br /&gt;       Kepemimpinan yang kuat adalah baik ada boss (atasan) maupun tidak ada boss di tempat, semua pekerjaan selesai dengan baik. Kepemimpinan sekolah kejuruan yang kuat harus memiliki keahlian teknik baik dalam arti sebenarnya maupun singkatan. TEKNIK singkatan dari Terampil secara konseptual, sosial, teknikal, spiritual, dan finansial.. Etos kerja yang tinggi. Keberanian mengambil resiko dengan penuh perhitungan.  Negosiasi saling menguntungkan. Intuisi bisnis.Kewiraswastaan. Akhirnya, kepemimpinan kepala sekolah yang tangguh adalah kepemimpinan yang mampu menerapkan manajemen pendidikan baik sebagai proses atau fungsi maupun manajemen pendidikan sebagai tugas (manajemen sekolah).&lt;br /&gt;  Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpin yang efektif. Kepemimpinan yang efektif menurut Curtis &amp; manning (2003) adalah kepemimpinan yang mampu: (1) menggunakan fakta, (2) menciptakan visi, (3) memotivasi orang, dan (4) memberdayakan orang.&lt;br /&gt;(1) Menggunakan fakta:&lt;br /&gt;(a) Mencari fakta melalui berbagai sumber                                                               &lt;br /&gt;(b) Menggunakan analisis SWOT untuk menentukan strategi sekolah                    &lt;br /&gt;(c) Memahami motivasi staf                                                                                    &lt;br /&gt;(d) Menganalisis bagaimana agar staf bekerja efektif dalam kelompoknya            &lt;br /&gt;(e) Mengetahui kemampuan dan motivasi saya                                                       &lt;br /&gt;  (2) Menciptakan visi&lt;br /&gt;(a) Memahami nilai-nilai                                                                                        &lt;br /&gt;(b) Melibatkan staf dalam membuat visi                                                                 &lt;br /&gt;(c) Menjelaskan gambaran masa depan sekolah                                                    &lt;br /&gt;(d) Mengembangkan strategi untuk kesuksesan kerja tim                                       &lt;br /&gt;(e) Mengatur dan membuat action plan                                                                &lt;br /&gt;  (3) Memotivasi orang&lt;br /&gt;(a) Mendorong staf untuk memncapai tujuan                                                      &lt;br /&gt;(b) Mengkomunikasikan standar mutu dan kinerja yang harus dicapai             &lt;br /&gt;(c) Menunjukkan prhatian kepada staf                                                               &lt;br /&gt;(d) Menumbuhkan rasa percaya diri staf                                                            &lt;br /&gt;(e) Mengajak staf mencapai tujuan kelompok sesuai dengan target              &lt;br /&gt;(4) Memberdayakan orang                          .  &lt;br /&gt;(a) Menghargai staf yang berprestasi                                                                &lt;br /&gt;(b) Mengembangkan kemampuan staf misalnya mengirim ikut pelatihan    &lt;br /&gt;(c) Memungkinkan staf berperasaan dan bertindak seperti pemimpin              &lt;br /&gt;(d) Merangsang staf berpikir kreatif dalam memacahkan masalah                    &lt;br /&gt;(e) Membangun semangat meneyelesaikan tugas dengan baik &lt;br /&gt;     dengan melibatkan staf.&lt;br /&gt;c. Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib&lt;br /&gt;  Lingkungan sekolah yang aman dan tertib adalah lingkungan yang dapat memberikan susana PBM yang efektivitasnya tinggi seperti yang disebutkan di atas. Oleh sebab itu, peranan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat sangat diperlukan. Sekolah yang mana adalah sekolah yang mampu memberikan rasa aman bagi warga sekolah. Untuk menciptakan rasa aman tersebut, maka konstruksinya harus kuat, sesuai standar yang berlaku; bentuknya indah, sirkulasi udara dan cahaya aman terhadap kesehatan, ukuran perabot dan perletakannya aman terhadap kesehatan. Sekolah memiliki alat pemadam kebakaran, penjaga sekolah, pagar keliling, jauh dari tempat maksiat dan tempat-tempat yang dapat menimbulkan rasa tidak aman. Sekolah yang tertib adalah sekolah yang menerapkan peraturan tanpa pandang bulu, mampu menciptakan disiplin warga sekolah dengan baik.&lt;br /&gt;d. Pengelolaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan yang Efektif&lt;br /&gt;        Tenaga pendidik dan kependidikan harus dikelolola secara efektif. Artinya mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan pengadaannya, penempatan secara profesional dan proporsional (pada orang dan tempat  yang tepat atau the right man in the right place), pengembangan (diklat, studi lanjut, job description, job enlargement, job enrichment, job rotation),  penilaian kinerja, penggajian, sampai pensiun merupakan garapan penting kepala sekolah. Sebagai tenaga pendidik ia harus dikelola sebagai guru baik dalam arti sebenarnya maupun dalam arti singkatan. &lt;br /&gt;       Guru merupakan singkatan Gagasan, Usaha, Rasa, dan Uang. Setiap guru harus mempunyai gagasan (ipteks) yang cemerlang sehingga mampu mengembangkan tujuan pengajaran, materi pelajaran, motede dan media mengajar,  penilaian belajar dengan baik. Gagasan itu tidak hanya dalam tataran teori atau khayalan tetapi harus diwujudkan melalui doa dan usaha keras. Guru juga harus memiliki rasa asah, asuh, dan asih agar kehadirannya  diharapkan peserta didik, kepergiannya dikenang dan ditangisi peserta didik. Kemudian yang terakhir tetapi tidak kalah pentingnya adalah guru harus punya uang (sejahtera lahir batin). Sulit dibayangkan guru mengajar di depan kelas sementara pikirannya sedang bingung untuk mencari uang guna keperluan dirinya dan keluarganya. Sangat ironis, guru kerja keras mengajar anak orang lain, sementara anaknya sendiri tidak dapat sekolah karena ketiadaan biaya. Sungguh sangat ironis ada guru yang menjadi tukang ojek sementara penumpangnya adalah siswanya atau orang-tua siswanya sendiri. Pertanyaannya, di mana kewibawaan guru tersebut?. Waktu guru bukan habis untuk menyiapkan pelajaran tetapi habis mencari uang ke sana ke mari. Terlebih-lebih di jaman materialistis sekarang ini, seseorang dinilai, dihormati, disegani, ditakuti karena  kekayaannya. Tantangan sekaligus peluang yang dihadapi sekolah ialah bagaimana memberdayakan sekaligus menyejahterakan tenaga pendidik dan kependidikan dalam manajemen berbasis sekolah?  &lt;br /&gt;e. Memiliki Budaya Mutu&lt;br /&gt;           Budaya mutu ialah semua pikiran, perasaan, dan tindakan diarahkan untuk meningkatkan mutu. Salah satu ciri manusia Indonesia menurut Koentjaraningkat (1992) ialah meremehkan mutu.  Hal ini terjadi karena kemiskinan dan kebodohan bangsa kita akibat penjajah. Penjajah sengaja membuat miskin dan bodoh bangsa kita agar mudah dijajah, mudah dikendalikan, dan mudah diperintah. Orang kaya biasanya susah diperintah dan mau bekerja kalau bayarannya sesuai. Sebaliknya, orang miskin mudah diperintah dan mau bekerja dengan bayaran terserah yang memerintah. Orang bodoh juga biasanya lebih mudah diperintah dibandingkan orang pandai. Orang pandai biasanya memprotes jika perintah tidak masuk akal, boros, dan tidak efektif. Orang pandai sulit diperintah karena rasa keakuannya (egois) tinggi. Orang miskin dan bodoh cenderung sesuatu yang banyak, murah sekaligus kurang bermutu, makanpun ingin banyak dan murah dengan konsekuensi kurang bergizi. Karena baru  sampai di sinilah kemampuannya. Hal ini terbawa-bawa ke dunia pendidikan dengan sistem target lulusan sebanyak-banyaknya. Dengan sistem target kuantitas sebanyak-banyaknya, maka mutu agak diremehkan. Sulit bagi dunia pendidikan mengahsilkan lulusan sebanyak-banyaknya dengan mutu setinggi-tingginya. Biasanya hukum alam berlaku, yang bermutu itu sedikit. &lt;br /&gt;       Target lulusan di sekolah-sekolah dan dinas-dinas pendidikan telah diseragamkan dengan target-target benda mati yang tidak berpikiran dan berperasaan misalnya disamakan dengan target  panen padi sekian ton di Dinas Pertanian, target kopi, karet, kelapa sawit di Dinas Perkebunan, target penangkapan ikan di Dinas Perikanan dan Kelauatan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;         Dalam menerapkan MPMBS budaya mutu harus dimiliki. Peningkatan mutu dapat diupayakan dengan berbagai teknik manajemen seperti: Total Quality Management (TQM), Total Quality Control (TQC), Quality Cyrcle Control (QCC), Malcorn Baldrige Quality Award, Deming Prize, International Standard Organization (ISO) 9000 dan sebagainya. Penyebabnya rendahnya mutu pendidikan disebabkan mutu input, dan prosesnya yang rendah. &lt;br /&gt;f. Memiliki teamwork yang Kompak, Cerdas, dan   Dinamis&lt;br /&gt;          Sekolah harus memiliki teamwork  yang kompak (solid), cerdas, dan dinamis baik dalam arti sebenarnya maupun singkatan. TEAMWORK dalam arti singkatan adalah Together (bersama-sama, gotong royong), Empathy (saling merasakan), Assist (saling menolong),  Maturity (saling dewasa), Willingness (saling memberi dan mengerti), Organization (saling tertata  dengan baik), Respect (saling menghormati), dan Kindness (saling berbuat kebaikan(Jalal &amp; Supriadi, 2001). Yang perlu ditanamkan dalam setiap anggota teamwork adalah kebersamaan, filsafat sapu lidi, bercerai kita runtuh bersatu kita teguh. Keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan bukanlah hasil kerja kepala sekolah atau guru atau peserta didik sendiri-sendiri tetapi berkat kerjasama seluruh warga sekolah karena sekolah sebagai sistem yang terdiri atas input, proses, dan output harus bersinerji dalam mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;Ciri-ciri kelompok yang efektif menurut Curtis &amp; Manning (2003) adalah: (1) memiliki misi yang jelas, (2) suasana informal, (3) banyak diskusi, (4) menjadi pendengar yang baik, (5) kepercayaan dan keterbukaan,  (6) menerima perbedaan untuk diambil hikmahnya, (7) kritis terhadap isu-isu, (8) sepakat dan taat terhadap norma-norma, (9) memiliki kepemimpinan yang efektif, (10) penilaian objektif, (11) berbagi nilai dan perilaku, dan (12) memiliki komitemen yang kuat. &lt;br /&gt;g. Memiliki Kewenangan (Kemandirian)&lt;br /&gt;       Sekolah harus memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan terbaik bagi sekolahnya karena sekolahlah yang paling tahu yang terbaik bagi dirinya. Agar sekolah memiliki kemandirian  maka sekolah harus memiliki sumberdaya yang memadai. Sekolah yang mandiri adalah   sekolah yang mampu mencukupi kebutuhannya sendiri, mampu berdiri sendiri,  mampu menyelesaikan masalahnya sendiri,  mampu memerintah dan mengatur diri sendiri, berpandangan terbuka, adil, dan netral. &lt;br /&gt;h. Partisipasi Stakeholder Tinggi&lt;br /&gt;        Sekolah harus memiliki partispasi stakeholder yang tinggi karena partisipasi stakeholder yang tinggi dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan, kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan demokrasi pendidikan. Keterbukaan adalah dalam hal program dan keuangan. Kerjasama ialah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar stakeholder yang erat, dan adanya kesadaran bersama bahwa output sekolah merupakan hasil kelektif kerja tim yang kuat dan cerdas (Depdiknas,2002). Demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembaga melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan, hak aasasi manusia serta kewajibannya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan (Depdiknas,2002). Partisipasi stakeholder dapat pula dilakukan dalam mendisain PBM yang disebut dengan model IMPACT (Intructional Management, Parent, Cummunity, and Teachers).&lt;br /&gt;i.  Memiliki Keterbukaan Manajemen&lt;br /&gt;      Keterbukaan manajemen terutama dalam hal penggunaan dan laporan  keuangan sekolah. Adanya keterbukaan dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa saling curiga antara pengelola keuangan dengan stakeholder. Sekolah yang dicurigai akan ditinggalkan stakeholder-nya. Akhirnya, sekolah tersebut akan tutup atau bubar.&lt;br /&gt;j. Memiliki Kemauan dan Kemampuan untuk Berubah &lt;br /&gt;       Berubah di sini adalah ada peningkatan dari tidak baik menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik lagi atau berubah menuju kepada kesempurnaan. Kemapanan atau status quo adalah musuh sekolah karena itu sekolah yang tidak berubah akan ketinggalan jaman dan ditinggalkan stakeholder-nya.  Akhirnya sekolah tersebut akan tutup.&lt;br /&gt;k. Melakukan Evaluasi dan Perbaikan secara Berkelanjutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Sekolah harus melakukan evaluasi untuk meningkatkan proses PBM dan hasil belajar (output sekolah). Sekolah juga harus melakukan perbaikan secara berkelanjutan (terus-menerus) yang disebut Kaizen. Jika perlu tiada hari tanpa perbaikan. Perbaikan dimulai dari diri sendiri, dari yang mudah-mudah, dan dari yang kecil-kecil. Bila sekolah tidak melakukan evaluasi dan perbaikan terus-menerus, maka lama-kelamaan sekolah itu akan merosot mutunya dan  ditinggalkan stakeholder-nya.  Akhirnya sekolah tersebut akan tutup.&lt;br /&gt;l.  Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan&lt;br /&gt;        Sekolah harus tanggap (responsif) terhadap kebutuhan stakeholder. Bila sekolah tidak tanggap akan kebutuhan stakeholder, maka lama-kelamaan sekolah itu akan ditinggalkan stakeholder.  Akhirnya sekolah tersebut akan tutup. Sekolah juga harus antisipatif terhadap kebutuhan stakeholder. Untuk mengetahui kebutuhan stakeholder, sekolah harus melakukan jemput bola menanyakan apa sebenarnya dibutuhkan mereka. Bila sekolah tidak antisipatif akan kebutuhan stakeholder, maka lama-kelamaan sekolah itu akan ditinggalkan stakeholder-nya.  Akhirnya sekolah tersebut akan tutup.&lt;br /&gt;m.  Komunikasi yang Baik&lt;br /&gt;       Komunikasi yang baik ialah kemampuan menyampaikan pendapat baik secara tertulis, lisan,  maupun bahasa isyarat. Di samping itu, mampu pula menerima pesan atau pertanyaan baik secara tertulis, lisan,  maupun bahasa isyarat. Banyak kegagalan sekolah terjadi karena kegagalan warganya berkomunikasi dengan baik. Sekolah yang tidak komunikatif akan ditinggalkan stakeholder-nya dan akhirnya sekolah itu akan tutup.&lt;br /&gt;n. Memiliki Akuntabilitas&lt;br /&gt;       Sekolah harus memiliki akuntabilitas berupa laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan program dan keuangannya melalui Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Sekolah (LAKIS). LAKIS ini disampaikan kepada stakeholder atau komite sekolah dalam suatu rapat sekolah. Selanjutnya, komite sekolah diberi kesempatan secukupnya untuk mempelajari LAKIS tersebut untuk diterima atau ditolak.  Bila LAKIS ditolak, Kepala Sekolah harus merevisinya atau diadakan tindakan hukum. Sekolah yang tidak akuntabel akan ditinggalkan stakeholder-nya dan akhirnya sekolah tersebut  tutup.  &lt;br /&gt;o. Sekolah Memiliki Sustainabilitas&lt;br /&gt;        Sekolah harus memiliki sustainabilitas atau keberlangsungan  hidupnya agar tetap hidup (buka). Kebanyakan sekolah tutup karena tidak sanggup mempertahankan sustainabilitasnya. Sekolah yang tidak sustainabilitas karena ketiadaan sumberdaya yang memadai untuk hidup terus. Contohnya: sekolah akan tutup kalau proyek yang membiayainya habis. Sekolah yang tidak sustainabilitas lama-kelamaan akan ditinggalkan stakeholder-nya.  Akhirnya sekolah tersebut akan tutup.&lt;br /&gt;     3. Input  Pendidikan&lt;br /&gt;            Input adalah sesuatu yang harus tersedia untuk berlangsungnya proses. Input juga disebut sesuatu yang berpengaruh terhadap proses. Input merupakan prasyarat proses. Input terbagi empat  yaitu input SDM, input sumberdaya, input manajemen, dan input harapan.&lt;br /&gt;         Input SDM meliputi: kepala sekolah, guru, pengawas, staf TU, dan siswa.  Input sumberdaya lainnya meliputi:  peralatan, perlengkapan, uang, dan bahan). Input perangkat (manajemen) meliputi: struktur organisasi, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, kurikulum, rencana, dan program. Input harapan meliputi: visi, misi, strategi, tujuan, dan sasaran sekolah.&lt;br /&gt;         Input pendidikan meliputi: (1) memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas;  (2) sumberdaya tersedia dan siap, (3) staf yang kompeten dan berdekasi tinggi; (4) memiliki harapan prestasi  yang tinggi, (5) fokus pada pelanggan (khususnya siswa), dan (6) manajemen (Depdiknas, 2002).&lt;br /&gt;        Tinggi rendahnya mutu input tergantung kesiapan input. Makin tinggi kesiapan input, makin tinggi pula mutu input. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses berjalan dengan baik. Proses bermutu tinggi bila pengkoordinasian, penyerasian input harmonis sehingga mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, mampu mendorong motivasi belajar, dan benar-benar memberdayakan siswa. Memberdayakaan siswa mengandung makna siswa menguasai ipteks yang diajarkan, menghayati, mengamalkan, dan mampu belajar cara belajar (mampu mengembangkan dirinya). Output bermutu tinggi bila sekolah menghasilkan prestasi akademik dan nonakademik siswa, dan prestasi lainnya seperti yang telah diungkapkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fungsi-fungsi yang Didesentralisasikan ke  &lt;br /&gt;     Sekolah&lt;br /&gt;          Fungsi-fungsi yang didesentralisasikan oleh pemerintah pusat ke sekolah-sekolah antara lain adalah sebagai berikut. &lt;br /&gt;(1) Pengelolaaan PBM.&lt;br /&gt;(2) Perencanaan dan evaluasi.&lt;br /&gt;(3) Pengelolaan kurikulum.&lt;br /&gt;(4) Pengelolaan ketenagaan.&lt;br /&gt;(5) Pengelolaan fasilitas (peralatan dan perlengkapan).&lt;br /&gt;(6) Pengelolaan keuangan.&lt;br /&gt;(7) Pengelolaan siswa.&lt;br /&gt;(8) Hubungan sekolah-masyarakat.&lt;br /&gt;(9) Pengelolaan iklim sekolah (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;Agar desentralisasi pendidikan di sekolah berjalan lebih efektif dan efisien maka sekolah harus memenuhi tiga syarat minimal, yaitu: (a) diserahkannya tugas, wewewnang dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan di sekoloah, yang berakibat juga diserahkannya tanggung jawab atas segala risiko terhadap keputusan itu, termasuk dalam mengurus  seluruh manajemen perubahan, manajemen risiko dan pengelolaan sumber daya potensial dan real yang ada di dalamnya, (b) didukung dengan sistem teknologi informasi berikut pembiayaannya, dan (c) didukung dengan kemampuan profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas, wewenang, dan tanggung jawab (BSNP, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Syarat Manajemen Efektif&lt;br /&gt;       Pengawas sekolah bertugas membina pengelolaan (manajemen) sekolah secara efektif dan efisien. Minimal terdapat tiga syarat manajemen efektif yaitu:&lt;br /&gt;(1) keputusan secara proporsional didelegasikan dan diserahkan  tingkat sekolah, &lt;br /&gt;(2) didukung oleh input sekolah yang sesuai dengan tuntutan mutu sekolah, dan &lt;br /&gt;(3) didukung oleh kemampuan profesional tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah yang mumpuni melaksanakan tugas pokok dan fungsi, wewenang, dan tanggung jawabnya (BSNP, 2006).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Prinsip Penatakelolaan yang Baik dan Benar&lt;br /&gt;   Dalam melakukan pembinaan atau pembimbingan pengelolaan, pengawas sekolah hendaknya menguasai dan mampu menerapkan 12 prinsip penatakelolaan yang baik dan benar yaitu:&lt;br /&gt;(1)  akuntabilitas (adanya rasa tanggung jawab);&lt;br /&gt;(2)  keterbukaan (transparan);&lt;br /&gt;(3)  membuka peran semua pihak (partisipasi);&lt;br /&gt;(4)  kesedarajatan/kesetaraan (equality);&lt;br /&gt;(5)  kepekaan/kesegeraan merespons (responsiveness) terhadap semua  &lt;br /&gt;      tuntutan perkembangan yang wajib dan rasional;&lt;br /&gt;(6)  penataan hukum (rule of law);&lt;br /&gt;(7)  efisiensi dan keefektivan dalam melakukan setiap pekerjaan;&lt;br /&gt;(8)  visi strategik/memandang jauh ke depan dalam hal-hal yang paling  &lt;br /&gt;      strategik dan menentukan;&lt;br /&gt;(9)  profesionalisme dalam menyandang semua pekerjaan ;&lt;br /&gt;(10) enterpreneurship dalam setiap melakukan pekerjaan secara kreatif, &lt;br /&gt;         berani memikul resiko, siap menghadapi perubahan dan memandang   &lt;br /&gt;        jauh ke depan;&lt;br /&gt;(11)  budaya organisasi terdiri dari prinsip menjunjung tinggi nilai-nilai organisasi sekolah dan seluruh aparatur penyelenggaranya sebagai wadah pengembangan nilai kebersamaan, kordinasi, dan keterpaduan kerja ;dan&lt;br /&gt;(12) kepedulian pada visi, misi, tujuan, sasaran,  strategi, kebijakan, dan program sekolah yang sudah menjadi keputusan bersama (BSNP,2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Kemampuan Dasar Pengawas Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan dasar yang harus dimiliki pengawas sekolah dalam membina kepala sekolah minimal ada tujuh yaitu:&lt;br /&gt;(1) penyusunan rencana pengembangan sekolah (termasuk menetapkan visi, misi, tujuan, sasaran, indikator keberhasilan, arah dan strategi, kebijakan internal, dan program kerjanya);&lt;br /&gt;(2) pengelolaan sistem kode etik dan tata laku semua subjek pendidikan meliputi pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa/peserta didik;&lt;br /&gt;(3) pengambilan keputusan kolegial, demokratik, partisipatif, dan kolektif; &lt;br /&gt;(4) pengembangan kurikulum dan silabus secara dinamik, berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan pencapaian peningkatan mutu pendidikan;&lt;br /&gt;(5) pelaksanaan program pendidikan berorientasi kepada peningkatan mutu pendidikan di mana sangat diperhatikan unsur masukan, proses, dan hasil/output pendidikan;&lt;br /&gt;(6) pendelegasian dan pendistribusian tugas, wewenang, dan tanggung jawab secara proporsional dan konsisten; dan&lt;br /&gt;(7) pengelolaan seluruh sumber daya pendidikan termasuk dana) (BSNP, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Ringkasan&lt;br /&gt;1. Terdapat 27 perubahan paradigma manajemen lama menuju paradigma manajemen baru. &lt;br /&gt; 2. Esensi MPMBS = otonomi sekolah + fleksibilitas + partisipasi untuk  mencapai sasaran mutu pendidikan.&lt;br /&gt; 3. Karakteristik MPMBS didasarkan atas output, proses, dan input.&lt;br /&gt;  4. Output  pendidikan adalah kinerja (prestasi) sekolah. Kinerja sekolah dihasilkan dari proses.pendidikan. Output pendidikan dinyatakan tinggi jika prestasi sekolah tinggi dalam hal prestasi akademik, nonakademik, dan lainnya.&lt;br /&gt; 5. Proses ialah berubahnya sesuatu (input) menjadi sesuatu yang lain (output).      &lt;br /&gt; 6. Sekolah yang efektif  memiliki 15 indikator.&lt;br /&gt; 7. Input adalah sesuatu yang harus tersedia untuk berlangsungnya proses. Input juga disebut sesuatu yang berpengaruh terhadap proses. Input merupakan prasyarat proses. Input terbagi empat  yaitu input SDM, input sumberdaya, input manajemen, dan input harapan.&lt;br /&gt;8.   Fungsi-fungsi yang didesentralisasikan oleh pemerintah pusat ke sekolah-sekolah ada 9 fungsi.&lt;br /&gt;9.   Ada tiga syarat agar disentralisasi pendidikan di sekolah efektif dan efisien.&lt;br /&gt;10. Minimal terdapat tiga syarat manajemen efektif.&lt;br /&gt;11.  Dalam melakukan pembinaan atau pembimbingan pengelolaan, pengawas sekolah hendaknya menguasai dan mampu menerapkan 12 prinsip penatakelolaan yang baik dan benar.&lt;br /&gt;12.  Kemampuan dasar yang harus dimiliki pengawas sekolah dalam membina kepala sekolah minimal ada 7.&lt;br /&gt;13.   Bidang yang menjadi ruang lingkup pembinaan MPMBS adalah tugas-tugas yang dilakukan sekolah dalam pelaksanaan MPMBS ada 7.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-6200796081820954298?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/6200796081820954298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=6200796081820954298' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6200796081820954298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6200796081820954298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/bab-iii-konsepsi-manajemen-berbasis.html' title='BAB III KONSEPSI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-1200972217287417231</id><published>2010-02-26T17:34:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.700-08:00</updated><title type='text'>BAB II LANDASAN KONSEPTUAL MPMBS</title><content type='html'>A. Pengertian MPMBS&lt;br /&gt;        Depdiknas (2002) merumuskan MPMBS sebagai model manajemen pendidikan yang otonomi lebih besar kepada sekolah,  memberikan fleksibilitas (keluwesan) kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung stakeholder untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;    Otonomi (swa) ialah kewenangan dan kemandirian dalam mengatur diri sendiri secara merdeka (tidak tergantung pihak lain). Dengan otonomi yang lebih besar, sekolah akan mempunyai kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya sehingga sekolah lebih mandiri. Melalui kemandiriannya, sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program sekolah sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki. yang ada. Kemandirian harus didukung antara lain oleh kemampuan: merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, kepemimpinan transformasional, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan,   berkomunikasi, berkoordinasi secara sinerji, dan melakukan perubahan organisasi organisasi (jujur, adil, demokratis, transparan, adaptif, antisipatif, memberdayakan sumberdaya yang ada, dan memenuhi kebutuhan sendiri). Kemandirian dalam program dan pendanaan adalah indikator  utama kemandirian sekolah. Kemandirian sekolah yang terus menerus akan menjamin keberlangsung dan pengembangan sekolah (sustainabilitas). Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: tingkat kemandirian tinggi dan tingkat ketergantungan rendah;  bersifat adaptif, antisipatif, proaktif sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko, dan sebagainya; bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah; memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya; memiliki kontrol kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja; komitmen yang tinggi pada dirinya; dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya (Depdiknas,2002). &lt;br /&gt;Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan stakeholder adalah: pemberian kewenangan, pemberian tanggung jawab, pekerjaan yang bermakna, pemecahan masalah sekolah secara kerja tim, variasi tugas dan hasil kerja yang terukur, kemampuan untuk mengukur kinerja sendiri, tantangan dan kepercayaan serta pujian didengar, menghargai ide-ide, mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah, kontrol yang luwes, dukungan, komunikasi yang efektif, umpan balik bagus, sumberdaya yang dibutuhkan ada, dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tinggi (Depdiknas,2002). &lt;br /&gt;        Fleksibelitas ialah keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola sekolah dengan baik dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Dengan fleksibelitas, sekolah lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal, tidak lagi harus menunggu petunjuk dari atasan dalam mengelola dan memberdayakan sumberdaya sekolah yang ada. Akibatnya, sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam   merespons kekuatan-kekuatan, kelemahan-kelemahan, peluang-peluang, dan ancamana-ancaman yang dihadapi. Meskipun sekolah sudah memiliki keluwesan-keluwesan, ia harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;        Partisipasi ialah keterlibatan langsung dan aktif stakeholders dalam manajemen pendidikan baik dalam arti luas maupun dalam arti sempit dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Hal ini dilandasi keyakinan bila stakeholder berpartisipasi, maka mereka akan merasa dihargai. Manusia pada hakekatnya ingin memenuhi kebutuhannya dengan penghargaan (esteem need) (Maslow,1954). Jika manusia dihargai, maka dia akan merasa dilibatkan. Jadi, penghargaan dan  partisipasi merupakan hubungan sebab akibat (timbal balik). Jika manusia dilibatkan, maka ia merasa bertanggung jawab dan berdedikasi (juga mempunyai hubungan timbal balik). &lt;br /&gt;Jika manusia merasa bertanggung jawab dan berdedikasi, maka ia merasa memiliki (mempunyai hubungan timbal balik). Singkatnya, makin besar partisipasi, makin besar pula penghargaan. Makin besar penghargaan, makin besar pula tanggung jawab. Makin besar tanggung jawab, makin besar pula rasa memiliki. Dalam melakukan partisipasi harus mempertimbangkan keahlian (kompetensi), tenaga, dana, waktu stakeholder sesuai dengan relevansinya. Stakeholder  harus bekerja bahu membahu  secara  profesional  sebagai  tim kerja yang sinergis dan solid.&lt;br /&gt;Untuk membuat  stakeholder yang terlibat dan merasa memiliki terhadap sekolah diperlukan suasana masyarakat yang demokratis, dan stakeholder terlibat dalam proses pengambilan keputusan&lt;br /&gt;          MPMBS menuntut partisipasi lebih besar dari stakeholder dalam setiap kebijakan dan sepanjang proses pembuatan keputusan sekolah berlangsung, semua keputusan harus dibuat secara kolektif dan sinergis bersama stakeholder. Dalam konteks MPMBS, segala kesempatan harus ada dan dimaknai untuk meningkatkan profesionalisme para staf dan kerjasama staf dengan orang-tua yang lebih kondusif dalam melayani pendidikan peserta didik. Konsep ini menuntut para orang-tua dan guru mengerti segala kebutuhan yang terbaik untuk peserta didiknya, dan melalui satu usaha yang kooperatif, mereka dapat bahu membahu meningkatkan program-program yang tepat sesuai kebutuhan peserta didik (Duhou, 2002).&lt;br /&gt;         Peningkatan peran kelompok yang membuat kebijakan barbasis sekolah dan proses perencanaan pembangunan adalah sebagai contoh gerakan menuju ke arah desentralisasi yang lebih besar. Dalam bentuknya yang sederhana, MPMBS mendeskripsikan satu rangkaian praktik yang di dalamnya semakin banyak melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan-keputusan berkaitan dengan program sekolah (Duhou, 2002).   &lt;br /&gt;         Peningkatan partisipasi stakeholder dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan, kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan demokrasi pendidikan. Keterbukaan adalah dalam hal program dan keuangan. Kerjasama ialah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar stakeholder yang erat, dan adanya kesadaran bersama bahwa output sekolah merupakan hasil kolektif kerja tim yang kuat dan cerdas (Depdiknas,2002). Demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembaga melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan, hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan (Depdiknas,2002).&lt;br /&gt;         Untuk mencapai efektivitas dan efisiensi yang optimal dalam manajemen sekolah dan alokasi sumberdaya yang mempresentasikan MPMBS, sekolah perlu merumuskan akuntabillitas sekolah. Konsep-konsep sekolah selama ini harus ditata ulang, dan langkah ini menuntut keahlian dari semua pihak terutama komite dan dewan sekolah, pengawas sekolah, para pemimpin lokal, dan masyarakat umum. Keahlian dapat diberikan melalui sistem in service training secara khusus dan profesional (Duhou,2002). Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada stakeholder melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Alasan Diterapkannya MPMBS&lt;br /&gt;        Alasan perlu diterapkannya MPMBS antara lain adalah untuk:    &lt;br /&gt;(1) menerapkan UU Sisdiknas Pasal 51 ayat 1 secara murni dan konsekuen;&lt;br /&gt;(2) memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian otonomi, fleksibilitas, dan partisipasi; &lt;br /&gt; (3) meningkatkan mutu sekolah melalui kemandirian dan inisiatif sekolah;&lt;br /&gt; (4) mempercepat transformasi proses belajar mengajar secara optimal;&lt;br /&gt;(5) meningkatkan motivasi kepala sekolah agar  lebih bertanggung jawab terhadap mutu peserta didik;&lt;br /&gt;(6) meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada stakeholders  sehingga selalu berusaha seoptimal mungkin melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan;&lt;br /&gt;(7) memberikan tanggung jawab baru bagi pelaku MPMBS;&lt;br /&gt;(8) meningkatkan kepedulian stakeholder  dalam penyelenggaraan pendidikan;&lt;br /&gt;(9) meningkatkan usaha desentralisasi manajemen pendidikan;&lt;br /&gt;(10) memberdayakan  sumberdaya manusia lokal serta sarana dan prasarana sekolah yang ada sesuai kebutuhan peserta didik; &lt;br /&gt;(11) memacu inissiatif dan kreativitas dalam meningkatkan mutu sekolah;&lt;br /&gt;(12)  memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah, sekolah akan lebih lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah;&lt;br /&gt;(13) mengetahui SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunities, Threats) bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya;&lt;br /&gt;(14)  mengambil keputusan yang cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya;&lt;br /&gt;(15) menggunakan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat;&lt;br /&gt;(16)  melibatkan stakeholder dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat;&lt;br /&gt;(17) melakukan persaingan sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan stakeholder; dan&lt;br /&gt;(18) merespons aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Prinsip-prinsip MPMBS&lt;br /&gt;         Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan MPMBS  adalah sebagai berikut. &lt;br /&gt;(1) Pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak&lt;br /&gt;(2) Sekolah adalah unit terpenting  bagi pendidikan yang efektif. &lt;br /&gt;(3) Segala keputusan sekolah dibuat oleh oleh pihak-pihak yang benar-benar mengerti tentang sekolah termasuk seluruh warganya.&lt;br /&gt;(4) Guru-guru harus membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan kurikulum.&lt;br /&gt;(5) Sekolah mandiri membuat keputusan pengalokasian dana, dan &lt;br /&gt;(6) Perubahan akan bertahan lebih lama apabila melibatkan stakeholder   (Dorseif,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah contoh instrumen observasi supervisi MPMBS.&lt;br /&gt;Tabel 1&lt;br /&gt; Instrumen Observasi Supervisi MPMBS&lt;br /&gt;                                                   Nama Pengawas : Sugiharto&lt;br /&gt;                                                   Nama Sekolah              :  .........&lt;br /&gt;                                                  No. Aspek yang diobservasi Pelaksanaan Masalah  &lt;br /&gt;Pemecahan &lt;br /&gt;  Baik Belum Baik  &lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6&lt;br /&gt;1. Menyusun rencana dan program pelaksanaan MPMBS dengan melibatkan stakeholder.       &lt;br /&gt;2. Mengoordinasikan dan menyerasikan segala           sumberdaya di sekolah  dan di luar sekolah           untuk mencapai sasaran MPMBS    &lt;br /&gt;3. Melaksanakan program MPMBS secara efektif        dan efisien dengan menerapkan  prinsip  Total  &lt;br /&gt; Quality Management (TQM) dan pendekatan sistem.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;4. Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan pelaksanaan MPMBS sehingga kejituan            implementasi dapat dijamin untuk mencapai  sasaran MPMBS    &lt;br /&gt;5. Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi pencapaian sasaran MPMBS yang telah ditetapkan. Hasilnya untuk menentukan sasaran baru MPMBS tahun berikutnya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;6. Menyusun laporan pelaksanaan MPMBS beserta hasilnya secara lengkap dan benar untuk  disampaikan kepada Dinas Pendidikan kabupaten/kota, komite sekolah dan yayasan (bagi sekolah swasta).    &lt;br /&gt;7. Mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan MPMBS kepada stakeholder.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Rangkuman&lt;br /&gt; 1. Ada tiga hal pokok yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yaitu:&lt;br /&gt;    kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan memusatkan pada output, &lt;br /&gt;    penyelenggaraan birokratik-senralistik, dan peran serta masyarakat sangat &lt;br /&gt;    minim. &lt;br /&gt;2. MPMBS ialah model manajemen pendidikan yang otonomi lebih besar kepada sekolah,  memberikan fleksibilitas (keluwesan) kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung stakeholder untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;br /&gt;   3.  Tujuan umum MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan &lt;br /&gt;        sekolah.    &lt;br /&gt;   4. Tujuan khusus MPMBS ada 10.&lt;br /&gt;   5. Alasan perlu diterapkannya MPMBS ada 18.&lt;br /&gt; 6. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan MPMBS  ada 6.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-1200972217287417231?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/1200972217287417231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=1200972217287417231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1200972217287417231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1200972217287417231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/bab-ii-landasan-konseptual-mpmbs.html' title='BAB II LANDASAN KONSEPTUAL MPMBS'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-7698759071831070681</id><published>2010-02-26T17:28:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.715-08:00</updated><title type='text'>PENGELOLAAN MUTU PENDIDIKAN</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;  Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola sekolahnya telah dilakukan Depdiknas sejak lama. Sebelum diberlakukannya otanomi daerah, sekolah dikenalkan program pemberdayaan sekolah melalui Pengembangan Sekolah Seutuhnya (PSS) atau School Integrated Development (SID). Namun, pada era otonomi daerah muncul program baru yang disebut Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). PSS dan MPMBS nama berbeda tetapi jiwanya sama yaitu mengedepankan pemberdayaan sekolah dalam mengelola sekolahnya. PSS idenya, sedangkan MPMBS cara melaksanakan ide tersebut. Untuk maksud tersebut dalam modul ini diuraikan apa, mengapa, untuk apa, dan bagaimana melaksanakan MPMBS dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;         Paradigma baru era otonomi daerah versi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 jo PP Nomor 25 Tahun 2000, telah dimulai sejak 1 Januari 2001. Sejalan dengan reformasi dan demokratisasi pendidikan yang sedang bergulir, pemerintah telah bertekad bulat untuk melaksanakan desentralisasi pendidikan yang bertumpu pada pemberdayaan sekolah di semua jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;         Berbagai kenyataan rendahnya mutu sekolah dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya adalah manajemen pendidikan. Dalam kenyataannya, manajemen pendidikan  termasuk manajemen dalam arti sempit atau manajemen sekolah yang selama ini bersifat sentralistik yang telah menempatkan sekolah pada posisi marginal, kurang  diberdayakan tetapi malah diperdayakan, kurang mandiri, pasif atau selalu menunggu instruksi dari pusat, bahkan terpasungnya inisiatif dan kreativitas pengawas dan kepala sekolah serta guru  untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Untuk itu, dengan diberlakukannya otonomi daerah sejak 1 Januari 2001, Depdiknas terdorong melakukan reorientasi manajemen pendidikan dari manajemen pendidikan berbasis pusat menjadi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (School-Based Management) atau site-based-management atau di sekolah-sekolah dikenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).  &lt;br /&gt;         Pergeseran pendekatan manajemen ini memerlukan penyesuaian baik teknis maupun nonteknis misalnya budaya. Penyesuaian teknis melalui penataran, workshop, seminar, dan diskusi, dan rapat sekolah tentang MPMBS, sedangkan penyesuaian budaya melalui penanaman pemikiran, kebiasaan, tindakan sampai terbentuknya karakter MPMBS kepada semua warga sekolah (peserta didik, tenaga pendidikan, dan tenaga kependidikan) dan masyarakat (orang-tua, tokoh masyarakat, ilmuan, pengusaha, alumni, dan pemerintah) atau selanjutnya disebut stakeholder.&lt;br /&gt;         Konsep MPMBS ini telah berhasil di negara-negara maju, tetapi masih merupakan konsep baru bagi manajemen pendidikan di negara kita. Oleh sebab itu, penerapan MPMBS di negara kita tidak secara otomatis langsung sempurna. Untuk penyempurnaannya, praktisi pendidikan terutama pengawas sekolah bersama warga sekolah dapat merevisinya sesuai kebutuhan dan potensi sumber daya yang tersedia di sekolah masing-masing. &lt;br /&gt;     MPMBS merupakan salah satu jawaban pemberian otonomi daerah di bidang pendidikan dan telah diundang-undangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 51 ayat 1 yang berbunyi, “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Oleh sebab itu, MBS atau yang lebih terkenal MPMBS wajib diketahui, dihayati, dan diamalkan oleh setiap warga negara Indonesia terutama mereka yang berkecimpung  di dunia pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.&lt;br /&gt;  MPMBS hanya akan terlaksana apabila didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang memilki kemampuan, integritas, dan kemauan yang tinggi karena kalau tidak, MPMBS hanya akan menjadi eforia semata. Salah satu unsur SDM dimaksud adalah pengawas sekolah. Pengawas sekolah sebagai faktor strategis dalam keberhasilan meningkatkan mutu sekolah.&lt;br /&gt; Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional khususnya pendidikan dasar dan menengah pada setiap jenjang satuan pendidikan, antara lain melalui pemenuhan kebutuhan dan pelatihan serta peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan/perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Tetapi berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan belum meningkat secara signifikan.Sebagian kecil sekolah menunjukkan peningkatan mutu pendidikan secara menggembirakan, namun besar lainnya masih memprihatinkan. Dari berbagai pengamatan ternyata ada tiga hal pokok yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yaitu:&lt;br /&gt;(1) kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional hanya memusatkan &lt;br /&gt;      pada output pendidikan, pada hal proses pendidikan sangat menentukan &lt;br /&gt;      output pendidikan;&lt;br /&gt;(2) penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-senralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi pusat yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat; sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, inisiatif, dan kreativitas untuk meningkatkan mutu sekolahnya;&lt;br /&gt;(3) peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan dan Sasaran Materi Perkuliahan&lt;br /&gt;      Setelah perkuliahan ini, mahasiswa pasca sarjana diharapkan memiliki konsep serta menguasainya juga mengaflikasikannya  dalam lapangan keilmuan bidang manejemen pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Indikator Keberhasilan&lt;br /&gt; Peserta diklat dapat&lt;br /&gt; 1. Menjelaskan  pengertian MPMBS secara singkat.&lt;br /&gt; 2. Menyebutkan  tujuan MPMBS&lt;br /&gt; 3. Menjelaskan perlunya MPMBS diterapkan di sekolah&lt;br /&gt; 4. Menyebutkan perubahan dari paradigma lama manajemen pendidikan menjadi paradigma baru manajemen pendidikan&lt;br /&gt;       5. Menjelaskan konsep dasar MPMBS &lt;br /&gt;       6. Menjelaskan karakteristik MPMBS sebagai suatu sistem&lt;br /&gt;       7. Menjelaskan fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah&lt;br /&gt;       8. Menjelaskan prinsip-prinsip MPMBS&lt;br /&gt;       9. Menjelaskan tahap-tahap melaksanakan MPMBS&lt;br /&gt;      10. Menjelaskan komponen-komponen yang dimonitor dan dievaluasi&lt;br /&gt;      11.Menjelaskan mengapa MPMBS perlu dimonitor dan dievaluasi &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;C. Tujuan&lt;br /&gt;    Tujuan umum MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi)  kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan.    &lt;br /&gt;         Tujuan khusus MPMBS: untuk meningkatkan: &lt;br /&gt;(1) kinerja sekolah (mutu, relevansi, pemerataan, efisiensi, efektivitas, &lt;br /&gt;     inovasi, produktivitas sekolah) melalui kemandirian dan inisiatif sekolah, &lt;br /&gt;(2) transformasi proses belajar mengajar secara optimal, &lt;br /&gt;(3) meningkatkan motivasi kepala  &lt;br /&gt;      sekolah untuk lebih bertanggung jawab terhadap mutu peserta didik, &lt;br /&gt;(4) tanggung jawab sekolah kepada stakeholders, &lt;br /&gt;(5) tanggung jawab baru bagi pelaku MPMBS, &lt;br /&gt;(6) kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan &lt;br /&gt;     pendidikan, &lt;br /&gt;(7) kompetensi sehat antar sekolah, &lt;br /&gt;(8)  efisiensi dan efektivitas sekolah, &lt;br /&gt;(9) usaha mendesentralisasi manajemen pendidikan, dan &lt;br /&gt;(10) pemberdayaan  sarana dan prasarana sekolah yang ada sesuai kebutuhan &lt;br /&gt;       peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Ruang Lingkup MPMBS&lt;br /&gt;  Ruang lingkup pembinaan MPMBS yang menjadi pembinaan dan pengawasan pengawas sekolah adalah tugas-tugas yang dilakukan sekolah dalam pelaksanaan MPMBS yaitu:&lt;br /&gt; 1)   menyusun rencana dan program pelaksanaan MPMBS dengan melibatkan stakeholder.   &lt;br /&gt; 2)   mengoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya di sekolah  dan di  luar sekolah untuk mencapai sasaran MPMBS.&lt;br /&gt; 3) melaksanakan program MPMBS secara efektif   dan efisien dengan menerapkan  prinsip  Total  Quality Management (TQM) dan pendekatan sistem.&lt;br /&gt;     4) melaksanakan pengawasan dan pembimbingan pelaksanaan MPMBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai  sasaran MPMBS.&lt;br /&gt; 5)  Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi pencapaian sasaran MPMBS yang telah ditetapkan. Hasilnya untuk menentukan sasaran baru MPMBS tahun berikutnya.&lt;br /&gt; 6)  Menyusun laporan pelaksanaan MPMBS beserta hasilnya secara lengkap dan benar untuk  disampaikan kepada Dinas Pendidikan kabupaten/kota, komite sekolah dan yayasan (bagi sekolah swasta).&lt;br /&gt; 7)  Mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan MPMBS kepada stakeholder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Metode Penyampaian&lt;br /&gt;  Diklat ini menggunakan metode:&lt;br /&gt;1. Ceramah untuk menyampaiakan konsep dan pemahaman terhadap pengelolaan sekolah; &lt;br /&gt;2. Tanya jawab untuk menggali pengalaman peserta tentang pengelolaan sekolah dan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta diklat tentang materi administrasi sekolah;&lt;br /&gt;3. Pemberian tugas untuk mengukur tingkat pemahaman peserta diklat secara praktik tentang pengelolaan sekolah.&lt;br /&gt;4. Diskusi untuk memecahkan masalah-masalah tugas yang diberikan tentang pengelolaan sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Waktu Perkuliahan&lt;br /&gt;  Waktu yang digunakan untuk materi ini adalah satu semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Prosedur Pembelajaran&lt;br /&gt;  Untuk masing-masing pemberian materi diawali dengan pre-tes (10 menit), dilanjutkan deskripsi materi (15 menit) , tanya jawab 20 menit, diskusi 45 menit, pembahasan hasil diskusi (45 menit), dan diakhiri dengan post- tes (10 menit).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-7698759071831070681?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/7698759071831070681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=7698759071831070681' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7698759071831070681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7698759071831070681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/02/pengelolaan-mutu-pendidikan.html' title='PENGELOLAAN MUTU PENDIDIKAN'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-892264177859109941</id><published>2010-01-19T16:36:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.727-08:00</updated><title type='text'>CMS and Blog Templates</title><content type='html'>&lt;a href="http://ready-templates.finalsense.com/cms_blog.html"&gt;CMS and Blog Templates&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-892264177859109941?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ready-templates.finalsense.com/cms_blog.html' title='CMS and Blog Templates'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/892264177859109941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=892264177859109941' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/892264177859109941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/892264177859109941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2010/01/cms-and-blog-templates.html' title='CMS and Blog Templates'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4116851467730958777</id><published>2009-10-16T21:36:00.000-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.738-08:00</updated><title type='text'>Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna Bagi Siswa</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt; Pendidikan Matematika Realistik (PMR) dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Berdasarkan pemikiran tersebut, PMR mempunyai ciri antara lain, bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru (Gravemeijer, 1994), dan bahwa penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil” (de Lange, 1995).  &lt;br /&gt; Dunia riil adalah segala sesuatu di luar matematika. Ia bisa berupa mata pelajaran lain selain matematika, atau bidang ilmu yang berbeda dengan matematika, ataupun kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita (Blum &amp; Niss, 1989). Dunia riil diperlukan untuk mengembangkan situasi kontekstual dalam menyusun materi kurikulum. Materi kurikulum yang berisi rangkaian soal-soal kontekstual akan membantu proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dalam PMR, proses belajar mempunyai peranan penting. Rute belajar (learning route) di mana siswa mampu menemukan sendiri konsep dan ide matematika, harus dipetakan (Gravemeijer, 1997). Sebagai konsekuensinya, guru harus mampu mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan kontribusi terhadap proses belajar mereka. &lt;br /&gt; Pada saat ini, PMR mendapat perhatian dari berbagai pihak, seperti guru dan siswa, orangtua, dosen LPTK (teacher educators), dan pemerintah. Beberapa sekolah dasar di Yogyakarta, Bandung dan Surabaya telah melakukan ujicoba dan implementasi PMR dalam skala terbatas. Sebelum PMR diimplementasikan secara luas di Indonesia, perlu pemahaman yang memadai tentang teori ‘baru’ tersebut. Seringkali kegagalan dalam inovasi pendidikan bukan disebabkan karena inovasi itu jelek, tapi karena kita tidak memahaminya secara benar. Makalah ini akan menguraikan secara garis besar tentang sejarah PMR, mengapa kita perlu mengembangkan PMR di Indonesia, konsepsi tentang siswa, peran guru, konsepsi tentang pengajaran, dan ditutup dengan harapan terhadap implementasi PMR di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah PMR&lt;br /&gt; PMR tidak dapat dipisahkan dari Institut Freudenthal.  Institut ini didirikan pada tahun 1971, berada di bawah Utrecht University, Belanda. Nama institut diambil dari nama pendirinya, yaitu Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990), seorang penulis, pendidik, dan matematikawan berkebangsaan Jerman/Belanda.&lt;br /&gt; Sejak tahun 1971, Institut Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika yang dikenal dengan RME (Realistic Mathematics Education). RME menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika harus diajarkan.   Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai passive receivers of ready-made mathematics (penerima pasif matematika yang sudah jadi).  Menurutnya pendidikan harus mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan untuk menemukan kembali matematika dengan cara mereka sendiri. Banyak soal yang dapat diangkat dari berbagai situasi (konteks), yang dirasakan bermakna sehingga menjadi sumber belajar. Konsep matematika muncul dari proses matematisasi, yaitu dimulai dari penyelesaian yang berkait dengan konteks (context-link solution), siswa secara perlahan mengembangkan &lt;br /&gt;alat dan pemahaman matematik ke tingkat yang lebih formal.  Model model yang muncul dari aktivitas matematik siswa dapat mendorong terjadinya interaksi di kelas, sehingga mengarah pada level berpikir matematik yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;Mengapa kita perlu mengembangkan PMR?&lt;br /&gt;Orientasi pendidikan kita mempunyai ciri (Zamroni, 2000):&lt;br /&gt;• cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek;&lt;br /&gt;• guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner;&lt;br /&gt;• materi bersifat subject-oriented; dan&lt;br /&gt;• manajemen bersifat sentralistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian (Zamroni, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma baru pendidikan menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Zamroni, 2000):&lt;br /&gt;1) Pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching);&lt;br /&gt;2) Pendidikan diorganisir dalam suatu struktur yang fleksibel;&lt;br /&gt;3) Pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri; dan&lt;br /&gt;4) Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori PMR sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual (cotextual teaching and learning, disingkat CTL) . Namun, baik pendekatan konstruktivis maupun CTL mewakili teori belajar secara umum, PMR adalah suatu teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep PMR sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar. Salah satu pertimbangan mengapa Kurikulum 1994 direvisi adalah banyaknya kritik yang mengatakan bahwa materi pelajaran matematika tidak relevan dan tidak bermakna (Kurikulum 1994 Akhirnya Disempurnakan, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi tentang Siswa&lt;br /&gt;PMR mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Siswa memiliki seperangkat konsep laternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;&lt;br /&gt;• Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;&lt;br /&gt;• Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi,penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan;&lt;br /&gt;• Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman;&lt;br /&gt;• Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Guru&lt;br /&gt;PMR mempunyai konsepsi tentang guru sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Guru hanya sebagai fasilitator belajar;&lt;br /&gt;• Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;&lt;br /&gt;• Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan&lt;br /&gt;• Guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia-riil, baik fisik maupun sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi tentang Pengajaran&lt;br /&gt;Pengajaran matematika dengan pendekatan PMR meliputi aspek-aspek berikut (De Lange, 1995):&lt;br /&gt;• Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna;&lt;br /&gt;• Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut;&lt;br /&gt;• Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan;&lt;br /&gt;• Pengajaran berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan&lt;br /&gt;Dengan penerapan PMR di Indonesia diharapkan prestasi akademik siswa meningkat, baik dalam mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan paradigma baru pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Zamroni, (2000), pada aspek prilaku diharapkan siswa mempunyai ciri-ciri:&lt;br /&gt;• di kelas mereka aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan dan gagasan, serta aktif dalam mencari bahan-bahan pelajaran yang mendukung apa yang tengah dipelajari;&lt;br /&gt;• mampu bekerja sama dengan membuat kelompok-kelompok belajar;&lt;br /&gt;• bersifat demokratis, yakni berani menyampaikan gagasan, mempertahankan gagasan dan sekaligus berani pula menerima gagasan orang lain;&lt;br /&gt;• memiliki kepercayaan diri yang tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4116851467730958777?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4116851467730958777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4116851467730958777' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4116851467730958777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4116851467730958777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/10/menjadikan-pelajaran-matematika-lebih.html' title='Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna Bagi Siswa'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-5964405060822633424</id><published>2009-06-20T08:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.750-08:00</updated><title type='text'>vba</title><content type='html'>&lt;a title="View Exploring Vba on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/12745598/Exploring-Vba" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"&gt;Exploring Vba&lt;/a&gt; &lt;object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_813994561195535" name="doc_813994561195535" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%" rel="media:document" resource="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=12745598&amp;access_key=key-1ihs6g5k5g0upgpnvgif&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" xmlns:media="http://search.yahoo.com/searchmonkey/media/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/terms/" &gt;  &lt;param name="movie" value="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=12745598&amp;access_key=key-1ihs6g5k5g0upgpnvgif&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode="&gt;   &lt;param name="quality" value="high"&gt;   &lt;param name="play" value="true"&gt;  &lt;param name="loop" value="true"&gt;   &lt;param name="scale" value="showall"&gt;  &lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;   &lt;param name="devicefont" value="false"&gt;  &lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;   &lt;param name="menu" value="true"&gt;  &lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;   &lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;   &lt;param name="salign" value=""&gt;        &lt;embed src="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=12745598&amp;access_key=key-1ihs6g5k5g0upgpnvgif&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_813994561195535_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-5964405060822633424?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/5964405060822633424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=5964405060822633424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/5964405060822633424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/5964405060822633424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/06/vba.html' title='vba'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-7051344591649326974</id><published>2009-05-08T18:04:00.000-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.766-08:00</updated><title type='text'>Biasakan Minum Air hangat.</title><content type='html'>Please be a true friend and send this article to all your friends you care about.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Serangan Jantung dan kebiasaan Minum Air Panas / hangat....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini berguna untuk semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saja anjuran meminum air panas selepas makan, tetapi berhubungan dengan SERANGAN JANTUNG!!!!.&lt;br /&gt;Secara logik...., mungkin ada kebenarannya. . Orang-orang China dan Jepang mengamalkan minum teh panas sewaktu makan... dan bukannya air ES.  Mungkin sudah tiba masanya kita meniru kebiasaan minum air panas / hangat&lt;br /&gt;sewaktu menikmati hidangan!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan kehilangan apa-apa... malah&lt;br /&gt;akan mendapat faedah dari kebiasaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa yang suka minum air ES, artikel ini sesuai untuk anda baca..  Memang enak dan segar minum air ES selepas makan, tetapi akan berakibat fatal !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaubagaimanapun, Air ES akan membekukan makanan berminyak&lt;br /&gt;yang baru kita makan.  Ia akan melambatkan proses pencernaan kita. &lt;br /&gt;Bila lemak-lemak ini terbentuk di dalam usus, ia akan menyempitkan banyak saluran dan lama kelamaan ia akan  menyebabkan lemak berkumpul dan kita semakin gemuk dan  menuju  ke arah mendapat berbagai PENYAKIT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan terbaik...adalah untuk minum sup panas atau air PANAS/hangat selepas makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Nota penting tentang SERANGAN JANTUNG!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda perlu tahu bahwa tanda-tanda serangan jantung akan mulai terasa pada tangan sebelah kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hati juga pada permulaan sakit sedikit-sedikit pada bagian atas dada anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin tidak akan mengalami sakit dada pada&lt;br /&gt;serangan pertama  serangan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keletihan dan berkeringat dingin adalah tanda-tanda pada umumnya..  Malah 60% pengidap SAKIT JANTUNG tidak bangun selepas tidur. &lt;br /&gt;Marilah kita berwaspada dan berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih banyak kita tahu, lebih cerah peluang kita untuk terus hidup...&lt;br /&gt;PAKAR SAKIT JANTUNG berkata, jika semua orang yang mendapat e-mail ini menghantar kepada 10 orang yang lain, beliau yakin akan dapat menyelamatkan satu nyawa..&lt;br /&gt;Baca ini.... ia juga mungkin dapat menyelamatkan nyawa anda!!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Jadilah teman yang setia dan teruskan menghantar artikel ini kepada teman-teman yang anda sayangi..... !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See all the ways you can stay connected to friends and family&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Millis PSMK&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-7051344591649326974?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/7051344591649326974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=7051344591649326974' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7051344591649326974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7051344591649326974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/05/biasakan-minum-air-hangat.html' title='Biasakan Minum Air hangat.'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-1752598718418247420</id><published>2009-04-19T06:27:00.002-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.810-08:00</updated><title type='text'>Membuat virus macro sendiri</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-1752598718418247420?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/1752598718418247420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=1752598718418247420' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1752598718418247420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1752598718418247420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/membuat-virus-macro-sendiri_7312.html' title='Membuat virus macro sendiri'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-8332049414400770563</id><published>2009-04-19T06:27:00.001-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.783-08:00</updated><title type='text'>Membuat virus macro sendiri</title><content type='html'>&lt;div class="content"&gt;     &lt;p&gt;Berdasarkan sifat dan penyerangannya, virus komputer dapat dibedakan menjadi beberapa macam, misalnya virus boot sector, virus file, polymorphic virus, stealth virus, dan virus makro. Virus makro ini dapat menyerang pada dokumen MS Word, Excel atau Power Point. Virus makro ini termasuk virus yang paling banyak dijumpai di sekitar kita. Tentunya kita masih ingat dengan adanya virus Mellisa atau virus I Love You yang juga dapat kita masukkan ke dalam kategori virus macro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengapa virus makro ini sering sekali kita jumpai? Jawabnya tentu saja karena populasi pengguna MS Office sangat banyak. Dengan pengguna yang cukup banyak tentunya virus makro dapat berkembang dengan cepat. Dengan melakukan pertukaran data *.doc (dokumen MS Word) yang telah terinfeksi maka sudah cukup untuk membuat semua dokumen menjadi terinfeksi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik, bagaimana cara membuat virus makro tersebut? Kalau Anda seorang programmer, dengan bantuan berbagai referensi tentunya mudah saja untuk belajar membuat virus makro. Masalahnya bagaimana kalau kita sama sekali tidak menguasai bahasa pemrograman?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tenang saja, di internet banyak sekali software yang dapat digunakan untuk membuat virus makro. Salah satunya adalah SkamWerks Lab. Dengan fasilitas Virii Wizard, kita dapat membuat virus mulai dari awal sampai selesai. Saat menggunakan Virii Wizard, kita dapat menuliskan pembuat virusnya, nama virus, dan makro-makro yang akan dimasukkan ke dalam virus. Nah, daripada penasaran, silakan Anda cepat-cepat mencobanya sendiri. Tentunya setelah Anda mendownload programnya di sini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika berminat, Anda bisa mendapatkan software-software lain yang dapat digunakan untuk membuat virus di sini. Koleksinya sangat lengkap!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selamat mencoba!&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-8332049414400770563?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/8332049414400770563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=8332049414400770563' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8332049414400770563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8332049414400770563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/membuat-virus-macro-sendiri_19.html' title='Membuat virus macro sendiri'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4697400401283044343</id><published>2009-04-19T06:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T06:29:51.360-07:00</updated><title type='text'>Membuat virus macro sendiri</title><content type='html'>&lt;div class="content"&gt;     &lt;p&gt;Berdasarkan sifat dan penyerangannya, virus komputer dapat dibedakan menjadi beberapa macam, misalnya virus boot sector, virus file, polymorphic virus, stealth virus, dan virus makro. Virus makro ini dapat menyerang pada dokumen MS Word, Excel atau Power Point. Virus makro ini termasuk virus yang paling banyak dijumpai di sekitar kita. Tentunya kita masih ingat dengan adanya virus Mellisa atau virus I Love You yang juga dapat kita masukkan ke dalam kategori virus macro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengapa virus makro ini sering sekali kita jumpai? Jawabnya tentu saja karena populasi pengguna MS Office sangat banyak. Dengan pengguna yang cukup banyak tentunya virus makro dapat berkembang dengan cepat. Dengan melakukan pertukaran data *.doc (dokumen MS Word) yang telah terinfeksi maka sudah cukup untuk membuat semua dokumen menjadi terinfeksi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik, bagaimana cara membuat virus makro tersebut? Kalau Anda seorang programmer, dengan bantuan berbagai referensi tentunya mudah saja untuk belajar membuat virus makro. Masalahnya bagaimana kalau kita sama sekali tidak menguasai bahasa pemrograman?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tenang saja, di internet banyak sekali software yang dapat digunakan untuk membuat virus makro. Salah satunya adalah SkamWerks Lab. Dengan fasilitas Virii Wizard, kita dapat membuat virus mulai dari awal sampai selesai. Saat menggunakan Virii Wizard, kita dapat menuliskan pembuat virusnya, nama virus, dan makro-makro yang akan dimasukkan ke dalam virus. Nah, daripada penasaran, silakan Anda cepat-cepat mencobanya sendiri. Tentunya setelah Anda mendownload programnya di sini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika berminat, Anda bisa mendapatkan software-software lain yang dapat digunakan untuk membuat virus di sini. Koleksinya sangat lengkap!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selamat mencoba!&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4697400401283044343?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4697400401283044343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4697400401283044343' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4697400401283044343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4697400401283044343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/membuat-virus-macro-sendiri.html' title='Membuat virus macro sendiri'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4808141647411125658</id><published>2009-04-19T06:25:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T06:26:21.821-07:00</updated><title type='text'>Saya orang terkenal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Di Indonesia mungkin saya bukan siapa siapa, jarang orang mengenal saya tetapi coba anda lihat sebentar ke luar negeri. Saya adalah orang yang terkenal dan banyak dicintai. Mau lihat bukti ? klik &lt;a href="http://tinyurl.com/d48d8v"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anda juga mau terkenal? &lt;/span&gt;Mudah saja.... &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;gunakan tools gratis yang disediakan &lt;span style="color: rgb(255, 153, 204);"&gt;&lt;a href="http://tinyurl.com/"&gt;http://tinyurl.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Anda tinggal memasukan &lt;a href="http://www.worldsgreatestbusinessmind.com/20090109-ADE%20RUSLIANA-From%20Indonesia-create.html&amp;amp;WT.mc_id=WGBM%7CCreate"&gt;http://www.worldsgreatestbusinessmind.com/20090109-ADE RUSLIANA-From%20Indonesia-create.html&amp;amp;WT.mc_id=WGBM|Create&lt;/a&gt; ke dalam kotakEnter a long URL to make tiny: lalu klik Make TinyURL maka Anda akan mendapatkan URL baru yang lebih pendek seperti &lt;a href="http://tinyurl.com/d48d8v"&gt;http://tinyurl.com/d48d8v&lt;/a&gt; nah &lt;a href="http://tinyurl.com/d48d8v"&gt;http://tinyurl.com/d48d8v&lt;/a&gt; inilah yang Anda ublikasikanda, Tapi jangan lupa ya untuk mengganti nama ADE RUSLIANA terlebih dahulu menjadi nama Anda  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4808141647411125658?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4808141647411125658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4808141647411125658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4808141647411125658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4808141647411125658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/saya-orang-terkenal.html' title='Saya orang terkenal'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-6216502818698232939</id><published>2009-04-19T06:23:00.000-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.830-08:00</updated><title type='text'>Saya orang terkenal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Di Indonesia mungkin saya bukan siapa siapa, jarang orang mengenal saya tetapi coba anda lihat sebentar ke luar negeri. Saya adalah orang yang terkenal dan banyak dicintai. Mau lihat bukti ? klik &lt;a href="http://tinyurl.com/d48d8v"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anda juga mau terkenal? &lt;/span&gt;Mudah saja.... &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;gunakan tools gratis yang disediakan &lt;span style="color: rgb(255, 153, 204);"&gt;&lt;a href="http://tinyurl.com/"&gt;http://tinyurl.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Anda tinggal memasukan &lt;a href="http://www.worldsgreatestbusinessmind.com/20090109-ADE%20RUSLIANA-From%20Indonesia-create.html&amp;amp;WT.mc_id=WGBM%7CCreate"&gt;http://www.worldsgreatestbusinessmind.com/20090109-ADE RUSLIANA-From%20Indonesia-create.html&amp;amp;WT.mc_id=WGBM|Create&lt;/a&gt; ke dalam kotakEnter a long URL to make tiny: lalu klik Make TinyURL maka Anda akan mendapatkan URL baru yang lebih pendek seperti &lt;a href="http://tinyurl.com/d48d8v"&gt;http://tinyurl.com/d48d8v&lt;/a&gt; nah &lt;a href="http://tinyurl.com/d48d8v"&gt;http://tinyurl.com/d48d8v&lt;/a&gt; inilah yang Anda ublikasikanda, Tapi jangan lupa ya untuk mengganti nama ADE RUSLIANA terlebih dahulu menjadi nama Anda  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-6216502818698232939?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/6216502818698232939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=6216502818698232939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6216502818698232939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6216502818698232939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/saya-orang-terkenal_19.html' title='Saya orang terkenal'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-8243854220707929432</id><published>2009-04-16T18:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.852-08:00</updated><title type='text'>Membuat virus macro sendiri</title><content type='html'>Berdasarkan sifat dan penyerangannya, virus komputer dapat dibedakan menjadi beberapa macam, misalnya virus boot sector, virus file, polymorphic virus, stealth virus, dan virus makro. Virus makro ini dapat menyerang pada dokumen MS Word, Excel atau Power Point. Virus makro ini termasuk virus yang paling banyak dijumpai di sekitar kita. Tentunya kita masih ingat dengan adanya virus Mellisa atau virus I Love You yang juga dapat kita masukkan ke dalam kategori virus macro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa virus makro ini sering sekali kita jumpai? Jawabnya tentu saja karena populasi pengguna MS Office sangat banyak. Dengan pengguna yang cukup banyak tentunya virus makro dapat berkembang dengan cepat. Dengan melakukan pertukaran data *.doc (dokumen MS Word) yang telah terinfeksi maka sudah cukup untuk membuat semua dokumen menjadi terinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, bagaimana cara membuat virus makro tersebut? Kalau Anda seorang programmer, dengan bantuan berbagai referensi tentunya mudah saja untuk belajar membuat virus makro. Masalahnya bagaimana kalau kita sama sekali tidak menguasai bahasa pemrograman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenang saja, di internet banyak sekali software yang dapat digunakan untuk membuat virus makro. Salah satunya adalah SkamWerks Lab. Dengan fasilitas Virii Wizard, kita dapat membuat virus mulai dari awal sampai selesai. Saat menggunakan Virii Wizard, kita dapat menuliskan pembuat virusnya, nama virus, dan makro-makro yang akan dimasukkan ke dalam virus. Nah, daripada penasaran, silakan Anda cepat-cepat mencobanya sendiri. Tentunya setelah Anda mendownload programnya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berminat, Anda bisa mendapatkan software-software lain yang dapat digunakan untuk membuat virus di sini. Koleksinya sangat lengkap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-8243854220707929432?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/8243854220707929432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=8243854220707929432' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8243854220707929432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8243854220707929432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/membuat-virus-macro-sendiri_16.html' title='Membuat virus macro sendiri'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-6990697041444503520</id><published>2009-04-03T20:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.864-08:00</updated><title type='text'>Wawancara Presiden</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Puri Cikeas, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Selasa, 10 Februari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Wawancara Jurnas dengan Presiden SBY : Dengan Memohon Ridho Tuhan, Saya Siap Berkompetisi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan Memohon Ridho Tuhan, Saya Siap Berkompetisi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAWANCARA DENGAN&lt;br /&gt;SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;di Puri Cikeas, 10 Februari 2009&lt;br /&gt;dengan Pewawancara&lt;br /&gt;Ramadhan Pohan&lt;br /&gt;Jurnal Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikeas, Selasa malam, 10 Februari 2009. Presiden Susilo Bambang&lt;br /&gt;Yudhoyono baru saja melakukan jumpa pers di pendopo kediamannya&lt;br /&gt;yang asri. Mengenakan batik biru, SBY tampak segar dan mantap menjawab&lt;br /&gt;semua pertanyaan wawancara khusus di ruang perpustakaan pribadinya.&lt;br /&gt;Wawancara berlangsung sekitar tiga jam diselingi pula dengan&lt;br /&gt;makan malam bersama yang disiapkan Ibu Negara Ani Bambang&lt;br /&gt;Yudhoyono. Berikut petikan tanya jawab dengan Presiden ke-6 RI yang&lt;br /&gt;juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa kabar Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Baik. Alhamdulillah. Anda sendiri bagaimana? Sehat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya Pak, sehat, Alhamdulillah. Pak, terus terang yang paling senang kali ini Jurnas ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, … setelah sekian lama, hampir tiga tahun kami menunggu, akhirnya Pak SBY mau&lt;br /&gt;berbicara tentang politik. Dan juga mau menanggapi isu-isu yang sensitif. Mengapa selama&lt;br /&gt;ini diam saja?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini, Bung Ramadhan. Kalau sejak awal saya reaktif, dan terus meladeni kritik&lt;br /&gt;dan kecaman yang bertubi-tubi itu, saya malah tidak bisa bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;Saya lebih memilih bekerja, dari pada harus melayani dan selalu bereaksi terhadap&lt;br /&gt;berbagai komentar miring itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetapi banyak yang jengkel terhadap sikap Pak SBY seperti itu, terlebih pendukung-pendukung&lt;br /&gt;Pak SBY sendiri. Mereka khawatir kalau kritik dan kecaman itu dibiarkan saja, ...&lt;br /&gt;bisa-bisa dianggap sebagai kebenaran. Dan rakyat bisa percaya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Itu salah satu risiko yang saya ambil. Tetapi, jika ada yang keterlaluan dan&lt;br /&gt;kelewat batas &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; saya bantah juga …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Misalnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketika saya mendapat fitnah dari Pak Eggy Sudjana, dari Pak Zaenal Ma’arif dan&lt;br /&gt;dari Pak Amien Rais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa reaksi mereka?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya meminta maaf. Oleh karena itu, setelah saya maafkan, masalahnya&lt;br /&gt;saya anggap selesai. Setiap orang bisa saja khilaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak berarti sebagian dari mereka berhenti mengecam Pak SBY &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Tersenyum)&lt;/i&gt; Tuhan Maha Tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, kita kembali ke topik pembicaraan. Akhirnya, Pak SBY..., maaf Pak, ... mau&lt;br /&gt;buka mulut. Apa karena sudah dekat dengan Pemilu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; benarnya juga. Saya pikir &lt;i&gt;timing-&lt;/i&gt;nya tepat untuk saya berbicara. Saya ingin&lt;br /&gt;rakyat juga mendengar dan mengetahui pikiran dan pandangan saya. &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; tidak&lt;br /&gt;adil, selama empat tahun lebih saya digebuki oleh banyak pihak lantas saya membisu terus ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Digebuki, atau … dikeroyok Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Ketawa kecil)&lt;/i&gt; Ya … itulah kerasnya dunia politik. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang agresif, ada yang&lt;br /&gt;terukur. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang menghalalkan segala cara, ada yang lebih beretika. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang&lt;br /&gt;penuh amarah dan emosional, ada yang tenang dan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetapi, memang cukup banyak tokoh-tokoh politik atau pemimpin partai politik yang&lt;br /&gt;menyerang Pak SBY. Sepertinya Pak SBY dikeroyok benar. Apakah Bapak tidak takut&lt;br /&gt;dijadikan musuh bersama?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mengapa saya dibegitukan ya karena saya sedang menjabat, atau menjadi&lt;br /&gt;&lt;i&gt;incumbent&lt;/i&gt;. Kedua, barangkali saya dianggap sebagai capres 2009–2014 yang&lt;br /&gt;kuat, sehingga harus dilumpuhkan beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetapi sebagian dari mereka dulunya adalah teman-teman Pak SBY sendiri. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; apa&lt;br /&gt;sebenarnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Contohnya siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya …, mulai dari Pak Wiranto, Prabowo, Sutiyoso. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pula Gubernur DIY, Pak Sultan.&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; lagi Rizal Ramli. Saya kira masih banyak lagi.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari mereka semua itu, sebagian memang memiliki hak dan ambisi politik untuk&lt;br /&gt;menjadi Presiden. Harus kita hormati, dan sah-sah saja. Sebagian lagi kecewa dan&lt;br /&gt;tidak suka dengan saya karena saya tidak mau memenuhi, atau menuruti kemauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Misalnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada yang ingin menjadi menteri ini, menteri itu. Jabatan ini, jabatan itu. Atau&lt;br /&gt;ada yang saya berhentikan karena tidak baik kinerjanya. Atau dia punya jago lain,&lt;br /&gt;dan kalau yang jadi Presiden tetap saya, orang–orang seperti itu tidak akan dapat&lt;br /&gt;tempat, karena saya tahu perilaku dan reputasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapa misalnya. Dan mengapa tokoh-tokoh itu sangat sengit kepada Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah. Tak baik. Itu terlalu jauh …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi Pak SBY belum menjawab pertanyaan saya. Apa Bapak tidak takut dijadikan musuh&lt;br /&gt;bersama. Apa Pak SBY bisa bertahan dan bisa te-rus menjalankan roda pemerintahan&lt;br /&gt;menghadapi gempuran politik seperti itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini ya Bung. Kalau saya menjawab tidak takut, orang bilang saya ini sombong.&lt;br /&gt;Terlalu percaya diri. Oleh karena itu, jawaban saya adalah... &lt;i&gt;(Berhenti sejenak)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Saya harus menghadapi semua itu. Saya harus terus menjalankan tugas dan&lt;br /&gt;kewajiban saya seberat apa pun tantangan yang saya hadapi. Tak baik seorang pemimpin&lt;br /&gt;mudah menyerah, bernyali kecil, atau melarikan diri. Kita mohon kekuatan&lt;br /&gt;dari Allah. Tuhan Maha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, saya menanyakan sesuatu yang … setengah pribadi, setengah tidak. Yaitu,&lt;br /&gt;hubungan Pak SBY dengan Megawati, dan juga dengan mantan-mantan Presiden yang&lt;br /&gt;lain.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Nampak agak serius)&lt;/i&gt; Mengapa Anda menanyakan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya kira banyak yang ingin tahu. Banyak pula yang menyayangkan mengapa para&lt;br /&gt;pemimpin kita tidak bisa saling berkomunikasi. Wapres Jusuf Kalla juga pernah mempersoalkan&lt;br /&gt;mengapa mereka tidak saling omong?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab dulu hubungan atau komunikasi saya dengan para mantan Presiden,&lt;br /&gt;kecuali dengan Ibu Megawati. Setelah itu, baru bagaimana hubungan saya dengan&lt;br /&gt;Bu Mega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Termasuk Gus Dur ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, termasuk Gus Dur. Sesungguhnya saya menghormati para pendahulu saya,&lt;br /&gt;dan meletakkan beliau-beliau itu dalam posisi yang terhormat. Saya kira Anda tidak&lt;br /&gt;pernah mendengar saya berkata jelek tentang beliau-beliau itu di depan publik.&lt;br /&gt;Justru saya kerap memuji, berterima kasih dan menyampaikan penghargaan atas&lt;br /&gt;apa yang diperbuat oleh pendahulu saya kepada negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, saya belum pernah mendengar Pak SBY menjelek-jelekkan para mantan Presiden&lt;br /&gt;itu. Tetapi, hubungan Bapak yang bersifat pribadi seperti apa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama saya memimpin negara dan pemerintahan ini, sebenarnya saya berusaha&lt;br /&gt;memelihara komunikasi dan silaturrohim saya dengan para mantan Presiden.&lt;br /&gt;Sebelum wafat, beberapa kali saya bertemu dengan Pak Harto, terutama ketika beliau&lt;br /&gt;sedang sakit. Dengan Pak Habibie saya juga sering bertemu, baik di kediaman&lt;br /&gt;beliau maupun di Istana. Dengan Gus Dur beberapa kali saya bertemu, baik di&lt;br /&gt;kediaman Ciganjur, di Istana Negara, di Cikeas, dan di berbagai acara kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetapi Gus Dur masih sering bicara kritis di depan publik kepada Pak SBY.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Saya mendengar itu. Tapi saya tidak pernah membalas &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dengan Bu Mega bagaimana? Nampaknya masih beku...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun pertama saya berusaha untuk menjalin silaturrohim kembali dengan&lt;br /&gt;beliau. Saya sampaikan pesan itu melalui beberapa pihak, termasuk seorang&lt;br /&gt;menteri yang masih aktif. Tetapi Allah belum mengabulkan niat baik saya. Terus&lt;br /&gt;terang saya belum bisa berkomunikasi kembali secara langsung dengan beliau.&lt;br /&gt;Namun, beliau setiap tahun tetap saya undang untuk hadir dalam Upacara 17&lt;br /&gt;Agustusan. Jika ada masalah penting saya juga utus seorang menteri, sesuai dengan&lt;br /&gt;bidangnya, untuk menemui Bu Mega, baik langsung atau melalui utusan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi tertutup sudah ajang komunikasi Pak SBY dengan Bu Mega?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kerendahan hati saya tetap berharap, suatu saat, kami bisa berkomunikasi&lt;br /&gt;kembali. Agama melarang kita untuk memutus silaturrohim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau begitu ucapan Wapres tidak saling omong itu ada benarnya, tetapi juga tidak&lt;br /&gt;berarti Pak SBY tidak punya niat untuk itu &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; …?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Pernyataan Pak Jusuf Kalla bisa ditafsirkan secara keliru, seolah-olah orang&lt;br /&gt;seperti saya tidak punya etika untuk menjalin silaturrohim dengan pendahulu saya,&lt;br /&gt;khususnya Bu Mega. Sebaiknya berhati-hati mengeluarkan pernyataan menyangkut&lt;br /&gt;isu yang sensitif, apalagi jika tidak mengetahui benar duduk perkaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, apa pemilu itu menjadi segalanya. Seperti seram amat. Apalagi, saya lihat baik&lt;br /&gt;dalam pilpres maupun pilkada, nampaknya amat sulit untuk mengakui kekalahan. Amat&lt;br /&gt;sulit untuk mengucapkan selamat kepada kompetitornya yang menang. Coba Pak SBY&lt;br /&gt;lihat, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; indah itu Hillary Clinton mengaku kalah dan mengajak pendukungnya memenangkan&lt;br /&gt;Obama. Kemudian, McCain, setelah hasil Pilpres AS diketahui, langsung mengucapkan&lt;br /&gt;selamat kepada Obama. Kapan negeri kita seperti itu ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jangan kecil hati. Suatu saat demokrasi kita akan semakin baik. Kearifan dan jiwa&lt;br /&gt;besar itu milik semua bangsa, milik manusia dari negara mana pun. Kita sedang&lt;br /&gt;membangun nilai dan budaya ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ngomong-ngomong, ketika Pak SBY terpilih sebagai Presiden pada Pilpres 2004 yang&lt;br /&gt;lalu, ada tidak capres yang mengucapkan selamat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Tidak menjawab. Hanya tersenyum, sambil menggeleng)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY sendiri apa pernah kalah dalam pemilihan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pernah. Bahkan sering. Jangan dikira perjalanan hidup dan karir politik saya&lt;br /&gt;mulus-mulus saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa kekalahan yang paling berat, dan bagaimana cara mengatasinya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau jujur, setiap kekalahan itu membawa kepahitan tersendiri. Sewaktu&lt;br /&gt;saya kalah dalam pemilihan Wakil Presiden pada Sidang Umum MPR tahun 2001,&lt;br /&gt;malam itu saya merasa terpukul. Tetapi, setelah saya gunakan logika saya, dan&lt;br /&gt;akhirnya saya menyadari mengapa saya kalah, pagi harinya saya dengan didampingi&lt;br /&gt;isteri menyampaikan pernyataan dalam konferensi pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wah, cepat benar. Apa yang Pak SBY sampaikan dalam jumpa pers itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, pertama, saya menerima kekalahan saya. &lt;i&gt;Acceptance&lt;/i&gt; seperti ini &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; merupakan&lt;br /&gt;tata krama dalam demokrasi. Kedua, saya meminta maaf kepada para pendukung&lt;br /&gt;dan konstituen karena saya tidak berhasil memenuhi harapan mereka. Dan ketiga,&lt;br /&gt;saya ajak para pendukung saya itu untuk mendukung wapres terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seingat saya, ada yang bilang waktu itu Pak SBY dikerjain. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang berjanji menyampaikan&lt;br /&gt;dukungannya, tetapi dukungan itu ternyata tidak ada. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pula cawapres yang&lt;br /&gt;menjanjikan pada saatnya akan mundur, dan mengalihkan dukungannya kepada Pak&lt;br /&gt;SBY, itu pun tidak terwujud. Apa sesungguhnya yang terjadi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini, kalau itu pun ada, saya tidak boleh terbenam dalam hal-hal seperti itu. Saya&lt;br /&gt;juga tidak tertarik untuk menyalahkan orang lain dan mencari kambing hitam.&lt;br /&gt;Justru saya melakukan evaluasi mengapa saya kalah. Ternyata memang ada&lt;br /&gt;kesalahan saya yang mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa itu Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya maju sebagai cawapres, saya mengalkulasi kekuatan dukungan.&lt;br /&gt;Juga saya pelajari seberapa besar dukungan rakyat. Dari seluruh survei dan jajak&lt;br /&gt;pendapat, dukungan rakyat untuk saya tinggi sekali. Saya pikir, saya pasti menang.&lt;br /&gt;Inilah kesalahan saya… Yang memilih &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; hanya sekian ratus anggota MPR, dan&lt;br /&gt;bukan rakyat keseluruhan, sebagaimana yang tercermin dalam polling-polling itu.&lt;br /&gt;Berbeda &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, jelas berbeda. Tetapi tiga tahun kemudian Pak SBY terpilih menjadi Presiden ketika&lt;br /&gt;pilpres dilaksanakan secara langsung. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; korelasinya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di situ, berangkat dari pengalaman kegagalan saya dalam pemilihan wapres, saya&lt;br /&gt;melakukan kalkulasi apakah saya punya peluang untuk bisa terpilih dalam pilpres.&lt;br /&gt;Saya harus berpikir cepat, tetapi tetap cermat, karena waktunya amat singkat. Dari&lt;br /&gt;sejak Partai Demokrat dinyatakan memenuhi syarat untuk mengajukan calon presiden&lt;br /&gt;sampai dengan pendaftaran, hanya beberapa minggu. Dari medio April 2004&lt;br /&gt;sampai awal Juni 2004. Di situ pula akhirnya saya memutuskan untuk maju sebagai&lt;br /&gt;capres, karena saya mengetahui dukungan rakyat cukup kuat. Kalau dari segi parpol-&lt;br /&gt;parpol yang mendukung saya, kecil sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak seimbang ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sangat tidak seimbang. Bayangkan saya bersama Pak Jusuf Kalla harus menghadapi&lt;br /&gt;Partai Golkar, pemenang Pemilu Legislatif 2004, PDIP, PPP, PBR, PDS, dan&lt;br /&gt;lain-lain. Ingat, Pak JK tidak dicalonkan Golkar. Saya yang mengajak beliau, dan&lt;br /&gt;beliau dicalonkan sebagai cawapres oleh Partai Demokrat, PBB dan PKPI. Pada&lt;br /&gt;putaran kedua PKS bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menurut Pak SBY apakah Megawati salah hitung waktu itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak boleh mengatakan begitu. Yang jelas saya yang salah menghitung, atau&lt;br /&gt;&lt;i&gt;miscalculate&lt;/i&gt;, dalam pemilihan cawapres tahun 2001. Saya belajar dari kesalahan&lt;br /&gt;dan kekalahan itu. Alhamdulillah, kalkulasi politik saya dalam Pilpres 2004 tidak meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b&gt;Ada&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;b&gt; lagi kekalahan Pak SBY yang masih diingat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Berpikir sejenak)&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Tetapi sesungguhnya tidak mengganggu, karena memang&lt;br /&gt;saya bekerja bukan untuk itu. Ingat, tahun 2006 yang lalu saya adalah nominasi&lt;br /&gt;kuat untuk mendapatkan Nobel Perdamaian. Meskipun sekali lagi, penghargaan&lt;br /&gt;semacam itu tidak pernah terpikir oleh saya. Pihak lain yang mengusulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang terpilih kalau tidak salah Muhammad Yunus dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bangladesh&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; …?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Beliau yang terpilih. Seketika itu saya segera mengirimkan ucapan selamat,&lt;br /&gt;dan mengundang beliau untuk berkunjung ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan memberikan&lt;br /&gt;ceramah. Alhamdulillah beliau bersedia. Bahkan telah beberapa kali berkunjung ke&lt;br /&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Kini, tokoh kredit mikro itu menjadi sahabat saya. Kami saling berbagi&lt;br /&gt;pemikiran dan pengalaman tentang bagaimana upaya terbaik untuk mengurangi&lt;br /&gt;kemiskinan. Ingat, kemiskinan itu persoalan dunia, bukan hanya persoalan negeri&lt;br /&gt;kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi mengucapkan “selamat” kepada bekas lawan itu baik juga ya Pak? Tapi … &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; tidak&lt;br /&gt;semudah itu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Baik dan mulia. Anda juga benar itu tidak mudah. Tetapi, dalam gejolak hati&lt;br /&gt;yang penuh dengan emosi, kekecewaan dan mungkin amarah, kita mesti bisa mengontrol&lt;br /&gt;dan mengendalikannya. Amat berbahaya jika seorang pemimpin tidak&lt;br /&gt;dapat mengendalikan emosinya, dan akhirnya tidak dapat berpikir rasional.&lt;br /&gt;Bayangkan, jika seorang presiden yang sering harus mengambil keputusan yang&lt;br /&gt;strategis dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak tidak mampu berpikir tenang,&lt;br /&gt;jernih dan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbahaya bagi bangsanya barangkali ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Bung Ramadhan, coba pelajari sejarah peperangan di dunia ini, mulai dari&lt;br /&gt;abad klasik sampai abad modern. Banyak perang besar terjadi karena permusuhan&lt;br /&gt;antar pemimpin, antar elite, dan bukan antar rakyat atau bangsa. Perang pecah,&lt;br /&gt;negara menyerang negara lain, karena keputusan sang pemimpin yang amat emosional,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;grusa-grusu&lt;/i&gt;, dan penuh amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seram juga ya…&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Mengangguk-angguk)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, kembali ke Pemilu 2009, banyak pihak memprediksi bahwa akhirnya Pak SBY&lt;br /&gt;akan berhadapan kembali dengan Bu Mega. Head to head. Bapak setuju dengan prediksi&lt;br /&gt;itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin terjadi. Tetapi ingat, politik itu bukan matematika. Dalam dunia&lt;br /&gt;politik banyak kemungkinan yang bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY siap bertanding lagi dengan Megawati?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjuangan, sekali kita melangkah, tidak boleh ragu-ragu. Saya memang&lt;br /&gt;bukan tipe orang yang &lt;i&gt;ceplas-ceplos&lt;/i&gt;. Saya juga bukan pemimpin yang lantang&lt;br /&gt;bersuara hantam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, hantam sini. Tantang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, tantang sini. Untuk memberi&lt;br /&gt;kesan sebagai tokoh yang tegas, tidak lamban dan pemberani. Itu bukan kepribadian&lt;br /&gt;saya. Tetapi ingat, sekali saya mengambil pilihan dan keputusan … itu amat&lt;br /&gt;kokoh. Dengan memohon ridho Tuhan, saya siap berkompetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berkompetisi ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, kompetisi. Bukan perang. Apalagi Perang Bharata Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Pak SBY harus berkata begitu. Apa cara kita berkompetisi, terutama dalam&lt;br /&gt;pemilu selama ini seperti perang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya, kompetisi itu, seperti pertandingan olahraga, ada aturan dan&lt;br /&gt;etikanya. Pada saat kompetisi selesai, semuanya harus menjalani kehidupan seperti&lt;br /&gt;biasanya. Ini penting Bung. Apakah itu pemilu legislatif, pemilu presiden dan&lt;br /&gt;wakil presiden, maupun pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Juga berlaku&lt;br /&gt;untuk pemilihan ketua umum partai politik, dan pemilihan apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Arah pembicaraan Bapak kemana ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini. Jangan setelah pemilihan selesai, sebutlah … permusuhan masih berlanjut.&lt;br /&gt;Tidak perlu ada dendam dan amarah yang mesti disimpan dan dipelihara. Seolah-olah&lt;br /&gt;kompetisi harus berjalan sepanjang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tahun. Apalagi jika para elit dan&lt;br /&gt;tokoh politik mengajak pendukung dan konstituennya untuk memelihara permusuhan&lt;br /&gt;itu, dan terus meng- adakan perlawanan. Ini praktik berdemokrasi yang&lt;br /&gt;buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY masih melihat keadaan yang seperti ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terus terang ya. Saya masih merasakan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dua hal yang tidak baik dengan praktik&lt;br /&gt;demokrasi seperti ini. Pertama, rakyat bisa terkotak-kotak. Padahal persatuan&lt;br /&gt;dan kerukunan amat penting di negeri kita. Kedua, pemimpin yang terpilih, kemudian&lt;br /&gt;mesti memimpin dan melaksanakan tugas-tugasnya bisa terganggu, karena&lt;br /&gt;sebagian unsur masyarakat diprovokasi untuk tidak harus mendukung pemimpin&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghadapi suasana seperti itu bagaimana solusinya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, yang paling berperan adalah, sekali lagi, para elite dan tokoh politik yang ikut&lt;br /&gt;berkompetisi dalam pemilu, pilkada, ataupun pemilihan apapun. Semua harus bijak&lt;br /&gt;dan berjiwa besar. Barangkali Anda juga sering mendengar, di berbagai kesempatan&lt;br /&gt;saya selalu menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, terutama dalam&lt;br /&gt;kaitan pilkada, agar bagi gubernur, atau bupati, atau walikota yang terpilih wajib&lt;br /&gt;untuk memimpin dan mengayomi secara adil semua masyarakat, termasuk mereka&lt;br /&gt;yang dalam pilkada tidak memilihnya. Demikian juga masyarakat, wajib mendukung&lt;br /&gt;pemimpin yang terpilih sekalipun dulu tidak memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY sendiri tentunya &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; juga menjalankan apa yang Bapak serukan itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wajib. Harus. Dan sungguh saya jalankan. Bahkan nasihat saya, da- lam kapasitas&lt;br /&gt;saya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat adalah, di provinsi mana pun,&lt;br /&gt;di kabupaten atau kota mana pun, setiap kader PD wajib mendukung kepala daerahnya,&lt;br /&gt;dari partai politik mana pun kepala daerah itu berasal atau dicalonkan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;br /&gt;satu kasus Bung Ramadhan, di mana konon ada seorang bupati dari Partai&lt;br /&gt;Demokrat yang nampak kurang loyal kepada gubernurnya. Langsung saya beri-kan&lt;br /&gt;teguran agar menjalankan etika pemerintahan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Harus konsekuen ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Harus. Bung, saya ini manusia yang jauh dari sempurna. Banyak kekurangan dan&lt;br /&gt;kelemahan saya, tapi saya tidak menggadaikan integritas kepribadian saya. Saya&lt;br /&gt;ingin terus menerapkan satunya kata dalam perbuatan. Jika pemimpin bicaranya&lt;br /&gt;&lt;i&gt;mencla-mencle, esok dele sore &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/i&gt;, kacau negeri ini. Jika pemimpin tidak&lt;br /&gt;dapat menjadi contoh, dan juga tidak memberi contoh, seperti apa jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kembali kepada kemungkinan Pak SBY akan kembali&lt;/b&gt; &lt;i&gt;head to head&lt;/i&gt; dengan Bu Mega,&lt;br /&gt;bisa-bisa PD dan PDIP akan saling beroposisi secara permanen?&lt;br /&gt;Belum tentu. Saya punya teori dan pemikiran lain. Rakyat kebanyakan itu pada&lt;br /&gt;hakikatnya apolitis. Artinya tidak menjadi pendukung sengit dari sebuah partai&lt;br /&gt;politik. Barangkali kader-kadernya yang lebih militan. Mereka, masyarakat itu, saling&lt;br /&gt;bisa berkomunikasi. Saya tidak pernah memandang anggota PDIP, ataupun&lt;br /&gt;pendukung-pendukung Bu Mega, sebagai lawan politik permanen. Tidak juga kepada&lt;br /&gt;anggota Partai Golkar, PKS, PPP, PAN, PKB, PBB, PBR, PDS, PPDK, PP, PKPI&lt;br /&gt;dan partai-partai lain. Termasuk parpol-parpol baru seperti Hanura, Gerindra, PKNU,&lt;br /&gt;PDP, PMB dan lain-lainnya. Mereka semua sahabat, partner, sesama bangsa&lt;br /&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Apalagi sekarang saya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.&lt;br /&gt;Wajib hukumnya bagi saya untuk menyayangi, melindungi dan memajukan kehidupan&lt;br /&gt;mereka semua, melalui pembangunan nasional yang kita jalankan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dengan Bu Mega sendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sekarang saya belum bisa berkomunikasi secara baik dengan beliau,&lt;br /&gt;saya tidak pernah mengangap beliau adalah musuh abadi. Ini bukan &lt;i&gt;lip service,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;tetapi tulus dari hati saya. Tahun ini Bu Mega tentu akan menjadi rival atau kompetitor&lt;br /&gt;saya yang relatif tangguh. Dan hampir pasti kompetisi akan sangat keras.&lt;br /&gt;Tapi, sekali lagi, tidak sepatutnya kami berdua harus bermusuhan sepanjang masa.&lt;br /&gt;Tidak arif. Malu kita kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wah … politik itu menarik, dan juga keras ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Keras, dan terkadang kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sewaktu Pak SBY masih menjadi Perwira TNI apakah pernah membayangkan memasuki&lt;br /&gt;gelanggang politik yang keras ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahwa politik itu keras, ya. Tapi saya sendiri tidak pernah membayangkan&lt;br /&gt;bahwa secara pribadi akan masuk ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; politik yang seperti ini.&lt;br /&gt;Terus terang, cita-cita saya dulu ingin menjadi KSAD. Silakan tanya Pak Wiranto&lt;br /&gt;dan Pak Widodo. Beliau berdua tahu pergulatan batin saya ketika akhirnya saya&lt;br /&gt;harus meninggalkan TNI, dan kemudian menjadi seorang menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya belum dengar Pak. Bisa diceritakan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Belum dengar? Wah ini agak seru. Begini. Pada masa bakti terakhir Presiden&lt;br /&gt;Soeharto, saya diberitahu bahwa akan diangkat menjadi salah seorang menteri.&lt;br /&gt;Saya memohon kepada Panglima TNI waktu itu, untuk diberi kesempatan melanjutkan&lt;br /&gt;pengabdian di lingkungan TNI. Pak Wiranto waktu itu berhasil meyakinkan&lt;br /&gt;Pak Harto, dan saya tetap bertugas di TNI. Kemudian ketika Pak Habibie menyusun&lt;br /&gt;kabinetnya, kembali saya menjadi nominasi kuat untuk sebuah jabatan menteri.&lt;br /&gt;Saya berkeinginan yang sama, dan Pak Wiranto berhasil pula meyakinkan Pak&lt;br /&gt;Habibie. Di depan saya dan Letnan Jenderal TNI Agus Widjojo, Panglima TNI&lt;br /&gt;melalui sarana telepon berhasil mempertahankan saya di TNI, sesuai permohonan&lt;br /&gt;saya. Nah, ketika Gus Dur menjadi Presiden, saya ditetapkan oleh beliau untuk&lt;br /&gt;menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Di sini masalahnya menjadi lain.&lt;br /&gt;Sampai detik-detik terakhir, Panglima TNI, dan Wakil Panglima TNI, Pak Widodo&lt;br /&gt;tidak berhasil meyakinkan Gus Dur. Saya sekeluarga sedih sekali. Apalagi anak-anak&lt;br /&gt;saya. Agus Harimurti Yudhoyono, yang waktu itu masih menjadi taruna di&lt;br /&gt;Akademi Militer juga sangat sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kenangan yang sulit dilupakan ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Tapi cerita saya belum selesai. Sekitar dua hari sebelum secara resmi Gus&lt;br /&gt;Dur melantik kabinet yang beliau pimpin, saya masih ingin berjuang dan memohon&lt;br /&gt;kepada beliau agar saya bisa tetap berdinas di jajaran TNI. Tiba-tiba sore hari, ketika&lt;br /&gt;saya sedang berolahraga di Cilangkap bersama wakil-wakil saya, Pak Sudi&lt;br /&gt;Silalahi dan Pak Djoko Santoso, saya diperintahkan menghadap Presiden di Bina&lt;br /&gt;Graha. Nah, ini kesempatan baik, pikir saya, untuk menyampaikan secara langsung&lt;br /&gt;permohonan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi Pak SBY tidak berhasil meyakinkan Gus Dur &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bukan begitu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; cerita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa itu Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan dari Cilangkap ke Bina Graha, tiba-tiba saya mendapat telepon&lt;br /&gt;dari ayah saya. Ayah saya, almarhum, adalah seorang pejuang dan pensiunan letnan,&lt;br /&gt;secara ekonomi kehidupan beliau pas-pasan, dan sampai akhir hayatnya aktif&lt;br /&gt;di kegiatan sosial dan keagamaan. Saya amat hormat kepada beliau, karena&lt;br /&gt;pendiriannya yang keras pada prinsip, lurus, disiplin, dan seorang pekerja yang&lt;br /&gt;gigih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa pesan beliau?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Singkat sekali. Nampaknya beliau mendengar jika saya tidak &lt;i&gt;happy&lt;/i&gt; untuk diangkat&lt;br /&gt;menjadi menteri. Beliau bertanya: “Sus, apa yang kamu cari. Pengabdian itu, di&lt;br /&gt;mana pun, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; sama saja.” Kalimat ayah itu seperti cahaya yang menyinari hati&lt;br /&gt;dan pikiran saya yang terus terang waktu itu berada dalam keadaan kusut. Oleh&lt;br /&gt;karena itu, ketika saya bertanya kepada Gus Dur, apakah penunjukan saya sebagai&lt;br /&gt;menteri itu perintah atau penawaran, dan ketika beliau menjawab sebagai perintah,&lt;br /&gt;saya langsung mengatakan “siap” kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejak itu Pak SBY telah benar-benar memasuki dunia politik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Awalnya saya merasa asing dan kurang siap. Banyak konflik dan pertanyaan&lt;br /&gt;dalam diri saya. Tetapi saya tidak ingin kalah dua kali. Saya harus menjadi&lt;br /&gt;menteri yang berhasil, dan berhasil pula di dunia politik. Saya harus belajar dan&lt;br /&gt;mengembangkan diri. Bung Ramadhan, kita &lt;i&gt;break&lt;/i&gt; dulu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baik Pak.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“SBY sosok multitalenta. Selain kolumnis andal, ayah dua anak Agus Harimurti&lt;br /&gt;Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono ini juga piawai menulis puisi, syair,&lt;br /&gt;lagu, dan melukis. Ia sosok pemimpin yang mampu menyeimbangkan sisi ‘otak&lt;br /&gt;kanan’ dan ‘otak kiri’ secara baik. SBY tegas namun tetap dengan karakter kesantunannya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Isu lain yang ingin saya tanyakan adalah berkaitan dengan koalisi politik yang terbangun&lt;br /&gt;saat ini. Apakah Pak SBY merasa puas, atau sreg dengan bentuk koalisi sekarang ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Maksud Anda koalisi partai-partai politik yang ada di pemerintahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Benar.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Senyum.)&lt;/i&gt; Menurut Anda sendiri bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepertinya tidak efektif, dan ... kurang konsekuen.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari satu sisi, ya, benar kurang konsekuen. Saya juga mendengar banyak istilah&lt;br /&gt;berkaitan dengan koalisi politik yang ada sekarang ini. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang menyebut&lt;br /&gt;”Koalisi Setengah Hati”, ada pula yang mengatakan ”Koalisi Tanpa Etika”. Apa pun&lt;br /&gt;namanya, saya, sebagai Kepala Pemerintahan merasakan koalisi seperti ini&lt;br /&gt;memang agak merepotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Pak? Apa yang secara fundamental tidak benar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Etika berkoalisi yang saya pahami adalah partai-partai politik yang memiliki representasi&lt;br /&gt;menteri di kabinet mestinya tidak berseberangan dan menggagalkan kebijakan&lt;br /&gt;Pemerintah, termasuk pikiran-pikiran dasar dalam RUU yang diajukan&lt;br /&gt;Pemerintah. Demikian pula berkaitan dengan penggunaan hak interpelasi dan hak&lt;br /&gt;angket, tidak begitu mudahnya inisiatif penggunaan hak-hak itu diajukan oleh fraksi-&lt;br /&gt;fraksi di DPR dari partai-partai koalisi. DPP Partai-Partai Politik Koalisi juga tidak&lt;br /&gt;sepatutnya menghajar habis Pemerintah, apalagi pada masalah-masalah yang fundamental&lt;br /&gt;di depan publik. Hal demikian akan membingungkan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi mereka harus senantiasa mendukung dan setuju dengan kebijakan Pemerintah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak harus. Tidak semua. Fungsi &lt;i&gt;check and balance&lt;/i&gt; dan fungsi pengawasan DPR&lt;br /&gt;mesti tetap hidup. Semua fraksi DPR, semua anggota DPR, punya hak dan wajib&lt;br /&gt;menggunakan haknya untuk mengkritisi Pemerintah. Bisa saja mereka tidak setuju&lt;br /&gt;dan menolak kebijakan Pemerintah. Namun, pada saat yang menentukan, setelah&lt;br /&gt;terjadi negosiasi dan mencapai kompromi-kompromi tertentu, mestinya seluruh&lt;br /&gt;jajaran koalisi berada pada satu posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya pernah mendengar, fraksi atau partai-partai koalisi itu merasa tidak diajak bicara.&lt;br /&gt;Apa komentar Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Amat sering konsultasi dilakukan dengan fraksi-fraksi koalisi. Pada saat yang sangat&lt;br /&gt;menentukan dan menyangkut materi yang benar-benar fundamental tidak&lt;br /&gt;jarang Wapres, bahkan saya sendiri memimpin konsultasi itu. Komunikasi saya&lt;br /&gt;dengan para pimpinan partai yang berkoalisi secara berkala saya lakukan. Ini juga&lt;br /&gt;bagian dari konsultasi. Menteri-menteri juga sering melakukan konsultasi dengan&lt;br /&gt;fraksi-fraksi koalisi. Bisa saja mereka ingin lebih sering lagi untuk bertemu dan&lt;br /&gt;berkonsultasi. Tapi ingat, kita tidak menganut sistem kabinet parlementer, tapi kabinet&lt;br /&gt;presidensiil. Saya banyak menerima sms dari masyarakat yang menganggap&lt;br /&gt;koalisi yang ada ini tidak jalan, bahkan main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana pendapat Pak SBY terhadap ide “Koalisi Permanen”, atau “Koalisi Terbatas”?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya koalisi ya harus permanen, paling tidak selama lima tahun, sampai&lt;br /&gt;ke pemilu berikutnya. Mengenai istilah ”terbatas”, saya pahami agar tidak perlu terlalu&lt;br /&gt;banyak partai-partai yang berkoalisi, dua-tiga partai saja. Jumlah menteri yang&lt;br /&gt;ada di kabinet menjadi lebih banyak, sehingga koalisi benar-benar solid. Ya ...&lt;br /&gt;teorinya begitu. Tetapi, itu belum memberikan jaminan, sepanjang koalisi tidak&lt;br /&gt;diikat dalam aturan main atau &lt;i&gt;rules&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;rules of the game&lt;/i&gt;, dan juga etika. Dalam&lt;br /&gt;Kabinet Indonesia Bersatu sekarang, beberapa partai politik memiliki representasi&lt;br /&gt;lebih dari tiga menteri, tapi tidak ada jaminan partainya tidak menyerang dan tidak&lt;br /&gt;berseberangan dengan Pemerintah. Benar kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, Pak. Rakyat juga melihat. Tapi apa koalisi seperti ini tetap diperlukan ke depan nanti?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tetap. Tetap diperlukan. Dalam sistem demokrasi multi partai sekarang ini, apalagi&lt;br /&gt;tidak ada partai politik yang sangat dominan, demi stabilitas politik koalisi tetap&lt;br /&gt;diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan tidak harus ”Koalisi Terbatas” ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak harus terbatas, tapi koalisi mesti permanen. Yang penting, ke depan, koalisi&lt;br /&gt;harus didasari oleh aturan dan etika yang mengikat. Aturan dan etika itu mesti&lt;br /&gt;diketahui oleh publik, karena rakyatlah pemilik dan pelaku demokrasi yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Rakyat pula yang memberi mandat kepada parlemen dan presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam periode pemerintah yang Bapak pimpin ini koalisi berarti kurang manfaatnya ...?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Manfaatnya besar. Stabilitas politik dan hubungan DPR–Pemerintah yang&lt;br /&gt;relatif baik dewasa ini juga buah dari adanya koalisi. Saya harus berterima kasih&lt;br /&gt;kepada semua partai pendukung pemerintah, termasuk fraksi-fraksinya yang ada di&lt;br /&gt;DPR. Secara perseorangan, banyak tokoh partai dan fraksi pendukung itu yang&lt;br /&gt;jasanya amat besar dalam menunjang stabilitas politik, termasuk capaian-capaian&lt;br /&gt;Pemerintah selama ini. Tentu saja, apabila koalisi ini lebih efektif dan juga &lt;i&gt;rules&lt;br /&gt;based&lt;/i&gt;, akan lebih baik lagi kinerja bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau oposisi lain lagi ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini juga persoalan di negeri kita. Banyak pihak yang mem-permasalahkan, seperti&lt;br /&gt;yang diungkapkan oleh para pejuang dan veteran kita baru-baru ini, ”Indonesia ini&lt;br /&gt;menganut sistem apa?” Sistem presidensiil atau sistem parlementer. Lazimnya, &lt;i&gt;ruling&lt;br /&gt;party&lt;/i&gt; dan opposition party ini berlaku pada sistem kabinet parlementer.&lt;br /&gt;Demikian juga, keberadaan hak interpelasi dan angket. Tapi, baiklah. Tidak tepat&lt;br /&gt;kalau kita lari dari realitas. &lt;i&gt;Don’t fight the problem.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi namanya oposisi bisa berbuat apa saja kan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya oposisi mesti mengkritisi dan menentang kebijakan pemerintah&lt;br /&gt;yang dipikirnya tidak tepat. Memang begitu. Tapi ingat, oposisi juga berkewajiban&lt;br /&gt;mencerdaskan kehidupan bangsa. Ikut pula melakukan pendidikan politik dalam&lt;br /&gt;arti yang luas. Argumentasi yang diangkat oposisi untuk menentang kebijakan&lt;br /&gt;Pemerintah juga harus kuat dan logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bisa lebih dielaborasi Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini. Kalau ada kebijakan Pemerintah yang dianggap tidak baik, atau banyak&lt;br /&gt;kelemahannya, oposisi bisa dengan keras meng-hantam Pemerintah. Barangkali&lt;br /&gt;rakyat juga banyak yang setuju dengan sikap oposisi itu. Namun, apabila ada kebijakan&lt;br /&gt;dan tindakan Pemerintah yang tepat, dan rakyat sangat diuntungkan dengan&lt;br /&gt;kebijakan itu, oposisi yang cerdas tentu memberikan dukungannya, paling tidak&lt;br /&gt;diam. Dengan demikian rakyat akan memberikan kredit pula kepada oposisi, karena&lt;br /&gt;rakyat pikir oposisi sungguh tahu aspirasi mereka. Sebaliknya, rakyat akan bingung&lt;br /&gt;dan juga bertanya-tanya, jika setiap kebijakan dan tindakan pemerintah yang&lt;br /&gt;mayoritas publik memberikan dukungan lantas di-tentang habis oleh oposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada etikanya juga rupanya ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jelas. Dalam kunjungan saya ke berbagai negara, saya sering bertemu secara&lt;br /&gt;resmi dengan pimpinan oposisi. Dalam percakapan saya dengan &lt;i&gt;leader of the&lt;br /&gt;opposition&lt;/i&gt; itu sering saya dengar: ”Kalau kebijakan pemerintah yang berkaitan&lt;br /&gt;dengan isu ’A’ saya setuju dan dukung. Tetapi saya menentang cara-cara pemerintah&lt;br /&gt;dalam menyelesaikan masalah ’B’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengalaman Pak SBY sendiri dalam pertemuan konsultasi dengan Pimpinan DPR yang&lt;br /&gt;juga dihadiri oleh Fraksi PDIP apa tidak ada interaksi antara Bapak dengan fraksi oposisi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada. Selalu ada. Sesungguhnya secara individual komunikasi saya oke-oke saja.&lt;br /&gt;Beberapa pandangannya saya nilai logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetapi sekarang posisi PDIP amat keras kepada Pemerintah. Pernyataan beberapa&lt;br /&gt;tokoh PDIP juga sangat menyerang baik pemerintah maupun Pak SBY pribadi. Apa&lt;br /&gt;tanggapan Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Kembali tersenyum.)&lt;/i&gt; Kan sebentar lagi Pemilu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, atau Pemerintah, atau juga Partai Demokrat tidak terganggu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terganggu, tidak terganggu, itu relatif. Ya kalau keterlaluan juga ditanggapi. Nah,&lt;br /&gt;opini kontra opini, oposisi menyerang, pemerintah bertahan dan menyerang balik&lt;br /&gt;itu, adalah hukum demokrasi. Jangan dikatakan SBY sensitif dan tidak mau dikritik?&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mosok digebuki&lt;/i&gt; kiri kanan, muka belakang, disuruh hanya senyum saja ...&lt;br /&gt;Seorang demokrat sejati, berani mengkritik juga berani menerima kritik. Namun,&lt;br /&gt;jangan salah selama hampir lima tahun ini saya selalu mendengar dan menghargai&lt;br /&gt;kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY saya ingin beralih topik, yaitu seputar dinamika politik dan manuver para capres&lt;br /&gt;sekarang ini.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya lihat makin hangat, bahkan makin seru, manuver para capres. Ada Prabowo,&lt;br /&gt;Sultan, Wiranto, Sutiyoso, dan tentunya Megawati sendiri. Juga tokoh-tokoh lain seperti&lt;br /&gt;Pak Jusuf Kalla, Surya Paloh, Agung Laksono, Akbar Tanjung, Hidayat Nur Wahid, dan&lt;br /&gt;banyak lagi. Nampaknya mereka sudah menggunakan “rompi perang”. Pak SBY kok&lt;br /&gt;masih tenang-tenang saja. Tidak takut terlambat Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya kan sudah bilang. Sekarang ini Partai Demokrat mesti fokus pada pemenangan&lt;br /&gt;pemilu legislatif. Urusan capres, urusan cawapres, nanti setelah pemilu legislatif&lt;br /&gt;selesai. Setelah April-lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, tapi rakyat menunggu-nunggu siapa tokoh yang Pak SBY pilih untuk menjadi Wakil&lt;br /&gt;Presiden. Masih Pak JK, atau punya calon lain?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Itu pun sudah saya sampaikan bulan September tahun lalu. Saya tetap konsisten&lt;br /&gt;dan konsekuen terhadap apa yang saya ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada spekulasi. Ya, paling tidak obrolan di warung kopi, katanya Partai Demokrat sedang&lt;br /&gt;mengembangkan dua opsi. Pertama, tetap SBY-JK. Kedua, SBY-tokoh lain. Pak SBY&lt;br /&gt;tidak perlu menyanggah atau membenarkan apa yang sedang dilakukan PD. Mungkin&lt;br /&gt;Pak, biar rakyat tidak penasaran seba-iknya PD mulai membuka sedikit &lt;i&gt;exercise&lt;/i&gt;-nya,&lt;br /&gt;siapa calon-calon unggulan wapres. Pak JK jelas. Siapa lagi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak akan terjadi. Saya sudah meminta PD jangan obral &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; dan wacana.&lt;br /&gt;Jangan memberikan banyak “angin surga”. Kasihan itu para elit kalau keburu&lt;br /&gt;punya harapan yang berlebihan. Banyak tokoh yang baik di negeri ini, tapi janganlah&lt;br /&gt;dikasih janji-janji. Beliau-beliau akan merasa terhina dan dipermainkan kalau&lt;br /&gt;PD, ataupun saya, begitu mudahnya menyebut nama-nama untuk cawapres. Setiap&lt;br /&gt;orang punya kehormatan dan harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak saya makin tahu mengapa tadi, sebelum wawancara ini Pak SBY menggelar konferensi&lt;br /&gt;pers untuk mengoreksi dan menjernihkan suasana menyangkut wawancara Pak&lt;br /&gt;Mubarok, Wakil Ketua Umum PD, yang berkaitan dengan cawapres, yang dianggap&lt;br /&gt;menyinggung perasaan Golkar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar Bung. Saya tidak suka dan harus mengoreksi pernyataan kader-kader&lt;br /&gt;utama PD yang tidak tepat. Bukan seperti itu nilai dan karakter Partai Demokrat&lt;br /&gt;yang sedang kami bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa pertimbangan Pak SBY mesti turun langsung dalam hal ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama, yang bicara kader utama. Kalau ada yang tidak tepat dengan Ketua&lt;br /&gt;Umum atau Wakilnya, kewajiban saya sebagai Ketua Dewan Pembina untuk mengoreksi&lt;br /&gt;dan meluruskannya. Kedua, karena Pak Jusuf Kalla sudah bereaksi, saya&lt;br /&gt;mesti segera turun untuk memelihara hubungan baik saya dengan Pak JK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nampaknya Golkar tersinggung betul. Kader-kadernya pun segera bereaksi. Pak Priyo&lt;br /&gt;Budi Santoso kelihatan bersuara keras dan lantang. Komentar Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya memahami. Itulah perlunya saya segera menjernihkan suasana. Kami menghormati&lt;br /&gt;Golkar sebagai saudara dan mitra dekat. Tidak ada niatan untuk melecehkan.&lt;br /&gt;Pak Mubarok orangnya &lt;i&gt;ceplas-ceplos&lt;/i&gt;, polos, lurus, dan apa adanya.&lt;br /&gt;Pribadinya baik, dan tidak pernah berniat buruk. Cuma tidak peka terhadap situasi.&lt;br /&gt;Dan pernyataan kemarin memang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa selama ini ada pernyataan dan tindakan Golkar yang juga langsung atau tidak langsung&lt;br /&gt;melukai PD?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terus terang memang ada beberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Contohnya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kader Demokrat sering menyampaikan ke saya hal-hal yang dirasa ganjil yang&lt;br /&gt;menyangkut hubungan PD–PG. Misalnya, Golkar beberapa kali menyelenggarakan&lt;br /&gt;kegiatan Apel Bersama dengan PDIP. Ada lagi, dinamika dalam pembahasan RUU&lt;br /&gt;Pemilu, RUU Pilpres, Pemilihan Gubernur BI dan lain-lain. Tetapi saya katakan itu&lt;br /&gt;biasa dalam politik. Dukungan Golkar terhadap pemerintahan yang saya pimpin&lt;br /&gt;juga nyata. Golkar tetap partner kita, dan kita mesti memelihara keutuhan koalisi&lt;br /&gt;yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nah, kembali ke banyaknya tokoh yang disebut-sebut sebagai cawapres, jadi yang&lt;br /&gt;dilakukan oleh PDIP dan Gerindra tidak tepat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bukan begitu. Masing-masing punya pandangan, barangkali juga siasat. Yang jelas&lt;br /&gt;itulah pendirian saya. Itulah prinsip dan etika politik yang saya anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi kalau kriteria kan bisa di- sampaikan sekarang ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bisa sih ... bisa. Tapi belum perlu. Begini saja, seorang cawapres ya harus memiliki&lt;br /&gt;integritas dan kapasitas sebagai wakil presiden. UUD 1945 mengatakan bahwa&lt;br /&gt;presiden memegang kekuasan pemerintahan menurut UUD, dan dalam melakukan&lt;br /&gt;kewajibannya presiden dibantu oleh satu orang wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Presiden dan wakil presiden juga harus kompak kan Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa maksudnya kompak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, &lt;i&gt;chemistry&lt;/i&gt;-nya harus baik. Karena sering terjadi antara pimpinan dan wakilnya itu ada&lt;br /&gt;benturan. Ada konflik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sangat bisa dalam proses pengambilan keputusan ada perbedaan pendapat. Itu&lt;br /&gt;wajar, dan bisa saja terjadi. Tetapi setelah pengambil keputusan menetapkan keputusannya,&lt;br /&gt;semuanya harus loyal. Termasuk seorang wakil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan itu selama ini&lt;br /&gt;bagaimana hubungan Pak SBY dengan Pak JK?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Baik. Relatif baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbicara kembali soal munculnya banyak capres, dalam kampanyenya, mereka&lt;br /&gt;menawarkan janji yang menarik. Apa komentar Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, ada yang apabila menjadi presiden pada prinsipnya kemiskinan akan hilang, atau&lt;br /&gt;dapat diatasi. Ada yang berjanji kehidupan petani akan baik dan makmur. Ada yang berjanji&lt;br /&gt;akan meningkatkan kesejahteraan rakyat, karena selama ini rakyat belum sejahtera.&lt;br /&gt;Ada pula yang berjanji bakal menurunkan harga-harga sembako dalam waktu 100 hari.&lt;br /&gt;Kurang lebih begitulah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menghormati kampanye para capres itu. Berjanji itu tidak dilarang.&lt;br /&gt;Tentu rakyat kita ini cerdas, dan sesungguhnya mereka bicara dari hatinya. Mereka&lt;br /&gt;sudah mulai menanyakan bagaimana cara untuk mewujudkan janji-janji itu. Yang&lt;br /&gt;menarik apa yang disampaikan oleh Pak Mahfud, Ketua Mahkamah Konstitusi,&lt;br /&gt;beberapa saat yang lalu bahwa visi dan misi para capres bisa sama saja. Tetapi,&lt;br /&gt;kata Pak Mahfud, lihat rekam jejaknya, atau &lt;i&gt;track record&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi Pak SBY sendiri akan hemat terhadap janji? Kan Bapak sudah punya pengalaman&lt;br /&gt;selama lima tahun ini. Dan saya dengar Pak SBY adalah tipe pemimpin yang aktif dalam&lt;br /&gt;pengambilan keputusan dan pengembangan kebijakan. Pak SBY juga turun langsung ke&lt;br /&gt;daerah-daerah untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan. Bapak juga melakukan&lt;br /&gt;dialog dengan rakyat, termasuk berkomunikasi melalui sms dan surat. Apa tidak bisa&lt;br /&gt;menyampaikan visi dan misinya secara konkret?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya harus cermat. Ada tiga alasan saya untuk berhemat dan cermat dalam&lt;br /&gt;menyampaikan visi dan misi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, setelah Pemilu 2004 dulu apa yang tidak pernah saya katakan, dianggap&lt;br /&gt;sebagai janji. Sampai agak jengkel saya. Pernah saya kejar, tolong jelaskan kepada&lt;br /&gt;saya kapan dan di mana saya mengatakan itu? Kapan saya berjanji seperti itu?&lt;br /&gt;Sampai sekarang tidak kunjung datang yang namanya bukti itu. Bung, saya ini&lt;br /&gt;amat cermat dan berhati-hati untuk berbicara. Saya senantiasa mengukur dan mengontrol&lt;br /&gt;kata-kata saya, sampai ada yang menganggap saya tidak tegas, ragu-ragu,&lt;br /&gt;dan sebagainya. Hal ini juga pernah, saya kejar, di mana dan isu apa yang saya&lt;br /&gt;ragu-ragu atau tidak berani saya memutuskannya. Cek kepada Seskab atau para&lt;br /&gt;ADC saya yang hampir lima tahun mendampingi saya, terutama dalam keadaan&lt;br /&gt;”kritis”. Masalah apa yang tidak saya putuskan, yang tidak saya carikan solusinya,&lt;br /&gt;dan yang tidak saya lakukan tindakannya. Jadi kembali ke pengalaman Pemilu&lt;br /&gt;2004, dengan mengambil pelajaran yang berharga, memang saya harus lebih&lt;br /&gt;berhemat dalam menyampaikan sesuatu di musim kampanye seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dulu, tahun 2004, seperti apa materi kampanye Pak SBY, dan kenapa akhirnya semua&lt;br /&gt;dianggap janji Bapak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak contohnya. Katanya, jika saya terpilih, saya tidak akan menaikkan harga&lt;br /&gt;BBM. Tidak pernah itu. Terus terang, mestinya kenaikan harga BBM sudah harus&lt;br /&gt;dilakukan pada medio 2004. Tapi maklum, karena barangkali untuk kepentingan&lt;br /&gt;pemilu, kebijakan itu tidak diambil. Sehingga ketika saya ditanya apakah demi&lt;br /&gt;penyelamatan ekonomi Indonesia kelak jika terpilih saya akan menaikkan harga&lt;br /&gt;BBM, jawaban saya adalah ”lihat perkembangan keadaan nanti”. Jika yang terbaik&lt;br /&gt;adalah tanpa harus menaikkan harga BBM itu, ya solusi itu yang saya pilih. Namun,&lt;br /&gt;jika harus menaikkan harga BBM, opsi itu ya harus saya ambil. Dengan catatan,&lt;br /&gt;saya akan memikirkan bagaimana melindungi kelompok miskin akibat kenaikan itu.&lt;br /&gt;Nah, ketika saya terpaksa harus menaikkan harga BBM di tahun 2005 dan tahun&lt;br /&gt;2008, BLT dan kompensasi yang lain saya berikan. Ini konsep dan kebijakan yang&lt;br /&gt;rasional, bukan politis. BLT ini juga telah berlaku sejak tahun 2005, bukan hanya&lt;br /&gt;menjelang Pemilu 2009 saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya interupsi sebentar Pak soal BLT ini ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BLT ini memang ada pro dan kontranya. Ada yang mengatakan ini kebijakan yang salah,&lt;br /&gt;dan lebih baik diganti dengan padat karya. Meskipun banyak pula yang mendukung,&lt;br /&gt;terutama masyarakat tidak mampu sendiri. Bu Mega, akhir-akhir ini mengkritik pedas&lt;br /&gt;kebijakan itu sebagai “mendidik kita untuk menjadi bangsa pengemis”. Apa tanggapan&lt;br /&gt;Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satupun kebijakan yang mendapatkan dukungan 100%. Selalu ada pro-kontranya.&lt;br /&gt;Ini terjadi di negara mana pun. Toh saya harus memilih di antara opsi&lt;br /&gt;yang tersedia, yang telah kita pikirkan masak-masak, untuk menjadi kebijakan.&lt;br /&gt;Alasannya jelas. BLT, atau &lt;i&gt;cash transfer&lt;/i&gt; hanya diberikan kepada golongan&lt;br /&gt;masyarakat yang sungguh mengalami beban hidup yang berat akibat kenaikan&lt;br /&gt;BBM ini. Inipun sementara sifatnya. Dewasa ini, ada bermacam-macam bentuk bantuan&lt;br /&gt;yang pemerintah berikan untuk meringankan beban keluarga miskin dan&lt;br /&gt;setengah miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang “mendidik sebagai bangsa pengemis”?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Istilah itu menyakitkan. Saudara-saudara kita yang miskin itu tidak ada yang mau&lt;br /&gt;menjadi pengemis. Karena terpaksa, dan memang sungguh memerlukan, mereka&lt;br /&gt;menerima BLT itu. UUD 1945 mengamanatkan kepada negara untuk membantu&lt;br /&gt;fakir miskin. Agama juga mewajibkan pemeluknya untuk membantu sesama yang&lt;br /&gt;sedang mengalami kesulitan. BLT ini juga diberikan di negara-negara maju,&lt;br /&gt;meskipun dengan istilah yang berbeda-beda, seperti di Jepang, Amerika Serikat,&lt;br /&gt;Meksiko, Iran dan negara-negara lain. Apa pemerintah di negara-negara itu mendidik&lt;br /&gt;bangsanya untuk menjadi bangsa pengemis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kembali ke topik semula ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, kembali sebelum Anda menginterupsi saya tadi. Sampai di mana tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Contoh-contoh yang Pak SBY tidak mengatakan tapi dianggap sebagai janji.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya. Ada yang mengatakan saya ingkar janji karena setelah menjadi Presiden&lt;br /&gt;kemiskinan masih ada, dan rakyat belum sejahtera. Malah, ada yang akan menempuh&lt;br /&gt;jalur hukum karena saya dianggap tidak memenuhi janji Pemilu, karena tidak&lt;br /&gt;dapat menyejahterakan rakyat. Bung, simak dan dengarkan kembali kata-kata saya&lt;br /&gt;dalam kampanye Pilpres 2004. Teks pidato saya masih ada, saya kira rekamannya&lt;br /&gt;juga masih ada. Tidak pernah saya mengatakan jika saya jadi Presiden kemiskinan&lt;br /&gt;dan pengangguran akan sirna, dan rakyat akan sejahtera semuanya. Yang saya&lt;br /&gt;katakan, ”Jika Insya Allah saya terpilih menjadi Presiden, amanah saya, tugas&lt;br /&gt;saya, adalah berjuang sekuat tenaga untuk mengurangi kemiskinan, mengurangi&lt;br /&gt;pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat”. Itu yang saya ucapkan.&lt;br /&gt;Silahkan dinilai, apakah tujuan itu dapat Pemerintah capai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, di depan Sidang Paripurna DPR dan DPD saya sampaikan berbagai&lt;br /&gt;capaian Pemerintah hingga Agustus 2008, yang menggambarkan kondisi terbaik&lt;br /&gt;dalam 10 tahun terakhir di bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Silakan disimak&lt;br /&gt;kembali kedua pidato saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alasan yang lain?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, tadi saya sudah mengatakan alasan pertama untuk tidak obral janji dalam&lt;br /&gt;Pemilu 2009 ini. Alasan kedua, semua capres dan cawapres punya visi dan misi.&lt;br /&gt;Dalam visi dan misi itu tentu ada tujuan dan sasaran, baik yang dinyatakan secara&lt;br /&gt;kualitatif maupun secara kuantitatif. Nah, dalam realitasnya, di akhir masa bakti&lt;br /&gt;pemerintahan yang saya pimpin sekarang ini, akhir tahun 2009, tentu ada sasaran&lt;br /&gt;yang tercapai bahkan di atas target, dan tentu ada pula yang tidak sepenuhnya tercapai.&lt;br /&gt;Terhadap hal ini bisa dijelaskan mengapa demikian. Semuanya &lt;i&gt;explainable&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Keadaan seperti ini juga lazim terjadi di negara manapun. Selalu ada &lt;i&gt;gap&lt;/i&gt; antara&lt;br /&gt;&lt;i&gt;planning&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;implementation&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana penjelasannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama lima tahun jalannya kehidupan bangsa, dan juga jalannya pemerintahan,&lt;br /&gt;tentu ada sejumlah dinamika bahkan bisa muncul &lt;i&gt;shocks&lt;/i&gt; yang tidak pernah terpikirkan.&lt;br /&gt;Misalnya, kita tidak tahu tiba-tiba tahun 2004 ada bencana besar tsunami&lt;br /&gt;di Aceh dan Nias. Kemudian tahun 2006 ada gempa bumi besar di Yogyakarta dan&lt;br /&gt;Jawa Tengah. Akibatnya, banyak pergeseran sumber daya termasuk anggaran,&lt;br /&gt;untuk mengatasi bencana alam itu. Kemudian, sebagaimana yang diketahui oleh&lt;br /&gt;rakyat Indonesia, terjadi krisis harga minyak, krisis harga pangan, krisis keuangan&lt;br /&gt;dan resesi perekonomian yang kesemuanya bersifat global. Tentu saja kesemua&lt;br /&gt;krisis itu membawa dampak bagi perekonomian dan kondisi kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;Saya juga harus mengakui bahwa sejumlah sasaran tidak tercapai, karena memang&lt;br /&gt;di luar jangkauan jajaran pemerintahan di seluruh Indonesia untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya interupsi lagi, Pak. Kalau tidak salah Pak Wiranto dan sejumlah pihak mengatakan&lt;br /&gt;pemerintah bohong dan hanya menyalahkan krisis global, padahal tidak ada kaitannya.&lt;br /&gt;Apa tanggapan Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Kembali tersenyum.)&lt;/i&gt; Saya juga heran kalau &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; itu keluar dari beliau-beliau.&lt;br /&gt;Karena saya tahu tentu semuanya memahami keadaan dunia. Saya juga tidak yakin&lt;br /&gt;kalau beliau-beliau itu tidak membaca dan melihat televisi, baik media domestik&lt;br /&gt;maupun media internasional. Dalam survei LSI bulan Desember 2008, ketika rakyat&lt;br /&gt;ditanya apakah mereka tahu bahwa sedang ada krisis perekonomian global, 62%&lt;br /&gt;responden menjawab tahu. Dan ketika kemudian ditanya apakah mereka menilai&lt;br /&gt;langkah-langkah yang dilakukan pemerintah sudah tepat dalam mengatasi dampak&lt;br /&gt;perekonomian global itu, 85% responden menyatakan sudah benar. Lagipula, di&lt;br /&gt;berbagai kesempatan, termasuk di depan Munas Kadin, saya sampaikan permasalahan&lt;br /&gt;yang kita hadapi sekarang ini adalah persoalan yang muncul di dalam&lt;br /&gt;negeri sendiri, dan kemudian ditambah atau di-perberat dengan adanya krisis&lt;br /&gt;perekonomian global dewasa ini. Bung, saya lanjutkan dengan alasan ketiga ya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baik Pak. Apa alasan Pak SBY yang ketiga?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir lima tahun ini saya memimpin pemerintahan, amat banyak kebijakan,&lt;br /&gt;program dan aksi-aksi nyata yang Pemerintah lakukan. Amat banyak pula&lt;br /&gt;terobosan dan kebijakan baru yang saya jalankan, yang saya tahu pasti tidak&lt;br /&gt;dijalankan oleh pemerintahan sebelumnya. Saya yakin rakyat juga tahu sejumlah&lt;br /&gt;program dengan anggaran yang tidak sedikit untuk meningkatkan pendidikan termasuk&lt;br /&gt;kesejahteraan guru, meningkatkan ke-sehatan masyarakat, mengurangi&lt;br /&gt;kemiskinan, mengurangi pengang-guran, meningkatkan penghasilan pegawai&lt;br /&gt;negeri termasuk peng-hasilan buruh, meningkatkan penghasilan petani dan&lt;br /&gt;nelayan dan lain-lainnya. Maaf ya, apa yang dikampanyekan oleh para capres itu&lt;br /&gt;pada hakikatnya sudah pemerintah lakukan. Anda tahu nggak arah pembicaraan&lt;br /&gt;saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belum, Pak? Apa poinnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tidak semudah yang dibayangkan. Semua tidak seperti membalik telapak&lt;br /&gt;tangan. Oleh karena itu amat baik jika nanti rakyat dapat menyimak dengan&lt;br /&gt;saksama debat antar capres. Saya tentu harus berdebat dengan capres-capres lain&lt;br /&gt;tentang kemiskinan, pengangguran, kesejah-teraan rakyat, kemakmuran petani,&lt;br /&gt;dan harga sembako. Saya akan dapat mendengarkan, demikian juga rakyat, tentang&lt;br /&gt;bagaimana caranya dalam 100 hari harga-harga sembako bisa turun, misalnya.&lt;br /&gt;Juga tentang bagaimana caranya kemiskinan akan teratasi, petani akan makmur,&lt;br /&gt;dan lain-lain, sebagaimana dijanjikan oleh para capres itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi debat calon presiden itu penting ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Itu kegiatan utama dalam pemilihan presiden secara langsung. Di negara mana pun&lt;br /&gt;demikian. Dengan debat, rakyat akan bisa menilai pemikiran dan konsep-konsep&lt;br /&gt;kebijakan para kandidat. Rakyat juga akan menilai mana yang logis dan mana yang&lt;br /&gt;tidak. Lagi pula, saya ini kan belum masuk ”ring”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa maksudnya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, ibarat pertandingan tinju, lawan saya sudah mengeluarkan pukulan &lt;i&gt;straight,&lt;br /&gt;jab, hook&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;uppercut&lt;/i&gt;. Penonton sudah bersorak-sorak secara gemuruh. Saya&lt;br /&gt;sendiri belum masuk ”ring”. Jadi, hampir lima tahun ini saya mendapatkan kritik-kritik&lt;br /&gt;pedas dan kecaman yang sebagaimana saya katakan di awal wawancara ini&lt;br /&gt;tidak semuanya mesti saya respons. Nah ... dalam kampanye pemilu, termasuk&lt;br /&gt;debat capres nanti, saya bisa merespons dan mengkritisi balik janji-janji mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi sekali lagi, debat capres menjadi penting ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Dengan catatan, kegiatan debat itu harus dibikin tertib dan terhormat. Juga&lt;br /&gt;santun, sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Serang-menyerang secara berlebihan&lt;br /&gt;tidaklah baik. Tidak perlu juga disertai kegaduhan tepuk tangan para suporter.&lt;br /&gt;Sekali lagi tertib. Ini bukan gelanggang ”adu ayam”, tetapi forum yang baik agar&lt;br /&gt;sebelum memberikan pilihannya, rakyat tahu betul apa wawasan, ide, pemikiran&lt;br /&gt;dan konsep-konsep kebijakan para capres untuk mengelola pemerintahan dan&lt;br /&gt;memimpin negara lima tahun ke depan. Ingat 2009–2014 adalah tahun-tahun yang&lt;br /&gt;tidak mudah. Di samping kita harus memelihara momentum kebangkitan bangsa&lt;br /&gt;pascakrisis 1998, di samping harus memelihara dan meningkatkan capaian pembangunan&lt;br /&gt;hingga hari ini, kita juga harus mampu mengatasi dampak dari krisis dan&lt;br /&gt;resesi perekonomian global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun-tahun yang tidak mudah ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Saya tahu persis, karena saya bukan tipe pemimpin di belakang meja.&lt;br /&gt;Bukan pemimpin yang terima bersih, atau menye- rahkan segalanya kepada&lt;br /&gt;Wapres dan para menteri. Saya aktif, turun dan &lt;i&gt;hands on&lt;/i&gt;. Tidak satupun permasalahan&lt;br /&gt;pemerintahan, apalagi yang mendasar, sensitif, dan strategis yang tidak&lt;br /&gt;saya putuskan sendiri, dan kemudian saya tetapkan kebijakannya. Tentu saja&lt;br /&gt;Wapres dan para menteri bekerja, mengatasi masalah dan terus membantu saya&lt;br /&gt;selaku Presiden. Tetapi tetap, sayalah pengambil keputus- an, dan yang paling&lt;br /&gt;bertanggung jawab atas apa yang dilaksanakan oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau begitu tidak benar seperti yang dikesankan di luar bahwa Pak SBY tidak &lt;i&gt;in charge&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Bahkan katanya yang menjalankan roda pemerintahan ini lebih banyak Wapres. Bahkan&lt;br /&gt;pula Pak Syafi’i Ma’arif mengatakan JK adalah “the real President”. Apa tanggapan Pak&lt;br /&gt;SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyangka beliau berkata begitu. Saya memang sudah lama tidak ketemu&lt;br /&gt;Pak Syafi’i Ma’arif. Sebenarnya dulu kita sering berkomunikasi. Sewaktu saya&lt;br /&gt;masih bertugas di TNI di awal reformasi dulu beberapa kali beliau datang menemui&lt;br /&gt;saya. Demikian juga ketika saya menjadi menteri dan presiden. Saya mendapat&lt;br /&gt;informasi, kemarin, beliau hadir dalam Rakernas PDIP di Surakarta. Terhadap&lt;br /&gt;pernyataan Pak Syafi’i itu Wapres pun tidak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Atau karena sering kali Wapres mengeluarkan pernyataan yang berkaitan dengan keputusan&lt;br /&gt;dan kebijakan utama pemerintah, sehingga dikesankan beliau yang lebih berperan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya itu tidak keliru. Sepanjang proporsional dan patut. Dan itu memang&lt;br /&gt;gaya Pak Jusuf Kalla. Memang kepada Wapres saya berikan wewenang dan ruang&lt;br /&gt;yang lebih luas dalam kegiatan pemerintahan. Barangkali wewenang yang paling&lt;br /&gt;besar dibandingkan dengan wapres-wapres lain selama ini. Andil Pak JK cukup&lt;br /&gt;besar. Tetapi nakhodanya tetap satu. Dan hanya satu. Ini etika pemerintahan yang&lt;br /&gt;harus bersama-sama kita junjung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, saya ingin mengangkat isu netralitas TNI dalam Pemilu 2009 ini.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belum lama ini, di depan para petinggi TNI dan Polri, Pak SBY selaku Presiden sepertinya&lt;br /&gt;sangat menekankan netralitas TNI dan Polri dalam pemilu. Apa yang menyebabkan&lt;br /&gt;Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya memang harus begitu. Itu, sesungguhnya amanah undang-undang. Juga&lt;br /&gt;segaris dengan reformasi TNI dan Polri. Saya kira Anda masih ingat, 11 tahun yang&lt;br /&gt;lalu, di awal reformasi nasional 1998, saya terlibat aktif dalam membuat cetak biru&lt;br /&gt;reformasi ABRI, dan kemudian menjalankannya. Reformasi TNI dan Polri itu&lt;br /&gt;hakikatnya berhenti berpolitik praktis, dan kembali kepada peran dan fungsi pertahanan&lt;br /&gt;dan keamanan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi harus konsekuen ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Harus. Wajib hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi apa hanya itu? Benarkah pada Pemilu 2004 yang lalu TNI dan Polri tidak netral?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lembaganya netral. Tetapi ada oknum-oknum pejabat yang justru mengajari yang&lt;br /&gt;salah kepada jajaran atau bawahannya. Tindakan itu, disamping mengganggu&lt;br /&gt;netralitas TNI dan Polri, juga merusak keadilan atau fairness dalam pemilu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bisa diberikan contoh Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya akan angkat dua contoh saja. Menjelang Pemilu Legislatif, ada semacam&lt;br /&gt;Apel Komandan Satuan yang salah satu pengarahan pimpinannya adalah jangan&lt;br /&gt;memilih partai politik X, karena, katanya tidak segaris dengan TNI. Ketika peserta&lt;br /&gt;apel tidak paham partai X itu yang mana, maka ditunjukkanlah AD/ART dari partai&lt;br /&gt;yang bersangkutan. Saya tahu pasti kegiatan seperti itu tidak segaris dan di luar&lt;br /&gt;sepengetahuan Panglima TNI, waktu itu, Jenderal TNI Endriartono Sutarto.&lt;br /&gt;Dan, ketika pimpinan partai X mengajukan permohonan kepada petinggi TNI itu untuk&lt;br /&gt;melakukan klarifikasi bahwa partainya tidak bertentangan dengan institusi TNI,&lt;br /&gt;mereka tidak diterima. Justru Panglima TNI yang menerimanya. Saya nilai Pak&lt;br /&gt;Endriartono Sutarto sungguh netral dalam Pemilu 2004 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Contoh yang kedua?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, terjadi di jajaran Polri. Saya kira masyarakat tahu, Anda pun juga tahu,&lt;br /&gt;ketika seorang Kombes Pol. mengarahkan kepada yang hadir waktu itu untuk&lt;br /&gt;memilih capres tertentu, dan tidak memilih capres-capres yang lain. Banyak yang&lt;br /&gt;melihat tayangan televisi tentang tindakan yang mengganggu netralitas Polri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masih ada contoh yang lain?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah. Dua itu saja contohnya. Saya pun mengangkat dua contoh itu di depan&lt;br /&gt;Rapim TNI dan Raker Polri, karena salah satu materi pokok yang diangkat dalam&lt;br /&gt;Rapim dan Rakor adalah Pemilu 2009 dan Netralitas TNI dan Polri. Saya sampaikan&lt;br /&gt;itu agar tidak diulangi lagi. Tidak terjadi lagi. Sakit rasanya bagi partai politik atau&lt;br /&gt;capres yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi Pak SBY juga menerima informasi tentang kemungkinan ada oknum lagi yang&lt;br /&gt;mengganggu netralitas TNI dan Polri dalam Pemilu 2009 ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Informasi itu tidak mengada-ada. Saya bukan tipe Presiden yang mudah&lt;br /&gt;dipengaruhi, apalagi dibisiki. Saya bukan juga orang yang main tuding. Anda tentu&lt;br /&gt;mengamati perkataan, sikap dan tindakan saya selama hampir lima tahun&lt;br /&gt;memimpin pemerintah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jelasnya seperti apa informasi seorang petinggi TNI AD yang konon menunjukkan sikap&lt;br /&gt;tidak netral itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini, ya. Sebenarnya saya tidak akan menjelaskan lebih jauh tentang masalah&lt;br /&gt;ini, karena tujuan saya menyampaikan ini kepada Rapim TNI dan Rakor Polri&lt;br /&gt;adalah untuk pencegahan. Dan, yang ingin saya sampaikan dalam alam keterbukaan&lt;br /&gt;dan kebebasan informasi dewasa ini, apa yang dikatakan dan diperbuat&lt;br /&gt;oleh seorang pejabat mudah diketahui oleh publik. Jadi saya minta para petinggi&lt;br /&gt;TNI dan Polri itu lebih berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau memang banyak informasi yang beredar, termasuk yang sampai ke Pak SBY,&lt;br /&gt;berarti informasi itu banyak benarnya ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu. Informasi itu bisa benar bisa salah. Kalau intelijen memang banyak&lt;br /&gt;benarnya. Begitu derajat sebuah informasi. Semuanya harus dicek. Sebelum&lt;br /&gt;benar-benar terbukti, tidak boleh kita main ”vonis”. Bisa kasihan bagi yang&lt;br /&gt;bersangkutan. Dan, ingat, dua kali saya mengatakan di depan Rapim dan Rakor itu&lt;br /&gt;bahwa saya tidak yakin atas kebenaran informasi itu. Jadi, kalau ada seorang&lt;br /&gt;capres yang mengatakan saya main tuding ... saya prihatin. Berbahaya nanti kalau&lt;br /&gt;beliau itu benar-benar jadi presiden lantas mengeluarkan statement sembarangan&lt;br /&gt;saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Meskipun Pak SBY selaku Presiden tidak yakin dan tidak percaya begitu saja, apa tidak&lt;br /&gt;ada tindak lanjutnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Itu menjadi urusan TNI AD. Mereka mempunyai sistem. Dan sistem itu tentu bekerja.&lt;br /&gt;Pesan saya, terhadap masalah ini harus cermat, faktual, dan objektif. Apa&lt;br /&gt;adanya, dan jangan ada manipulasi apa pun. Tegakkan kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya Pak, rakyat Indonesia tentu tidak ingin kembali ke era Orde Baru yang ABRI waktu itu&lt;br /&gt;tidak netral dan bermain politik praktis.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Era itu sudah berlalu. Kini kita hidup dalam alam politik dan demokrasi yang lain.&lt;br /&gt;TNI dan Polri juga sudah melakukan introspeksi dan bahkan reformasi. Saya,&lt;br /&gt;bersama teman-teman waktu itu, bergulat dan berjuang keras untuk mengawal&lt;br /&gt;reformasi TNI dan Polri yang masih berjalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam kaitan ini sepertinya Pak SBY juga menekankan netralitas birokrasi. Bisa dijelaskan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, benar. Maksud saya, jangan sampai pejabat publik jajaran pemerintah, dan&lt;br /&gt;mestinya juga jajaran Lembaga-lembaga Negara, melakukan &lt;i&gt;abuse of power&lt;/i&gt; atau&lt;br /&gt;penyalahgunaan wewenang. Contoh yang konkret adalah, misalnya, seorang&lt;br /&gt;bupati mengerahkan, atau memfasilitasi pengerahan kepala-kepala desa untuk&lt;br /&gt;memenangkan salah satu parpol atau capres dalam Pemilu 2009 ini. Merupakan&lt;br /&gt;pelanggaran pemilu yang prinsip apabila seorang bupati memfasilitasi pengerahan&lt;br /&gt;dan pengumpulan sekian ratus kepala desa, dan kemudian ia sendiri, atau seorang&lt;br /&gt;tokoh parpol atau caleg dapil itu, meminta para kepala desa itu untuk mengajak&lt;br /&gt;rakyatnya memilih partai atau caleg yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jelas aturannya ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sangat jelas. Hal ini saya ingatkan baik kepada pejabat pemerintah, seperti bupati&lt;br /&gt;atau walikota, maupun para camat dan kepala desa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak, bicara pemilu seperti tidak ada habis-habisnya. Makanya dulu pernah disebut “pesta&lt;br /&gt;demokrasi”. Ingat saya, Pak SBY juga sering mengingatkan janganlah pemilu itu jadi&lt;br /&gt;ajang fitnah atau pembunuhan karakter terhadap seseorang. Apa latar belakangnya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya ini ingin menjadi manusia yang pragmatis dan realistis. Tentu tanpa meninggalkan&lt;br /&gt;idealisme. Pragmatisme saya juga tetap dikaitkan dengan visi, ke arah&lt;br /&gt;mana, misalnya, negara ini hendak kita bangun. Nah, berkaitan dengan etika&lt;br /&gt;pemilu, janganlah kita terlalu idealis dan kurang realistis. Maksud saya begini.&lt;br /&gt;Dalam pemilu, terlebih masa kampanye, tentu tidak dapat dielakkan terjadinya&lt;br /&gt;suasana sa-ling menyerang. Mungkin pula, ada upaya untuk merusak nama baik&lt;br /&gt;atau karakter seseorang. Tapi, ingat, selalu ada batasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi batasnya kan sulit ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit. Tidak mudah. Tetapi seorang pemimpin, apakah caleg, capres,&lt;br /&gt;cawapres, dan para tokoh pendukungnya, mestinya memiliki kearifan dalam&lt;br /&gt;berpolitik. Saya katakan tadi selalu ada batas kepatutannya. Di samping itu,&lt;br /&gt;undang-undang dan aturan kampanye yang dikeluarkan KPU juga ikut mengatur&lt;br /&gt;hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengalaman Pak SBY sendiri dalam Pemilu 2004 seperti apa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu. Biar saya teruskan dulu soal etika dan batas kepatut- an dalam kampanye&lt;br /&gt;pemilu ini. Saya berusaha untuk menjaga dan menghormati batas kepatutan&lt;br /&gt;ini. Bayangkan, kalau kata-kata dan tindakan saya tidak baik, penuh dengan nada&lt;br /&gt;emosi dan kemarah- an, menghasut, menantang lawan secara berlebihan ... pastilah&lt;br /&gt;pendukung-pendukung saya lebih marah dan bisa-bisa ”terbakar”. Ingat peribahasa&lt;br /&gt;”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kembali ke Pemilu 2004 Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu ujian yang maha berat bagi saya. Saya dan keluarga kehujanan fitnah dan&lt;br /&gt;pembunuhan karakter, atau &lt;i&gt;character assasination&lt;/i&gt; yang tak habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada yang masih ingat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hampir semuanya ingat, karena fitnah itu sungguh menyakitkan. Sampai-sampai,&lt;br /&gt;menjelang hari pemungutan suara, saya dan keluarga berdoa sangat khusuk untuk&lt;br /&gt;memohon perlindungan dan pertolongan Allah. Pada malam yang menentukan itu&lt;br /&gt;saya juga menyelenggarakan acara dzikir dan doa bersama para sahabat, handai&lt;br /&gt;taulan dan masyarakat Cikeas. Bung Ramadhan, supaya nggak habis waktu kita,&lt;br /&gt;saya beri tiga contoh saja fitnah yang masih saya ingat ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Silahkan Pak.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di awal kampanye Pemilu 2004, beredar berita, terutama di pesan- tren dan komunitas&lt;br /&gt;Islam bahwa isteri SBY itu Kristen, oleh karena itu jangan pilih SBY. Sampaisampai&lt;br /&gt;ada semacam Majelis Ustadzah yang mengundang istri saya, Ibu Ani, untuk&lt;br /&gt;ber-silaturrohim dengan mereka semua, setelah sebelumnya mendapatkan kejelasan&lt;br /&gt;berita tentang agama istri saya yang benar, ketika perwakilan majelis itu&lt;br /&gt;datang ke Cikeas. Ketika akhirnya mereka bisa bertemu, banyak yang meminta&lt;br /&gt;maaf bahkan menangis karena telah berburuk sangka, atau &lt;i&gt;su’udzon&lt;/i&gt;. Semua&lt;br /&gt;agama mesti kita hormati, tetapi mengedarkan isu ”jangan pilih SBY karena istrinya&lt;br /&gt;Kristen” itu jelas perilaku yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Contoh lain?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pernah, ketika kami sedang ber-kumpul di Cikeas untuk mengatur siasat kampanye,&lt;br /&gt;tiba-tiba, saya menerima telepon dari seorang pendukung yang sedang berada&lt;br /&gt;di Cipanas. Nampaknya, sedang dibagi-bagikan selebaran, termasuk kepada para&lt;br /&gt;penumpang bus dan angkot, yang isinya jangan pilih SBY karena SBY dan Partai&lt;br /&gt;Demokrat menerima bantuan asing, atau bantuan dana dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berapa dan dari mana katanya bantuan itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diisukan SBY dan PD menerima bantuan dari Amerika Serikat, dengan jumlah 50&lt;br /&gt;juta dolar. Angka yang disebut itu jumlahnya besar sekali. Keterlaluan! &lt;i&gt;Wallahi,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;satu dolar pun tidak ada bantuan itu. Saya patuh hukum, dan tahu menjaga diri.&lt;br /&gt;Ada satu lagi yang nampaknya fitnah ini direncanakan dan dipersiapkan dengan&lt;br /&gt;rapi, yaitu buletin yang beredar pada minggu tenang Pemilu 2004. Belum dengar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belum. Yang mana itu Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam minggu tenang masa kampanye, saya berkunjung ke Blitar untuk sungkem&lt;br /&gt;dan mohon restu dari Ibunda saya yang memang tinggal di Blitar. Saya memang&lt;br /&gt;sering ke Blitar, dan bahkan beberapa kali saya ziarah ke Makam Bung Karno. Nah,&lt;br /&gt;dalam perjalanan saya ke Blitar, secara luas beredarlah buletin yang memberitakan&lt;br /&gt;bahwa sebelum menjadi TNI, SBY telah menikah dan punya dua orang anak.&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa, fitnah dan pembunuhan karakter itu. Pada saat minggu tenang&lt;br /&gt;lagi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, menyedihkan ya Pak. Mudah-mudahan Pemilu 2009 ini tidak begitu. Pak SBY yakin&lt;br /&gt;kalau fitnah dan pembunuhan karakter itu tidak terjadi lagi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Diam sejenak)&lt;/i&gt; Mudah-mudahan. Saya juga terus mengajak dan memberi contoh&lt;br /&gt;kepada jajaran Partai Demokrat agar menjauhi dan tidak melakukan politik&lt;br /&gt;semacam itu. Politik yang penuh kebohongan. Politik yang menghalalkan segala&lt;br /&gt;cara. Politik yang tidak berakhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“SBY kerap menjaga kebugaran dan kesegaran jasmaninya. Sejak belia dulu hingga&lt;br /&gt;sekarang pun, pemimpin kelahiran Pacitan, 9 September 1949, ini rajin berolah&lt;br /&gt;raga voli. Belakangan beliau lebih aktif berolahraga tenis meja dan golf. SBY juga&lt;br /&gt;kerap berdzikir, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Semua itu menjadikan&lt;br /&gt;dirinya pemimpin yang tangguh luar dan dalam”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, setelah &lt;i&gt;break&lt;/i&gt; yang kedua ini saya ingin meminta pendapat dan komentar&lt;br /&gt;Bapak menyangkut isu-isu aktual. Maksud saya isu-isu yang diangkat untuk menyerang&lt;br /&gt;Pak SBY, seperti harga sembako, pupuk, kemiskinan dan lain-lain.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silahkan, Bung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama, isu sembako. Sangat gencar kubu Bu Mega mengangkat harga sembako yang&lt;br /&gt;mahal dan tidak terjangkau. Isu ini tentu untuk menghantam pemerintah, dan Pak SBY&lt;br /&gt;sendiri. Apa komentar Bapak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya mengikuti semuanya itu. Termasuk iklan-iklan yang ditayangkan di televisi,&lt;br /&gt;maupun yang dimuat di koran-koran. Dalam dunia politik, atau kampanye&lt;br /&gt;pemilu, bisa saja isu semacam itu diangkat dan dijadikan munisi untuk menyerang&lt;br /&gt;pihak lain. Terhadap itu semua, menteri-menteri terkait sebenarnya sudah menjelaskan&lt;br /&gt;beberapa kali. Demikian juga, Partai Demokrat sebagai partai yang konsisten&lt;br /&gt;dan konsekuen mendukung Pemerintah, juga ikut menangkis serangan itu.&lt;br /&gt;Anda amati, dalam merespons isu sembako itu pemerintah menggunakan angka,&lt;br /&gt;data dan fakta yang resmi dan benar. Ini segaris dengan instruksi saya bahwa&lt;br /&gt;meskipun pihak lain bisa saja memanipulasi dan bersiasat dengan data, tetapi saya&lt;br /&gt;minta jajaran Pemerintah tetap menceritakan hal-hal yang logis dan benar. Partai&lt;br /&gt;Demokrat juga saya minta melakukan hal yang sama. &lt;i&gt;Telling the truth.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY sendiri bagaimana menanggapi isu sembako kubu Megawati itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak sisi yang dapat saya respons. Banyak kedangkalan dan kelemahan cara&lt;br /&gt;melihat, sehingga tidak logis. Cara seperti itu tidak cerdas, dan kasihan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bisa dijelaskan satu-persatu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sangat bisa. Dan banyak kelemahan dan ketidakbenaran iklan sembako itu. Tapi&lt;br /&gt;akan saya sampaikan yang prinsip-prinsip saja. Pertama, seharusnya jika kita&lt;br /&gt;bicara harga-harga sembako harus dikaitkan dengan daya beli, atau penghasilan&lt;br /&gt;masyarakat. Ini tidak. Kedua, data yang digunakan untuk mengangkat harga masing-&lt;br /&gt;masing bahan pokok tidak dicantumkan kapan harga-harga sembako itu&lt;br /&gt;dicatat. Dan, kalau saya lanjutkan komentar saya, sebagian dari harga-harga sembako&lt;br /&gt;saat ini sudah turun akibat penurunan harga BBM, tarif angkutan, dan tarif&lt;br /&gt;listrik untuk industri. Tentu juga iklan itu tidak menjelaskan mengapa harga-harga&lt;br /&gt;sembako itu naik, misalnya apa kaitannya dengan harga pangan dunia, dan harga&lt;br /&gt;pangan dalam negeri apa saja yang kini justru lebih murah dibandingkan harga&lt;br /&gt;pangan yang sama di tingkat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY akan menjelaskan semua?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah. Para menteri telah menjelaskan secara rinci. Saya hanya ingin menjelaskan&lt;br /&gt;satu hal yang paling mendasar, yaitu tidak utuhnya melihat suatu isu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa maksudnya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini Bung. Benar beberapa harga sembako mengalami kenaikan tahun-tahun terakhir,&lt;br /&gt;sebagaimana pula kenaikan harga-harga sembako di era Presiden Megawati&lt;br /&gt;dibandingkan dengan era presiden-presiden sebelumnya. Tapi, mari kita lihat&lt;br /&gt;apakah daya beli masyarakat, termasuk petani dan buruh, juga tidak meningkat?&lt;br /&gt;Apakah gaji pegawai negeri, termasuk TNI dan Polri juga tidak terus naik?&lt;br /&gt;Jawabannya, daya beli mereka, kemampuan mereka untuk membeli sembako, juga&lt;br /&gt;terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada penjelasan yang lebih rinci Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat yang lalu, dalam Sidang Kabinet Terbatas yang khusus membahas&lt;br /&gt;langkah-langkah stabilisasi harga barang dan jasa, Menteri Perdagangan, Ibu Mari&lt;br /&gt;Pangestu, menjelaskan bahwa secara keseluruhan antara tahun 2004 dan 2008&lt;br /&gt;upah buruh kelompok bawah naik sekitar 78%, sementara harga sembako naik&lt;br /&gt;68%. Jadi ada yang disebut welfare gain, atau peningkatan kesejahteraan sekitar&lt;br /&gt;10%. Sementara itu, tahun 2004 rata-rata upah buruh per hari hanya cukup untuk&lt;br /&gt;membeli beras sekitar 3 kg, pada tahun 2008 yang lalu mereka dapat membeli 4 kg&lt;br /&gt;beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Angka ini valid ya, Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masak tidak benar. Silakan cek dan wawancarai sana Menteri Perdagangan&lt;br /&gt;untuk lebih jelasnya. Saya ingin mengambil contoh gaji seorang tamtama TNI, atau&lt;br /&gt;PNS yang paling rendah gajinya untuk membandingkan daya beli mereka di tahun&lt;br /&gt;2004 dan awal tahun 2009 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya, gimana Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya minta Menteri Keuangan, Ibu Ani, untuk menyampaikan kepada saya berapa&lt;br /&gt;gaji PNS terendah, guru SD terendah dan tamtama TNI pada tahun 2004 sebelum&lt;br /&gt;saya menjadi Presiden, dan kemudian berapa gaji mereka tahun 2009 ini. Setelah&lt;br /&gt;itu, sama dengan penghasilan buruh atau pekerja tadi, setiap harinya berapa kg&lt;br /&gt;beras yang dapat dibeli. Anda tahu bagaimana angkanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya jelas belum dong Pak. Berapa kg beras yang dapat mereka beli?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Inilah angkanya. Untuk PNS golongan terendah yang sudah 10 tahun bekerja,&lt;br /&gt;tahun 2004 gajinya Rp 674.000, pada tahun 2009 Rp 1.721.300. Tiap harinya&lt;br /&gt;PNS yang bersangkutan tahun 2004 dapat membeli 6,5 kg beras, dan tahun 2009 ini&lt;br /&gt;10,3 kg. Untuk tamtama TNI terendah, tahun 2004 gajinya Rp 1.106.600, dan tahun&lt;br /&gt;2009 Rp 2.219.300. Tamtama dengan pangkat itu tahun 2004 tiap harinya dapat&lt;br /&gt;membeli beras 7,9 kg, sedangkan sekarang 12 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana dengan guru SD Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, gaji guru SD terendah tahun 2004 gajinya hanya Rp 815.800, tahun 2009 ini&lt;br /&gt;menjadi Rp 2.007.300. Dulu, tahun 2004 tiap harinya dapat membeli 10,7 kg beras,&lt;br /&gt;sekarang 13,3 kg. Meningkat kan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk petani Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Data dari BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani terus meningkat. Berarti daya&lt;br /&gt;belinya meningkat. Lagi pula, kalau bicara harga-harga sembako, siapa yang menghasilkan&lt;br /&gt;sembako itu. Pada prinsipnya petani kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang menghasilkan beras, telur, cabai, bawang, kentang dan lain-lain itu para&lt;br /&gt;petani. Dengan harga yang pantas, tidak terlalu murah atau jatuh, para petani akan&lt;br /&gt;senang. Penghasilan mereka makin layak. Kalau semua harga jatuh, atau rendah,&lt;br /&gt;mau makan apa para petani yang kepanasan dan kehujanan itu? Hati-hati. Apa adil,&lt;br /&gt;ketika daya beli rakyat meningkat, dan gaji guru dan PNS naik, lantas petani tidak&lt;br /&gt;boleh menjual hasil-hasil pertaniannya sedikit lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi harga pangan harus pas ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Contohnya beras, meskipun ada mekanisme pasar, Pemerintah tetap mengatur&lt;br /&gt;harga patokan pembelian guna melindungi petani. Harga beras yang kita tuju&lt;br /&gt;adalah harus memberikan penghasilan yang baik bagi petani, namun tetap terjangkau&lt;br /&gt;oleh masyarakat lainnya. Sedangkan yang miskin kita bantu dengan pemberian&lt;br /&gt;raskin, atau beras untuk rakyat miskin dengan harga yang murah. Itu&lt;br /&gt;namanya adil. Dan saya belum bicara bantuan-bantuan lain yang diberikan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah kepada golongan masyarakat tidak mampu, dalam hal ini yang miskin&lt;br /&gt;dan setengah miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukan hanya BLT kan Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;BLT hanya salah satu. Tadi sudah saya jelaskan bahwa BLT itu sifatnya sementara,&lt;br /&gt;kecuali bagi keluarga yang sangat miskin kita berikan BLT Bersyarat yang relatif&lt;br /&gt;permanen. Ada banyak program penanggulangan kemiskinan dan peningkatan&lt;br /&gt;kesejahteraan rakyat yang dijalankan oleh Pemerintah yang saya pimpin dewasa&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi Pak, maaf, sebenarnya kemiskinan di negeri kita ini naik atau turun? Lawan-lawan&lt;br /&gt;politik Pak SBY banyak yang mengatakan kemiskinan malah naik. Mana yang benar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jelas turun dong. Tahun lalu, dalam rangka HUT Kemerdekaan RI saya menyampaikan&lt;br /&gt;pidato kenegaraan di depan DPR dan DPD. Angka kemiskinan tahun 2008&lt;br /&gt;adalah angka yang terendah dalam 10 tahun terakhir. Jumlah yang miskin tahun&lt;br /&gt;2008 adalah 34,96 juta orang, atau 15,42% dari jumlah penduduk Indonesia. Tahun&lt;br /&gt;1998 yang miskin 49,5 juta, tapi ingat jumlah penduduk Indonesia waktu itu tentu&lt;br /&gt;lebih kecil dibandingkan jumlah penduduk tahun 2008. Sedangkan dalam persentase&lt;br /&gt;adalah 24,23%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Angka itu benar ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang kita gunakan angka BPS. Data BPS dirujuk dan digunakan oleh pemerintah&lt;br /&gt;sejak Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi ada juga yang menggunakan data dari Bank Dunia.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja. Asal konsisten, jangan loncat-loncat. Bank Dunia juga menggunakan&lt;br /&gt;dua ukuran. Kemiskinan ditinjau dari penghasilan yang kurang dari satu dolar&lt;br /&gt;sehari, dan yang lain, penghasilan yang kurang dari dua dolar sehari. Kalau menggunakan&lt;br /&gt;ukuran Bank Dunia pun kemiskinan kita tetap turun. Kecenderungan&lt;br /&gt;penurunannya juga pada prinsipnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Katanya data atau statistik itu bisa disiasati. Apa benar Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam batas tertentu, data yang sama, tapi menggunakan grafik atau tabel yang&lt;br /&gt;berbeda, sekilas bisa lain impresinya. Tergantung niatnya. Tapi untuk apa?&lt;br /&gt;Mengapa harus bermain-main dengan fakta dan kebenaran? Kadang-kadang saya&lt;br /&gt;juga heran dengan komentar dari sejumlah pihak menyangkut data BPS, padahal&lt;br /&gt;rata-rata umumnya mereka berpengetahuan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa maksudnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini. Ketika data BPS me-nunjukkan angka yang tidak baik, atau rapor pemerintah&lt;br /&gt;merah, mereka-mereka langsung berkomentar Pemerintah gagal. Atau paling&lt;br /&gt;tidak diam. Begitu BPS mengangkat data yang menggambarkan capaian yang positif,&lt;br /&gt;atau biru rapornya, komentar mereka langsung minir. Dibilang BPS tidak objektiflah,&lt;br /&gt;datanya salahlah, bahkan menuding BPS dapat pesanan dari Pemerintah.&lt;br /&gt;Kan kasihan BPS. Padahal lembaga itu kredibel dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dan mereka memotret apa adanya ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Mereka punya kode etik. Ketika Dr. Rusman diangkat menjadi Kepala BPS tiga&lt;br /&gt;tahun yang lalu, saya berpesan agar BPS tetap profesional, objektif dan menyampaikan&lt;br /&gt;data yang benar. Hal ini penting agar pemerintah tahu mana hal-hal yang&lt;br /&gt;belum baik, dan mana yang sudah baik. Dengan demikian solusi, kebijakan dan&lt;br /&gt;program pemerintah berikutnya menjadi tepat. Sebagai Presiden saya harus dapat&lt;br /&gt;mengidentifikasi masalah secara tepat, dan kemudian dapat mengambil keputusan&lt;br /&gt;secara tepat pula. Nah, dalam kaitan ini data BPS menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kembali kepada soal kemiskinan, dan juga pengangguran, nampaknya isu-isu itulah yang&lt;br /&gt;digemari oleh oposisi dan lawan politik untuk mendiskreditkan pemerintah. Pak SBY tahu&lt;br /&gt;kenapa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Itu dua isu yang populis. Mereka tentu ingin membangun citra bahwa mereka&lt;br /&gt;sungguh prorakyat. Berempati pada rakyat. Meskipun sesungguhnya mereka juga&lt;br /&gt;tahu bahwa mengurangi kemiskinan tidak semudah membalik telapak tangan.&lt;br /&gt;Demikian juga pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya Pak, saya mengikuti media, termasuk televisi asing, terjadi gelombang PHK besarbesaran&lt;br /&gt;di banyak negara karena krisis keuangan dan resesi ekonomi dunia sekarang&lt;br /&gt;ini. Mengapa pengangguran rentan terhadap krisis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anda benar. Gelombang PHK terjadi di banyak negara, bahkan negara maju yang&lt;br /&gt;ekonominya kuat. Amerika sudah lebih dari satu juta angka pengangguran barunya,&lt;br /&gt;China lebih dari 15 juta. Perusahaan-perusahaan besar tingkat dunia juga melakukan&lt;br /&gt;PHK dalam jumlah besar. Mengapa? Ya karena pasar lesu, barang dan&lt;br /&gt;jasa yang diproduksi tidak laku. Perusahaan tekor, kemudian bangkrut, dan PHK&lt;br /&gt;tidak dapat dielakkan. Bagi yang mengerti ilmu ekonomi, makroekonomi itu tidak&lt;br /&gt;selalu stabil. Ada pula yang disebut business cycle. Yang namanya pertumbuhan,&lt;br /&gt;inflasi, pengangguran, dan neraca pembayaran sebuah ekonomi nasional&lt;br /&gt;angkanya bisa bergerak. Apalagi ketika krisis datang. Kemiskinan pun juga sangat&lt;br /&gt;dipengaruhi oleh keadaan atau dinamika suatu makroekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Termasuk di Indonesia ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, termasuk di negeri kita. Meski- pun tahun 2008 lalu angka kemiskinan dan&lt;br /&gt;pengangguran adalah yang terendah selama 10 tahun terakhir, tetapi selama 10&lt;br /&gt;tahun itu sesungguhnya angkanya berfluktuasi, naik dan turun. Ketika harga&lt;br /&gt;minyak dunia meroket di tahun 2005 dulu dan harga BBM terpaksa harus&lt;br /&gt;dinaikkan, angka kemiskin- an ikut naik. Setelah kita jalankan berbagai program&lt;br /&gt;penanggulangan kemiskinan, dengan anggaran yang besar, akhirnya angka&lt;br /&gt;kemiskinan kita terus menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya mendengar lawan-lawan politik Pak SBY akan terus mengangkat isu kemiskinan&lt;br /&gt;dan pengangguran ini. Pemerintah juga dinilai gagal, atau janji Pak SBY tidak dapat&lt;br /&gt;diwujudkan karena sasaran dalam RPJMN 2004–2009 tidak dapat dicapai. Apa komentar&lt;br /&gt;Bapak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mendengar. Pertama, ingat, tugas Pemerintah yang saya pimpin ini&lt;br /&gt;berlangsung sampai akhir 2009. Jadi memang belum selesai. Bagaimana mengatakan&lt;br /&gt;sekarang Pemerintah gagal, wong tugas kami belum rampung. Lagi pula,&lt;br /&gt;mengkur keberhasilan dan kegagalan Pemerintah apa hanya dari satu, dua faktor&lt;br /&gt;saja. Kedua, di negara mana pun tidak ada rencana yang bisa dicapai 100%.&lt;br /&gt;Pemerintahan sebelum saya pun juga demikian. Selalu ada yang dapat dicapai,&lt;br /&gt;bahkan lebih dari sasaran yang ditetapkan, dan selalu juga ada yang di bawah&lt;br /&gt;sasaran. Nah, dalam pemeintahan yang saya pimpin ini, sebagaimana yang telah&lt;br /&gt;saya sampaikan sebelumnya, semuanya dapat dijelaskan. Dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bicara soal penjelasan kepada publik, saya merasakan, bahkan masyarakat juga&lt;br /&gt;merasakan, dalam hal ini Pemerintah kurang. Maaf Pak, menteri-menteri Pak SBY juga&lt;br /&gt;kurang tampil untuk menjawab kritik pedas pengamat dan politisi. Apa Pak SBY tidak&lt;br /&gt;merasakan hal itu? Sepertinya Bapak dibiarkan menghadapinya sendiri ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bukan begitu. Tidak ada niat yang tidak baik dari pembantu-pembantu saya. Soal&lt;br /&gt;Pemerintah kurang gigih dan rajin dalam melakukan komunikasi publik barangkali&lt;br /&gt;benar. Saya harus mengakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Pak? Apa mereka takut?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak juga. Ada yang berprinsip “sedikit bicara banyak kerja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi, isu-isu itu akhirnya terus berjalan, dan dikesankan, Pemerintahlah yang tidak&lt;br /&gt;benar.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Mungkin juga. Terus terang banyak di antara kita yang belum terbiasa dengan&lt;br /&gt;komunikasi politik di era kebebasan dan keterbukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa maksudnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam era otoritarian dulu, jika ada yang menghantam Pemerintah, dengan caracara&lt;br /&gt;yang sangat keras, apalagi Presiden, penyelesaiannya biasanya dengan&lt;br /&gt;“tekanan”. Bisa psikologis, bisa politis. Itulah sebabnya di era Orde Baru banyak&lt;br /&gt;sekali koran atau majalah yang dicabut izinnya. Dan, dalam dua rezim yang berbeda,&lt;br /&gt;Orde Lama dan Orde Baru, banyak pula tokoh-tokoh politik yang dikenai sanksi&lt;br /&gt;hukum tanpa melalui proses peradilan yang fair dan transparan. Cara-cara seperti&lt;br /&gt;itu sudah kita tinggalkan. Sekarang, jika ada yang menyerang kebijakan dan tindakan&lt;br /&gt;pemerintah apalagi secara berlebih- an dan tidak proporsional, para menteri&lt;br /&gt;dan pejabat Pemerintah yang lain wajib untuk menjawab dan meresponsnya.&lt;br /&gt;Begitulah praktik demokrasi. Dengan demi-kian, rakyat juga akan menilai mana&lt;br /&gt;yang logis dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak berarti kebebasan berpendapat dihalang-halangi, dan unjuk rasa dibatasi kan Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa menyaksikan sendiri mekarnya kebebasan di era reformasi dan&lt;br /&gt;demokratisasi se-karang ini. Di depan Istana, dan di tempat-tempat lain, sering terjadi&lt;br /&gt;unjuk rasa. Pelaku dan tema unjuk rasanya pun berbeda-beda. Tidak ada yang&lt;br /&gt;dihalang-halangi. Saya juga termasuk yang menyimak apa isu atau masalah yang&lt;br /&gt;diangkat oleh pengunjuk rasa tersebut, terutama apabila berkaitan dengan kebijakan&lt;br /&gt;Pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi, beberapa saat yang lalu Pak SBY memberikan komentar yang keras terhadap unjuk&lt;br /&gt;rasa yang anarkis di Medan. Apa itu sudah kelewat batas?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jelas. Itu bukan lagi unjuk rasa yang tertib, tetapi sudah destruktif. Kekerasan&lt;br /&gt;seperti itu tidak dapat kita biarkan. Aturan harus ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepertinya polisi agak kecolongan ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Melihat tayangan di televisi, saya menilai polisi setempat kurang cekatan, dan tidak&lt;br /&gt;mampu mengatasi kegaduhan dan perilaku brutal dari para pengunjuk rasa. Itulah&lt;br /&gt;sebabnya, segera setelah saya mengetahui ada kejadian itu, Kapolri saya telepon&lt;br /&gt;untuk segera mengambil langkah yang tepat dan cepat. Menko Polhukam, Pak&lt;br /&gt;Widodo, juga saya minta untuk mengelola perkembangan situasi agar tidak terjadi&lt;br /&gt;lagi hal-hal yang tidak kita harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi yang salah siapa? Polisinya underestimate, atau pengunjuk rasanya melakukan&lt;br /&gt;aksi-aksi yang destruktif?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bisa dua-duanya. Yang jelas tindakan destruktif tidak dibenarkan. Saya minta&lt;br /&gt;hukum ditegakkan. Jangan lunak, dan jangan permisif. Perwira dan anggota Polri&lt;br /&gt;yang lalai juga mesti diberikan sanksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Cikarang, beberapa saat yang lalu, di depan manajemen dan pekerja PT Sinar Sosro,&lt;br /&gt;Pak SBY menekankan kembali pentingnya menjaga stabilitas, keamanan dan ketertiban&lt;br /&gt;publik. Bisa dijelaskan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Saya katakan bahwa “Demokrasi, &lt;i&gt;Yes&lt;/i&gt;” tetapi “Anarki, &lt;i&gt;No”&lt;/i&gt;. Kita bikin kebebasan&lt;br /&gt;dan keterbukaan mekar. Hak asasi manusia mendapatkan penghormatan&lt;br /&gt;yang tinggi. Suara rakyat juga makin didengar dan dihormati. Inilah nilai dan praktik&lt;br /&gt;demokrasi yang makin hidup di negeri ini. Tapi, tidak berarti tidak ada aturannya.&lt;br /&gt;Tidak ber- arti bisa seenaknya, merusak dan mengancam pihak lain. Negara&lt;br /&gt;kita adalah negara hukum. Rules of law harus ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menurut Pak SBY, selama empat tahun terakhir ini apakah stabilitas, keamanan dan&lt;br /&gt;ketertiban publik ini terpelihara?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pada prinsipnya ya. Negara kita relatif stabil. Demikian juga keamanan&lt;br /&gt;dan ketertiban masyarakat. Bandingkan dengan tahun-tahun setelah krisis&lt;br /&gt;dulu. Justru, seperti yang disampaikan oleh saudara Joseph Sosro Joyo, Pimpinan&lt;br /&gt;PT Sinar Sosro waktu itu, bahwa bisnis atau usahanya tahun 2008 yang lalu memiliki&lt;br /&gt;angka penjualan sebesar Rp 1,8 triliun, karena baiknya faktor stabilitas, keamanan&lt;br /&gt;dan ketertiban publik dewasa ini. Suara seperti ini pulalah yang sering disampaikan&lt;br /&gt;oleh kalangan dunia usaha kepada saya. Oleh karena itu, mari kita jaga&lt;br /&gt;bersama suasana yang sudah kondusif bagi kegiatan usaha, dan berbagai kegiatan&lt;br /&gt;pembangunan di Tanah Air kita. Bung Ramadhan, kita &lt;i&gt;break&lt;/i&gt; dulu ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baik Pak.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“SBY adalah pembaca buku yang kuat. Di sela-sela kesibukannya memimpin 230&lt;br /&gt;juta rakyat, SBY melahap buku-buku politik, ekonomi, pemikiran dan kebudayaan.&lt;br /&gt;Dalam sepekan, suami Ny. Ani Bambang Yudhoyono biasa mena- matkan&lt;br /&gt;2-3 buku setiap akhir pekan, baik terbitan dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;Bacaan yang luas membuat SBY kaya pengetahuan dan ‘gaul’ dengan pemikiran&lt;br /&gt;global.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak, masih bicara soal unjuk rasa, kalau tidak salah Polri sedang memproses kasus&lt;br /&gt;unjuk rasa yang destruktif, atau katakanlah aksi kekerasan dan kerusuhan yang terjadi&lt;br /&gt;beberapa bulan yang lalu. Termasuk di dalamnya pemeriksaan terhadap Rizal Ramli.&lt;br /&gt;Segera setelah itu muncul tuduhan Pemerintah kembali represif. Pak SBY dianggap pula&lt;br /&gt;akan kembali ke Era Orde Baru. Apa komentar Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Polri menjalankan tugasnya sesuai amanah undang-undang. Demikian pula penegak&lt;br /&gt;hukum yang lain. Saya, sebagai Presiden tidak boleh dan tidak dapat mencampurinya.&lt;br /&gt;Ingat, hukum bukan di tangan politisi, termasuk anggota DPR, tetapi berada&lt;br /&gt;di tangan penegak hukum. Bahkan untuk kasus Pak Rizal Ramli, saya telah&lt;br /&gt;mengingatkan berkali-kali, baik kepada Kapolri yang lama Pak Sutanto, maupun&lt;br /&gt;yang sekarang, Pak Bambang Hendarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang Pak SBY ingatkan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pastikan bahwa ada ketentuan hukum yang dilanggar. Kalau tidak, nanti dikira&lt;br /&gt;karena politik. Dikira atas perintah Presiden. Bahkan dalam sebuah Sidang Kabinet&lt;br /&gt;pernah saya sampaikan bahwa mengarsiteki unjuk rasa, dan juga mendanai unjuk&lt;br /&gt;rasa itu bukan kejahat- an. Itu masih termasuk hak politik seseorang. Yang tidak&lt;br /&gt;boleh, dan merupakan pelanggaran hukum, adalah apabila seseorang mengarsiteki,&lt;br /&gt;menggerakkan, mendanai dan melaksanakan kekerasan, tindakan destruktif,&lt;br /&gt;dan kerusuhan. Jadi bukan lagi unjuk rasa yang damai dan tertib, atau &lt;i&gt;peaceful&lt;br /&gt;demonstration.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi toh tetap saja Polri, Pemerintah dan Pak SBY sendiri dianggap represif, dan menghalang-&lt;br /&gt;halangi orang menyampaikan pendapat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bung, selama hampir lima tahun saya memimpin pemerintahan ini, saya kira ribuan&lt;br /&gt;unjuk rasa telah terjadi di Tanah Air kita. Hampir semua tidak diapa-apakan. Kita&lt;br /&gt;hormati hak politik warga negara kita. Kecuali, satu-dua kejadian yang dianggap&lt;br /&gt;melawan hukum, dan kemudian hukum ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi proses hukum mesti dijalankan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jelas dong. Itu kewajiban negara. Dan, sebenarnya tidak perlu diributkan. Kalau&lt;br /&gt;salah diberikan sanksi, kalau tidak salah bebas. Dengan proses pengadilan yang&lt;br /&gt;transparan dan fair, rakyat juga akan bisa mengetahui siapa yang benar, dan siapa&lt;br /&gt;yang salah. Marilah kita berikan kesempatan bagi penegak hukum untuk menjalankan&lt;br /&gt;kewajibannya. Jangan diintervensi. Lagi pula, Bung, saya ini sering&lt;br /&gt;dituduh macam-macam. Juga urusan keamanan, termasuk keamanan dan ketertiban&lt;br /&gt;publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa itu Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya mempersilakan para penegak hukum untuk menjalankan kewajibannya,&lt;br /&gt;seperti proses hukum bagi para pelaku unjuk rasa yang destruktif dan anarkis&lt;br /&gt;tadi, saya dianggap represif. Tetapi, sebaliknya, ketika saya menempuh solusi nonmiliter&lt;br /&gt;bagi penyelesaian Aceh sepanjang NKRI masih tegak dan Merah Putih&lt;br /&gt;masih berkibar di Aceh, ... saya dianggap lemah dan tidak tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Begitu ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Iya. Begitulah. Oleh karena itu, pernah suatu ketika saya bicara, ya kalau tidak&lt;br /&gt;setuju pilih saja pemimpin yang lain dalam Pemilu 2009 nanti. Bagi yang berpendapat&lt;br /&gt;bagaimanapun unjuk rasa harus dibiarkan, meskipun anarkis dan merusak, termasuk&lt;br /&gt;korban jiwa dan material telah terjadi, ya pilih saja presiden yang membiarkan saja&lt;br /&gt;hal itu terjadi. Barangkali presiden semacam itu ingin dikesankan&lt;br /&gt;sebagai orang yang paling demokratis, dan paling men-junjung tinggi hak asasi&lt;br /&gt;manusia. Sementara, bagi yang tidak se-tuju saya lebih menggunakan pendekatan&lt;br /&gt;nonmiliter dalam penyelesaian masalah seperti Aceh, dan sebaliknya lebih setuju&lt;br /&gt;jika setiap masalah keamanan mesti ditumpas secara militer, ya pilih saja presiden&lt;br /&gt;yang berkarakter seperti itu. Barangkali pemimpin tipe begitu ingin dikesankan&lt;br /&gt;sebagai pemimpin yang kuat dan tegas. Tapi, kalau saya, ya itulah prinsip dan&lt;br /&gt;keyakinan saya. Itulah karakter saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ya Pak, ngomong-ngomong penyelesaian masalah Aceh, dulu saya tahu sangat tidak&lt;br /&gt;mudah. Penolakan atas kebijakan Peme- rintah cukup tinggi, meskipun dukungan juga&lt;br /&gt;tidak kecil. Mengapa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktornya. Ada yang punya mindset, atau pikiran dasar, tidak ada itu&lt;br /&gt;negosiasi dengan pemberontak. Yang namanya melawan pemerintah yang sah, ya&lt;br /&gt;harus ditumpas. Menumpasnya pun secara militer. Inilah sikap kelompok garis&lt;br /&gt;keras. Ada lagi yang khawatir justru dengan negosiasi, atau cara apapun yang&lt;br /&gt;bersifat politis, khawatir Aceh bakal lepas. Apalagi negosiasi antara GAM dan&lt;br /&gt;Pemerintah difasilitasi oleh pihak internasional. Banyak yang khawatir apa yang&lt;br /&gt;terjadi dengan Timor Timur, akan terjadi pula pada Aceh. Ini urusan kedaulatan.&lt;br /&gt;Urusan NKRI. Ada juga, melihat ketidakpatuhan GAM di masa lampau atas berbagai&lt;br /&gt;perjanjian, banyak pihak yang meragukan bahwa resolusi konflik secara damai ini&lt;br /&gt;akan berhasil dan dapat bertahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau begitu cukup banyak argumentasi bagi mereka yang tidak setuju dengan penyelesaian&lt;br /&gt;secara damai itu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Cukup banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi Pak SBY sendiri sebagai Presiden nampak kokoh dalam pendirian, dan tanpa raguragu&lt;br /&gt;menempuh cara penyelesaian itu. Apa tidak terlalu besar risikonya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Risikonya memang besar. Tetapi, sebagai pemimpin saya harus mengambil sikap.&lt;br /&gt;Saya tidak boleh ngambang, tidak tegas, dan kemudian kalau ada apa-apa tidak&lt;br /&gt;bertanggungjawab. Tidak ada proses penyelesaian suatu isu keamanan yang besar&lt;br /&gt;seperti Aceh ini yang &lt;i&gt;“top leader”,&lt;/i&gt; berarti di negeri kita, Presiden tidak mengambil&lt;br /&gt;tanggung jawab penuh, dan bah- kan tidak memimpin sendiri keseluruhan proses&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nampaknya Pak SBY memetik pelajaran dari proses-proses sebelumnya, termasuk&lt;br /&gt;penyelesaian COHA dulu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Benar sekali. Kekurangan kita dan kesalahan kita dalam upaya penyelesaian&lt;br /&gt;Aceh sejak tahun 1999 kita jadikan pelajaran, dan kita perbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak, apa kunci keberhasilan dari penyelesaian Aceh, dan siapa saja yang paling berperan&lt;br /&gt;dan berjasa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa. Saya menyebut ada lima faktor penting. Pertama, negosiasi yang&lt;br /&gt;efektif dan berhasil. Timnya Pak Hamid Awaluddin sangat berjasa. Peran Wapres,&lt;br /&gt;Pak Jusuf Kalla sangat besar dalam negosiasi ini. Presiden Marti Ahtisari juga&lt;br /&gt;amat berperan. Tetapi selaku Presiden saya tetap engage dan tidak melepas begitu&lt;br /&gt;saja. Pada rumusan yang sangat penting, atau sensitif, di samping Wapres, saya&lt;br /&gt;terjun langsung. Keputusan akhir ada di tangan saya, terutama jika berkaitan dengan&lt;br /&gt;UUD, bangun negara kesatuan, atau NKRI, dan UU yang lain. Saya ingin&lt;br /&gt;memastikan bahwa perjanjian Helsinki itu tidak mengancam Konstitusi, NKRI, dan&lt;br /&gt;kedaulatan kita. Faktor kedua adalah, peran dan dukungan militer. Seperti proses-proses&lt;br /&gt;yang lalu, jika TNI tidak sepenuhnya mendukung, tidak akan berhasil upaya&lt;br /&gt;kita. Sejak awal saya menginstruksikan TNI untuk mendukung solusi damai ini.&lt;br /&gt;Peran Jenderal TNI Endriartono Sutarto sangat besar, demikian pula jajaran TNI,&lt;br /&gt;dan juga Polri. Sudah berapa faktor saya bicara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dua Pak. Sekarang faktor ketiga?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Ketiga, dukungan politik nasional. Saya bersama Wapres maraton berkomunikasi&lt;br /&gt;dan berkonsultasi dengan berbagai pihak, antara lain MPR, DPR, DPD, pimpinan–&lt;br /&gt;pimpinan parpol, purnawirawan TNI dan Polri. Dukungan politik ini sangat&lt;br /&gt;penting. Oleh karena itu saya harus juga “turun gunung”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak mudah kan Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Alot sekali. Tapi itulah demokrasi. Saya harus menjalankannya dengan&lt;br /&gt;sepenuh hati. Nah, faktor keempat adalah dukungan dari masyarakat Aceh sendiri.&lt;br /&gt;Di sini, saya berkesimpulan bahwa mayoritas masyarakat Aceh sungguh ingin&lt;br /&gt;penyelesaian secara damai. Faktor kelima, atau yang terakhir, adalah leadership&lt;br /&gt;atau kepemimpinan pada tingkat puncak. Jika saya tidak mengambil tanggung&lt;br /&gt;jawab penuh, karena barangkali saya takut dengan risiko, atau takut gagal, maka&lt;br /&gt;landasan dan payung politiknya menjadi tidak ada. Bayangkan, jika TNI dan Polri&lt;br /&gt;tidak mendukung, maka negosiasi yang gemilang yang banyak diarahkan oleh Pak&lt;br /&gt;JK juga tidak dapat dijalankan. Dan banyak hal mendasar lagi yang memerlukan&lt;br /&gt;komitmen dan pelibatan pemimpin puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi Pak, terus terang, sekarang pun masih banyak yang mengkhawatirkan Aceh bisa&lt;br /&gt;lepas dari NKRI. Komentar Bapak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mendengar. Kekhawatir- an itu wajar, karena memang proses reintegrasi&lt;br /&gt;pasca konflik belum selesai. &lt;i&gt;Trust building&lt;/i&gt; juga belum rampung. Masih ada&lt;br /&gt;saling curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY yakin GAM tidak ingkar janji. Bagaimana kalau GAM tiba-tiba menyatakan&lt;br /&gt;merdeka kembali?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya punya keyakinan, bahwa eks-GAM akan mematuhi perjanjian yang ada.&lt;br /&gt;Perjanjian itu memiliki makna yang suci. Menodai perjanjian, sama dengan&lt;br /&gt;mempermainkan Allah. Kalau betul-betul terjadi skenario buruk seperti itu, sebagai&lt;br /&gt;Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, tentu saya akan menjalankan amanah&lt;br /&gt;konstitusi, menegakkan kembali kedaulatan dan keutuhan NKRI. Itu pasti. Jangan&lt;br /&gt;diragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi, kita tetap harus waspada kan Pak ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Harus. Tidak boleh lengah. Dan saya akan sangat tegas jika ada yang&lt;br /&gt;mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY kita kembali ke topik sebelum Aceh. Kembali ke isu-isu penting dalam kampanye&lt;br /&gt;pemilu sekarang ini ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Silakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saya amati, nampaknya isu kesejahteraan akan terus digulirkan. Oleh lawan politik Pak&lt;br /&gt;SBY, Pemerintah tetap dianggap belum mampu menyejahterakan rakyat. Bahkan tema&lt;br /&gt;ini yang juga diangkat oleh salah satu capres, Pak Sultan Hamengku Buwono X.&lt;br /&gt;Tanggapan Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya agak menahan diri untuk menanggapi Pak Sultan. Bukan tidak berani. Tapi,&lt;br /&gt;ini menyangkut etika. Pak Sultan masih Gubernur DIY, dan saya masih Presiden RI.&lt;br /&gt;Risih rasanya saya mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada Pak Sultan,&lt;br /&gt;yang saat ini menjadi salah satu pejabat pemerintahan, yang kepala pemerintahannya&lt;br /&gt;saya. Lagi pula, Bung, sekarang ini sebenarnya belum ada yang berstatus&lt;br /&gt;capres. Seseorang di?sebut capres, apabila nanti dalam pemilu presiden dan wakil&lt;br /&gt;presiden telah diusulkan oleh sebuah parpol, atau gabungan parpol yang&lt;br /&gt;memenuhi syarat, dan kemudian KPU menetapkannya sebagai capres. Jadi masih&lt;br /&gt;jauh kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa poin yang akan Pak SBY angkat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada. Begini. Jika Pak Sultan telah menjadi capres, dan Insya Allah saya juga&lt;br /&gt;berstatus sama untuk periode 2009–2014, saya akan menanggapi secara tajam apa&lt;br /&gt;yang dikatakan Pak Sultan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang mana Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, misalnya, tentang Pemerintah belum bisa menyejahterakan rakyatnya. Berarti,&lt;br /&gt;tentunya, termasuk rakyat yang ada di DIY, yang menjadi tanggung jawab Pak&lt;br /&gt;Sultan untuk menyejahterakannya. Tapi, nanti sajalah. Amunisi saya cukup banyak&lt;br /&gt;untuk merespons semuanya itu. Bukan hanya kepada Pak Sultan, tetapi juga kepada&lt;br /&gt;yang saat ini menamakan dirinya sebagai capres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada yang mengkritik Pak SBY, kurang berani menendang bola. Terlalu menahan diri,&lt;br /&gt;padahal Bapak punya munisi untuk menyerang lawan. Mengapa Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya. Mungkin benar. Pilihan saya, dalam keadaan politik dewasa ini, jika tidak keterlaluan&lt;br /&gt;dan terpaksa, saya lebih baik menganut strategi “defensif aktif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sama dengan strategi &lt;i&gt;“self defence”?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak sama persis. Tetapi, tetapi ... kalau seseorang itu mudah menyalahkan,&lt;br /&gt;mudah menyerang, bersuara besar, takutnya justru malah menelanjangi diri&lt;br /&gt;sendiri. Lebih sakit lagi kalau ada yang berkomentar “tong kosong nyaring bunyinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Iya. Tapi, sekali-sekali menendang bola lah ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Boleh. Saya dengar, Bung. Cak Nun, Emha Ainun Najib, sahabat saya, menasihati&lt;br /&gt;saya hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rupanya Pak SBY kenal Cak Nun?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tentu. Yang saya suka dengan beliau, selama ini memberikan pandangan&lt;br /&gt;bagaimana mengatasi masalah Lumpur Sidoarjo dari dimensi sosial dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;Beliau ikut memperjuangkan kepentingan rakyat yang mengalami kesulitan&lt;br /&gt;dengan cara-cara yang tepat. Bukan dengan cara yang provokatif dan agitatif.&lt;br /&gt;Sehingga, banyak solusi yang kita dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY sendiri sangat siap untuk menanggapi serangan politik yang menganggap&lt;br /&gt;Pemerintah gagal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Siap. Sangat siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa misalnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wah. Bisa panjang sekali. Lebih baik nanti ada wawancara khusus untuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Garis besarnya saja Pak.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Berpikir sejenak.)&lt;/i&gt; Begini sajalah. Silakan diukur satu-persatu, unsur-unsur kesejahteraan&lt;br /&gt;rakyat, apakah lima tahun terakhir ini lebih baik atau lebih buruk.&lt;br /&gt;Memang, kalau kita ditanya, sudah sejahtera belum rakyat kita? Jawabannya,&lt;br /&gt;barangkali belum. Belum sepenuhnya. Tapi ada perbaikan tidak? Inilah inti permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi, apa saja unsur-unsur yang penting dari kesejahteraan rakyat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada apa yang dibu- tuhkan, dirasakan, dan diharapkan oleh rakyat. Hal&lt;br /&gt;ini mencakup pangan, sandang, papan, pen- didikan, kesehatan, lingkungan, rasa&lt;br /&gt;aman, kerukunan, dan hal-hal lain yang mencerminkan &lt;i&gt;good society&lt;/i&gt; atau&lt;br /&gt;masyarakat yang baik. Ukur saja, misalnya, apakah pendidikan dan kesehatan&lt;br /&gt;masyarakat makin baik atau tidak. Ukur juga apakah masyarakat merasa lebih&lt;br /&gt;nyaman dan aman dari berbagai kejahatan dan kerusuhan seperti tahun-tahun setelah&lt;br /&gt;krisis dulu. Ukur juga apakah rakyat merasa hukum dan keadilan lebih ditegakkan&lt;br /&gt;sekarang, termasuk pemberantasan korupsi. Demikian pula kebutuhan akan pangan,&lt;br /&gt;sandang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baiklah Pak, kalau Pak SBY belum ingin berbicara lebih luas tentang isu kesejahteraan,&lt;br /&gt;dan isu lain yang dijadikan munisi oleh lawan-lawan politik Bapak. Sekarang saya akan&lt;br /&gt;menanyakan soal ejekan politik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ejekan politik Pak. Maksud saya, pemerintahan yang Pak SBY pimpin sering diejek. Bu&lt;br /&gt;Mega pernah mengatakan pemerintah sekarang ini seperti “poco-poco”. Kemudian,&lt;br /&gt;belum lama ini pemerintah dikatakan seperti main “yo-yo”. Ada juga ejekan kepada Pak&lt;br /&gt;SBY sendiri yang dikatakan janjinya setinggi langit, tapi yang dicapai serendah bukit. Apa&lt;br /&gt;hati Bapak tidak panas?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ha, ha, ha ... &lt;i&gt;(Ketawa agak besar.)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kenapa Pak SBY ketawa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kreatif benar beliau. Alangkah bagusnya kalau kreativitas semacam itu diwujudkan&lt;br /&gt;untuk mengatasi masalah ketika beliau memimpin pemerintahan dulu. Begini Bung,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;mosok&lt;/i&gt; waktu, pikiran dan kerja saya habis untuk ikut-ikutan kreatif dalam soal&lt;br /&gt;ejek-mengejek. Yang menggelikan, akhirnya, komentar yang muncul setelah ejekan&lt;br /&gt;itu dilontarkan juga menjadi menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Komentar yang mana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, lebih baik “poco-poco”, atau maju selangkah, mundur&lt;br /&gt;selangkah, daripada “undur-undur”, atau tidak pernah maju, malah mundur terus.&lt;br /&gt;Tidak berbuat apa-apa. Ada juga yang mengatakan, kalau soal “yo-yo”, iya,&lt;br /&gt;memang ada yang naik, misalnya GDP, &lt;i&gt;income per capita&lt;/i&gt;, anggaran pendidikan,&lt;br /&gt;cadangan devisa, swasembada dan produksi beras. Dan, kemudian, memang ada&lt;br /&gt;yang turun, seperti kemiskinan, pengangguran, utang luar negeri, BBM, tarif angkutan.&lt;br /&gt;Politik kita jadi begini ya Bung Ramadhan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Iya Pak. Lucu juga ya. Tapi soal janji setinggi langit, kalau tidak salah Pak SBY sudah&lt;br /&gt;menjelaskan tadi ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sudah. Sudah cukup. Tapi, ingat dan hati-hati, karena rakyat telah mencatat dan&lt;br /&gt;ingat terus semua ejekan, kritik pedas, dan kecaman-kecaman kepada saya itu,&lt;br /&gt;apalagi kalau pemerintah dinilai gagal. Setiap beliau-beliau itu mengecam dan&lt;br /&gt;menyatakan Pemerintah gagal, beliau-beliau itu sebenarnya sudah berjanji. Berjanji&lt;br /&gt;bahwa jika kelak terpilih menjadi Presiden untuk periode 2009–2014, semua yang&lt;br /&gt;dikecam itu akan hilang semua. Seluruh sendi kehidupan rakyat akan baik dan&lt;br /&gt;sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbahaya ya Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Kalau saya akan sangat berhati-hati, karena menyelesaikan masalah bangsa&lt;br /&gt;ini tidak semudah sebagaimana yang dijanjikan oleh lawan-lawan politik saya itu.&lt;br /&gt;Jangan sampai rakyat kelak mendapatkan “pepesan kosong”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, mungkin ada yang agak serius?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam berbagai wawancara Bu Mega menuduh Pak SBY semacam menusuk dari&lt;br /&gt;belakang, atau meninggalkan jabatannya sebagai Menko Polkam begitu saja. Pak Taufik&lt;br /&gt;Kiemas, juga mengatakan tidak pernah menyesal dianggap mendzolimi Pak SBY di awal&lt;br /&gt;tahun 2004 dulu. Apa komentar Pak SBY ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya mengikuti semuanya itu. Saya merasa itu sudah termasuk pembunuhan&lt;br /&gt;karakter, atau &lt;i&gt;character assasination&lt;/i&gt; kepada saya. Saya tanggapi dulu tentang ucapan&lt;br /&gt;Pak Taufik Kiemas. Istilah saya didzolimi itu sama sekali bukan dari saya. Dan&lt;br /&gt;catat, saya tidak pernah mengatakan saya didzolimi oleh Pak Taufik Kiemas. Tidak&lt;br /&gt;perlu mengada-ada. Yang mengatakan orang lain, termasuk pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Soal ucapan Bu Mega?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terang-benderang. Proses saya mundur dari kabinet jelas. Ada urutannya.&lt;br /&gt;Semua terdokumentasi. Surat-surat permohonan saya kepada Bu Mega sebagai&lt;br /&gt;Presiden waktu itu juga masih ada. Soal, katanya saya tidak pernah menyatakan&lt;br /&gt;keinginan sebagai capres 2004, tapi tiba-tiba mencalonkan diri sebagai&lt;br /&gt;capres juga tidak ada yang terahasiakan. Semua tertulis di situ. Kapan saya menyatakan&lt;br /&gt;itu. Mustahil Bu Mega tidak tahu. Soal, saya dianggap menusuk dari&lt;br /&gt;belakang, ingat ... saya menjadi Presiden karena mengikuti proses pemilu, mulai&lt;br /&gt;dari pemilu legislatif sampai pemilihan presiden. Saya berjuang dari bawah. Dan&lt;br /&gt;sangat mungkin saya kalah. Bandingkan Bung, dengan riwayat Bu Mega menggantikan&lt;br /&gt;Gus Dur sebagai Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY suatu saat siap menjelaskan dan berhadapan dengan Bu Mega di depan publik.&lt;br /&gt;Termasuk apa yang terjadi dengan jatuhnya Gus Dur, dan naiknya Bu Mega di medio&lt;br /&gt;2001 dulu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Siap. Sangat siap. Ini menyangkut kehormatan dan harga diri saya. Rakyat perlu&lt;br /&gt;tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi &lt;i&gt;timing&lt;/i&gt;-nya harus tepat. Saya tidak ingin&lt;br /&gt;politik di negeri kita ini gaduh terus. Oleh karena itu, apa yang muncul di berbagai&lt;br /&gt;wawancara televisi tentang ucapan-ucapan Bu Mega itu, saya masih berusaha&lt;br /&gt;menahan diri. Saya masih menghormati beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi rakyat perlu tahu Pak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benar. Tapi, sekali lagi, &lt;i&gt;timing&lt;/i&gt;-nya harus tepat. Anda sendiri belum tahu kan di&lt;br /&gt;mana posisi, dan seperti apa sikap dan tindakan kami semua yang ada di kabinet&lt;br /&gt;ketika terjadi krisis politik zaman Gus Dur. Upaya apa saja yang kami lakukan&lt;br /&gt;untuk menyelamatkan pemerintahan Gus Dur? Di mana posisi masing-masing&lt;br /&gt;waktu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belum Pak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya saya harus berhati-hati mengeluarkan &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt;. Para pemimpin&lt;br /&gt;jangan terlalu mudah menceritakan versinya masing-masing tentang misalnya krisis&lt;br /&gt;1998, ataupun krisis 2001. Apalagi kalau menulis buku sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memang diperlukan kearifan yang tinggi dari setiap pemimpin dan tokoh-tokoh kita ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Betul. Rasanya saya juga tidak enak harus berbicara, atau menanggapi hal-hal&lt;br /&gt;seperti ini. Saya malu kepada rakyat. Tetapi, kadang-kadang saya terpaksa harus&lt;br /&gt;menanggapi, karena tudingan kepada saya itu diucapkan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengerti Pak. Memang pendidikan politik itu tidak sekali jadi. Pak, sebenarnya saya&lt;br /&gt;ingin meng- ajukan topik lain yaitu berkenaan dengan visi dan misi Pak SBY jika terpilih&lt;br /&gt;lagi menjadi Presiden untuk lima tahun berikutnya. Tapi, karena barangkali sudah terlalu&lt;br /&gt;lama wawancara ini, Pak SBY mau menjawab sekarang atau wawancara lain kali?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lain kali sajalah. Sudah cukup banyak saya berbicara. Dan ini barangkali wawancara&lt;br /&gt;saya yang terpanjang selama ini. Hampir tiga jam ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Betul Pak. Tapi Pak SBY tentunya punya visi dan misi yang membawa optimisme, tetapi&lt;br /&gt;realistis kan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jelas punya dong. Tetapi, barangkali, tidak muluk-muluk seperti janji capres-capres&lt;br /&gt;lain yang saya dengar mulai dikampanyekan itu. Karena lima tahun ini saya&lt;br /&gt;memimpin negara dan menjalankan roda pemerintahan, tentu saya amat memahami&lt;br /&gt;ragam masalah dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita. Mulai dari yang&lt;br /&gt;bersifat taktis, sampai ke yang bersifat strategis. Mulai dari yang sederhana, sampai&lt;br /&gt;ke yang kompleks. Dan mulai dari yang bersifat jangka pendek, sampai ke yang&lt;br /&gt;bersifat jangka panjang. Termasuk mana yang berkonteks lokal dan nasional, dan&lt;br /&gt;mana yang berkonteks global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baik Pak. Saya tunggu saatnya nanti. Kalau begitu, Pak SBY, saya akan mengajukan&lt;br /&gt;pertanyaan terakhir dalam wawancara ini. Mudah-mudahan Bapak mau menjawabnya ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY siap menang, tetapi juga siap kalah kan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Tersenyum.)&lt;/i&gt; Jelas siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau siap, apa yang akan Pak SBY lakukan jika kalah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Maksud Anda &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; atau semacam &lt;i&gt;acceptance speech&lt;/i&gt; yang harus saya sampaikan?&lt;br /&gt;Atau tindakan saya jika saya kalah? Kan saya sudah menyampaikan apa&lt;br /&gt;dulu pernyataan dan tindakan saya ketika saya kalah dalam pemilihan wapres&lt;br /&gt;tahun 2001 yang lalu. Seperti itulah kira-kira yang akan saya lakukan jika saya&lt;br /&gt;kalah dalam Pemilu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukan hanya itu Pak. Apa yang akan Pak SBY kerjakan setelah tidak jadi Presiden?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Oo ... &lt;i&gt;(Berpikir sejenak.)&lt;/i&gt; Barangkali saya akan menulis buku, mungkin lebih dari&lt;br /&gt;satu, untuk saya sumbangkan kepada rakyat dan generasi mendatang. Mungkin&lt;br /&gt;juga tepat bagi saya untuk berbagi pengalaman dan pikiran begaimana agar&lt;br /&gt;kehidupan bangsa kita makin maju di masa depan. Saya juga bisa urun rembuk&lt;br /&gt;dalam menghadapi dan mengatasi isu-isu global yang menjadi tanggung jawab&lt;br /&gt;manusia dan bangsa-bangsa sedunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY akan juga kritis terhadap presiden-presiden pengganti Bapak nanti?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak suka berjanji. Tapi, lihatlah saja nanti. Presiden itu tugasnya berat, mengapa&lt;br /&gt;harus kita ganggu. Tapi nanti sajalah. Sejarahlah yang akan mencatat dan&lt;br /&gt;mengabadikan apa yang dilakukan oleh setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Itu tadi pertanyaan kalau Pak SBY kalah dalam Pemilu 2009 ini. Bagaimana kalau Pak&lt;br /&gt;SBY menang dan terpilih lagi sebagai Presiden untuk masa bakti 2009-2014?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama tentu saya mesti bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;Kedua, saya berterima kasih kepada rakyat yang telah memberikan mandat kepada&lt;br /&gt;saya. Setelah itu saya harus segera melanjutkan tugas memajukan kehidupan&lt;br /&gt;bangsa, dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk semua ya Pak, termasuk mereka-mereka yang tidak memilih Pak SBY?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bung, selama ini saya menyayangi mereka semua, termasuk yang tidak memilih&lt;br /&gt;saya pada pilpres tahun 2004 yang lalu. Bagi saya itu merupakan nilai moral dan&lt;br /&gt;etika yang harus saya junjung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak SBY, Bapak telah amat &lt;i&gt;generous&lt;/i&gt; hari ini. Lebih dari tiga jam Pak SBY menjawab&lt;br /&gt;pertanyaan-pertanyaan saya dengan sabar. Terima kasih Pak. Semoga Pak SBY selalu&lt;br /&gt;sukses dalam memimpin negeri tercinta ini.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Bung. Terima kasih pula doanya. 􀂄&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-6990697041444503520?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/6990697041444503520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=6990697041444503520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6990697041444503520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/6990697041444503520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/04/wawancara-presiden.html' title='Wawancara Presiden'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-3133508271114623471</id><published>2009-01-12T02:54:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.892-08:00</updated><title type='text'>6 Mithos tentang Kreativitas</title><content type='html'>&lt;p&gt;Teresa Amabile telah melakukan studi tentang kreativitas hampir selama 30 tahun, melalui&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kerjasamanya dengan para mahasiswa kandidat Ph.D, manajer berbagai jenis perusahaan dan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengumpulkan 12 000 jurnal harian dan serta berbagai aktivitas lainnya yang terkait dengan proyek kreativitas. Berdasarkan hasil telaahannya dia mengungkapkan 6 mithos tentang kreativitas yang terjadi selama ini. Keenam mithos tersebut adalah.&lt;span id="more-704"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Creativity Comes From Creative Types &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada anggapan bahwa kreativitas seolah-seolah hanya berasal dan milik kalangan atau golongan tertentu, misalnya kelompok orang-orang yang bergerak dalam bidang R &amp;amp; D, marketing atau advertising, yang didukung dengan bakat, pengalaman, serta &lt;span&gt; &lt;/span&gt;kecerdasan yang luar biasa.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Namun studi yang dilakukan menunjukkan bahwa seseorang&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang memiliki kecerdasan normal pun sesungguhnya dapat memiliki kemampuan untuk bekerja secara kreatif, hanya mereka kadang-kadang tidak menyadari potensi kreatifnya, karena mereka bekerja atau berada pada lingkungan yang mengahalangi tumbuhnya motivasi intrinsik. Motivasi instrinsik inilah justru merupakan faktor yang dianggap dapat menyalakan seseorang untuk bekerja secara kreatif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Money Is a Creativity Motivator &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak orang beranggapan bahwa uang dianggap sebagai pemicu dan pendorong kreativitas. Studi eksperimental yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ternyata uang bukanlah apa-apa. Ketika ditanyakan kepada sejumlah orang: “Termotivasi oleh penghargaan (baca: bonus) apa hari ini Anda bekerja?. Mereka menjawab “ Itu pertanyaan yang tidak relevan”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam bekerja mereka tidak hanya berfikir tentang berapa upah yang harus diterima per harinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentunya setiap orang membutuhkan kompensasi yang adil atas kinerjanya, tetapi ternyata banyak orang cenderung meletakkan nilai–nilai (value) yang lebih jauh, dan tidak hanya sekedar uang. Orang menjadi sangat kreatif tatkala lingkungan kerja memberikan ruang yang terbuka bagi dirinya&lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk berkreasi dan memperoleh perluasan keterampilan untuk kemajuan nyata dalam bekerjanya. Hal yang penting agar orang menjadi kreatif adalah berusaha menempatkan mereka tidak hanya berdasarkan pengalaman kerja semata tetapi juga harus memperhatikan minatnya (interest), sehingga mereka akan lebih peduli terhadap apa yang dikerjakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Time Pressure Fuels Creativity&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak orang berfikiran bahwa orang menjadi kreatif ketika dia bekerja di bawah tekanan deadline. Namun hasil studi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;menunjukkan kebalikannnya. Orang menjadi miskin kreativitas ketika harus bertempur dengan waktu. Tekanan waktu yang hebat dapat mencekik kreativitas sehingga dalam bekerja mereka tidak mampu lagi untuk berusaha mendalami masalah-masalah yang ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kreativitas mensyaratkan adanya masa inkubasi, orang membutuhkan waktu untuk mendalami suatu masalah dan membiarkan untuk menggelembungkan segala pemikirannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bekerja dengan deadline akan menimbulkan banyak masalah sehingga banyak menyita waktu mereka untuk melakukan terobosan-terobosan pemikiran kreatifnya. Agar orang menjadi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kreatif harus terlindungi dari berbagai gangguan atau masalah, sehingga dia dapat lebih fokus dalam bekerjanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Fear Forces Breakthroughs&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seringkali orang beranggapan bahwa ketakutan, kecemasan dan kesedihan akan menjadi kekekuatan seseorang untuk menjadi kreatif, sebagaimana banyak dibicarakan dalam beberapa literatur psikologi. Tetapi hasil studi tidak melihat ke arah itu. Kreativitas muncul justru pada saat orang merasa senang dan bahagia dalam bekerja. Terdapat korelasi antara kebahagiaan seseorang dalam bekerja dengan tingkat kreativitasnya. Bahkan, kebahagaian seseorang pada suatu hari seringkali menjadi ramalan kreativitasnya pada hari berikutnya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Competition Beats Collaboration&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada semacam keyakinan, khususnya di kalangan dunia industri high –tech dan keuangan bahwa kompetisi internal dapat membantu terciptanya inovasi. Namun hasil survey menunjukkan bahwa kreativitas justru muncul pada saat orang bekerja secara kolaboratif. Melaui team work orang dapat menunjukkan rasa percaya dirinya, saling berbagi dan memperdebatkan berbagai pemikirannya. Namun ketika orang harus dikompetisikan malah mereka menjadi enggan dan menghentikan untuk saling berbagi informasi dan pengalamannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. A Streamlined Organization Is a Creative Organization&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak orang beranggapan bahwa organisasi yang ramping adalah organisasi yang kreatif. Memang benar, bahwa ukuran organisasi yang besar seringkali mengalami kesulitan untuk mengendalikan karyawan. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tetapi jika, tabah dan bersabar menghadapinya justru akan menghasilkan kekuatan, kreativitas dan kolaborasi. Yang terpenting disini adalah bagaimana setiap orang dapat diberikan kesempatan untuk bekerja secara otonom dan mencintai pekerjaannya, memiliki komitmen, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;terjalin komunikasi dan kolaborasi, sehingga pada suatu saat kreativitas akan muncul dengan sendirinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;adaptasi dan disarikan dari “The 6 Myths Of Creativity” karya Bill Breen (2004)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="javascript:if(confirm('http://www.fastcompany.com/magazine/89/creativity.html%20%20\n\nThis%20file%20was%20not%20retrieved%20by%20Teleport%20Pro,%20because%20it%20is%20addressed%20on%20a%20domain%20or%20path%20outside%20the%20boundaries%20set%20for%20its%20Starting%20Address.%20%20\n\nDo%20you%20want%20to%20open%20it%20from%20the%20server?'))window.location='http://www.fastcompany.com/magazine/89/creativity.html'" tppabs="http://www.fastcompany.com/magazine/89/creativity.html"&gt;&lt;span style="font-family:MsoNormal;"&gt;http://www.fastcompany.com/magazine/89/creativity.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa Refleksi untuk Anda:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah Anda termasuk orang yang termakan oleh keenam mithos tersebut?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sertifikasi guru yang disertai kenaikan penghasilan, akankah menjadi pemicu terciptanya kreativitas mereka&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan jumlah guru di Indonesia yang relatif banyak, apakah mungkin untuk terciptanya kreativitas?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika Anda hanya berkecerdasan dengan kategori normal, mungkinkah Anda menjadi seorang yang kreatif dalam bekerja?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-3133508271114623471?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/3133508271114623471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=3133508271114623471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3133508271114623471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3133508271114623471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/6-mithos-tentang-kreativitas.html' title='6 Mithos tentang Kreativitas'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-4476310179648806906</id><published>2009-01-12T02:53:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.905-08:00</updated><title type='text'>Image Perubahan Pendidikan (The Images of Educational Change)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Buku Altrichter, Herbert dan Elliott, John (2000), Ed., &lt;em&gt;The Images of Educational Change&lt;/em&gt;, Open University Press, Buckingham merupakan kumpulan tulisan. Setelah dibuka dengan &lt;em&gt;Pengantar&lt;/em&gt; oleh Herbert Altrichter, penyajian tulisan dibagi menjadi empat bagian dan diakhiri dengan &lt;em&gt;overview&lt;/em&gt; yang berjudul &lt;em&gt;Menuju Visi Sinoptik Perubahan Pendidikan di Negera Maju &lt;/em&gt;ditulis oleh John Elliot. Masing-masing bagian terdiri atas tiga tulisan, kecuali bagian keempat yang berisi empat tulisan. Judul-judul keempat bagian tersebut adalah (I) Perubahan Pendidikan dan Penyusunan Kebijakan, (II) Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Pendidikan, (III) Konseptualisasi Proses Perubahan Sekolah dan (IV) Menyiapkan Guru untuk Terlibat dalam Perubahan Pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-2753"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Adapun judul-judul dan penulis dari ketiga belas tulisan tersebut adalah: (1) &lt;em&gt;Perubahan Ekonomi, Penyusunan Kebijakan Pendidikan dan Peranan Negara,&lt;/em&gt; Ernest R. House; (2)&lt;em&gt; Bagaimana Pendidikan Tidak Ditangani Lembaga Mana pun,&lt;/em&gt; Barry MacDonald;&lt;em&gt; (3) Mengembangkan Keadaan Muram: Perkembangan Personal dan Sosial Siswa dan Proses Sekolah, &lt;/em&gt;John Schostak;&lt;em&gt; (4) Komunitas, Perubahan Sekolah dan Networking Strategis, &lt;/em&gt;Peter Posch;&lt;em&gt; (5) Individu dan Perubahan Sosial: Perubahan Pola Komunitas dan Tantangan Sekolah, &lt;/em&gt;Marie Brennan dan Susan Noffke;&lt;em&gt; (6) Perubahan Sosial, Bahan Ajar dan Guru,&lt;/em&gt; J. Myron Atkin&lt;em&gt;; (7) Perubahan Kultur Sekolah, &lt;/em&gt;Christine Finnan dan Henry M. Levin&lt;em&gt;; (8) Beberapa Unsur Teori&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Mikro-Politik Perkembangan Sekolah, &lt;/em&gt;Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber&lt;em&gt;; (9) Perubahan Konsepsi Kaji Tindak, &lt;/em&gt;Bridget Somekh&lt;em&gt;; (10) Pendidikan Reflektif dan Kultur Sekolah: Sosialisasi Calon Guru, &lt;/em&gt;Angel Perez Gomez&lt;em&gt;; (11) Studi Kasus dan Catatan Kasus: Suatu Percakapan tantang Proyek Hathaway, &lt;/em&gt;Susan Groundwater Smith dan Rob Walker&lt;em&gt;; (12) Ahli Masa Depan?, &lt;/em&gt;Christine O’Hanlon;&lt;em&gt; dan (13) Kontrol Guru dan Reformasi Pengembangan Profesionalitas&lt;/em&gt;, Lawrence Ingvarson. Berikut adalah substansi tiap tulisan dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; text-indent: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;House dalam bab 1 mengidentifikasi empat aspek ekonomi yang mempengaruhi kebijakan pendidikan. Keempat hal tersebut adalah (a) ekonomi mempengaruhi besar anggaran pendidikan dan menimbulkan konsekuensi sosial, seperti ketidakmerataan ‘kue ekonomi’ yang memberi sekolah masalah, (b) tujuan kebijakan pendidikan tertentu menuntut sekolah lebih efisien dan lebih produktif, (c) pendidikan yang lebih baik menuntun pada kemampuan teknologi dan pekerjaan yang lebih baik dan (d) pemikiran ekonomi melanda dunia pendidikan, misalnya, kebijakan pendidikan dirumuskan dari sudut pandang kebutuhan sekolah menciptakan dan merespon ‘pasar’. Kebijakan ‘pemasaran’ secara agresif makin meminta peran penting. Gagasan muncul dari elit di ibu kota yang didanai oleh sumber-sumber non pendidikan (Ricci, 1993). Semua periset nampak seperti ‘tentara sewaan’ dan semua &lt;em&gt;think tanks&lt;/em&gt; nampak menggunakan semua sumber daya institusionalnya untuk mengajukan pandangannya (Smith, 1991). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Tanah, tenaga kerja dan semua faktor produksi menjadi komoditas untuk diperjual-belikan dan tergantung pada pasar. Semua ada harganya, ‘nilai itu dilihat dari harganya’ (Gilpin, 1987). Pasar merusak peran lembaga tradisional –keluarga, komunitas, lembaga agama. Rusaknya peran lembaga-lembaga tradisional tersebut juga merusak basis dukungan tradisional dari pemerintah; pemerintah jatuh-bangun dilihat dari kemampuannya meningkatkan kesejahteraan warga negaranya dan dengan demikian pemerintah makin tergantung pada pebisnis. ‘isu politik sentral dalam kapitalisme… [adalah] hubungan antar bisnis dan pemerintah atau dari perspektif lebih jauh, antara ekonomi dan negara (Heilbroner, 1993). Khusus dalam bidang pendidikan, dari banyak data empiris, kebijakan pemerintah sering counter-produktif, yaitu tidak menghasilan pendidikan atau produktivitas lebih baik. Meskipun banyak contoh reformasi yang berhasil, kebijakan sering tidak dirumuskan sesuai dengan bagaimana lembaga pendidikan berfungsi dalam prakteknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;MacDonald dalam bab 2 menyatakan bahwa pendidikan masal yang umurnya sekitar seabad nampak tidak berperan mengubah gap kaya-miskin di Inggris yang sekarang ditandai dengan peran demokrasi sebagai alat mempertahankan kekuasaan. Tahun 1987-88, sekolah diberi kebebasan mengelola keuangan sendiri, dan atas persetujuan orang tua murid dapat melepaskan diri pengaruh pemerintah lokal. Pada saat sama, kurikulum nasional diberlakukan dan disupervisi oleh pejabat pusat yangtidak berpengalaman dan/atau tidak kompeten. Kurikulum sekolah dasar dikonsentrasikan secara sempit pada keterampilan dasar dan akuntabilitas penyampaiannya diuji dengan tes, sementara itu dalam kurikulum sekolah menengah masalah personal, sosial dan semua yang kondusif untuk pendidikan kewarganegaraan atau politik dimarjinalisasi. Semua hal tersebut disiapkan untuk menaikkan usia anak meninggalkan sekolah (sampai usia 16 tahun pada tahun 1972). Akibatnya diperlukan kurikulum dan pedagogi (terutama sekolah menengah) yang lebih relevan dengan kehidupan dan pada gilirannya sekolah perlu melakukan interpretasi lebih liberal tentang &lt;em&gt;subject matter&lt;/em&gt;, integrasi tematik disiplin ilmu di sekitar isu kemanusiaan, belajar yang lebih didasarkan pada inkuiri dan pendekatan &lt;em&gt;child-centered&lt;/em&gt;. Solusi-solusi manajerial untuk mencapai target nasional dan berkurangnya peran pemerintah lokal menyebabkan terlihatnya kelemahan kurikulum nasional. Akhir tahun 90-an, kelemahan diatasi dengan pensiun awal, penolakan siswa &lt;em&gt;recalcitrant&lt;/em&gt; dan teralienasi, sehingga timbul masalah baru, yaitu sulitnya merekrut guru. Akhir tahun 1980-an, kondisi konservatif serupa juga terjadi di Amerika, hanya ‘sentralisasi’ berada pada level negara bagian. Benang merah yang mendasari kondisi konservatif adalah ekonomi, yang menurut Small (1907) –pengagum Adam Smith- makin terpisah dari filosofi moral, makin seperti ‘tata bahasa tanpa bahasa’, yang melahirkan prinsip ‘&lt;em&gt;everything counts and nothing matters&lt;/em&gt;’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;John Schostak dalam bab 3 menyatakan bahwa sejarah tahun 1980-an dan 1990-an merupakan reaksi pada tahun 1960-an dan 1970-an dengan Amerika dan Inggris masuk ke neo-konservatisme yang menuntut ‘&lt;em&gt;back to basics&lt;/em&gt;’ dan nilai-nilai keluarga serta menolak pendidikan dan politik trendi dan progresif dengan tekanan pada efisiensi sekolah. Dalam keadaan tersebut, kurikulum adalah manifestasi dari bagaimana pengalaman subjektif orang-orang lain dikemas dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah, atau dengan kata lain, kurikulum adalah suatu proses yang memunculkan subjektivitas kultural. Studi psikoanalisis, feminisme dan studi kultural menunjukkan bahwa proses rekayasa individu –atas dasar efisiensi misalnya- selalu menuntun pada resistensi, sehingga dalam masyarakat timbul polarisasi individu/kelompok dominan (D) dan individu/kelompok yang didominasi atau disebut Orang lain (O). Beberapa alternatif yang dapat ditempuh O terhadap D adalah (a) solusi fundamentalis atau kultus: percaya penuh D; (b) solusi hermeneutik: berusaha memahami D; (c) solusi radikal/ revolusioner/ subversif: membuat diskursus alternatif; (d) solusi menyerah/ kepatuhan total atau sebagian; (e) solusi ‘hidup tenang’: kamuflase yang menuntun pada apati bukan pada perubahan sosial yang riil; (f) solusi penolakan tersembunyi/ gerakan bawah tanah dan (g) solusi penolakan terbuka/ gerilya /perang terbuka. Dalam rangka mencari kepercayaan atau kepatuhan total, antisipasiyang mungkin dari D adalah: (a) memakai diskursus kasih saying: D adalah (sepertinya) untuk kepentingan O; (b) memakai kekuasaan, ancama, teror; (c) peniadaan hak individu; (d) memakai diskursus salahkan/ puji diri sendiri. Dalam mengevaluasi hubungan D dan O ada tiga jenis evaluasi yang tersedia: (a) evaluasi birokratik: menerima nilai pejabat dan memberinya informasi yang membuatnya mencapai yang dicanangkannya; (b) evaluasi otokratik: menyediakan informasi pada lembaga pemerintah yang mengontrol alokasi sumber daya dan (c) evaluasi demokratis: pengaturan informasi sehingga timbul dialog rasional antara D dan O. Kutipan dari MacDonald (1996) menutup tulisan Schostak, ‘lebih penting dari skor sains dan matematika adalah keterlibatan generasi akan datang&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dalam mempertahankan demokrasi dan menolong orang lemah: anak-anak, orang tua, orang sakit, terbelakang, buta huruf, tidak punya rumah dan orang yang lapar’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Peter Posch dalam bab 4 mengidentifikasi dua megatrend masyarakat. Pertama, individualisasi: (a) Di satu sisi, pembebasan dari ikatan tradisional juga meningkatkan harapan bebas dari interferensi industrial dan admnistratif, di sisi lain, makin tergantung pada pasar kerja dan cara hidup baku yang mendukungnya, seperti pendidikan, konsumsi, tawaran produk (Beck, 1992) dan (b) pergeseran dari etika kewajiban dan tanggungjawab ke etika pengembangan diri. Kedua, fragmentasi dunia kerja: makin banyak tenaga paruh waktu atau ‘tenaga portfolio’ (kontrak kerja dalam waktu tertentu). &lt;em&gt;Eroupean Round Table Industrialist&lt;/em&gt; (1994) menyatakan tuntutan bahwa tenaga kerja (a) secara teoritis memahami hubungan kompleks, (b) secara teknis berhadapan dengan alat kerja yang dikontrol program, (c) secara sosial mampu bekerja sama dalam tim, (d) secara organisasional mampu melaksanakan tugas-tugas organisasi, pelaksanaan dan evaluatif dan (e) secara emosional menghayati pekerjaan,sehingga dapat mengembangkan diri. Tiga implikasi megatrend tersebut bagi sekolah adalah (a) delegasi keputusan kurikulum pada sekolah, (b) network sosial dengan lembaga, kelompok dan orang dalam komunitas lokal yang harus dikonstruksi oleh sekolah dan (c) kurikulum beragam dan bekerja sama dengan lembaga lain sehingga bermacam kebutuhan peserta didik dapat dilayani (Elliot, 1996), dan (d) sekolah makin dituntut memperjelas makna belajar dan hubungannya dengan kehidupan personal dan di masa depan. Networks menjadi perhatian dalam tulisan ini. Kondisi yang mendukungnya ialah (a) penekanan pada pelatihan, (b) menggunakan kontak dengan guru lain secara sistematis, (c) berbagai jenis dukungan finansial dan (d) keterlibatan guru dalam kegiatan masyarakat setempat.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Networks dinamik beda dengan dan mempunyai kelebihan dari struktur hiearkis. Dalam network dinamik (a) terdapat hubungan simetris, bukan atasan-bawahan, (b) keseteraan &lt;em&gt;cost-benefit&lt;/em&gt;, (c) komunikasi berlanjut, (d) masalah dan tujuan ditetapkan bersama, (e) durasi keterlibatan bervariasi, (f) dapat terlibat lebih dari satu networks, dan (f) pengetahuan tidak diterapkan secara instrumental untuk memecahkan masalah tapi secara holistik dengan melibatkan kognisi, orientasi nilai dan perasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Marie Brennan dan Susan Noffke dalam bab 5 menyatakan bahwa sekolah di satu sisi dituntut untuk selalu mengikuti perubahan, sementara di sisi lain diharapkan menyediakan institusi relatif stabil yang atas dasar identitas dan komunitas dibentuk. Sekolah juga mempunyai sejarah mereproduksi inekualitas dalam masyarakat (apple, 1979), namun juga sejarah dalam menciptakan komunitas dan sebagai tempat perjuangan lokal.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dua proyek yang diamati tulisan ini adalah (a) SIP (&lt;em&gt;School Improvement Project&lt;/em&gt;) 1982-1990 di Victoria Australia dan (b) Proyek Kurikulum Afrika dan Afrika-Amerika (PKAA). SIP mengekplorasi penggantian sistem inspeksi kualitas yang sentralistik dengan program partisipasi lokal dalam evaluasi. Jadi terhadap tiga jenis evaluasi yang dikemukakan macDonald (birokratik, otokratik dan demokratik), ditambahkan lagi evaluasi partisipatorik (Brown, 1982). SIP menekankan pengembangan berlanjut kapasitas berbagai komunitas yang minat dan latarbelakangnya beda untuk terus &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; dan mempertanyakan nilai yang diberlakukan di sekolah. Sekolah diperlakukan sebagai mikro-kosmos&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dari masyarakat dan sistem sekolah selalu berada dalam posisi mendukung perubahan mendasar dan sistemik. Basil Bernstein (1996) yang mendiskusikan demokrasi dan hak pedagogis menyatakan tiga hal perlu ada agar tercipta sekolah demokratis: (a) pemberian kesempatan pada individu, (b) inklusi sosial, intelektual, kultural dan personal, dan (c) partisipasi (politis) bukan saja dalam hal diskursus tapi juga dalam hal outcome. PKAA adalah upaya mengatasi kurikulum Amerika yang umumnya berssifat rasis dan mengatasinya dengan cara melengkapinya dengan sejarah dan peradaban Afrika dan Afrika-Amerika. Secara formal upaya dimulai tahun 1987. Tahun 1990-an, fokus awal diperumit dengan diskusi tentang pendidikan ‘multi-kultural’ yang oleh sebagian partisipan dianggap upaya membelokkan fokus awal. Banyak waktu digunakan untuk merumuskan tujuan umum yang menekankan keberagaman kelompok dan komitmen bersama mengubah sistem pendidikan yang rasis menjadi yang fair dan ekuitabel bagi semua orang (1993). Dari sudut pandang perubahan pendidikan perlu dicatat (a) metodologi kaji tindak yang diimport dari luar pada konteks yang mengakui atau mendukungnya tidak mendukung upaya yang dilakukan, (b) perlu upaya menangani konflik dengan komunitas yang sebelumnya memang sedang konflik dan (c) bagi mereka yang terlibat dan identitasnya cukup berlainan (misal, orang Eropa-Amerika dalam PKAA) perlu mengkaji identitas personalnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;J. Myron Atkin dalam bab 6 mencatat bahwa faktor di luar berpengaruh banyak pada apa yang terjadi di dalam kelas: kondisi kerja, status, otoritas, sosialisasi professional, susunan organisasi. Tulisan ini menambahkan dua hal lagi (a) image bahan ajar, khususnya sains dan implikasinya pada perubahan sosial dan (b) kepercayaan, keterampilan dan perspektif umum guru (yang pada dasarnya adalah tujuan semua perubahan pendidikan). Guru memberikan alasan beda mengapa sains penting: untuk persiapan di dunia kerja, memahami implikasinya pada masyarakat, mempunyai nilai estetik karena mengungkap pola dan keteraturan, dst. Image sains pada abad 19 adalah mengagungkan Tuhan dan perlunya patuh pada orang tua; ada akhir abad 19 sains adalah untuk melatih pemikiran sejalan dengan populernya psikologi &lt;em&gt;faculty&lt;/em&gt;; ada awal abad 20 sains adalah studi tentang alam yang dipersepsi setara alam rural murni dan indah, kontras dengan alam urban yang kotor, jahat dan penuh dosa; pada tahun 1920-1930-an sains adalah untuk mengurangi kerja kasar dan mengurangi penyakit dan selepas perang dunia II sains adalah bidang yang harus diwaspadai aplikasinya. Beberapa image kontemporer tentang sains (a) fokus pada sains yang dapat diterapkan dengan segera, (b) guru menghadapi siswa yang bervariasi latar belakangnya dibanding dengan 30 tahun lalu, (c) guru sains yang mempersepsi dirinya ‘serba eksak’ berhadapan dengan penerapan sains –misalnya menentukan lokasi pembuangan sampah- yang memerlukan pertimbangan berbagai aspek yang tidak ‘eksak’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Christine Finnan dan Henry M. Levin dalam bab 7 mencatat pendapat Mead bahwa kultur itu seperti ikan yang tidak sadar hidupnya berada di&lt;span&gt; &lt;/span&gt;air. Dua fitur kultur digunakan tulisan ini ialah (a) kultur berada pada level masyarakat/ kelompok orang (misal Barat, masa kanak-kanak, &lt;em&gt;schooling&lt;/em&gt;), lokal (berdasarkan geografi, agama, etnis, okupasi, tempat kerja/sekolah,dst.) dan personal (untuk memahami dan membentuk interaksi antar orang) dan (b) fitur yang nampak kontradiktif dari kultur yaitu di satu sisi konservatif namun di sisi lain selalu berubah. Lima kepercayaan dan asumsi yang mendasari kultur sekolah adalah (a) Ekspektasi sekolah pada siswa: sekolah miskin menekankan kepatuhan dan disiplin, sementara sekolah kaya menekankan berpikir kritis; (b) ekspektasi siswa terhadap sekolah: sebagian resisten karena mendapat pengaruh dari masyarakat sekitarnya; sebagian sukses karena percaya pendidikan jalan ke kesuksesan, dst.; (c) karakteristik sekolah: sekolah miskin ditandai rendahnya percaya diri guru, pendapat pihak luar (orang tua, dst.) dianggap penghambat dan resisten terhadap perubahan, sekolah kaya sebaliknya; (d) praktek sekolah: misi yang didasarkan filosofi jelas (Montesori, &lt;em&gt;bilingual&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; open learning&lt;/em&gt;, dst.), menuntun ke praktek yang jelas; ekspektasi dan siswa rendah&lt;span&gt; &lt;/span&gt;menuntun ke praktek memorisasi dan pengajaran keterampilan dasar, dst. dan (e) tuntutan perubahan: jika keputusan diambil pada level birokrasi lebih tinggi, tuntutan berubah rendah. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam kultur sekolah adalah sejarah sekolah. ASP (&lt;em&gt;Accelerated School Project&lt;/em&gt;) adalah suatu reformasi pendidikan yang mengakui pentingnya kultur sekolah. Sejak 1986, ASP menyebar ke sekitar 1000 sekolah dasar dan lanjutan di 40 negara bagian, 12 pusat pendukung dan 300 tenaga terlatih yang memantau sekolah. Proyek bertujuan untuk mempercepat proses belajar terutama bagi siswa yang berisiko gagal dengan sekolah mengambil keputusan dalam hal-hal: eksplorasi semua dimensi sekolah, konstruksi tujuan dan visi, menetapkan prioritas, sistem pengelolaan yang melibatkan semua orang, pendekatan sistematis pada kaji-tindak dan pemecahan masalah serta tentang pedagogi menyeluruh yang menyatakan semua sumberdaya sekolah dikerahkan untuk menghadapi tantangan proses belajar mengajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber dalam bab 8 mengamati dekade lalu ditandai oleh reformasi sekolah yang bertema otonomi sekolah, desentralisasi dan devolusi baik di negara yang dulunya sentralistik (Austria dan negara Eropa lainnya) maupun di negara yang dulunya desentralistik (Inggris, Wales, dst.). Menurut ‘teori strukturasi rasional-kontinjen, organisasi itu sifatnya berorientasi tujuan dengan sistem perencanaan rasional dan dengan struktur objektif, sementara pengembangan organisasi dilaksanakan oleh konstruktor organisasi atas dasar kalkulasi rasional (Turk, 1989). Kontinjen artinya tergantung variabel konteks. Sementara itu, teori mikro-politik berpandangan (a) organisasi mempunyai beragam tujuan dan pengaruh, meskipun demikian teori (seharusnya) tidak menjelaskan konsensus sebagai suatu bentuk dominasi, eliminasi, pre-emprif atau menutup-nutupi konflik, (b) pelaku mengejar kepentingannya masing-masing sesuai nilai yang dianutnya, dan (c) perjuangan strategis dan penuh konflik terjadi atas definisi dan struktur organisasi. Beberapa masalah teori mikro-politik adalah (a) harus dapat menjelaskan bagaimana organisasi relatif stabil dan bertahan suatu waktu tertentu, (b) pengaruh dari luar organisasi, (c) tidak melihat politik semata sebagai pengkhianatan, konspirasi dan akumulasi pengaruh atau lawan dari kebenaran dan penalaran. Organisasi hampir tidak dapat dikonsepsi semata sebagai konglomerasi kekuasaan dan permainan (yang ditandai oleh resiko, pemenangan, &lt;em&gt;cheating&lt;/em&gt;, dst.). Konsensus tidak semata diperoleh lewat negosiasi eksplisit, tapi juga bersumber dalam lebenswelt yang dapat dipahamkan sebagai konsensus historis generasi terdahulu yang kurang lebih dikenal luas serta yang sekarang direproduksi lewat tindakan. Doyle dan Ponder (1976) menafsirkan kesulitan yang dialami sekolah dasar ketika tugas pembelajaran makin kompleks dikenalkan sebagai proses negosiasi. Tugas makin kompleks menyebabkan siswa tidak nyaman dan ‘mengancam’ untuk tidak disiplin dan dengan demikian secara implisit melakukan negosiasi dengan pendidik: tugas lebih sederhana yang dikompensasi dengan disiplin di kelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Bridget Somekh dalam bab 9 mengawali tulisannya dengan parabel yang membawa pesan bagaimana seseorang dapat menikmati pendidikan/ pengembangan profesionalisme yang dikatakan bagus tapi kemudian setelah berhasil malah membuatnya menjadi budak orang lain. Kaji tindak adalah model perubahan yang tidak demikian, sembari menekankan prinsip kepemilikan dan profesionalisme guru. Kaji tindak dirumuskan dari riset perilaku individu dan kelompok oleh Lewin, Schon, dst. Tahun 1970-an kaji tindak disempurnakan di Impington dan secara luas didukung &lt;em&gt;Education Act&lt;/em&gt; tahun 1944. Tahun 1980-1990-an, pemerintahan Thatcher mempunyai posisi oposisional –menekankan dualisme yang lekat dalam masyarakat Barat- dengan misalnya ucapan yang mengkultuskan individualisme lewat perkataannya ‘Tidak ada yang disebut masyarakat itu’.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Posisi oposisional tersebut tidak sejalan dengan tema kaji tindak yang menolak posisi oposisional, dan malah mengeksplorasi serta membangun hubungan antara teori dan praktek, objektivitas dan subjektivitas, dst., sehingga&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dengan demikian tema kaji tindak adalah ‘tugas dobel’ yang dilaksanakan bersama-sama/ kolektif atau apa yang dinamakan Gidden ‘demokrasi dialogis’. Namun, tetap harus diingat bahwa ketika mendeskripsikan diskursus sebagai ‘&lt;em&gt;regimes of truth&lt;/em&gt;’ yang dikonstruksi orang-orang sepemikiran, Foucault memprediksi ketidak-terhindaran semua sistem –seberapa besarnya pun niatnya untuk memberdayakan orang lain- mengembangkan ortodoksi dan mekanisme untuk memaksakannya dan beliau menyarankan gagasan dalam bukunya ‘sebagai alat… untuk menghancurkan sistem kekuasaan, termasuk kekuasaan yang darinya bukunya tersebut terbit’ (Foucault, 1975).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Angel Perez Gomez, dalam bab 10 menyarikan studi kasus praktek mengajar (&lt;em&gt;practicum&lt;/em&gt;) delapan calon guru di delapan universitas di Andalusia (Spanyol). Tiap studi kasus berlangsung selama empat bulan. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan persisten adalah (a) tekanan kultur sekolah dan kelas yang harus diikuti jika ingin berhasil, (b) ketidaknyamanan personal dalam menguasai situasi kompleks dan asing serta ketakutan tidak dihargai sebagai guru, (c) teori yang dipelajari ditemukan tidak berguna untuk dipraktekkan di lapangan, (d) kekurangan acuan dan laternatif teoritis/praktis untuk men’judge’ semua yang diamati dan dialami dan (e) tidak berfungsinya supervisor sebagai penyeimbang kultur sekolah dan kelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Susan Groundwater Smith dan Rob Walker dalam bab 11 menyajikan studi dan catatan kasus sekolah dasar Hathaway (SDH) yang terletak di daerah migran di Sidney. Organisasi kelas SDH didesain ‘terbuka’: tiap hari berurusan dengan kebijakan dari atas dan dengan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya. Studi SDH diinisiasi satu dekade lalu oleh Susan Groundwater Smith dengan tujuan untuk memperoleh catatan kasus untuk digunakan dalam program pendidikan guru. Di dunia pendidikan, studi kasus dikembangkan sejalan dengan proyek untuk mengimplementasikan perubahan kurikulum dan organisasi. Studi kasus merupakan tilikan sentral saat ini dalam kaji tindak, evaluasi, pengembangan kurikulum dan studi kebijakan. Dari sudut pandang metodologi, studi kasus sering dianggap istilah &lt;em&gt;pantechnicon&lt;/em&gt; yang setara dengan riset kualitatif dan secara longgar dikaitkan dengan istilah-istilah evuvurncaluasi ilmunatif dan responsif, riset partisipan, etnografi pendidikan, riset naturalistik, dst. Studi SDH menyatakan perlunya bertanya secara eksplisit mengapa masalah tertentu saja yang dikaji dan mengapa masalah yang lainnya tidak dikaji. Hal lain yang juga dikaji SDH adalah perlunya guru dapat mengembangkan kaleidoskop permasalahan: fakta-fakta dapat disusun berulang-ulang untuk sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda. Hal lainnya lagi adalah terdapat dua makna author; (a) membuat deskripsi koheren bagi diri sendiri dan (b) membuat deskripsi ‘ko-author’ dengan periset. Tahun 1970an Lawrence Stenhouse mendesain penelitian membandingkan interview (‘sejarah oral’) yang datanya dicari oleh Lawrence Stenhouse dan Jean Rudduck dengan observasi (‘etnografik’) yang datanya dicari oleh Stephen Ball dan Rob Walker. Dengan mengacu ke Alfred Schutz, Stephen selalu menyatakan bahwa interview sebagai suatu konstruksi sosial yang tidak dapat diperlakukan sebagai data yang lepas konteks (&lt;em&gt;decontextualized data&lt;/em&gt;); persoalan serupa juga diamati Stephen dan Walker dalam memisahkan etnografer dari etnogarfi yang dibuatnya. Isu tersebut diberi tekanan oleh Stenhouse untuk membuat &lt;em&gt;archives&lt;/em&gt; data yang padanya komunitas peneliti dapat menyumbang dan menggunakannya sebagai sumber analisis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Christine O’Hanlon dalam bab 12 mencatat bahwa sejak tahun 1970an Eropa dan Amerika turun pertumbuhan ekonomi, pengaruh politik global dan legitimasi kulturalnya. Hal tersebut menyebabkan munculnya diskursus-diskursus reflektif dan kritikal: teori kritikal, fenomenologi, etno-metodologi, Marxisme, eksistensialisme dan pasca-modernisme. Tema-tema tersebut dalam fokus akademis dipadukan dengan perspektif konstruksionisme sosial, dekonstruksionisme dan pasca-modernisme. Dalam perspektif pasca-modern masyarakat dipandang sebagai text serta teks ilmiah dan akademik sendiri dipandang sebagai tindakan retorik yang tidak mempunyai legitimasi logis atau empiris (inheren) ….(tapi adalah) representasi ideologi, kelompok dan kepentingan berbeda-beda. Dalam dunia pendidikan, tekanan &lt;em&gt;critique&lt;/em&gt; ideologi dan pasca-empiris tersebut mempertanyakan pendidikan guru tradisional yang menekankan kemampuan akademis dan intelektual, sementara pengetahuan dan pengalaman praktis dianggap sebagai insidental dan bahkan ditiadakan karena dianggap subjektif atau anekdotal jika digunakan sebagai bukti dalam karya tulis dan disertasi. Praktek tradisional menuntut praktisi patuh pada suatu ‘otoritas’ yang dibangun dari pengalaman praktis. Hanya dengan cara demikian guru memperoleh pengetahuan praktis dan &lt;em&gt;standards of excellence&lt;/em&gt; yang dengannya kompetensi praktisnya dapat dievaluasi. Sekarang ini, debat tentang pedagogi … mengabaikan bentuk keseluruhan ‘kurikulum’ dalam semua level dan gagal untuk menempatkannya dalam faktor sosio-kultural kompleks yang lebih luas yang berkaitan dengan &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; ekonomi, politik dan strategis dalam masyarakat Barat… Sayangnya, kurikulum nasional tidak mengijinkan prinsip atau bahan ajar yang disusunnya untuk didebat, hanya detil-detilnya yang dapat dikaji ulang…[Padahal hal yang diperlukan adalah misalnya] pengembangan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;profesional guru menjadi pendidikan guru ketika teori kritikal tentang situasi pengajaran memberi kesempatan pada guru untuk menjelaskan dan memahami bagaimana pembelajaran dikontrol faktor-faktor di luar kelas dalam konteks masyarakat dan politik. Profesional dalam bidang pendidikan perlu mengenali bahwa pengetahuan pedagogi dan kurikulum selalu problematik dan dengan demikian selalu terbuka untuk dikaji, dinilai dan direvisi secara seksama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Akhirnya, Lawrence Ingvarson dalam bab 13 mencatat tahun1973 &lt;em&gt;labor government&lt;/em&gt; mengeluarkan Karmel Report yang isinya mengenai pengembangan profesional menyatakan bahwa suatu tanda okupasi berketerampilan sangat tinggi adalah proses persiapannya sesuai standar dari praktisi itu sendiri dan pengembangan selanjutnya juga sebagian besar adalah tangungjawab profesi tersebut…Kenyataannya guru mempunyai sedikit kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan organisasi guru lebih peduli pada pelayanannya pada industri, bukannya pada pengembangan keahlian yang dianggap tugas pemberi pekerjaan. Sekarang, kita mempunyai manajemen berbasis sekolah, tapi guru mempunyai kesempatan lebih sedikit dalam pengembangan profesi(onal)nya, kecuali dalam lingkup tujuan yang secara sentral ditetapkan dalam &lt;em&gt;school charters&lt;/em&gt; dan kurikulum. Seperempat abad setelah Karmel Report, hampir semua negara bagian mempunyai budget pengembangan profesi(onal). Tapi, di Victoria missalnya, aktivitas dibatasi oleh&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;school charters&lt;/em&gt; yang prioritasnya ditetapkan negara bagian dan pendidikan in-service yang &lt;em&gt;school-focused&lt;/em&gt; bergeser ke pengembangan staf yang dikontrol manajemen.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tahun 1993, sebagai bagian dari kampanye, &lt;em&gt;federal labor government&lt;/em&gt; memberi dana 60 juta AUD untuk program nasional pengembangan professional (NPDP)…Tapi, dana dapat digunakan hanya untuk tujuan yang ditetapkan pemerintah federal atau prioritas nasional seperti misalnya kurikulum nasional. Asesmen standar dan kinerja untuk sertifikasi dikembangkan NBPTS (&lt;em&gt;National Boards for Professional Teaching Standards&lt;/em&gt;) Amerika. Asesmen serupa hendaknya meliput sekurang-kurangnya (a) standar pembelajaran, (b) struktur insentif, (c) infrastruktur pembelajaran profesional dan (d) sertifikasi profesional yang kredibel dan &lt;em&gt;voluntary&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Diambil dari:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 34.55pt; text-align: justify; text-indent: -34.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Dodi Sukmayadi..2004. &lt;em&gt;Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi &lt;/em&gt;(Book Report . Altrichter, Herbert dan Elliott, John (2000), Ed., &lt;em&gt;The Images of Educational Chang&lt;/em&gt;e, Open University Press, Buckingham). Bandung Program Pasca Sarjana- Universitas Pendidikan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-4476310179648806906?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/4476310179648806906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=4476310179648806906' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4476310179648806906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/4476310179648806906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/image-perubahan-pendidikan-images-of.html' title='Image Perubahan Pendidikan (The Images of Educational Change)'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-8770470112576056182</id><published>2009-01-12T02:52:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.919-08:00</updated><title type='text'>Makna Baru Perubahan Pendidikan (The New Meaning of Education Change)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah Pengantar, buku Fullan, Michael G. dan Stiegelbauer, Suzanne (1991), 2nd, The New Meaning of Education Change, Teacher College Press, N.Y. membahas makna baru perubahan pendidikan dalam tiga bagian, yang masing-masing terdiri atas enam bab, kecuali bagian dua yang hanya terdiri dari empat bab. Judul ketiga bagian tersebut adalah (I) Memahami Perubahan Pendidikan, (II) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Lokal dan (III) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Regional dan Nasional. Adapun judu-judul keenambelas bab adalah sebagai berikut: (1) Tujuan dan Sistematika Buku, (2) Sumber-Sumber Perubahan Pendidikan, (3) Makna Perubahan Pendidikan, (4) Sebab dan Proses Inisiasi, (5) Sebab/Proses Implementasi dan Kontinuasi, (6) Merencanakan, Melaksanakan dan Menanganai Perubahan, (7) Guru, (8) Kepala Sekolah, (9) Siswa, (10) Administratur Distrik, (11) Konsultan, (12) Orang Tua dan Komunitas, (13) Pemerintah, (14) Persiapan peofesional Guru, (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (16) Masa Depan Perubahan Pendidikan. Berikut adalah substansi tiap bab dimaksud.&lt;span id="more-2742"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 1 membahas tujuan dan sistematika buku. Bab 2 menyajikan tiga sumber perubahan pendidikan adalah: (a) bencana alam, (b) pengaruh faktor luar dan (c) kontradiksi internal. Tipologi perubahan pendidikan disajikan dalam gambar berikut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="javascript:if(confirm('http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture11.jpg%20%20\n\nThis%20file%20was%20not%20retrieved%20by%20Teleport%20Pro,%20because%20it%20is%20addressed%20on%20a%20domain%20or%20path%20outside%20the%20boundaries%20set%20for%20its%20Starting%20Address.%20%20\n\nDo%20you%20want%20to%20open%20it%20from%20the%20server?'))window.location='http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture11.jpg'" tppabs="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture11.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-2735" title="picture11" src="file:///D:/DL/dl1/teleport/akhmadsudrajat/akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture11.jpg" tppabs="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture11.jpg" alt="picture11" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dikatakan bahwa perubahan pendidikan pada tahun 1960-an dan reformasi berbasis kompetensi 1980-an yang mencoba ‘to legislate learning’ adalah tipe IV. Selanjutnya, dicatat opportunisme dalam perubahan pendidikan ‘sebagai ”cara murah”untuk menyelesaikan tekanan birokratis atau politis…agar distrik nampak up-to-date dan progresif di mata masyarakat atau untuk “melakukan sesuatu” untuk suatu kelompok tertentu’ (Berman dan McLaughlin, 1978). Atau, inovasi masih dilihat sebagai alat sekelompok orang untuk mengontrol kehidupan orang lain dan anak-anaknya menurut konsepsinya sendiri (Whiteside, 1978). Inovasi gagal menyentuh hal pokok yang dituju perubahan pendidikan: ‘Buat apa pendidikan sebenarnya? Manusia dan masyarakat seperti apa yang diinginkan? Metode dan organisasi kelas serta bahan ajar apa yang diperlukan? Pengetahuan mana yang paling berharga? (Silberman, 1970). Perubahan pendidikan menyentuh hanya perubahan tingkat pertama, yaitu: perubahan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas aktivitas yang dilakukan sekarang tanpa ‘mengubah fitur organisasional dasar, tanpa mengubah secara substantif cara siswa dan pendidikan menjalankan peran mereka’ (Cuban 1988). Perubahan tingkat kedua –di mana cara fundamental seperti tujuan,struktur dan peran baru diubah menjadi, misal, berorientasi pada kultur kerja kolaboratif- tidak tersentuh: menurut peribahasa Cina, ‘bahan berubah, tapi supnya tetap sama’ .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 3 membahas makna perubahan secara umum, subjektif dan objektif serta implikasinya. Dalam makna secara umum ditemukan bahwa ‘tiap upaya untuk pre-emprif konflik, argumen atau protes dengan perencanaan rasional… seberapa rasionalnya pun … tetap harus memberi waktu untuk impuls penolakan. Reformer telah mengasimilasi perubahan …mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun… Jika mereka mengingkari orang lain kesempatan waktu setara, mereka pada dasarnya memperlakukan orang lain seperti boneka yang dapat diatur sesuai kehendaknya (Marris, 1975). Dalam makna subjektif ditemukan, tekanan kelas bagi guru ‘tekanan segera dan kongkrit, sekitar 200.000 pertemuan per tahunnya; tekanan multidimensionalitas dan simultanitas; adaptasi kondisi selalu berubah atau unpredictability dan tekanan untuk terlibat dengan siswa’ (Huberman, 1983; Crandall et. al., 1982). Inovasi adalah acts of faith. Mereka harus percaya inovasi akan berhasil dan berguna, meski hasil segera tidak terlihat (House, 1974). Dalam makna objektif dinyatakan tiga komponen program atau kebijakan: (a) materi baru atau revisi, (b) pendekatan pembelajaran dan (c) kepercayaan (misal, asumsi dan teori yang melandasi suatu program atau kebijakan). Tentang implikasi perubahan pendidikan dikatakan ada enam aspek yang dapat diamati (a) the soundness dari perubahan yang diusulkan, (b) memahami kegagalan perubahan yang direncanakan dengan baik, (c) petunjuk untuk memahami hakekat dan feasibilitas suatu perubahan, (d) realitas status-quo, (e) kedalaman perubahan dan (e) pertanyaan tentang penilaian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 4 mencatat bahwa tekanan untuk perubahan menurun saat adopsi yang diikuti dengan implementasi (Berman dan mcLaughlin, 1979). Model perubahan mempunyai empat komponen (a) inisiasi, mobilisasi atau adopsi, (b) implementasi (biasanya 2-3 tahun pertama sejak adopsi), (c) kontinuasi, inkorporasi, rutinisasi atau institusionalisasi dan (d) outcome. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inisiasi adalah (a) keberadaan dan kualitas inovasi, (b) akses pada informasi, (c) advokasi dari atas(an), (d) advokasi guru, (e) agen perubah eksternal, (f) tekanan, dukungan atau apati masyarakat, (g) sumber dana: lokal, negara bagian atau federal, (h) orientasi birokratis dan pemecahan masalah. Akhirnya, konsiderasi dalam perencanaan untuk adopsi paling baik jika mengkombinasikan 3R: (a) Relevansi: dilihat dari praktikalitas dan kebutuhan, (b) Readiness: tergantung pada kapasitas dan kebutuhan dan (c) Resources/ ketersediaan dukungan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 5 menyajikan tiga kategori faktor dalam proses implementasi (1) karakteristik proyek inovasi atau perubahan: kebutuhan, kejelasan, kompleksitas dan kualitas/ praktikalitas, (2) Karakteristik atau peranan lokal: distrik, komunitas, kepala sekolah, guru, dan (3) faktor eksternal: pemerintah dan agensi lainnya.Tema-tema dalam proses implementasi adalah (a) membangun visi, (b) perencanaan evolusioner, (c) pengambilan inisiatif dan pemberdayaan, (d) pengembangan staf dan asistensi sumber daya, (e) monitoring/pemecahan masalah Peters (1987) dan (f) restrukturisasi. Selanjutnya, ada empat tilikan tidak predictable yang ternyata penting dalam proses implementasi: (a) inisiasi dan partisipasi aktif, starting small and thinking big, bias untuk tindakan dan belajar sambil bekerja, (b) tekanan dan dukungan, (c) perubahan perilaku dan kepercayaan dan (d) masalah kepemilikan perubahan pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam Bab 6 disajikan alasan mengapa perencanaan perubahan gagal: asumsi dan cara berpikir keliru tentang perubahan, diantaranya, ‘melompat’ dari rencana pribadi ke implementasi publik (Lighthall, 1973), kekuasaan legal atau organisasional diandalkan sebagai motor perubahan (Sarason, 1971) dan fallacy rasionalisme: dunia social ingin diubah dengan argumen rasional. Alasan lain mengapa perencanaan gagal ialah menangani masalah tidak terpecahkan, karena beda nilai yang dianut dan kesempurnaan teknis serta tidak memperhitungkan faktor yang berpengaruh. Untuk sukses menurut harry Truman dan Pierre Trudeau ‘we need more one armed economist…[when frustrated by the advice] on the one hand … on the other hand’. Niat baik dan gagasan baik adalah perlu tapi tidak cukup untuk tindakan yang konsisten (Sarason, 1990). Kiat lain ialah (a) ‘sedikit kekaburan mungkin esensial agar kebijakan dapat diterima…mungkin lebih efektif dalam waktu pendek untuk berkonsentrasi pada legislasi baru’, dan (b) menggunakan pendekatan developmental: mulai dari hal yang paling mungkin terus berkembang ke hal-hal lain (Sarason, 1971).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 7 sampai dengan bab 12 -(7) Guru, (8) Kepala Sekolah, (9) Siswa, (10) Administratur Distrik, (11) Konsultan, (12) Orang Tua dan Komunitas- masuk ke dalam bagian II, yaitu bagian yang membahas perubahan pendidikan pada tingkat lokal. Bab 7 membahas kenyataan bahwa perubahan pendidikan tergantung pada yang dilakukan dan dipikirkan guru: persoalannya sesederhana dan sekompleks itu (Sarason, 1971) dan jika program berhasil, guru dilupakan; tapi jika gagal, guru disalahkan. Suatu faktor efektivitas kelas dan sekolah adalah kualitas guru. Sebagai indikator kualitas, dari sampel guru di Ontario, Kanada, Rees dkk. (1989) menemukan bahwa 71% guru wanita dan 64% guru laki-laki di SD menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir; sementara itu, 56% guru wanita dan 37% guru laki-laki di SL menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. Dalam tiga dari empat kelompok guru tersebut, satu dari lima guru memikirkan untuk tidak jadi guru lagi dan satu dari lima guru laki-laki SL mempertimbangkan untuk tidak jadi guru lagi. Beberapa kesulitan guru adalah (a) beban kerja multi-dimensi (Sarason, 1982; h. 126), (b) lebih peduli pada identitas diri bukan pada kebersamaan dalam suatu komunitas… tidak dilibatkan dalam persoalan yang menyangkut sekolah umumnya (Goodlad, 1984; h. 123), (c) transfer informasi sesama guru cenderung personal, bukan profesional (House dan Lapan, 1978; h. 122); dan (d) perlu keluar dari ‘tugas’ tradisional untuk menyatakan kepemimpinannya (Barth, 1990; h 141). Model sekolah yang ‘ideal’ adalah sebagai berikut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="javascript:if(confirm('http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture22.jpg%20%20\n\nThis%20file%20was%20not%20retrieved%20by%20Teleport%20Pro,%20because%20it%20is%20addressed%20on%20a%20domain%20or%20path%20outside%20the%20boundaries%20set%20for%20its%20Starting%20Address.%20%20\n\nDo%20you%20want%20to%20open%20it%20from%20the%20server?'))window.location='http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture22.jpg'" tppabs="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture22.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-full wp-image-2736" title="picture22" src="file:///D:/DL/dl1/teleport/akhmadsudrajat/akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture22.jpg" tppabs="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/11/picture22.jpg" alt="picture22" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 8 mencatat beberapa hal tentang kepala sekolah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Jumlah tugas kepala sekolah lanjutan sebanyak rata-rata 149 tugas per hari. 59% diantaranya diinterupsi, 84% diantaranya berlangsung antara 1-4 menit, dan 17% berkaitan dengan pengajaran (Martin dan Willower, 1981). Studi pada periode 1910 sampai 1980-an menunjukkan ‘meskipun gaya kepemimpinan beda, peran manajerial, bukan kepemimpinan pembelajaran, mendominasi kepala sekolah (Cuban, 1988: 84).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Smith dan Andrews (1989) mendukung temuan Louis dan Miles (1990): tidak ada dikotomi waktu untuk manajerial, operasi dan relasi distrik (34% vs 39%) dan perbaikan program instruksional (41% vs 27%).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Studi Interaksi Kepala Sekolah-Guru (PTI) menunjukkan selama periode 3 tahun ada 1855 intervensi pada kepala sekolah yang berkenaan dengan masalah organisasi (36%), konsultasi dan penguatan (24%), monitoring dan evaluasi (22%), pelatihan dan informasi (7%) dan lain-lain (11%)…Kepala sekolah sebagai fasilitator perubahan berkorelasi 0.76 dengan kesuksesan seluruhnya; sekolah dengan gaya inisiator paling sukses, diikuti oleh kepala sekolah gaya manajerial dan kepala sekolah gaya perespon (Hall &amp;amp; Hord, 1987).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Studi pada 137 kepala dan wakil kepala sekolah menunjukkan selama 5 tahun terakhir tuntutan tugas makin tinggi sementara keyakinan akan efektivitasnya makin menurun (Educon, 1984). Kurang dari 10% kepala sekolah yang termasuk ke dalam ‘pemecah-masalah sistematik’ (level tertinggi dari empat level efektivitas) (Leithwood dan Montgomery, 1986).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Studi pada 2500 guru dan 1200 kepala sekolah, menunjukkan kepala sekolah terlibat dalam empat interaksi strategis dengan guru: (a) penyedia sumber daya, (b) sumber daya pembelajaran, (c) komunikator dan (d) ‘hanya untuk penampilan’. Rating positif dari guru terhadap pemimpin kuat, rata-rata dan lemah masing-masing sebanyak 90%, 52% dan 33% (Smith dan Andrews, 1989). Porporsi kepala sekolah wanita di SD maupun di SL cenderung rendah: 20-50% dan 5-20% (Marshall dkk., 1989; Mertz,dkk., 1989; Schneider, 1988); 5, 14, 23% dan 36, 42, 47 % (studi 44 sekolah besar tahun 1972,1982 dan 1986); 19% dan 4% (Wisconsin, 1986-87, Schneider, 1988); 25% dan 8% (statistik nasional, Marshall dkk., 1989);18% dan 11% (Ontario, 1990).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 9 diawali dengan pertanyaan Bowles dan Gintis (1976), ‘ mengapa dalam suatu masyarakat demokratis, kontak riil pertama seorang individu dengan suatu lembaga formal bersifat sangat anti-demokratis’. Ketika orang memikirkan perubahan pendidikan mereka memikirkan dampak perubahan tersebut pada peserta didik dari sudut pandang keterampilan, sikap dan pekerjaannya di masa yang akan datang, mereka jarang berpikir tentang bagaimana melibatkan mereka dalam kehidupan organisasi (termasuk organisasi sekolah). Kalau pun program semacam itu ada, peserta didik cenderung mengalami resistensi, ‘selama ini mereka memperlakukan kita seperti bayi, sekarang mereka mencoba memperlakukan kita seperti seorang dewasa’. Dari sampel sebesar 3593 siswa, siswa SD, SMP dan SMA masing-masing 41%, 33% dan 25% berpikir gurunya tidak memahami mereka; masing-masing 19%, 16% dan 13% menyatakan mereka ditanya bagaimana atau materi yang harus diajarkan dan masing-masing 29%, 26% dan 50% menyatakan kelas membosankan . Firestone dan Rosenblum (1988) merinci lima faktor yang mempengaruhi komitmen guru dan siswa: (a) kebermaknaan program, (b) keterkaitan dengan lingkungan sekitarnya, (c) kejelasan aturan dan peran guru dan siswa, (d) ekspektasi guru dan siswa dan (e) rasa hormat dan perhatian guru dan siswa. Komitmen guru dan siswa juga dapat diperoleh dari inovasi baru-baru ini tentang pembelajaran kooperatif yang pada prakteknya adalah mengurangi metode ceramah sebanyak 20% (dari 48% menjadi 28% dari total waktu pembelajaran).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 10 menyajikan karakteristik superintenden yang jumlahnya sekitar 95% laki-laki dan yang menangani sistem sekolah yang siswanya bervariasi dari 100 sampai 200.000 siswa dan masa kerja rata-rata 3 tahun (di Amerika) dan 6-7 tahun di Kanada. Review Goldhammer (1977) dari 1954 sampai 1974 menunjukkan pergeseran peran superintenden dari juru bicara dan manajer eksekutif sistem sekolah homogen ke situasi di mana negosiasi dan manajemen konflik berbagai kelompok kepentingan. Studi Duignan (1979) pada delapan superintenden di Alberta menemukan bahwa ‘tiap hari superinintenden terlibat dalam rata-rata 26 diskusi yang merupakan 70% waktu kerjanya; 70% dari diskusi tersebut dilakukan dengan trusti sekolah, pejabat pusat dan administratur sekolah, kurang dari 7% dengan guru dan kurang dari 1% dengan siswa. Studi Fullan dkk. (1987) tentang 200 pejabat supervisi di 26 distrik sekolah (seperempat jumlah di seluruh provinsi) menemukan mereka menekankan sistem (bukan sekolah), serta berpikir reflektif (bukan parsial) dan generalis (bukan spesialis). Studi LaRoque dan Coleman (1989a: 169) menyusun hipotesis etos distrik positif yang ditandai dengan enam fokus (a) pembelajaran, (b) akuntabiltas, (c) perubahan, (d) perhatian pada stakeholder, (e) komitmen bersama dan (f) dukungan komunitas. Atas studi pada lima sekolah (dua diantaranya dikategorikan berhasil), Louis (1989) menyusun diagram karaktersitik hubungan distrik dan sekolah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 11 merangkum ke dalam istilah konsultan sejumlah pekerjaan/peran sebagai berikut: ahli materi, kurikulum, program, guru, pengembangan organisasi, agen perubahan, direktur proyek, agen penghubung,dst. Studi Ross dan Reagan (1990) tentang dua belas konsultan kurikulum distrikdi dua sekolah menyimpulkan bahwa ‘ perencanaan sistem, networking dengan tim konsultan dan mengkoordinasikan dukungan atasan adalah kunci konsultan berpengalaman’. Hall dan Hord (1984) menemukan bahwa CF (change facilitator, yang boleh jadi adalah konsuln rq56jasdtan distrik, guru hli dan kadang-kadang wakil kepala sekolah) terlibat dalam interaksi lebih kompleks, dibanding kepala sekolah yang berinterkasi dengan cepat, sederhana dan to the point. Miles dkk. (1988; 188) menyarankan seleksi konsultan didasarkan pada latar belakang pendidikan (broad based); mudah menjalin hubungan interpersonal; keahlian kependidikan, pengalaman kepelatihan, kependidikan dan organisasi sebelumnya, serta inisiatif dan energi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 12 diawali dengan pernyataan implisit bahwa sekolah itu sebenarnya milik orang tua siswa dan komunitasnya (cf. Gold dan Miles, 1981). Namun, jika guru dan administatur pendidikan yang terlibat masalah pendidikan 40-60 jam per minggunya sulit memahami perubahan pendidikan, maka orang tua dan komunitas lebih sulit lagi memahaminya, padahal secara umum, makin orang tua siswa terlibat makin baik pencapaian belajar siswa (cf. Mortimore dkk., 1988). Menurut Epstein dan Dauber (1988) peran yang mungkin diperankan orang tua siswa adalah (a) sukarelawan, asisten, dst, (b) tutor/ pembimbing di rumah, (c) komunikator dan (d) dewan penasihat. Evaluasi SDC (System Development Corporation) atas 869 sekolah di 369 distrik menetapkan 34 sekolah dengan orang tua siswa asisten bayaran dan 17 sekolah dengan orang tua sebagai tutor dirumah. Survey Becker (1981) terhadap 3700 guru SD dan 600 kepala sekolah menunjukkan sedikitnya keterlibatan orang tua siswa. Survey Kanada tahun 1979 pada 2000 orang tua siswa menunjukkan 63.4% diantaranya tidak bersedia menjadi anggota komite penasihat rumah-sekolah. Studi Lucas, dkk. (1978-79) tentang content analysis notulen komite dari sepuluh SD dan lima SL menunjukkan (a) isu pedagogi jarang dibicarakan, (b) diskusi sifatnya informasi, rekomendasi hanya 4%-nya dan (c) orang tua sebagai inisiator topik diskusi di SD dan SL masing-masing adalah 27.6% dan 17.9%, sementara guru/administrator sebagai inisiator masing-masing adalah 67.2% dan 78%. Studi Schaffarzick (Boyd, 1978: 613) tentang 34 distrik di San Fransisco menunjukkan 62% keputusan kurikulum tidak melibatkan komunitas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bab 13 sampai dengan bab 16 -(13) Pemerintah, (14) Persiapan Profesional Guru, (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan - masuk ke dalam bagian III, yaitu bagian yang membahas tentang perubahan pendidikan pada tingkat regional dan nasional. Bab 13 membahas (a) peran pemerintah federal Amerika dalam dunia pendidikan yang makin menurun, tapi tetap masih signifikan misalnya lewat ‘semboyan’ A Nation at Risk dan (b) –seperti ditekankan Elmore dan McLaughlin (1988)- ketidak-selarasan waktu perumusan kebijakan yang tergantung pada ‘electoral time’ dan implementasi kebijakan yang tergantung pada ‘administrative or practice time’. Sementara itu, di Kanada keberadaan federal dalam dunia pendidikan diakui ‘sepanjang tidak ada seorang pun menamakannya kebijakan pendidikan dan sepanjang tidak ada tuntutan eksplisit sebagai imbalan atas uang dari Ottawa tersebut’. Keterlibatan pemerintah federal di Amerika ada dua jalur (a) Beberapa program yang disponsori pemerintah federal sejak 1965: Title I, Title IV, Basic Skills, Emergency School Aid Act, Follow Through, Title VII, Bureau of Education Handicapped dan Vocational Education dan (b) Riset, Development dan Diseminiasi (RDD) dilembagakan pada periode 1972-1985 dengan pendirian the National Institute of Education (NIE). Tahun 1985, NIE direorganisasi menjadi OERI (the Office of Educational Research and Improvement). Di Kanada, ketidakpuasan pada sistem pendidikan dan lambatnya perubahan pendidikan, pemerintah (bukan hanya menteri pendidikan) melaksanakan reformasi komprehensif dan fundamental. Sebagai contoh British Columbia merencanakan Year 2000: A Curriculum and Assessment Framework for the Future yang mengatur ulang sistem pendidikan dengan 3 prinsip pembelajar dan peserta didik, 12 prinsip kurikulum, 5 prinsip asesmen dan evaluasi serta 3 prinsip pelaporan. Akhirnya, pedoman untuk pemerintah dalam melaksanakan perubahan pendidikan adalah (a) agar memperbaiki kapasitas agensi untuk mengimplementasikan perubahan, (b) menjelaskan dan bekerja sama dengan agensi lokal tentang makna, ekspektasi dan kebutuhannya, (c) fleksibel dalam implementasi, (d) staf diberi kesempatan mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya selain memfasilitasi implementasi, (e) menekankan pada perubahan mendasar profesi guru, praktek dan organisasi pembelajaran serta pola dan pengalaman belajar peserta didik dan (f) menerapkan strategi komprehensif, multifaceted, saling terkait, jangka pendekmenengah dan panjang secara persisten (serta tidak meminta perubahan segera dan total dalam waktu singkat).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam bab 14 dicatat bahwa ‘membantu orang lain berubah tanpa kita menyadarinya sendiri sama halnya dengan penyajian produk atau pelayanan yang tidak atau sedikit signifikansinya untuk pertumbuhan intelektual kita’ (Sarason, 1972). Pengembangan guru adalah belajar berkelanjutan dan tidak terpisahkan dari perkembangan sekolah dan dengan demikian lebih baik dari sekedar inovasi-inovasi yang berkesan tidak berkelanjutan selain sama-sama memerlukan biaya,waktu dan tenaga besar. Terdapat 1400-an lembaga pendidikan guru di Amerika dan 50an fakultas pendidikan di Kanada yang didalamnya ditemukan banyak mata kuliah yang tujuannya ‘kompleks dan tidak jelas’. Menurut Hollingsworth (1989) setidaknya ada tiga basis pengetahuan yang diperlukan agar guru efektif (a) materi –isi dan cara pembelajarannya, (b) manajemen umum dan pedagogi instruksional dan (c) ekologi kelas –pengetahuan tentang bagaimana peserta didik belajar, bagaimana mendiagnosa dan mengevaluasi proses dan outcome belajar. Kenyataannya, calon guru yang umumnya menganggap transisi menjadi guru pengalaman besar –atau bahkan traumatik- lebih disibukkan oleh (a) pendidikan yang sifatnya individualistik padahal kenyataan di lapangan memerlukan bukan hanya pendidikan yang invidualistik dan (b) oleh ‘struktur hari sekolah; kurikulum, isi dan materi baku; serta tekanan pada ketertiban, kontrol dan kesibukan peserta didik… [bahwa] tidak ada justifikasi pada tilikan “pengalaman praktis itu perlu” …[maka harap diingat bahwa kata Dewey] keliru mengasumsikan tiap pengalaman mempunyai nilai instrinsik selain mampu untuk membangkitkan kualitas respon tertentu dari seseorang’ (Tabachnick, dkk., 1979-80). Akibatnya, fakultas pendidikan kehilangan baik respektabilitas universitas mau pun efektivitas di lapangan. Diantaranya untuk memberi bekal lebih dan menangani tingkat alih profesi guru ke pekerjaan lain (30% dalam dua tahun pertama, 40-50% dalam tujuh tahun pertama dibanding dengan 6% secara keseluruhan), sejak dua dekade lalu digulirkan program induksi, yaitu suatu program seksama untuk mendukung guru baru. Induksi pada gilirannya memunculkan kesempatan pengembangan profesionalisme baru, yaitu mentoring. Namun, program induksi dan mentoring menghadapi kendala biaya yang mahal. Akhirnya, alternatif pengembangan profesionalisme lainnya adalah sertifikasi alternatif,yaitu sertifikasi yang diberikan oleh praktisi dan mempunyai kecenderungan standarnya disesuaikan dengan kebutuhan employer (pihak yang memperkerjakan guru).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian besar pembahasan pada bab 15 masih tentang guru. Pertama disajikan beberapa alasan mengapa pengembangan profesional guru tidak berhasil. Selanjutnya, disajikan empat contoh kasus pengembangan profesional yang berhasil. Pengembangan profesional guru tergantung pada motivasi dan kesempatan (dalam arti ketersediaan program dan pengorganisasian secara struktural dan normatif yang memungkinkan berlangsungnya pengembangan profesional). Akhirnya setelah pengembangan profesionalisme administatur dan konsultan disinggung, disajikan saran pengembangan profesional: (a) fakultas pendidikan dan sekolah sebaiknya menggunakan tiga strategi saling terkait –penggantian staf, inovasi program dan produksi pengetahuan, (b) semua staf di lembaga dan pada level mana saja harus belajar, berkoordinasi dan terintegrasi pengembangannya dan (c) semua pengembangan profesional arus memenuhi dua syarat (c1) mengarah ke atribut pengembangan profesional yang berhasil pada sebanyak-banyak aktivitas yang dapat dilaksanakan dan (c2) tujuan akhir pengembangan profesional tidak semata pada mengimplementasikan inovasi tapi untuk menciptakan kebiasaan dan struktur individual dan organisasional yang membuat belajar berkelanjutan bagian berharga dan endemic dari kultur sekolah dan pembelajaran.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Akhirnya, pada bab terakhir, yaitu bab 16 disajikan enam karakteristik perubahan pendidikan di masa depan diantaranya sebagai koreksi/alternatif atas model rasional di mana pihak otoritas perubahan meningkatkan advokasi, legislasi, akuntabilitas, sumber daya, dst. berhadapan dengan pihak penerima perubahan dengan pintu lebih tertutup lagi, resistensi kolektif, isolasionisme, keluar dari dunia pendidikan, dst. Keenam karakteristik tersebut adalah: pergeseran dari politik negatif berupa resistensi dari bawah, indoktrinasi dari atas, dst. menjadi politik positif: (a1) fokus pada prioritas: ‘kita tidak dapat melaksanakan x’ tidak dapat diterima lagi, kecuali dengan alasan ‘karena kita sedang mengerjakan y, z, dst.’. dan (a2) mulai dari lingkungan terdekat. pergeseran dari solusi monolitik/seragam ke solusi-solusi alternatif/ variatif yang bercirikan (b1) sekolah sebagai pusat pembaharuan berkelanjutan, (b2) perubahan yang dilaksanakan dengan proses komunikasi, negosiasi dan kolaborasi, (b3) membangun kapasitas sekolah untuk mampu terus berubah dan (b4) mengurangi atau bahkan meniadakan ketergantungan pada solusi yang ditawarkan pihak lain. pergeseran dari inovasi ke pengembangan kelembagaan, suatu inovasi sering ditujukan untuk menyelesaikan suatu masalah (‘memadamkan kebakaran’) atau sekedar fashion saja, sementara pengembangan kelembagaan berfokus pada peningkatan kinerja dan kapasitas kerja lembaga. pergeseran dari pengembangan profesional individual ke pengembangan profesional interaktif/ aliansi di mana ditekankan akses dan perhatian pada gagasan dan praktek rekan kerja/ lembaga lain. peningkatan apresiasi pada dilemma-dilema pembaharuan: visi jelas vs. pikiran terbuka, inisiatif vs.pemberdayaan, tekanan vs. dukungan, start small vs. thing big, mengharapkan hasil vs. sabar dan persisten, mengalami ketidakpastian vs. merasa puas, top-down vs. bottom up, pola umum vs.keunikan. pergeseran dari model rasional ‘if…then…’ atau, jika gagal ‘if…only …’ ke ‘if I …’ dan/atau ‘If we …’. Diambil dari: Dodi Sukmayadi..2004. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. Fullan, Michael G. dan Stiegelbauer, Suzanne(1991), 2nd, The New Meaning of Education Change, Teacher College Press, N.Y.). Bandung Program Pasca Sarjana- Universitas Pendidikan Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-8770470112576056182?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/8770470112576056182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=8770470112576056182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8770470112576056182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/8770470112576056182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/makna-baru-perubahan-pendidikan-new.html' title='Makna Baru Perubahan Pendidikan (The New Meaning of Education Change)'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-7212378117266641623</id><published>2009-01-12T02:50:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.932-08:00</updated><title type='text'>Difusi Inovasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Pengantar buku (edisi ketiga) Diffusion of Innovations, The Free Press, N.Y., Rogers, Everet M. (1983), penulisnya, menjelaskan bahwa edisi pertama terbit tahun 1962 dan edisi kedua (dengan judul Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach dan dengan penulis kedua F.Floyd Shoemaker) terbit pada tahun 1972. Dalam Pengantar tersebut disajikan (a) kesamaan difusi dengan riset persuasi: (a1) bukan komunikasi satu kepada orang banyak, tapi sesuatu yang dikerjakan bersama orang lain, dan (a2) tidak semata berpusat pada aksi atau isu (menjual produk, aksi atau kebijakan), tapi juga menjual kredibilitas diri dan/atau orang lain; (b) kontras difusi (fokus lebih pada adopsi/ keputusan untuk menggunakan dan mengimplementasikan gagasan baru, bukan pada implementasi aktual atau konsekuensi inovasi) dengan riset persuasi (fokus lebih pada pengubahan sikap, bukan perilaku); (c) pergeseran studi difusi dari yang mendasarkan pada model komunikasi linier (proses di mana pesan ditransfer dari sumber ke penerima) ke yang mendasarkan pada model komunikasi konvergensi (proses saling tukar informasi diantara sesama partisipan) dan (d) definisi inovasi difusi sebagai pada dasarnya suatu proses sosial di mana informasi tentang gagasan baru yang dipersepsi secara subjektif dikomunikasikan.&lt;span id="more-2740"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan pada bab 1 sampai dengan bab 11 masing-masing diberi judul (1) Unsur-unsur Difusi, (2) Sejarah Riset Difusi, (3) Kontribusi dan Kritik riset Difusi, (4) Lahirnya Inovasi, (5) Proses Keputusan Inovasi, (6) Atribut Inovasi dan Tingkat Adopsinya, (7) Kategori Keinovatifan dan Kategori Adopter, (8) Kepemimpinan Opini dan Network Difusi, (9) Agen Perubahan, (10) Inovasi dalam Organisasi dan (11) Konsekuensi-konsekuensi Inovasi. Bab 1 membahas empat unsur inovasi (a) inovasi (b) saluran komunikasi, (c) waktu dan (d) sistem sosial. Inovasi -sering disinonimkan dengan teknologi- suatu gagasan, praktek atau objek yang dipersepsi baru oleh seorang individu atau suatu unit adopter. Inovasi dibedakan dari reinvensi: tingkat inovasi diubah atau dimodifikasi pengguna pada proses adopsi dan implementasi. Inovasi sering berupa cluster teknologi karena dengan demikian akan lebih mudah untuk diadopsi. Bab 1 selanjutnya meringkas materi yang akan dibahas pada bab 4 sampai dengan bab 11.&lt;br /&gt;Bab 2 diawali dengan komentar Elihu Katz dkk. (1963) ‘berbagai tradisi riset ironisnya ditemukan secara sendiri-sendiri’. Tradisi riset adalah sederet penelitian tentang topik sejenis di mana penelitian sebelumnya berpengaruh pada penelitian sesudahnya. Tradisi riset pada dasarnya adalah suatu ‘universitas tidak terlihat’. Riset difusi dimulai di Perancis, Inggris dan Jerman-Austria di awal abad 20. Di Perancis, Tarde (1903) mengemukakan hukum imitasi ‘dari 100 inovasi, 10 akan menyebar luas sementara 90 akan dilupakan’. Selanjutnya disajikan sembilan tradisi riset: antropologi, sosiologi awal, sosiologi pedesaan, pendidikan, sosiologi medis, komunikasi, pemasaran, geografi dan sosiologi umum. Akhirnya, disajikan delapan tipe riset difusi (1) kapan inovasi diketahui, (2) tingkat adopsi inovasi, (3) keinovatifan, (4) kepemimpinan opini, (5) jaringan difusi, (6) tingkat adopsi dalam berbagai sistem sosial, (7) saluran komunikasi dan (8) konsekuensi inovasi.&lt;br /&gt;Bab 3 menyajikan kontribusi riset difusi berupa (a) model difusi sebagai paradigma konseptual yang relevan dengan banyak disiplin ilmu, (b) sifat pragmatisnya dalam memecahkan masalah penggunaan hasil riset, (c) memungkinkan periset mengemas ulang temuan empirisinya dalam bentuk generalisasi lebih teoritis lagi dan (d) metodologinya yang jelas dan relatif facile. Selanjutnya,disajikan kritik pada riset difusi: (a) bias pro-inovasi: inovasi harus diadopsi semua anggota suatu sistem sosial dengan cara cepat dan inovasi tidak boleh ditolak atau direinvensi, (b) bias menyalahkan individu: kecenderungan menyalahkan individu, bukan sistem, (c) masalah ingatan: ketidakakuratan responden dalam mengingat proses adopsi inovasi dan (d) isu ekualitas: inovasi cenderung memperlebar kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, disajikan prosedur meta-riset, yaitu sintesis riset empiris menjadi kesimpulan umum yang lebih teoritis: (a) perumusan konsep (dimensi yang dinyatakan dalam istilah paling mendasar), (b) menyusun hubungan dua konsep dalam bentuk hipotesis teoritis, (c) menguji hipotesis teoritis dengan hipotesis empiris yang dinyatakan dalam postulat hubungan dua konsep operasional, (d) uji hipotesis empiris dengan uji signifikansi atau uji lainnya dan (e) hipotesis teoritis ditolak atau diterima berdasarkan ditolak atau diterimanya hipotesis empiris.&lt;br /&gt;Bab 4 menyajikan enam momen proses inovasi yang merupakan paduan dari (a) analisis kebutuhan (momen pertama: perumusan masalah atau analisis kebutuhan), (b) tracer study (momen kedua sampai ke lima: penelitian murni/terapan, pengembangan, komersialisasi/ sosialisasi serta difusi dan inovasi) dan (c) studi difusi klasik (momen ke lima dan ke enam: difusi/ inovasi dan konsekuensi inovasi). Masalah yang umumnya ditemukan adalah rendahnya penjualan hasil penelitian yang sudah dipatenkan (di Amerika mislanya adalah 1500 dari 30000 paten). Pengembangan teknologi mengalami empat tahap (a) trial and error dalam skala kecil, (b) imitasi, (c) kompetisi tekonologi dan (d) keluar dari kompetisi dan melakukan standarisasi produk. Beberapa konsekuensi inovasi adalah (a) ke enam momen difusi inovasi mungkin tidak semuanya ada dalam suatu inovasi, (b) kemungkinan ketidak sinkronan konsekuensi yang diharapkan dengan yang benar-benar terjadi, dan (c) pelebaran kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, dibahas (a) kelemahan tracer study: tergantung ada tidaknya publikasi, sedikitnya data fase difusi/ adopsi dan sifatnya rekonstruksi rasionalistik dan (b) inovasi organisasi yang muncul secara individual, kolektif, atas instruksi atasan atau didorong inovasi sebelumnya mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi.&lt;br /&gt;Bab 5 membahas lima proses keputusan inovasi (a) mengetahui inovasi, (b) peruasi, (c) keputusan, (d) implementasi (seutuhnya atau lewat reinvensi) dan (e) konfirmasi atau meniadakan/mengurangi disonansi, suatu ketidaksetimbangan internal yang disebabkan (e1) kebutuhan, (e2) belum mengadopsi sesuatu yang diinginkan atau (e3) setelah mengadopsi untuk meneruskan atau diskontinu. Inovasi dapat tidak dilanjutkan (diskontinu) karena (a) kecewa atau (b) diganti dengan invasi lainnya. Beberapa temuan proses keputusan inovasi adalah (a) Inovasi yang tingkat adopsinya tinggi tingkat diskontinu; (b) diskontinu cenderung dilakukan oleh adopter akhir; (c) riset selama ini kebanyakan riset variansi sehingga diperlukan riset proses; (d) beberapa saluran komunikasi difusi inovasi adalah media massa dan hubungan antar-pribadi serta saluran kosmopolit dan lokalit; (e) media massa dan saluran kosmopolit terutama penting pada tahap mengetahui inovasi; sementara hubungan antar-pribadi dan saluran lokalit terutama penting pada tahap persuasi; (f) media massa dan saluran kosmopolit lebih penting bagi adopter awal; (g) tingkat mengetahui inovasi lebih cepat dari tingkat adopsi dan (h) adopter awal mengalami proses keputusan inovasi lebih cepat.&lt;br /&gt;Bab 6 menyatakan bahwa tingkat inovasi dipengaruhi oleh satu atau beberapa karakteristik berikut: (a) keuntungan relatif, (b) kompatibilitas atau kekonsistenannya dengan nilai yang dianut, (c) kompleksitas atau tingkat kemudahan untuk dipahami, (d) triabilitas atau kedapat-dicobaannya dalam skala kecil dan (e) observabilitas atau keterlihatannya oleh orang/pihak lain. Tingkat adopasi dipengaruhi oleh (a) jenis keputusan inovasi (opsional, kolektif atau atas dasar otoritas), (b) jenis saluran komunikasi yang digunakan, (c) norma, sifat kesalingterhubungan individu, dst. dalam komunitas adopter dan (d) upaya agen perubahan. Selain itu, ditemukan bahwa (a) sampai tingkat kesadaran inovasi mencapai 20-30% tingkat adopsi rendah, sedangkan setelah ambang tersebut tingkat kesadaran dan tingkat adopsi meninggi dan (b) overadopsi adalah fenomena inovasi diadopsi padahal menurut para ahli sebaiknya tidak diadopsi.&lt;br /&gt;Bab 7 mencatat bahwa kontinum keinovatifan dapat dibagi menjadi lima kategori (a) invator, (b) adopter awal, (c) mayoritas awal, (d) mayoritas akhir dan (e) laggards. Masing-masing kategori tersebut mempunyai karakteristik (a) venturesome, (b) respectable, (c) deliberate, (d) skeptis dan (e) tradisional. Usia adopter awal relatif sama dengan adopter akhir hanya saja adopter awal cenderung lebih unggul dalam hal (a) pendidikan, (b) literasi, (c) status sosial, (d) mobilitas ke atas, (e) ukuran ladang, perusahaan, dst., (f) sikap terhadap kredit dan (g) tingkat spesialisasi pekerjaan. Selain itu, dalam hal kepribadian, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) empati lebih besar, (b) kurang dogmatis, (c) lebih mampu melakukan abstraksi, (d) lebih rasional, (e) lebih intelejen, (f) lebih mudah menerima perubahan, (g) lebih mampu mengangani ketidakpastian dan resiko, (h) lebih menghargai pendidikan dan sains, (i) kurang fatalis, (j) mempunyai motivasi pencapaian lebih besar, (k) aspirasi lebih tinggi pada pendidikan, pekerjaan, dst. Akhirnya, dalam hal perilaku komunikasi, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) partisipasi sosial lebih tinggi, (b) kontak sosial lebih banyak dengan sesamanya dan/atau dengan agen perubahan, (c) lebih kosmopolit, dan terekspose pada media massa, (d) lebih aktif mencari informasi dan lebih banyak tahu tentang inovasi dan (e) lebih tinggi kepemimpinan opininya.&lt;br /&gt;Bab 8 membahas model kepemimpinan opini aliran dua-langkah: pesan mengalir dari sumber via media massa ke pemimpin opini yang pada gilirannya menyampaikannya pada para pengikutnya. Model tersebut ditentang oleh model ‘jarum hipodermik’ di mana dipostulatkan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung, segera dan kuat pada individu-individu yang terkait dengan media massa, tapi tidak terkait satu dengan lainnya. Menurut teori Granovetter individu cenderung terkait dengan orang yang secara fisik dekat dan menurut atribut-atribut seperti kepercayaan, pendidikan dan status sosial relatif sama (homofili; kontras dengan heterofili di mana atribut-atribut tersebut relatif beda). Duff dan Liu (1975) menyatakan bahwa dalam satu network komunikasi, pertukaran informasi dari satu clique (yang ditandai dengan promiximitas komunikasi tinggi) ke clique lain dijembatani oleh proximitas komunikasi rendah yang heterofili (misal, dari clique berstatus sosial tinggi ke clique berstatus sosial lebih rendah). Beberapa temuan lainnya ialah (a) Dalam network heterofili, pengikut cenderung mencari pemimpin opini yang mempunyai status sosial, pendidikan, ekspose ke media massa, tingkat keinovatifan, tingkat kekosmopolitan dan tingkat kontak dengan agen perubahan lebih tinggi, (b) pemimpin opini lebih sejalan dengan norma sistem dibanding dengan pengikutnya, (c) pemimpin opini dapat dibedakan menjadi polimorfis (mempunyai opini dalam banyak bidang) atau monomorfis (mempunyai opini hanya dalam satu bidang), dan (d) network personal radial (dari satu ke banyak orang) lebih penting untuk inovasi dibanding dengan network interlocking di mana individu saling berinteraksi.&lt;br /&gt;Bab 9 membahas masalah yang dihadapi agen perubahan adalah (a) sebagai penengah antara agensi perubahan dan klien dan (b) kemungkinan kesulitan mengolah informasi yang cenderung melimpah; sementara itu, masalah aide lebih parah lagi karena kredibiltas kompetensi atau profesionalismenya diragukan. Tujuh peran agen perubah adalah (a) menumbuhkan kebutuhan dalam diri klien, (b) membangun hubungan pertukaran informasi, (c) mendiagnosa masalah klien, (d) menumbuhkan niat berubah pada klien, (e) menerjemahkan niat klien ke dalam tindakan, (f) menstabilkan adopsi dan mencegah diskontinu adopsi dan (g) mencapai hubungan terminal dengan klien (yaitu ketika klien berubah menjadi agen perubahan). Kesuksesan agen perubahan tergantung pada (a) upayanya menghubungi klien, (b) orientasinya yang lebih kepada klien, bukan pada agensi perubahan,(c) tingkat kesesuaian inovasi dengan kebutuhan klien, (d) empatinya kepada klien, (e) homofilitasnya dengan klien, (f) kredibilitasnya di mata klien, (g) tingkat kesejalanannya dengan pemimpin opini dan (h) kemampuan klien mengevaluasi inovasi. Selanjutnya, hubungan agen perubahan secara positif tergantung pada lebih tingginya klien dalam hal (a) status sosial, (b) partispasi sosial, (c) pendidikan dan (d) kekosmoplitannya. Akhirnya, juga dibahas mengenai sistem difusi sentralistik dipadu dengan sistem difusi desentralistik dan/atau penerapan kedua sistem tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam sistem difusi sentralistik, difusi dilakukan oleh pemerintah dan/atau ahli; sementara itu, dalam sistem difusi desentralistik, inovasi datang dari ekpserimentasi lokal yang sering dilakukan oleh pengguna itu sendiri dan/atau atas dasar saling tukar informasi untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Difusi lewat network horizontal dilakukan unit lokal dengan tingkat kemungkin reinvensi yang tinggi.&lt;br /&gt;Bab 10 mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem stabil dari sejumlah individu yang bekerja sama untuk mecapai tujuan bersama lewat suatu hiearki jabatan dan pembagian tugas. Inovasi dilakukan secara opsional, kolektif atau didasarkan pada otoritas atau inovasi sebelumnya . Sampai tahun 1970-an, inovasi dalam organisasi diteliti dengan riset variansi, yaitu diteliti korelasinya dengan sejumlah variabel bebas. Variabel bebas dan sifat korelasinya dengan keinovatifan (+ atau -) tersebut adalah (a) karakteristik pemimpin: sikap pemimpin terhadap perubahan (+), dst.; (b) karakteristik internal struktur organisasi: sentralisasi (-), kompleksitas (+), formalitas (-), kesalingterkaitan (+), ketersediaan cadangan (+), dst. dan (c ) karakteristik eksternal organisasi: keterbukaan sistem (+), dst. Riset variansi sekarang diganti dengan riset proses inovasi yang mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Dalam inisiasi terdapat tahap agenda setting (perumusan masalah) dan matching (penyelarasan masalah dan solusi), sementara dalam implementasi ada tahap redefinisi/ restruktrurisasi masalah, klarifikasi dan rutinisasi (hasil) inovasi.&lt;br /&gt;Akhirnya, bab 11 mendefinisikan konsekuensi inovasi sebagai perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial sebagai akibat dari adopsi suatu inovasi. Konsekuensi inovasi jarang diteliti karena (a) agensi perubahan memberi perhatian terlalu banyak pada adopsi dan mengasumsikan konsekuensi adopsi pasti positif, (b) metode riset survei mungkin tidak cocok untuk meneliti konsekuensi inovasi dan (c) sulitnya mengukur konsekuensi inovasi. Konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi (a) diinginkan vs. tidak diinginkan, (b) langsung vs. tidak langsung dan (c) diantisipasi vs. tidak diantisipasi; sementara itu, dari contoh penggunaan kappa besi di suku Aborijinal, diketahui tiga unsur intrinsik dari inovasi: (a) bentuk: penampakan fisik dan substansi inovasi; (b) fungsi: kontribusi inovasi pada cara hidup adopter dan (c) makna: persepsi subjektif dan sering di bawah sadar dari adopter terhadap inovasi. Hal lain yang berkaitan dengan konsekuensi inovasi adalah tingkat perubahan dalam sistem yang mungkin mengalami (a) kesetimbangan stabil (inovasi tidak menyebabkan perubahan dalam struktur dan/atau fungsi sistem sosial), (b) kesetimbangan dinamis (perubahan yang disebabkan inovasi setara dengan kemampuan sistem sosial untuk menanganinya), atau (c) disequilibrium (perubahan yang disebabkan inovasi terlalu cepat untuk dapat ditangani sistem sosial). Dengan demikian, tujuan dari inovasi adalah untuk mencapai kesetimbangan dinamis. Akhirnya, hal lainnya lagi yang harus dikaji dalam konsekuensi inovasi adalah cara mengatasi kenyataan bahwa inovasi sering memperlebar kesenjangan sosio-ekonomik masyarakat. Beberapa cara tersebut adalah (a) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak dibanding orang miskin: pesan disampaikan lewat (a1) cara masal seperti lewat radio atau televisi; penggunaan bahasa yang dimengerti orang miskin; penggunaan multi-media yang didasarkan kondisi sosial budaya orang miskin; penyampaian dalam kelompok kecil di mana orang miskin biasanya berkumpul, dan pengubahan fokus dari sasaran inovasi tradisional (yaitu pada kelompok yang paling berpotensi untuk berubah) ke kelompok yang paling tidak berpotensi untuk berubah; (b) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak pada hasil evaluasi inovasi dibanding orang miskin: pemimpin opini orang miskin harus ditemukan (meski pun relatif lebih sulit dibanding dengan menemukan pemimpin opini orang kaya) dan hubungan agen perubahan dikonsentrasikan pada mereka, aide dari kalangan orang miskin digunakan untuk menghubungi kelompok homofilinya dan kelompok formal di kalangan orang miskin diperkuat dan/atau dibina serta ( c) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai sumber daya lebih dibanding orang miskin: pemilihan inovasi yang cocok untuk orang miskin; membangun organisasi (misalnya koperasi) di kalangan orang miskin; memberi kesempatan orang miskin berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan inovasi; pengembangan programdan/atau agensi yang diperuntukkan khusus orang miskin dan pergeseran dari difusi inovasi yang datang dari riset dan pengembangan (R &amp;amp; D) formal ke penyebaran informasi tentang gagasan yang didasarkan pada pengalaman lewat sistem difusi desentralistik: sering untuk ikatan intelektual dari kebijakan konvensional adalah eksperimen di lapangan.&lt;br /&gt;Diambil dari:&lt;br /&gt;Dodi Sukmayadi..2004. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. Rogers, Everet M. (1983), 3rd, Diffusion of Innovations, The Free Press, N.Y). Bandung Program Pasca Sarjana- Universitas Pendidikan Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-7212378117266641623?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/7212378117266641623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=7212378117266641623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7212378117266641623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/7212378117266641623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/difusi-inovasi.html' title='Difusi Inovasi'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-3779858031241321313</id><published>2009-01-12T02:49:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.944-08:00</updated><title type='text'>10 Langkah Praktis untuk Menjaga Kehidupan Inovasi dalam Organisasi</title><content type='html'>&lt;div class="entry-content"&gt;     &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Joyce Wycoff (2004) mengemukakan tentang 10 langkah praktis untuk mempertahankan kehidupan inovasi dalam suatu organisasi. Kesepuluh langkah tersebut adalah:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hilangkan rasa takut dalam organisasi. Innovasi artinya melakukan sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itu mungkin akan gagal, jika orang-orang senantiasa diliputi ketakutan akan kegagalan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jadikan inovasi sebagai bagian dari sistem penilaian kinerja setiap orang. Tanyakan kepada mereka, apa yang akan mereka ciptakan atau tingkatkan pada masa-masa yang akan datang, kemudian ikuti kemajuannya.&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-748"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Dokumentasikan setiap proses inovasi dan pastikan setiap orang dapat memahami peran didalamnya dengan sebaik-baiknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan keluasaan kepada&lt;span&gt; &lt;/span&gt;setiap orang untuk dapat mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru (&lt;em&gt;new possibilities&lt;/em&gt;) dan berkolaborasi dengan orang lain, baik yang ada dalam organisasi maupun di luar organisasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pastikan setiap orang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dapat memahami strategi organisasi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan pastikan pula bahwa&lt;span&gt; &lt;/span&gt;semua usaha inovasi benar-benar sudah selaras dengan strategi yang ada.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajarkan setiap orang untuk mampu memindai lingkungan, seperti tentang trend baru, teknologi atau perubahan &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; pelanggan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajarkan setiap orang untuk menghargai keragaman, baik dalam gaya berfikir, perspektif,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pengalaman maupun keahlian, karena keragaman seluruh aktivitas ini merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam proses menuju inovasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan kriteria yang terukur dengan fokus pada cita-cita masa depan organisasi. Kriteria yang ketat&lt;span&gt; &lt;/span&gt;hanya akan menghambat terhadap pencapaian cita-cita dan melestarikan berbagai asumsi dan mindset masa lampau. Curahkan waktu untuk pengembangan dan kesuksesan yang hendak organisasi pada masa yang akan datang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Team Inovasi&lt;/em&gt; berbeda dengan team proyek regular. Oleh karena itu, dibutuhkan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;perlengkapan dan mindset yang berbeda pula. Sediakanlah pelatihan yang cukup sehingga setiap orang dapat bekerja dalam inovasi secara sukses.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kembangkan sistem pengelolaan gagasan dan tangkaplah &lt;span&gt; &lt;/span&gt;setiap gagasan untuk dikembangkan dan dievaluasi berbagai kemungkinannya&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Sumber:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adaptasi dari: Joyce Wycoff .2004. &lt;em&gt;Ten Practical Steps to Keep Your Innovation System Alive &amp;amp; Well. &lt;/em&gt;&lt;a href="javascript:if(confirm('http://thinksmart.com/%20%20\n\nThis%20file%20was%20not%20retrieved%20by%20Teleport%20Pro,%20because%20it%20is%20addressed%20on%20a%20domain%20or%20path%20outside%20the%20boundaries%20set%20for%20its%20Starting%20Address.%20%20\n\nDo%20you%20want%20to%20open%20it%20from%20the%20server?'))window.location='http://thinksmart.com/'" tppabs="http://thinksmart.com/"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"&gt;http://thinksmart.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-3779858031241321313?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/3779858031241321313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=3779858031241321313' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3779858031241321313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3779858031241321313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/10-langkah-praktis-untuk-menjaga.html' title='10 Langkah Praktis untuk Menjaga Kehidupan Inovasi dalam Organisasi'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-3037291141459920154</id><published>2009-01-12T02:45:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.951-08:00</updated><title type='text'>Strategi Pengembangan Sekolah Unggul</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sekolah unggul atau sekolah efektif tentunya merupakan dambaan kita semua. Untuk menuju ke arah sana dibutuhkan strategi yang tepat. Dalam hal ini, Fasli Jalal menyajikan sebuah tulisan tentang konsep strategi untuk menuju sekolah unggul. Dalam tulisannya, dikemukakan pula tentang arti, karakteristik, dan dimensi dari sekolah unggul serta kaitannya dengan gaya manajemen dan lingkungan organisasi. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang pemikiran dari Fasli Jalal tersebut, silahkan klik saja tautan di bawah ini&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a title="Konsep Sekolah Unggul" href="javascript:if(confirm('http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/02/konsep-sekolah-unggul.ppt%20%20\n\nThis%20file%20was%20not%20retrieved%20by%20Teleport%20Pro,%20because%20it%20is%20addressed%20on%20a%20domain%20or%20path%20outside%20the%20boundaries%20set%20for%20its%20Starting%20Address.%20%20\n\nDo%20you%20want%20to%20open%20it%20from%20the%20server?'))window.location='http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/02/konsep-sekolah-unggul.ppt'" tppabs="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/02/konsep-sekolah-unggul.ppt" target="_blank"&gt;Konsep Sekolah Unggul&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-3037291141459920154?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/3037291141459920154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=3037291141459920154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3037291141459920154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/3037291141459920154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/strategi-pengembangan-sekolah-unggul.html' title='Strategi Pengembangan Sekolah Unggul'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-2706666987035896712</id><published>2009-01-12T02:41:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.960-08:00</updated><title type='text'>Analisis Situasi sekolah dalam pengembangan KTSP</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;A. Rasional&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing sekolah. KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesuai dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. Akan tetapi, sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada, sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Keleluasaan sekolah dalam mengembangkan KTSP tentu harus diikuti dengan analasis situasi sekolah untuk mencapai lingkup standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan, di antaranya Standar Isi (SI)dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Permendiknas no 23 tahun 2006. Hasil analisis tersebut merupakan dasar pijakan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target-target yang ditetapkan, budaya yang akan dibangun, tujuan yang ingin dicapai, serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan bermutu di sekolah tersebut. Pencapaian tujuan pendidikan bermutu tersebut sesuai dengan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 5, yaitu&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-2483"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Penyusunan dan pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru (BSNP, 2006: 33). Tahap kegiatan penyusunan KTSP secara garis besar meliputi: analisis sekolah, penyiapan dan penyusunan draf, reviu dan revisi, serta finalisasi, pemantapan dan penilaian (cf. BSNP, 2006: 33). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;B. Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Tujuan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Analisis Situasi Sekolah adalah (1) memperoleh gambaran nyata kondisi sekolah dan (2) memperoleh gambaran nyata situasi sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;C. Analisis Konteks&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis konteks dalam pelaksanaan penyusunan KTSP berwujud evaluasi diri (&lt;em&gt;self evaluation&lt;/em&gt;) terhadap sekolah. Hal itu &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (&lt;em&gt;strengths, weaknesses, opportunities, dan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;threats&lt;/em&gt; ). Dalam hal ini dapat diterapkan kajian lingkungan internal untuk memahami &lt;em&gt;strengths&lt;/em&gt; atau kekuatan dan weaknesses atau kelemahan, serta kajian lingkungan eksternal untuk mengungkap&lt;span&gt; &lt;/span&gt;opportunities atau peluang dan threats atau tantangan. Adapun analisis konteks melalui SWOT terdiri atas hal-hal sebagai berikut (cf. BSNP, 2006: 32):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Visi, misi, dan tujuan sekolah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Identifikasi SI dan SKL &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kajian internal atau kondisi sekolah (kekuatan dan kelemahan) yang meliputi: (1) peserta didik, (2) pendidik dan tenaga kependidikan, (3)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;sarana dan prasarana, (4) biaya, (5) program-program&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kajian eksternal atau situasi sekolah (peluang dan tantangan) yang dilihat dari masyarakat dan lingkungan sekolah &lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang meliputi: (a) komite sekolah, (b) dewan pendidikan, (c) dinas pendidikan, (d) asosiasi profesi, (e)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dunia industri dan dunia kerja, (f) sumber daya alam dan sosial budaya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Berikut ini adalah penjelasan masing-masing&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Penetapan visi, misi, dan tujuan sekolah akan sangat berperan bagi pengembangan sekolah &lt;span&gt; &lt;/span&gt;di masa depan. Visi dan misi saling berkaitan. Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang sekoah&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang diinginkan di masa jauh ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Misi (mission) ditetapkan dengan mempertimbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas “dari luar”) dan keinginan “dari dalam” (yang antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Misi sebuah sekolah perlu mempertimbangkan misi induknya (dinas pendidikan kabupaten/kota). Misi &lt;span&gt; &lt;/span&gt;diperjelas dan dijabarkan dengan tujuan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;sekolah (goals). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Tujuan sekolah seharusnya tidak betentangan dengan visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan. Perumusan tujuan harus&lt;span&gt; &lt;/span&gt;nyata dan terukur. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Deskripsi visi, misi, tujuan seharusnya &lt;span&gt; &lt;/span&gt;(1) tidak bertentangan dengan visi, misi, tujuan dinas pendidikan dan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;koheren dengan renstra depdiknas, (2) mencerminkan dengan jelas kebutuhan lokal dan nasional atau bahkan internasional berkaitan dengan kemampuan lulusan, (3) jelas bagi pihak-pihak yang berminat, ketercapaian tujuan dapat diamati, ditunjukkan dan dapat diuji secara objektif, dipersepsi sebagai sesuatu yang berharga oleh seluruh pihak yang berminat, realistis, (4) secara tersurat ada prioritas &lt;span&gt; &lt;/span&gt;menghasilkan peserta didik &lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang bermutu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;2. Identifikasi SI dan SKL &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; pendidik di sekolah perlu melakukan identifikasi SI dan SKL. Identifikasi dapat dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut: membaca secara saksama, memahami, mengkaji, dan membedah SI dan SKL. Hal itu perlu dilakukan supaya penerapan SI dan SKL di sekolah dan terutama dalam pembelajaran &lt;span&gt; &lt;/span&gt;benar-benar baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;3. Situasi Internal atau Kondisi Sekolah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Peserta Didik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis&lt;span&gt; &lt;/span&gt;terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajaran. Analisi ini meliputi rata-rata kemampuan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;akademik peserta didik, minat, dan bakat peserta didik. Jadi,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan nonakademik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;b.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pendidik dan Tenaga Kependidikan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dimaksudkan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah. Analisis ini perlu &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dilakukan agar KTSP yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara maksimal.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dalam melakukan identifikasi, setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya, kelayakan fisik dan mental pendidik, latar belakang pendidikan dan/atau &lt;span&gt; &lt;/span&gt;sertifat keahlian, kompetensi pendidik (pedagogik,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kepribadian, profesional, sosial), rata-rata beban mengajar pendidik, rasio pendidik dan peserta didik, minat&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pendidik dalam pengembangan profesi, jumlah tenaga kependidikan dan rinciannya, kelayakan fisik dan mental tenaga kependidikan, jenis keahlian, latar belakang tenaga kependidikan, dan minat&lt;span&gt; &lt;/span&gt;tenaga kependidikan dalam pengembangan profesi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;c. Sarana dan Prasarana&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.(SNP pasal 42 ayat 1).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Perabot di antaranya meliputi meja, kursi, papan tulis yang ada di setiap kelas. Peralatan meliputi peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain (cf. SNP pasal 43). Media pendidikan di antaranya alat peraga, OHP, LCD, slide, gambar yang mendukung ketercapaian pembelajaran.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Yang termasuk dalam buku dan sumber belajar di antaranya adalah bahan cetakan baik jurnal, buku teks, maupun referensi; lingkungan; media cetak maupun elektronik; narasumber. Adapun bahan habis pakai meliputi bahan-bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan semua sarana itu meliputi kepemilikan, kelayakan, jumlah,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan kondisi sarana&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis atas prasarana&lt;span&gt; &lt;/span&gt;meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan sekolah, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan (SNP pasal 42&lt;span&gt; &lt;/span&gt;ayat 2). Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan prasarana di sekolah meliputi keberadaannya, rasio banyaknya, kelayakannya, dan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kebersihannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;d. Biaya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. Pembiayaan pendidikan terdiri atas &lt;strong&gt;biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal&lt;/strong&gt;. Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Biaya operasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis terhadap pembiayaan di sekolah mengarah pada kelemahan dan kekuatan pembiayaan di sekolah tersebut terhadap pengembangan dan pelaksanaan KTSP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;e. Program-program&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;KTSP disusun oleh sekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muatan lokal,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pemilihan kegiatan pengembangan diri, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;penentuan pendidikan kecakapan hidup, penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global),&lt;span&gt; &lt;/span&gt;program pembelajaran, program remedial, dan program pengayaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; atau tidaknya program, keterlaksanaan,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;serta kesesuaian program&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/ daerah merupakan analisis yang sangat diperlukan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk&lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengembangkan KTSP. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;4. Kondisi Masyarakat dan Lingkungan Sekolah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a. Komite&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang ikut berlibat dalam penyusunan KTSP di samping narasumber dan pihak lain yang terkait. Adapun tim penyusun KTSP terdiri atas pendidik, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Pada tahap akhir,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;komite sekolah juga harus&lt;span&gt; &lt;/span&gt;memberikan pertimbangan terhadap penyusunan KTSP.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dalam BSNP (2006:&lt;span&gt; &lt;/span&gt;5) disebutkan, pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan, dalam SNP Pasal 51 ayat 2 dinyatakan bahwa pengambilan keputusan pada sekolah dasar dan menengah di bidang nonakademik dilakukan oleh komite sekolah yang&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dihadiri oleh kepala sekolah. Selain itu, komite sekolah juga memutuskan pedoman struktur organisasi sekolah dan biaya operasional sekolah. Komite sekolah juga memberikan masukan tentang tata tertib sekolah, yang minimal meliputi tata tertib pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, serta penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pimpinan sekolah dan komite sekolah juga melakukan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pemantauan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas sekolah.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Adapun pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan oleh kepala sekolah kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. Berdasarkan hal-hal itulah, analisis terhadap peluang dan tantangan dari pihak komite sekolah/madrasah&lt;span&gt; &lt;/span&gt;perlu dilakukan untuk &lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengembangkan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;b. Dewan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Dewan Pendidikaan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Dalam penyusunan KTSP, dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut&lt;span&gt; &lt;/span&gt;memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP. Berdasarkan hal itulah, analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;c. Dinas Pendidikan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan KTSP SMP. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Dalam hal ini, dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas &lt;span&gt; &lt;/span&gt;para pendidik berpengalaman di bidangnya. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan KTSP. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;d. Asosiasi Profesi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. Akan tetapi, secara lebih khusus, asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMP &lt;span&gt; &lt;/span&gt;terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah, kabupaten/kota, dan provinsi.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;MGMP dapat berperan pula sebagai tim yang menyusun silabus mata pelajaran tertentu. Keberadaan tim ini akan sangat membantu pengembangan KTSP. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Peluang dan tantangan atas keberadaan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;MGMP perlu dianalisis&lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk &lt;span&gt; &lt;/span&gt;pengembangan KTSP. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;e. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dunia Industri dan Dunia Kerja&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Salah satu prinsip pengembangan KTSP adalah relevan dengan kebutuhan kehidupan. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum dilakukan dengan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kemasyarakatan, dunia usaha, dan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;keterampilan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan (BSNP, 2006).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Selain itu, KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal, di antaranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. Dalam KTSP, rencana kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Dalam hal ini, dunia indsutri di sekitar sekolah dapat diberdayakan untuk menunjang program pendidikan sekolah yang bersangkutan. Contoh: di dekat sekolah ada industri kerajinan, peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi dasar sesuai konteks industri kerajinan tersebut. Berdasarkan hal-hal itulah, analisis terhadap peluang dan tantangan dunia industri dan dunia kerja di lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk pengembangan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;f. Sumber Daya Alam dan Sosial Budaya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal, di antaranya&lt;span&gt; &lt;/span&gt;adalah keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan; kondisi sosial budaya masyarakat setempat; kesetaraan gender. Pada dasarnya, setiap daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, KTSP harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sumber daya alam yang ada di lingkungan serta aspek sosial budaya yang berlaku di tempat sekolah tersebut berada, dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksanaan penyusunan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Sekolah yang berada di daerah pantai, dapat memanfaatkan aspek kelautan sebagai peluang dan tantangan untuk mengembangkan potensi peserta didik.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pendidik dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik menanam &lt;span&gt; &lt;/span&gt;bakau &lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk menahan abrasi pantai. Ini merupakan salah satu contoh pembelajaran untuk memahami alam sekitar dan sekaligus mengatasi tantangan alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Selain itu, KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dapat memberikan nilai tambah bagi perkembangan peserta didik, diperlukan upaya identifikasi dengan memperhatikan berbagai hal, antara lain: keterjangkauan jarak, waktu, dan biaya; kesesuaian dengan visi, misi, dan tujuan sekolah; ketersediaan dan kemampuan SDM dalam mengelola sekolah; kebermanfaatan aspek sosial budaya bagi peserta didik di masa kini dan yang akan datang. Pada sisi lain, KTSP juga harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Berdasarkan hal itulah, analisis terhadap peluang dan tantangan sumber daya alam dan sosial budaya lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk &lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengembangkan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;D. Pengembangan Instrumen &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Analisis terhadap situasi sekolah dilakukan dengan menggunakan instrumen analisis. Instrumen yang digunakan bisa menggunakan model check list ataupun skala. Satuan pendidikan harus menyiapkan instrumen tersebut sebagai panduan pengambilan data.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Contoh Instrumen model check list&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Dunia Industri/kerajinan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 312.9pt;" valign="top" width="417"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Aspek   yang Dianalisis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Ya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 50.4pt;" valign="top" width="67"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 312.9pt;" valign="top" width="417"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Keberadaan   dunia industri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 50.4pt;" valign="top" width="67"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 312.9pt;" valign="top" width="417"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kebermaknaan   dunia industri dalam pengembangan kompetensi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 50.4pt;" valign="top" width="67"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 312.9pt;" valign="top" width="417"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kelayakan   dunia industri sebagai sumber belajar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 50.4pt;" valign="top" width="67"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 312.9pt;" valign="top" width="417"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kedekatan   jarak letak dunia industri dengan sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 50.4pt;" valign="top" width="67"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 312.9pt;" valign="top" width="417"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Hubungan   baik dunia industri dengan pihak sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 54pt;" valign="top" width="72"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 50.4pt;" valign="top" width="67"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;E. Analisis Instrumen&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Data yang telah diperoleh dianalisis. Hasil analisis tersebut diklasifikasi atas peluang atau tantangan yang akan menjadi kesimpulan pengambilan keputusan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Contoh &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Jawaban   Ya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 126pt;" valign="top" width="168"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Jawaban   Tidak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 194.4pt;" valign="top" width="259"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Keterangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Semua   aspek&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 126pt;" valign="top" width="168"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 194.4pt;" valign="top" width="259"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Peluang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1, 2, 3,   dan 4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 126pt;" valign="top" width="168"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 194.4pt;" valign="top" width="259"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Tantangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1, 2,   dan 3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 126pt;" valign="top" width="168"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;4 dan 5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 194.4pt;" valign="top" width="259"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Tantangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 126pt;" valign="top" width="168"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Semua   aspek&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 194.4pt;" valign="top" width="259"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Bukan   peluang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 20.1pt;" valign="top" width="27"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 126pt;" valign="top" width="168"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1, 2,   dan 3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 194.4pt;" valign="top" width="259"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Bukan   peluang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;F. Pemanfaatan Hasil Instrumen&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Berdasarkan hasil analisis yang telah diperoleh , satuan pendidikan mengembangkan program yang terkait dalam pengembangan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Contoh pemanfaatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi peluang, satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi alternatif acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi tantangan, satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal, tetapi dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jarak dunia industri/kerajinan jauh, tentu tantangan satuan pendidikan untuk menyediakan biaya transportasi ke tempat dunia usaha/industri tersebut. Selain itu, satuan pendidikan mempunyai tantangan untuk membina hubungan baik dengan dunia industri tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;G. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Pada prinsipnya, KTSP untuk pendidikan dasar dikembangkan oleh setiap sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Dalam pengembangan KTSP ini, analisis situasi sekolah&lt;span&gt; &lt;/span&gt;sangat perlu dilakukan sehingga KTSP yang dikembangkan benar-benar didasarkan pada kondisi dan situasi sekolah (di samping didasarkan pula pada prinsip-prinsip pengembangan KTSP). KTSP yang dikembangkan berdasarkan analisis situasi sekolah diharapkan akan benar-benar mencerminkan upaya peningkatan kondisi internal yang ada di sekolah yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program lainnya. Di samping itu,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;KTSP yang baik harus dikembangkan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;atas dasar analisis peluang dan tantangan situasi eksternal yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar, yang meliputi: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-2706666987035896712?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/2706666987035896712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=2706666987035896712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/2706666987035896712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/2706666987035896712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/analisis-situasi-sekolah-dalam.html' title='Analisis Situasi sekolah dalam pengembangan KTSP'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-1830064177178368566</id><published>2009-01-12T02:39:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.976-08:00</updated><title type='text'>Konsep Visi Sekolah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. Namun, sayangnya upaya &lt;span&gt; &lt;/span&gt;perumusan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;visi yang terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati, pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu “prestasi” dan “iman-taqwa”, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut.&lt;span&gt; &lt;span id="more-1637"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tetapi jika&lt;span&gt; &lt;/span&gt;perumusannya menjadi seragam, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Boleh jadi, hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya, baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dalam perspektif manajemen, visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (&lt;em&gt;sustainability&lt;/em&gt;) organisasi sekolah itu sendiri, Tanpa visi, organisasi dan orang-orang di dalamnya tidak mempunyai&lt;span&gt; &lt;/span&gt;arahan yang jelas,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman, 1998).&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar, hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah, melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins, 1996). Menurut Block (1987), visi adalah masa depan yang dipilih, sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis, kredibel, dan menarik, yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dari cara yang sudah ada sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Memperhatikan pendapat para ahli di atas, tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat&lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi, mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah, agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kendati demikian, dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara “top-down” yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya . Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. Pembuatan visi adalah tentang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini, Beare et.al. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia; (b) tujuan pendidikan dalam sekolah; (c) peran pemerintah, keluarga, masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah; (d)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran; dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dengan demikian, akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi, nilai dan keyakinan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sumber:&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Adaptasi dari Bush dan Coleman. 2008. &lt;em&gt;Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis&lt;/em&gt; (ter. Fahrurruzi). Jogjakarta:&lt;span&gt; &lt;/span&gt;IRCiSoD.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/394281730611538047-1830064177178368566?l=smaknegla.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smaknegla.blogspot.com/feeds/1830064177178368566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=394281730611538047&amp;postID=1830064177178368566' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1830064177178368566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/394281730611538047/posts/default/1830064177178368566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smaknegla.blogspot.com/2009/01/konsep-visi-sekolah.html' title='Konsep Visi Sekolah'/><author><name>Ade Rusliana, M.Pd.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09561797891220992261</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_F6Z_RK-Lopg/SdF5jFds8dI/AAAAAAAAAIU/X_tIDoX3Zh0/S220/Papa-kecil.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-394281730611538047.post-9009250641382871560</id><published>2009-01-12T02:37:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T21:16:10.988-08:00</updated><title type='text'>Manajemen kinerja Guru</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dalam perspektif manajemen, agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja, sebagai :&lt;br /&gt;… sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Ini merupakan sebuah sistem. Artinya, ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan, kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi, manajer dan karyawan.&lt;span id="more-509"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari ungkapan di atas, maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru, didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang :&lt;br /&gt;Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru.&lt;br /&gt;1.Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.melakukan pekerjaan dengan baik”&lt;br /&gt;2.Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan, memperbaiki, maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang.&lt;br /&gt;3.Bagaimana prestasi kerja akan diukur.&lt;br /&gt;4.Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja, komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja.&lt;br /&gt;Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang, menentukan bagaimana kinerja harus diukur, mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala, serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja, hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul, solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah, dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar.&lt;br /&gt;Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja, yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan, “ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?”. Metode apapun yang dipergunakan untuk menilai kinerja, penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. Pertama, tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain, atau “selalu salahnya guru”. Kedua, tiada satu pun taksiran yang dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara itu, Karen Seeker dan Joe B. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja, yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan, pembinaan, dan evaluasi.&lt;br /&gt;Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran, tanggung jawab, dan ekpektasi yang terukur. Perencanaan tadi membawa pada fase pembinaan,– di mana guru dibimbing dan dikembangkan – mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan, umpan balik, dan penghargaan. Kemudian dalam fase evaluasi, kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. Rencana terus dikembangkan, siklus terus berulang, dan guru, kepala sekolah, dan staf administrasi , serta organisasi terus belajar dan tumbuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran, yang pada gilirannya, menjadi masukan fase berikutnya lagi. Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Perencanaan harus dilakukan pertama kali, kemudian diikuti Pembinaan, dan akhirnya Evaluasi.&lt;br /&gt;Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. Dalam hal ini, Ronald T.C. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan, yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik 
